
Benar benar masih pagi saat mas Rian menjemputku setelah berpamitan pada ibu
"Pram pakai jaket yang tebal karena perjalanannya sedikit jauh, ucap mas Rian mengingatkan
Kembali masuk kedalam mengganti dengan jaket yang tebal setelah kembali memeriksa ulang apa yang aku bawa, aku bergegas keluar dan berpamitan begitu juga dengan mas Rian.
"Hati-hati jangan ngebut, ingat ada dua ibu menanti kedatangan kalian" pesan ibu pada kami.
Benar benar perjalanan yang jauh hampir tengah hari kami baru sampai, berhenti sejenak di mushola terdekat. Setelah melakukan shalat beristirahat sejenak melepas lelah karena masih setengah jam lagi perjalanan.
Membeli beberapa makanan kecil untuk mengisi perut kami dan minuman mineral.
"Biasanya mas kalau datang kemari mas menginap Pram, karena di dekat makam bapak ada pondok pesantren,bnanti mas kasih tunjuk tempatnya."
"Apa aku boleh masuk mas?"
"Bolehlah kan yang ngajak mas, lihat saja nanti!" ucapnya sembari tersenyum.
"Ayo kita berangkat lagi" ucap mas Rian sembari berdiri.
"Tunggu mas, setengah jam lagi bisa kan?"
Kini mas Rian menatapku kemudian kembali duduk lagi.
Semenit dua menit dan tiba tiba bruak ... dum seketika Pram menyeretku sedikit menjauh.
"Aku dan Pram langsung berlari melihat."
"Astafirullah, astafirullah ... "ucapku seketika .
Aku langsung menarik Pram untuk berbalik masih dengan rasa terkejutku. 'Andaikan aku yang berhenti di situ tadi' ucap hatiku sembari melihat kanan dan kiri, karena tepat posisi sepeda berhenti pasti di situ, Mushola yang berada di tepi jalan dan tikungan, mengingat ini berkali-kali aku beristifar.
"Minum dulu mas" ucap Pram mengejutkan aku .
"Kita berangkat kalau jalannya sudah mulai teratur lagi mas."
Duduk berdua di mushola menatap hiruk pikuk orang berlalu lalang, polisi yang mengamankan jalan serta dua mobil ambulans dengan suaranya yang meraung raung.
Hampir setengah jam kemacetan akhirnya semua sudah terkondisikan, sudah hampir ashar saat aku melanjutkan perjalanan ini.
Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya kami tiba nampak bangunan besar dengan gerbang yang indah.
"Loh kok masuk sini mas? tanyaku heran,
sembari aku melepas helm ku, begitu juga dengan mas Rian.
Hanya tersenyum sembari mengeluarkan sesuatu dari tasnya "selama di sini pakai ini ya sukur-sukur kalau bisa seterusnya memakai ini" sembari memasangkan hijab siap pakai padaku sambil tersenyum."
Seketika ada rasa malu di hatiku "insyaallah" ucapku sembari membetulkan hijabku.
__ADS_1
Begitu memasuki gerbang Pondokan beberapa penghuni pondok langsung tersenyum dan menghampiriku dan mas Rian.
Seketika aku menatap masjid yang berdiri megah berdiri di tengah tengah pondok, nampak bangunan tinggi bertingkat tiga dengan beberapa deret kamar dan berdiri lagi dua gedung yang lainnya.
"E ... Den Rian mau ziarah" ucap seseorang
yang mengejutkan aku.
Aku menatap heran "Ayo keburu malam, hampir magrib, tadi bawa mukena kan?"
Aku hanya mengangguk menghiyakan.
Berjalan sedikit ke belakang pondok an
nampak makam berjajar rapi, ada empat makam saat aku menghitungnya "kok di hitung Pram, ayo ucap salam sembari membisikkan kalimatnya padaku."
Mengikuti cara mas Rian berziarah hingga selesai dan di tutup kata amin.
"Aku kenalkan Pram, ini makam pendiri pondok ini makam buyutku, ini makam mbah ku dan ini makam bapakku."
"Hampir mirip dengan makam di rumah simbah kan?" mendengar ucapan mas Rian aku langsung mengangguk.
Saat kami berdiri, nampak santri kecil-kecil sudah berbaris rapi, begitu kami keluar dari makam, anak- anak sudah berebut salim.
Dengan senyum terkembang aku menatap adegan ini.
"Den Rian mau menginap?"nggak mas istirahat sebentar saja!"Oh ya, kenalkan ini calon istri ku.
"E ...bkok gak masuk den, bagaimana kabar ibu sehat ?" sembari menjabat tangan mas Rian dan kemudian hanya menangkupkan tangan nya yang tertuju padaku, kembali ku balas dengan menangkupkan tanganku juga.
"Assalammualaikum Abah" kini mas Rian menyapa dengan salam.
Setelah percakapan sederhana yang kudengar laki-laki yang di panggil abah ini kini mengajak kami masuk dan duduk di dalam ruangan besar bisa di sebut mirip dengan aula.
"Kenalkan Abah, ini calon istriku" ucap mas Rian lagi.
"Alhamdulillah, akhirnya aden dapat mewujudkan nya."
"Maaf, aden ini adalah cucu dari pendiri pondok ini dan syukur alhamdulillah akhirnya semua nya di ijabah Allah.
seseorang yang di panggil Abah oleh mas Rian memandangku sesaat kemudian tersenyum dan menepuk bahu mas Rian.
"Istirahatlah dulu" sebelum pulang.
Kini langkah Abah itu telah menghilang di balik pintu . "Membiarkan aku dan mas Rian beristirahat sejenak.
Sedikit berbisik "jadi mas cucu pemilik pondok ini?"
"Hem ..."
__ADS_1
"Tapi kenapa mas kok gak tinggal di sini?"
"Aku hanya menuruti keinginan ibu, pram!"
kau tahu sendiri kan, ibuku seperti apa, ibu hanya ingin membagi ilmunya di sana dan semoga semua di jalan yang baik Pram."
Setelah shalat magrib, kami memutuskan untuk pulang dan berpamitan "Oh ya Abah ada salam dari ibu, sekiranya tak ada uzur atau halangan berkenanlah Abah hadir dan merestui pernikahan kami, anak-anak santri juga boleh di bawa."
Seketika Abah tertawa lebar "insyaallah, "insyaallah."
"Hati-hati di jalan, tersenyum menatapku"Abah tunggu kedatangannya lagi den."
Setelah keluar dari pintu gerbang,"Boleh aku memakainya mas?" Alhamdulillah,
ucap mas Rian sembari memakaikan helm nya.
Perjalanan pulang dengan suasana langit gelap sepanjang perjalanan hanya suara bising deru mobil dan motor saling beradu cepat tanpa berfikir nyawa yang akan menjadi taruhannya, sesekali menatap langit malam dan tersenyum sekilas.
Benar-benar perjalanan panjang, tiba di rumah saat tengah malam, ibu nampak masih terjaga terlihat dari lampu yang masih menyala.
Begitu mendengar motor berhenti ibu langsung ke luar dan membuka pintu, nampak senyum terpancar dari wajahnya hilang rasa khawatir yang sedari tadi di rasakan.
Mas Rian turun sejenak kemudian berpamitan pada ibu, "Rian pulang bu" sembari meraih tangan ibu.
"Hati-hati Rian"
Ku lihat mas Rian tersenyum dan melajukan kembali motornya.
"Segera bersih-bersih Pram dan langsung istirahat Pram" sembari ibu mengunci pintu dan mematikan lampu ruang tamu.
Kemudian terdengar ibu menutup pintu kamarnya.
Begitu juga denganku setelah beberes aku langsung berbaring di ranjang, masih
terbayang perjalanan tadi, mengetauhi siapa mas Rian sebenarnya membuatku sedikit malu,'Ya Allah, istiqomah dan tawadhu kan apa yang ku mulai dari hari ini dan lancarkan segalanya ucap hatiku.'
Masih ku pegang hijab dari mas Rian, jadi teringat saat mas Rian memujiku saat pertama kali memakai hijab, sesaat aku tersenyum dan makin membulatkan tekad ku.
Sebelum benar benar terlelap aku tersenyum akhirnya apa yang terjadi selama ini serasa terbayar lunas dengan persiapan pernikahanku.
Hanya satu tujuanku saat ini, melangkah maju bersama mas Rian, aku akan menjadi teman, sahabat dan istrinya 'ya, Allah mudahkan lah segala urusan ku.'
Kembali doa ku panjatkan berharap yang terbaik.
Dengan beberapa kali menguap akhirnya aku tertidur dengan lelapnya, hingga pagi menjelang.
Sudah pukul tujuh saat aku terbangun dan langsung memakai hijabku, begitu keluar kamar ibu menatapku dengan sedikit heran.
Senyum ibu langsung terkembang sembari terus menatapku" Alhamdulillah"
__ADS_1
hanya itu yang ibu ucapkan.
"Nanti ibu belikan yang lebih banyak Pram jika hatimu telah berniat.