OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 126 . ADA APA INI


__ADS_3

Melihat Arion yang tiba-tiba berubah membuatku langsung bertindak, aku langsung mencoba untuk menenangkan Arion, tak butuh waktu lama Arion kini sudah tenang, hanya matanya saja yang nampak sesekali masih menatapku nanar seakan ingin menelanku


utuh-utuh, setelah sedikit terkendali.


Mas tolong pantau Arion, karena sosok ini ingin aku mendatangi tempatnya" ucapku pelan.


"Mas, jika hingga fajar aku belum kembali tolong panggil aku tiga kali" ucapku sembari merapal mantra dan menarik keluar sosok yang ada di tubuh Arion.


Aku tahu sosok ini sengaja menjebakku untuk mendatangi tempatnya, namun demi Arion aku akan lakukan itu.


Kini aku berjalan entah di mana, namun aku tahu ini adalah masih di sekitar kampungku, berjalan sembari menarik sosok ini yang telah ku ikat dengan mantraku, seperti melintas di antara pepohonan dan melewati hamparan rumput luas, aku menandai setiap jalan yang ku lalui, akhirnya aku sadar aku berada di mana namun berbeda dimensi, akhirnya aku tiba juga


di bangunan tua yang tak terawat, terlihat banyak sekali sosok-sosok seperti yang ada di sampingku.


'Aku tahu kau menjebakku kemari dan aku tahu tujuanmu, aku kemari hanya ingin mengembalikanmu, entah apa yang membuat kau mengganggu keluargaku' akhirnya aku berbicara juga, selama dalam perjalanan aku terdiam.


Dengan tenang aku melepas sosok ini, melihat sejenak reaksi dari sosok ini sembari ku pindai tempat ini, hingga tak lama sosok ini sudah muncul lagi bersama dua sosok lain dengan bentuk yang sama, cebol, gundul, bermata belok namun bibir mereka lebar dan gigi yang runcing, ya, seperti gigi ikan hiu.


Aku masih mengawasi gerak gerik mereka, namun mereka seakan tak berniat jahat sedikit pun, itu terlihat dari tatapan mereka, sesaat aku tahu mereka ingin melihatku.


"Terima kasih, sudah mengembalikan anakku yang hilang, aku tahu dia tersesat di dunia mu dan mengikuti seseorang yang melakukan perjalanan kemari dan tanpa sengaja mereka membuka sedikit celah bagi kami untuk keluar dan anakku ini sangat tertarik dengan si kecilmu dan kami tak mampu menariknya kembali karena pagar yang di rumahmu.


"Sudah lama dia bersembunyi di rumahmu, tapi ... "dia juga sulit untuk ke luar.


Tak lama setelah mengucapkan itu, sosok ini membungkuk padaku di ikuti oleh semua kelompoknya dan kemudian secara berangsur mereka menghilang "terima kasih, ikuti cahaya itu dan kau akan kembali ke asalmu, dengan perginya kau dari sini aku akan kembali menutup tempat ini, sampaikan pada gadismu untuk hati-hati karena ada sesuatu yang mengintainya dan cepat kau lindungi dia" hanya ini yang ku dengar hingga muncul cahaya putih yang terang sudah berada di depanku.


Semakin langkahku maju ke depan, tempat ini semakin berkabut dan hanya terlihat pepohonan dan terakhir rimbunnya rumput ilalang, sebelum aku benar-benar masuk dalam ragaku bisa aku pastikan bahwa sosok ini tempatnya tak jauh dari kampung sebelah.


Hanya sekali tarikan napas akhirnya aku kembali ke ragaku, mengatur napasku sejenak hingga akhirnya aku sadar seutuhnya.


Ketika mataku terbuka ku lihat Arion sudah tertidur lagi, di samping mas Rian.

__ADS_1


Berusaha untuk berdiri, tapi sepertinya kondisiku sedikit lemah, hingga dengan sedikit terhuyung aku mencoba untuk berjalan.


"Mas, aku ingin tidur beberapa saat dulu di sini bersama Arion" ucapku sembari langsung merebahkan tubuhku di sisi Arion.


Benar kata Zubaid bahwa kondisiku saat ini benar-benar lemah, mas Rian masih menatapku dengan iba "istirahatlah mas" ucapku sembari tersenyum.


Melihatku tersenyum mas Rian kemudian memilih tidur di samping Arion dan akhirnya kami tidur bertiga.


Sudah berusaha untuk memejamkan mataku namun nyatanya masih juga aku terjaga, mengingat semua ucapan sosok tadi.


'Apa Kinara melakukan perjalanan mistis secara diam-diam sama seperti aku dulu?! Atau orang lain?! Banyak argumentasi yang ada di kepalaku, lalu Arion di mana mereka bertemu?!'


"Tidur Pram" suara mas Rian mengejutkan lamunanku.


Kini aku memilih memutar posisi tidurku menghadap ke arah jendela, serasa angin dingin masuk di kamar ini, seperti menerima hembusan obat tidur, secara perlahan mataku mulai terpejam, namun telingaku masih bisa mendengar suara apapun yang terjadi.


'Ini sangat menyiksaku,' ucap hatiku.Akhirnya aku memilih untuk keluar dari ragaku, di malam yang sepi ini aku ingin memeriksa pagar rumah ku kembali, namun begitu aku sampai di halaman aku sedikit terkejut saat melihat sesuatu masuk du kamar Kinara, tak perlu waktu lama untukku untuk melihat,' Kinara? dari mana malam - malam begini?!


Setelah melihatnya tertidur kini aku kembali melesat turun ke halaman, Zubaid tak nampak kemana?! Kini aku berusaha kembali membenahi mantra pagar di rumahku, kemudian memastikan sejenak, tak lama nampak Zubaid sudah nampak lagi, melihat kehadiranku dalam bentuk lain, Zubaid langsung tunduk hormat padaku.Aku hanya tersenyum melihat tingkah Zubaid kemudian aku kembali masuk melesat dalam ragaku.


'Benar-benar malam yang panjang'ucap hatiku dan kini aku benar benar terlelap karena lelah sukma dan ragaku.'


Aku sedikit menggeliat saat ada yang mengoyang badanku, hingga terulang tiga kali, tapi hanya suaraku saja yang terdengar "hem ... "ibu masih ngantuk, boleh sepuluh menit lagi aku terbangun" ucapku sembari merubah posisi tidurku.


"Ayo Pram, bangun!! Matahari sudah di atas kepala, mau sampai kapan kau tertidur, aku sudah membiarkanmu hingga tengah hari untuk tertidur" ucap suara ini lagi.


Mendengar kata tengah hari seketika aku terbangun "mas gak kerja?! tanyaku sembari berdiri menuju kamarku. "Aku mandi dulu mas" ucapku sembari masuk kamar mandi.


Cukup lama di kamar mandi hingga terdengar pintu kamar di kunci, masih dengan mandiku hingga suara mas Rian terdengar memanggilku


"Pram ... Pram ... 'nah lo' kenapa juga pikirku.

__ADS_1


Dengan hanya membebat tubuhku dengan handuk akhirnya aku membuka pintu kamar mandi, dengan tersenyum mas Rian menatapku


penuh arti "sudah selesai mandinya Pram? tanyanya lembut penuh arti.


Aku yang paham akan maksudnya pun hanya menjawabnya penuh anggukan, melihat aku mengangguk akhirnya mas Rian menyusulku juga masuk dalam kamar mandi dan setelahnya hanya terdengar suara shower yang di nyalakan kencang dan entah apa yang terjadi di dalam sana, hanya Pram dan Rian yang tahu.


Hingga beberapa menit kemudian mereka berdua telah keluar dengan rambut basah mereka dengan senyum yang terkembang .


Setelah berganti baju, aku pun segera turun ke bawah sementara mas Rian memilih tidur di atas.


Saat tiba di bawah, nampak mbak Ning dan mvak Yas tengah sibuk," mbak panggilku mengejutkan mereka.


" Eh, ibu ... " ucap mereka berdua hampir bersamaan.


"Mbak tolong buatkan kopi legi pait" ucapku sembari menatap mbak Ning.


"Gimana mbak, sudah baikkan kan?! tanyaku memastikan.


"Sudah, bu, maaf kalau kemarin saya bikin ulah, saya juga gak ngerti kenapa tiba-tiba saya jadi begitu" ucap mbak Ning sembari menaruh kopi pesananku.


"Gak apa-apa ini juga bukan salah mbak Ning, kini aku sembari menyesap kopiku, Arion sudah pulang mbak? tanyaku lagi.


Belum juga selesai aku bertanya kini Arion sudah terlihat di ruang tamu "Assalammualikum,wr, wb" ucapnya sembari tersenyum.


Serentak kami bertiga menjawab salam dari Arion, meletakkan tasnya begitu saja di ruang tamu, kemudian berjalan ke arahku sembari tersenyum.


"Tumben, anak ibu riang sekali?Ada apa?


"Bu lihat, sembari menunjukkan gelangnya padaku "di beri kak Kinara, katanya hadiah gak boleh hilang atau lepas dan jika ini hilang kak Kinara akan menangis" ucap Arion lagi.


"Bagus, ibu suka warnanya juga keren, pakai dan jaga dengan baik-baik, agar kak Kinara senang" ucapku lagi.

__ADS_1


Aku masih menatap Arion dan tersenyum "tampan" ucapku sembari mengusap pipinya.


__ADS_2