OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 133. TAMU BANDEL 2


__ADS_3

Berbeda dengan Kinara yang tersenyum penuh kemenangan di balik pintu. Kini Ardan sedang mengatur siasat bagaimana caranya bisa keluar malam ini untuk memenuhi rasa penasaran di hatinya.


Akhirnya setelah mengatur siasat dan rencana, Ardan dan Ilham memilih untuk mendekati Kinara dan Kinanti agar mau membantunya. Masih pagi Ardan dan Ilham sudah duduk di meja makan menunggu si kembar turun.


"Pagi? Tante ... sapa Ardan sembari duduk sementara Ilham memilih bergurau dengan Arion dan Lintang.


"Tante! Boleh Ardan bertanya? ucapnya sembari menyesap tehnya.


Prameswari hanya menoleh sesaat.


Tumben Ardan, memang ada apa?" tanya Prameswari lagi. Ardan tak segera menjawab malah menggaruk kepalanya berkali-kali sembari sesekali melihat ke atas.


Sedikit pelan berucap. "Tante, apa benar dulu ... sejenak Ardan menghentikan ucapannya saat si kembar turun, hingga Kinara dan Kinanti bergabung untuk duduk di meja makan menyusul juga dengan yang lainnya. Nampak tersungging senyum di bibir Ardan.


Prameswari seketika menoleh ke arah Ardan


"Memangnya Ardan mau tanya apa? Pasti akan Tante jawab jika Tante tahu jawabannya," ujar Prameswari sembari duduk.


"M ... Ibu pernah cerita, katanya dulu di kampung Tante ada rumah besar dengan pohon yang besar dan ... sekilas Ardan melirik Kinara dan ingin melihat reaksinya.


Tak melanjutkan pertanyaannya Ardan malah memilih menyendok nasi dan lauknya dan memulai menyuap nasi ke mulutnya. Sementara Prameswari yang masih terkejut mendengar pertanyaan Ardan, sedikit tersenyum.


"Ardan, di kampung ini tak ada rumah yang Ardan tanyakan, pasti Ibu Ardan salah."


Setelahnya tak ada percakapan lagi, masing-masing sibuk dengan makannya.


"Bapak mana Bu?" tanya Kinara tiba-tiba.


"Bapak ada urusan Kinara, ayo! Cepat selesaikan makan kalian dan berangkat," ucap Prameswari sembari melihat Ardan.


Setelah makan Ardan bergegas naik ke atas bersama Ilham dengan senyum simpul mereka masuk ke kamar.


"Kita lihat reaksi Kinara apa Kinara penasaran dengan ceritaku," ujar Ardan sembari mengotak atik kameranya.


"Jangan keterlaluan Ardan dan jangan buat Tante Prameswari marah," ucap Ilham mengingatkan.


"Tenang ... Aku hanya penasaran dengan cerita Ibu, katanya Tante Prameswari lah yang bisa menaklukkan setan itu," ucap Ardan lirih.


Mendengar cerita Ardan, Ilham hanya mengerutkan keningnya.


"Yakin? Sungguh!!" ucap Ilham seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


Hingga hampir siang saat pintu kamar mereka di ketuk.


"Kak ... Kak ... terdengar suara pelan memanggil mereka."


Mendengar panggilan untuk yang kedua kalinya barulah Ardan membuka pintu kamarnya, sedikit heran melihat siapa yang ada di depan pintu kamarnya. Senyumnya seketika tersimpul.


"Adek Kinara, tumben! Ada apa?" tanyanya sembari membuka pintu lebar-lebar.


Setelah melihat ke bawah, kini Kinara menarik tangan Ardan untuk mengikuti langkahnya menuju teras atas, setelah sampai di teras atas.


"Kak sini," ucapnya pelan.

__ADS_1


Tak berapa lama Kinanti juga sudah ikut duduk di sisi Kinara, sesaat Kinara menatap Kinanti seakan melakukan pembicaraan telepati hingga sesaat kemudian mereka mengangguk bersama.


"Kak, boleh Kinara bertanya?" ucapnya pelan.


Senyum Ardan kembali tersimpul.


'Akhirnya Ardan sukses memancing rasa penasaran Kinara,' ucap hati Ardan.


"Kak ... panggilnya lagi."


"Apa benar dulu di kampung ini, ada rumah yang kakak ceritakan ? Kenapa Ibu tak pernah cerita, ya? Kembali Kinara berucap.


Belum juga aku menjawab.


"Sebentar kakak," ucapnya sembari berdiri dan masuk kamar dan keluar lagi membawa buku yang sedikit tebal.


Kembali duduk di dekat Ardan.


"Sebentar," ucapnya sembari membolak balik bukunya dan berhenti di tengah-tengah.


"Apa mungkin rumahnya seperti gambar ini kak?" tanya Kinara lagi.


Ardan sangat terkejut dengan apa yang di lihat, ternyata Kinara tak seperti yang Ardan lihat, gadis kecil sedikit pendiam dengan tatapan matanya tajam.


"Kak ... kembali suara Kinara memanggil.


Kembali Ardan menggaruk kepala.


"Kak Ardan tak tahu secara pasti, tapi menurut cerita ibu dan Bapak memang ada dan mereka yang menyaksikan sendiri," ucap Ardan pelan.


"Sebentar, tunggu!!" ucap Ardan sembari mengeluarkan ponselnya. Rasa penasaran yang selama ini seakan kembali menggoda.


"Boleh kakak foto dan kakak tunjukkan pada Ibu kakak!"


"Nggak boleh, kakak pasti bohong, Zubaid saja juga gak pernah cerita," ucap Kinara lagi.


Mendengar ini Kinanti langsung menutup mulut Kinara.


"Ish ... kau keceplosan."


Akhirnya Ardan tersenyum, ternyata cerita ibu benar dan memang keluarga ini mempunyai segudang rahasia kembali rasa penasaran Ardan terusik.


"Sini kakak lihat gambarnya, kakak foto ya? Boleh kan?"


"Memang untuk apa? Kinara jadi curiga," ucap Kinara jutek.


"Terus malam-malam kakak ke mushola terus ... belum selesai Kinara bicara. Kinanti kembali membekap mulut Kinara.


"Ih ... ternyata kau keceplosan lagi Kinara, kenapa kau terpancing?"


Aku tertawa mendengar ucapan Kinanti.


"Sini kakak foto dulu gambarnya, nanti janji kakak cerita," ucap Ardan sembari menatap Kinanti dan Kinara.

__ADS_1


Ternyata Kinara tak semudah yang Ardan pikirkan, nampak Kinara diam sejenak.


Sesaat Ardan melihat wajahnya menegang dan sesaat kemudian kembali tenang. Melihatku sejenak kemudian tersenyum.


"Boleh !! Tetapi hanya gambar itu saja, karena dari beberapa gambar yang Kinara lukis mereka tak mengijinkan kakak untuk melihatnya karena kakak suka usil."


Tanpa peduli dengan ucapan Kinara kini aku memfoto lukisan rumah Kinara dan langsung mengirim pada ibu. Tak perlu menunggu waktu lama, Ibu sudah membalas kabarku, senyum Ardan langsung tersimpul.


"Lihat yang Ibu kabarkan, ternyata lukisan rumah itu adalah lukisan rumah yang di ceritakan Bapak dan Ibu," jawab Ardan sedikit pelan.


Seketika nampak wajah Kinara terlihat heran.


"Kenapa Ibu nggak pernah cerita, pada kami?" ucapnya pelan.


Kemudian melihat Ardan lekat dengan mata tajamnya.


"Terus ... apa yang kakak lakukan dengan kamera kakak, malam-malam mengitari mushola dengan kamera Kakak?" tanya Kinara bertubi.


"Adik kecil ... Suara Ilham mengejutkan kami yang sedang di teras."


"Kakak Ardan ini seorang youtuber dan sering mencari tempat-tempat seram, rumah angker dan yang lainnya, jadi jangan salah paham kalau melihat Kak Ardan dan Kak Ilham keluar malam-malam," jelas Kak Ilham sembari duduk di sisi Kak Ardan.


"Terus ... Adik kecil, tahu dari mana kalau kami pergi ke Mushola? Seketika Kinanti menyikutku sembari berbisik, sesaat kami berpandangan.


"Sudah, kami mau masuk dan ingat Kak, Kinara akan mengadu pada Ibu tentang ini," ancam Kinara pada kami dan segera berlalu masuk kamar.


Setelah kepergian Kinara, Ardan tersenyum.


"Sabar ... tunggu saja pasti kau bersedia membantuku," ucap Ardan yang di balas senyum oleh Ilham.


"Ardan, ingat jangan berlebihan dan jangan buat Tante Prameswari marah, meski Abah tak pernah cerita padaku, tapi melihat cara Tante Prameswari menatapmu, pasti ada sesuatu yang di sembunyikan dan jangan buat malu orang tua kita," ucap Ilham sembari menatap ke arah halaman.


Terlihat Ilham tersenyum kemudian berbalik menatap Ardan.


"Simpan saja rasa penasaran mu dan malam ini kita jangan keluar dulu, pasti Tante Prames akan mengawasi kita," ucap Ilham lagi.


"Ilham ... panggil Ardan pelan.


"Hem ... Apa?"


"Aku suka dengan gaya Kinara," ucap Ardan tiba-tiba.


"Ardan tahu selama kita di sini, Kinara menyembunyikan sesuatu dan itu membuatku penasaran karena ada energi yang sama denganku."


Seketika Ilham tertawa sembari menatap.


"Jaga kewarasanmu Ardan," hanya itu saja yang terucap dari mulut Ilham dan berlalu menuju kamar.


Setelah sama-sama masuk dalam kamar, kembali ku ulangi ucapanku tadi.


"Sungguh Ilham, Ardan suka dengan gaya Kinara."


"Ngaco kau Ardan, awas kalau kau sampai macam-macam, aku orang pertama yang akan menghajarmu," ucap Ilham sembari berbaring di ranjang.

__ADS_1


Kini Ardan hanya tersenyum mendengar ucapan Ilham sembari ikut berbaring di ranjang.


"Sayang kita di sini tinggal tiga hari lagi," ucapnya masih terdengar pelan.


__ADS_2