
Pagi ini seperti pagi biasanya, semua sibuk dengan kegiatan masing-masing, dua ibu juga sedang mengaji, ini memang kegiatan rutin mereka setelah shalat subuh mereka akan melanjutkan mengaji hingga pukul enam pagi
bersama mak Sunar juga.
Tapi pagi ini, sejak subuh mak Sunar belum keluar dari kamarnya dan tak ikut mengaji hingga ibu pulang dari mengaji mak Sunar pun juga belum keluar dari kamar.
"Pagi, anak-anak" sapa ibu saat Kinara dan Kinanti turun dengan wajah cemberut, sementara Lintang sudah mulai merajuk dengan sikap yang ngambek, belum lagi Arion yang sudah rewel, menangis secara tiba-tiba.
Dengan heran aku menatap anak-anakku dan datang menghampiri mereka "kenapa? sembari ku usap satu persatu kepala mereka dan menggendong Arion.
"Masih pagi gak boleh ngambek dan rewel" ucapku pada Arion.
Sembari menurunkan Arion kini aku mendekat pada Lintang, "Hm .... jagoan ibu, kenapa nak?
masih mimpi buruk kah? yang ku tanya hanya diam menatapku dan kemudian memelukku.
"Hari ini perasaan Lintang sedih bu, semalam Lintang bermimpi emak pergi jauh .... ucapnya sembari menunduk.
"Hm .... itu hanya mimpi sayang, bunga tidur" ucapku sembari ku sodorkan air putih padanya.
"Minum dulu, jangan lupa baca bismillah" sembari menuju ke kembar twin.
"Lalu .... gadis ibu yang cantik ini? Kinanti masih diam, tapi Kinara langsung menangis dalam pelukanku.
Setelah tangisnya reda "sini peluk ibu" sembari ku rentangkan tanganku pada dua gadis kecilku.
Sesaat Kinara langsung berbisik "subuh tadi mak Sunar pamit pada Kinara dan menemuiku tapi ....." kata-kata Kinara langsung terputus begitu saja.
"Terus gadis ibu yang cantik ini?"
"Perasaan Kinanti sedih bu, Kinanti juga gak ngerti kenapa?"
"Hm .... Kinara juga sedih? kenapa?"
"Emak bu ..... emak! ucap Kinara terhenti sesaat kemudian berbisik padaku.
"Kinar gak boleh ngomong seperti itu " ucapku lagi.
Jam sudah menunjukkan pukul enam lewat lima menit "sudah ayo sarapan, Lintang kasian nenek sudah menunggu dari tadi."
"Arion ke mana bu?"hm ... itu, ku lihat Arion keluar dari kamar mak Sunar dengan membawa dua mobil lan dan tembakan dari pelepah pisang yang sudah jadi.
__ADS_1
"Loh, kok sudah dapat mainannya? lalu emaknya mana? Arion menggeleng.
"Ini di meja emak , "Emak aku bangunin masih tidur saja gak bangun-bangun" ucapnya sembari menatap mainan itu dan menyerahkan masing-masing satu untuk Lintang.
"Kinara ternyata masih memperhatikan percakapan kami langsung tertunduk dalam
"Ibu, kan Kinara sudah bilang!"
Dengan segera aku dan ibu menuju kamar mak Sunar, begitu aku masuk, ku lihat kamarnya sudah bersih semua tertata rapi.
Saat aku menatap tubuh mak Sunar aku sangat terkejut, melihat mak Sunar tapi sudah dalam bentuk sukma yang kini sedang menunggu sesuatu.
"Bu....emak" ucapku pelan.
"Tolong doakan bu, aku akan manggil mas Rian"
sembari ku tatap raga mak Sunar, 'sudah memposisikan tidurnya dengan baik, bibirnya tersungging senyum, nampak cantik seketika aroma wangi ku cium'
"Mak, aku ikhlas melepas emak" ucap hatiku.
Dua ibuku serasa tak percaya dengan kata terbata mereka memanggil mak Sunar, wanita yang senantiasa mendampingi mereka kemanapun. Ibu mertuaku langsung berdiri membaca surat Yasin dan al fateha dan berusaha menahan tangisnya.
Sementara ibuku masih menatap jasad yang ada di hadapannya serasa ada rasa tak percaya jika teman terbaiknya lebih dulu pergi menghadap Ilahi, sembari menyusut air matanya ibu segera membacakan suar al fateha dan yasin.
Tapi semuanya harus berjalan "mbak, minta bantuan para ibu-ibu untuk mengurus semua keperluannya ya? terus ini uangnya untuk membeli semua keperluannya" ucapku sembari menyerahkan sejumlah uang pada mbak Yas dan mbak Ning.
Ku lihat Kinara dan Kinanti serta Lintang sudah menangis sementara Arion yang belum paham apa arti meninggal hanya menatap ke tiga kakaknya yang sedang menangis sembari memainkan pistol-pistolan dari pelepah pisang dan mobil-mobilan di tangannya.
Segera ku peluk anak-anakku mencoba menenangkan mereka, "bu .... emak ngelihat kita sembari tersenyum dan berdiri di dekat pintu " bisik Kinara pelan di telingaku.
Sesaat ku lepas pelukanku "kakak ayo kita doakan emak dengan ikhlas, yuk, kita gabung dengan nenek, ambil kerudung dulu dan Lintang pakai baju yang sopan, kakak juga ya!"
tanpa di komando ketiga anakku langsung naik ke atas dan sesaat kemudian sudah turun kembali dan bergabung dengan nenek mereka juga dengan beberapa para tetangga yang sudah datang.
Ku lihat Arion masih sibuk dengan mainan nya
"Arion...mainan nya di simpan dulu ya? mau di simpan di kamar? beberapa saat ku lihat Arion masih enggan melepas mainannya.
Arion dan ibu duduk di sana yuk ! tapi mainan nya di simpan dulu ya, di kamar Arion.
Menatapku dan mengangguk, setelah menyimpan mainan Arion, aku dan Arion duduk bersama mereka sementara mas Rian juga terlihat sibuk mengurus ini dan itu.
__ADS_1
Doa tiada henti dan terus terdengar, akhirnya terjawab sudah yang menjadi gelisah hati anak anak ku 'terima kasih mak dan maafkan Prammu ini ' ucap dalam hatiku.
Doa terhenti saat jasad mak Sunar di mandikan dan aku langsung menarik anak-anak untuk duduk di ruang tengah, hingga semua urusan jasad mak Sunar beres.
Nampak ibu-ibu sudah sibuk di halaman samping untuk masak ini dan itu, meronce bunga, memotong daun pandan dan yang lainnya.
Arion yang sedari tadi duduk di sisiku akhirnya tertidur juga sementara tiga anakku sudah kembali duduk di sisi nenek mereka untuk membaca doa, hingga keberangkatan menuju makam.
Dua nenek, sengaja di minta mas Rian untuk di rumah saja, karena usianya dan tak mungkin mereka akan ikut berjalan sejauh itu.
Sebelum, jenasah berangkat mas Rian memanggilku "Pram, awasi anak-anak karena ini pertama kali mereka ikut ke makam, sini biar Arion aku gendong" ucap mas Rian sembari mengangkat Arion.
Perjalanan menuju makam umum memang lumayan jauh, di tengah perjalanan Arion terbangun, Lintang langsung berjalan di sisi bapaknya nampak tangannya berpegangan erat sementara Kinanti dan Kinara berada dalam genggaman tanganku, sepajang masuk dalam makam nampak Kinara menunduk kan kepalannya.
Hingga acara pemakaman selesai, Kinara masih tertunduk dan kembali mengangkat kepalanya saat ke luar dari makam.
Sembari berjalan tangan Kinara mengenggamku dengan erat dan aku sadar karena sejak masuk dalam makam ada sosok yang menatap kami dengan penasaran dan kini mengikuti kami.
"Kinara takut? Kinara nampak menggeleng.
"Tapi Kinara takut jika Kinanti yang di goda" ucapnya pelan.
Dengan berjalan pulang akhirnya mau tidak mau harus menyelesaikan urusan ini.
Tiba di rumah suasana masih rame masih ada para pelayat yang datang dan juga kesibukan para tetangga yang membantu.
Aku langsung menyuruh anak-anak untuk mandi begitu juga untuk Arion dan Lintang.
Setelah mandi nampak anak-anak tak turun lagi dan memilih masuk kamar mereka, karena di bawah keadaan rumah juga masih rame.
"Mbak tolong, antar makanan anak-anak ke atas saja karena sedari tadi belum juga terisi apapun.
Dengan di bantu mbak yas dan mbak Ning aku menuju atas, setelah memasuki kamar Kinanti aku masuk kamar Arion, nampak Arion tengah asik bermain mobil-mobillan dari mak Sunar.
"Ayo, maem dulu, ibu suapin ya?" hanya mengangguk tapi tangannya masih asik bermain.
Setelah meminum air putihnya nampak Arion beberapa kali menguap Arion ngantuk? bobok gih" ucapku sembari mengangkatnya ke kasur.
Setelah Arion tertidur kini aku berkeliling melihat satu persatu kamar anakku. Lintang juga sudah tidur, sembari keluar dari kamar aku juga membawa piring kotornya, kini aku beralih ke kamar Kinanti saat ku lihat tengah makan dan langsung menuju kamar Kinara, makanannya masih utuh tapi tangannya masih sibuk menggambar.
"Makan dulu Kinara, jangan sampai kamu sakit sambil melihat apa yang di gambarnya.
__ADS_1
"Makan dulu" sembari tangan ku menutupi kertas gambarnya, Melihatku sekilas dan tersenyum, "Hiya ...." kemudian mengambil makannya.
Akhirnya emak pergi dengan tenang dan semalam adalah percakapan terakhir ku dengan mak Sunar "selamat jalan mak."