
Benar-benar Mbah Lasmi melarang Pram untuk pulang, sudah dua hari tapi Mbah Lasmi masih meminta se hari lagi, Ida hanya menyuruh aku untuk menghiyakan saja.
"Pulang besok saja Pram, nanti biar di antar Paijo lagi," ucap Mbah Lasmi seakan berat untuk aku tinggalkan. Aku, ibu dan mas Rian serta Bu Asih juga setuju mendengar Mbah Lasmi memintaku untuk menginap lagi.
Setelah mengatakan itu Mbah Lasmi langsung masuk ke dalam kamar. "Mbah istirahat dulu Da, tiba - tiba kok kepala Mbah sedikit pusing," mendengar ucapan Simbah aku langsung berdiri.
"Ayo Mbah Pram antar! Sembari Pram tuntun tangannya."
"Membantunya berbaring, sudah keluar saja Pram!! Mbah mau tidur."
Masih dengan langkah Pram terlihat ibu duduk diteras, terlihat tersenyum. "kok senyum-senyum Bu," ucap Pram sembari duduk di sisinya.
"Di sini hawanya seger Pram."
Duduk berdua dengan ibu berbincang ini dan itu hingga siang menjelang.
Sudah hampir siang Mbah Lasmi rupanya masih di kamar. Mas Rian juga nggak tahu kemana dan jangan di tanya sang pengantin baru.
"Ayo Bu, masuk !! ajak Pram. Kini aku dan ibu sudah duduk di ruang tamu.
"Bu, sebenarnya aku bosan dengan semua ini, Pram pingin ada suasana baru dan ingin menyelesaikan semuanya."
Ibu menatap dengan diam. "Bersabar saja semua pasti berlalu, Pram."
"Setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya."
"Lalu apa yang membuatmu bosan Pram !"
"Entalah Bu, hanya itu jawab Pram."
Sudah pukul tiga sore, tapi Mbah Lasmi belum juga terbangun. "Mbah Lasmi kok belum bangun-bangun Bu, aku jadi curiga."
Dengan bergegas aku melangkah ke kamar Mbah Lasmi, masih dengan posisi yang sama sejak awal tidur, matanya terpejam dan bibirnya sedikit tersenyum.
Seketika dadaku berdesir aneh. "Apa ini?
langsung aku mendekat, memegang tangan Mbah Lasmi, lalu anggota tubuh yang lainnya.
"Nggak mungkin, seketika aku langsung berlari kedepan. Bu ... tolong lihat Mbah Lasmi dan kemudian mengetuk kamar Ida berulang kali hingga lama dan baru terbuka.
__ADS_1
"Da ... Mbahmu Cepat panggil dokter, "ucap Pram memerintah."
Masih dengan kebingungannya. "Ada apa kak? Jangan aneh-aneh!! Aku melihat Ida sudah terisak. Cepat ajak suamimu untuk mengantar atau panggil Pak Paijo."
Kembali masuk ke kamar Mbah Lasmi. "Gimana Bu?" tanya Pram. Hanya gelengan kepala ibu yang ku lihat dengan tak yakin.
"Nggak usah panggil Dokter Pram. Panggil Paijo saja dan sekalian Asih."
Bersamaan dengan Ida masuk aku jatuh terduduk lemas, ada rasa penyesalan di hati Pram. "kenapa aku menurut saja di suruh pergi."
"Mbah ... teriak Ida sembari menggoyang goyang tubuhnya berharap Mbah Lasmi terbangun, tak berapa lama tangisnya pun pecah Satria yang berdiri di belakang juga nampak terkejut. "Satria, cari Pak paijo,"
ucap Pram dengan memerintah.
Melihat ibu berusaha menenangkan Ida,
merangkulnya dengan erat dan sesekali mengikis air matanya. Berjalan keluar Pram melihat Satria sudah melajukan motornya, tak berapa lama sudah datang bersama Pak paijo dan beberapa warga.
Dengan tergesa Pram mengeluarkan ponsenya menghubungi Mas Rian, Hanifa.
Rumah Mbah Lasmi sudah ramai, warga pun sudah berbondong-bondong datang membantu ini dan itu. Segera mendirikan tenda dan langsung di tutup dengan kelambu hijau, keranda sudah siap, begitu juga peralatan lainnya.
Tak perlu waktu lama untuk Ida bersiap masih nampak wajah sembabnya. "Apa kamu ikut memandikan Da? Booleh asal jangan sampai kau menitikkan air mata," ucap salah satu warga.
Ida mengangguk dan berusaha melakukan itu mengikuti arahan para warga dan semua di lakukan dengan tenang. Semua kegiatan ini terasa cepat tanpa ada halangan, semua sudah siap saat pukul lima sore.
Saat jenasah Mbah Lasmi di angkat dan di masukkan dalam keranda, nampak Mas Rian dan Hanifa datang bersamaan dan dengan tergesa menghampiri.
Pram hanya menghembuskan napasnya dengan kasar. 'Kenapa hatiku terasa sesak.'
Memilih mendekat ke ibu dan Ida dan menghindari tatapan Mas Rian. Setelah sholat jenasah, akhirnya jenasah di usung untuk di tempatkan di peristirahatan terakhirnya.
Kini tangis Ida tak bisa di tahan lagi, berkali kali hampir pingsan hingga semua prosesi pemakaman selesai. Ida masih terduduk lemas di depan tanah bergunduk yang masih basah, aroma kembang juga sangat tercium harumnya.
"Da, pulang yuk ! Besok kita kemari lagi, "ucap Pram pelan.
Bukannya mengikuti ucapan Pram, Ida kini malah pingsan.
"Satria ... teriak Pram saat mengetauhi Ida pingsan. Mendengar panggilan Pram Satria bergegas berjalan ke arahku. "Istrimu pingsan."
__ADS_1
Dengan cekatan Satria mengangkat Ida dan memasukkannya dalam mobil Pak paijo begitu juga dengan Pram aku pun langsung duduk di samping Ida.
Sedikit melirik kearah jendela Mas Rian masih menatap dengan tajam.
'Astafirullah, seketika aku beristifar mengingat rasa cemburu yang kembali tersulut.'
Tak berapa lama kami pun sampai, Satria langsung membopong Ida masuk kamar keadaan rumah Mbah Lasmi nampak masih ramai para tetangga datang dan pergi secara bergantian.
Nampak ibu juga sudah lelah begitu juga dengan Bu Asih, berjalan sedikit mendekat dan menariknya masuk dalam kamar. "Ibu dan Bu Asih istirahat saja biar Pak Martoyo yang mengurusnya kita hanya tamu Bu!!"
"Ida juga masih pingsan," ucap Pram sembari mendudukkan tubuh ku di sisi ibu. "Capek."
Hingga malam keadaan masih ramai. "Bu kapan kita pulang?" tanya Pram. Kini tubuh Pram rasanya sudah lemas, Ida masih dengan sedihnya dan terlihat Satria yang selalu di sisi Ida.
Aku masih termenung mengingat Mbah Lasmi pergi dengan mudahnya, hingga suara yang tiba-tiba. "Jangan melamun!! suara mas Rian mengejutkan aku.
"Nggak hanya teringat saja, begitu mudahnya Mbah Lasmi berpulang, Mbah Lasmi benar benar menepati janjinya, kasian Ida mas," ucap Pram sembari menatap jauh kedepan.
Sama-sama diam menatap ke depan, kini aku mengambil posisi nyaman untuk berselonjor melihat itu Mas Rian juga mengikuti cara Pram duduk.
Tanpa perlu mendongak aku langsung bisa melihat langit, saat ini cerah sekali bintang bertaburan melihat cara seperti ini jadi teringat saat duduk bersama Mbah Lasmi.
"Selamat jalan Mbah, ucapku pelan.
Udara makin dingin tapi tak menyurutkan niat ku untuk duduk di luar, kini memilih duduk meringkuk meletakkan kepala Pram di lutut sedikit menoleh kearah Mas Rian laki-laki yang akan jadi calon suamiku.
Tak menyadari tatapan Pram, karena tangannya masih sibuk mengulir ponsel nya hingga beberapa saat kemudian, hanya melirikku sekilas lalu menatap lagi ke langit.
Sama sama terdiam hanya tatapan mata kami saja yang sesekali beradu.
Mengalihkan pandangan, Pram sedikit mengeratkan jaketnya, mungkin seperti ini lebih baik dari pada aku harus bertanya-tanya, hanya sesekali saja napas Pram yang berhembus. "Aku masuk dulu Mas."
Tak menjawab, Mas Rian hanya menatap pada penuh arti dan tersenyum.
Berdiri dan memilih masuk kamar ada ibu dan Bu Asih. 'Apa Mas Rian akan seperti ini jika bertemu Hanifa?' ucap hatiku.
'Ah ... masa bodoh pikir Pram, jika aku berjodoh dengannya pasti akan ada jalannya.'
Merenggangkan tubuhnya sejenak kemudian memilih tidur di antara ibu dan bu Asih.
__ADS_1
'Ayo lah Pram tidur, belajarlah untuk percaya Pram !' kembali batinku berucap untuk menyemangati.