
Sudah pukul sembilan malam saat Rian berpamitan pulang, masih memandang cincin pertunangan ini, sederhana tapi indah.
Kini hanya satu doaku, semoga semuanya lancar hingga ke rencana berikutnya.
Melihat ibu, Mak Sara dan Mak Sunar masih berkutat di ruang tengah. "Belum tidur Pram? besok juga kuliah," ucap ibu.
"Mak pulang saja, sudah malam besok saja kembali lagi," ucap Pram sembari melirik jam.
"Ibu juga istirahat, sudah hampir jam sepuluh, jangan lupa Mak banyak makanan bawa saja," ucap Pram lagi.
Ibu kini tersenyum mendengar ucapan ku
"Tidurlah pram ... !"
Aku langsung beranjak masuk kamar begitu juga dengan ibu.
Masih duduk termenung menatap ke luar jendela tak terasa sudah semester enam waktunya PKL. "Huf ... tak terasa ucap Pram dan habis ini persiapan untuk skripsi juga," ucap Pram pelan.
"Mm, besok saja aku bicarakan dengan Mas Rian dan semoga bisa di tempat Aku sendiri, tak perlu jauh jauh," ucap Pram sembari menyiapkan berkas berkasnya
Berkali kali menguap, Mebaringkan tubuh sembari menatap cincin ini.
Seperti mimpi berjodoh dengan teman sepermainan dan teman sekampung, sedikit tersenyum mengingat semuanya hingga mata Pram terlelap.
Tubuh Pram serasa melayang dan secara tiba tiba aku berdiri di sebuah kebun yang sangat subur, ini bukan sawah atau ladangku.
Hanya ada tanaman kubis, brungkul dan bukan sawah atau ladang seperti milikku nampak di sebuah gubuk berdiri seorang wanita yang sudah lanjut usia dan tersenyum padaku, ya, ini seperti di kaki gunung.
Tak berapa lama kini aku sudah berdiri di bawah pohon dan ini tak asing bagi Pram ini seperti di rumah Simbah tapi kenapa begitu gelap dan jangan ... teriak Pram dengan napas memburu, keringat mulai membasahi tubuh Pram jangan lakukan itu, aku mohon. Di sela isak Pram. Aku mohon ... kembali teriak Pram.
"Pram ... suara ibu membangunkan aku sembari mengoyang tubuhku. Ada apa Pram? Kembali ibu bertanya. Tak menjawab pertanyaan ibu saat terbangun aku langsung memeluk ibu dengan erat.
"Bu ... panggilku sembari memandang ibu dengan lekat.
"Pram, kau bermimpi apa dan kenapa berteriak? Lihat badan mu basah oleh keringat Pram!!
"Aku takut Bu, sungguh ini membuat Pram sangat takut," ucap pram pelan.
"Berdoalah, istifar Pram."
__ADS_1
"Tidurlah masih pukul tiga pagi," ucap ibu sembari berdiri.
"Bu ... tidurlah di sini," pinta Pram sembari aku pegang erat tangan ibu.
"Issh ... ucap ibu sembari sedikit tersenyum tapi menuruti keinginan Pram. "Tidurlah," ucap ibu sembari mengelus kepalaku.
Mungkin ini ketakutan yang aku alami untuk pertama kalinya, makin aku peluk erat ibu dan terus memegang tangannya toh nyatanya aku juga belum bisa terpejam.
Suara ayam jago mulai bersahutan tanda subuh mendekat, tak berapa lama adzan mulai berkumandang masih menatap ibu dengan lekat. Semoga semuanya baik-baik saja," ucap Pram pelan.
Melakukan shalat subuh dengan khusuk beberapa saat setelah salam aku melihat ibu terbangun dan tersenyum melihatku.
"Kenapa, ibu tak di bangunkan Pram? Untung belum habis waktunya.
Aku hanya tersenyum saja dan langsung berdiri. "Bu, mungkin Pram pulangnya nanti akan sedikit terlambat ada hal yang harus di urus di kampus," ucap Pram sembari beringsut menepi dan melipat sajadah dan mukenanya.
"Ya, nggak pa-pa Pram!! Semakin cepat kau lulus akan semakin baik," ucap ibu sebelum melakukan shalat subuh.
Kini aku beranjak ke dapur membantu ibu menyiapkan semua keperluan pagi hari.
"Ibu ke sawah? Nggak Pram, ibu akan beberes di rumah saja dan nanti ada Mak Sunar dan Mak Sara yang bantuin, kamu kuliah saja," ucap ibu sembari menyeduh teh nya.
"Sebentar," sembari berlari ke dalam mengambil berkas yang aku siapkan semalam.
"Mas Rian nggak ngurus ini juga? Mengajukan PKL dan yang lain lainnya?" tanya Pram lagi. "Sudah," jawab Mas Rian sembari menyalakan motornya.
Bukan rahasia lagi setiap warga yang bertemu langsung tersenyum menatap kami berdua. "Kaya artis saja," ucap Pram sembari kembali tersenyum menanggapi sapaan para tetangga.
Tak perlu waktu lama akhirnya aku dan Rian tiba di kampus, kini aku tak akan lagi menyembunyikan hubungan aku dengan mas Rian.
Dengan sedikit tergesa berjalan. Sini tarik Mas Rian berharap aku mengikuti langkahnya. "Pram apa semuanya sudah komplit, SKS mu dan yang lainnya."
"Sudah beberapa hari ini aku sudah mengejarnya dan sudah di setujui dengan Dosen jurusan. Tapi, aku juga belum tahu di tempatkan di mana, Mas."
"Apa bisa aku meminta PKL di sawah Simbah," mendengar ucapan Pram seketika Mas Rian tertawa terbahak.
"Jika kamu PKL di tempat kamu sendiri kapan ada peningkatan pasti akan di situ-situ saja."
"Ya, sudah jalani saja biar tahu ada perkembangan apa di luar sana hingga nanti bisa di terapkan di sawah Simbah.
__ADS_1
Hampir satu jam menunggu, setelah syarat selesai aku kumpulkan kami pun berlalu pergi menunggu kabar selanjutnya.
Kini melangkah ber iringan menuju kelas
mencari duduk yang sedikit berdekatan.
Melihat Hanifa berjalan mendekat ke arah kami. "Selamat ya, atas pertunangan kalian kemarin dan maaf aku nggak bisa datang. Kemudian menjabat tangan aku bergantian dengan Mas Rian dan lama baru di lepaskan.
Aku masih menatap tangan Hanifa ada gelagat tak baik dari tatapan matanya dan sedikit lama baru di lepas.
Sungguh ada rasa tak suka di hatiku yang kembali muncul.
"Eee, ya. Terima kasih," ucap Mas Rian sedikit gugup dan menatapku.
Melangkah pergi sembari tersenyum sinis padaku. Ternyata kau belum jera juga, tapi bagaimanapun aku lah pemenangnya.
"Masih suka ternyata," ucap Pram sembari menyiapkan materi yang akan di pelajari.
Sesekali aku melirik Mas Rian, semoga ini tak ada hubungannya dengan mimpi aku semalam dan kembali fokus ke depan.
Aku tundukkan wajah menatap meja menghembuskan napas perlahan, ini yang harus di hadapi berjodoh dengan teman sekelas, sekampung dan sepermainan harus menyiapkan hati yang luas untuk menjalaninya, kemudian aku sedikit tersenyum untuk menghempas semua rasa jengkel di hatiku.
Tak terasa jam pelajaran usai. Mas aku ke toliet dulu," ucap Pram toh mana mungkin aku akan menguntitnya sehari ini.
Membiarkan memiliki waktu tersendiri, bukannya ke toilet tapi memilih menuju perpustakaan. Kenapa juga aku tak memiliki banyak teman manusia, malah berteman dengan makhluk astral.
Memasuki perpustakaan suasana sepi dan tenang, ini yang membuat Pram betah dan nyaman, di sini aku hanya satu jam kedepan, merebahkan kepalaku di meja menatap sudut kosong yang ada di depan Pram.
Saat mata Pram tengah fokus pada satu objek yang menuntut aku untuk terus melihatnya bukan penampakan sosok astral tapi ini?"
Seketika aku mendongakkan kepala kenapa mimpi ini lagi, keringat dingin kembali membasahi tubuh Pram, tangan Pram serasa dingin. "Nggak mungkin," ucap Pram pelan. "Ini pasti nggak bener."
Kini Pram sudah meraih tas dan keluar dari perpustakaan berjalan sedikit tergesa, melewati beberapa teman saling berbisik menatap Pram dengan sedikit penasaran Pram melangkahkan kaki menuju kelas.
Terdengar tawa terbahak dari Hanifa dan bergelayut di pundak Rani dan sesekali melirik ke arah Pram dengan senyum sinisnya.
Menatap Mas Rian dengan intens ada apa tanyaku pelan, tapi hanya tatapannya yang menjawab. Apa? kemudian tersenyum dan mendekat.
Bukan ini yang Pram ingin tapi jawaban dari bibir Mas Rian yang Pram tunggu, mengatur napas sejenak. "Pram ... "
__ADS_1
Ternyata kita nggak satu tempat dan lihat itu sambil menarikku mendekat ke papan pengumuman. "Kok bisa?" tanya Pram heran.