
Setelah mas Rian keluar kamar aku benar-benar tertidur entah berapa lama hingga mas Rian membangunkan aku untuk shalat dhuhur.
Setelah shalat dhuhur mas Rian tak mengangguku sama sekali dan membiarkan aku membantu ibu melakukan ini dan itu.
Hanya tatapan mas Rian saja yang sesekali melirikku dan kemudian tersenyum dan langsung menggeleng.
Melihat itu rasa penasaranku tiba-tiba muncul
mendekat dan duduk di sisinya, sembari merangkul lengannya "kok senyum-senyum sendiri?"
Bukannya menjawab ku malah kini berbisik dan membuatku reflek menyentuh bibirku.
"Itu kan karena ulah mas" ucapku dengan sedikit cemberut.
"Jangan manyun seperti itu aku jadi pingin melanjutkan pelajaran yang ketiga Pram" bisik mas Rian, karena di halaman masih ada kang terop dan kang dekor yang membongkar terop.
"Jangan senyum-senyum sendiri mas, aku bantu ibu dulu" ucapku sembari berdiri dan melangkah ke dapur.
Di halaman belakang nampak ibu dan para biodo sedang sibuk membersihkan ini dan itu.
"E....nak Pram, sapa mak Sunar dan memindai wajahku, nampak dahi mak Sunar mengkerut dan kemudian tersenyum.
"Nak Pram nanti mak bikinin jamu anti masuk angin ya? dan itu gak boleh di tolak" ucap mak Sunar sembari tersenyum.
"Gak usah mak, jadinya ngerepoti" ucapku sembari tersenyum.
"E ... ini jamu wajib di minum pengantin baru nanti setelah mak bikin, akan mak tunggu minumnya."
" Jangan khawatir mak akan buatkan dua juga untuk suami kamu juga."
Seketika para biodo senyum-senyum dan menatapku, ibu yang mendengar langsung menyuruhku masuk ke dalam.
Karena mas Rian sudah tak nampak di teras akhirnya aku menyusul ke kamar.
Benar dugaanku mas Rian tengah rebahan di kamar "kok tidur mas mandi dulu gih, habis ini magrib" ucapku sembari duduk di sisinya.
Seketika mas Rian menarikku untuk tidur di sisinya. "Mandi dulu Pram, setelah itu mas, tapi ini dulu" sembari menyentuh bibir ku."
"Ih....mas sekarang kok itu terus mintanya, nanti bibirku tambah tebal mas."
Tak mendengar omelanku tapi tanganya sudah merambat masuk dalam bajuku dan mencari sesuatu yang aku tutupi dengan bra.
__ADS_1
Hingga berapa lama kini mas Rian sudah tak terkontrol dengan napas memburu mas Rian menciumku hingga "aduh ... suaraku mengejutkan gerakan mas Rian seketika berhenti dan menatapku.
"Jangan keras keras bibirku mas gigit, sakit."
Tidak melanjutkan gerakannya dan langsung melihat dan memeriksa nya.
"Maaf" itu yang mas Rian ucapkan dan merangkulku.
Setelah shalat magrib mas Rian benar benar tidak mengganggu ku, hingga selesai shalat isya saat pintu kamarku di ketuk.
Begitu pintu terbuka muncul wajah mak Sunar membawa dua gelas di tangan nya.
"Nak Rian, ini jamu anti masuk anginnya satu untuk nak Rian dan satu untuk nak Pram" ucap mak Sunar dan masih belum beranjak dari pintu kamarku.
"Nak di minum dulu saya tunggu sekalian gelasnya" ucap mak Sunar lagi.
Seperti di hipnotis aku dan mas Rian langsung meminum jamu itu sekali tegak, melihat itu mak Sunar kembali tersenyum puas.
"Terimakasih nak sudah menghargai jerih payah mak Sunar" sembari berlalu pergi dari kamar.
Setelah mak Sunar pergi aku segera menutup pintu kamar ku, mas Rian langsung berbaring sedang aku tengah sibuk mencari berkas untuk mengambil toga esok hari.
"Mas kok panas ya, sembari berjalan menuju jendela, "jangan buka jendela nya Pram, pakai kipas angin saja."
"Mas juga gerah" tanyaku sembari menyalakan kipas angin dan mendekat. "Jamu apa yang di kasih mak Sunar Pram? tanya Rian.
Kini mas Rian sudah membuka baju atasan nya dengan napasnya yang sedikit memburu seperti menahan sesuatu.
Mendengar ucapan mas Rian, aku bergegas menuju lemari pakaian mengambil baju yang tipis, bergegas ke kamar mandi dan mengganti baju ku.
"Huuff .... serasa makin panas tubuhku.
Semakin ku cepatkan kipas anginnya "mas" panggilku sedikit parau.
Mendengar panggilan ku mas Rian mendekat, nampak jelas sekali mas Rian sedang menahan sesuatu di tubuhnya dan sesuatu yang harus di salurkan, begitu juga dengan ku.
Tanpa banyak bicara mas Rian langsung merengkuhku, menggendongku menuju ranjang.
Dengan napas dan tatapan matanya yang memohon, tangan mas Rian kini sudah kemana mana dengan nakalnya, sepertinya mas Rian akan memberikan pelajaran baru lagi, entah pelajaran mas Rian yang berhasil atau efek jamu yang aku minum, aku membalas setiap sentuhan mas Rian dengan sama-sama menuntut sesuatu yang harus di tuntaskan, hingga tiba-tiba mas Rian mematikan lampu kamarku dan berganti dengan lampu yang lebih redup.
Entah sejak kapan baju kami terlepas dan berserakan di lantai, hingga mas Rian memposisikan tubuhnya di atas ku.
__ADS_1
Dengan tatapan teduhnya meminta ijin padaku untuk mekakukan penyatuan, toh...nyatanya aku juga menuntut penyelesaian dari ulah kami berdua.
Perlahan melakukan penyatuan, rasa sakit di awal tak aku hiraukan, hingga teriakan kecilku saat mas Rian berhasil membuka segel ku.
Rasa sakit berganti dengan senyuman kami berdua hingga mas Rian terkulai lemas di atasku dengan keringat.
Rasa yang sedari tadi pagi yang sulit aku artikan akhirnya terbayar lunas dengan penuntasan yang mas Rian lakukan.
Mengecup kening ku berulang kali "terima kasih Pram" ucapnya sembari membaringkan tubuhnya di sisiku.
Sama-sama lelah yang kami rasakan hingga terlelap dalam tidur.
Hingga tengah malam saat mas Rian terbangun dan melakukan nya lagi untuk ke dua kalinya "pelan mas" ucapku sembari membalas sentuhan mas Rian.
Hingga subuh menjelang mas Rian baru menyelesaikan ulah nya.
Seperti kecanduan mas Rian kini mulai berani meminta lebih dan itu membuatku sedikit kerepotan akan ulahnya.
"Aku capek" ucapku saat mas Rian memintanya kembali.
"Aku janji ini pelajaran terakhir pagi ini Pram, jamu anti masuk angin ini benar-benar manjur Pram" ucap mas Rian sembari mendekapku.
Kembali mas Rian melakukan tugasnya dengan cekatan sat set, hingga lagi-lagi mas Rian berhasil menyelesaikan dengan sukses.
Aku dan mas Rian benar-benar tertidur hingga siang menjelang dan terbangun saat mas Rian mulai bergerilya kembali masih dengan lelahku saat mas Rian kembali melakukannya.
Aku masih di atas ranjang saat mas Rian keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya dan senyum yang terkembang.
Dengan menarik selimut ku "aku mau ke kamar mandi mas, tapi kaki ku lemas dan ....ini sakit" sembari tanganku menunjuk area sesitifku.
Mendengar keluhan ku mas Rian langsung menghampiriku "maaf ya, sini mas bantu"
dan seketika mengangkat tubuhku dan membawaku ke kamar mandi.
Setelah menduduk kan aku di kloset mas Rian memandang tubuhku, lalu tersenyum.
Aku seketika mengikuti arah pandangan mas Rian "ih....kok jadi gini mas."
Tak menjawabku hanya menggaruk kepalanya saja.
Melihat aku kesulitan untuk berjalan kini mas Rian membantuku bersih-bersih dengan bonus menambah satu sesi pelajaran di kamar mandi.
__ADS_1