OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 34 . BANTUAN


__ADS_3

Aku hanya memandang sosok ini sesaat.


'Masa bodoh batinku.'


Entah, karena ucapan ibu dan Rian atau aku yang lagi malas, melanjutkan meminum air yang sudah aku tuang dalam gelas. Lalu duduk di kursi meja makan.


Merenung dengan semua yang terjadi, apa memang setiap hari aku harus memikirkan hal-hal ini saja, ada hal yang lebih penting yang harus aku kejar. Cita-cita dan masa depanku.


Benar kata Rian aku harus mengontrol diriku dan hanya menggunakannya untuk hal tertentu saja.


"Kenapa Simbah tak mengarahkanku, kesannya hanya menaruh sesuatu sudah begitu saja. Apa aku harus ketemu ibunya Rian? Sementara untuk bertemu Simbah, ibu melarang," guman Pram pelan.


Benar kata Rian harus ada yang mengarahkan dan membimbing.


"Aahh, kenapa jadi begini rumit."


Aku menuju kamar, begitu di dalam kamar langsung aku merebahkan tubuh. Teringat akan perjalanan yang aku lalui, mengingat secara rinci, ini semua nya berawal dari Simbah Buyut ku dan aku yang harus membenahinya.


Tapi bagaimana dengan perjanjian itu? Kini sudah merengut satu nyawa.


Serasa pikiranku buntu, entah mengapa tiba tiba aku ingin melakukan gerakan ini duduk bersila mengatur napas dengan tenang.


Suasana yang sepi sangat mendukung gerakan ini, kini aku sudah di bawah suasana yang sangat hening.


Secara tiba-tiba leluhurku datang dan menatap.


"Apa yang membuatmu risau


makhluk yang sedang menuntut balas itu?"


tanya leluhur.


Aku membuka mataku perlahan.


"Mbah," panggil Pram.


Tidak menjawab panggilan Pram kini leluhur sudah duduk di depan Pram.


"Benahi dulu penjagaanya Prameswari, makhluk itu tak akan pernah bisa musnah tapi halau dengan keyakinanmu," ucap Leluhur, kemudian aku mengangguk tanda mengerti.


"Boleh cucumu bertanya? Bagaimana dengan ibunya Rian? Apa dia bisa membantuku atau Simbah Rum?" tanya Pram bertubi, sesaat Pram melihat Leluhur tersenyum.


"Jangan mencampur adukkan semuanya Pram. Satu-satu semua ada jalan dan aturannya sendiri ."


"Lakukan apa yang perlu kamu lakukan fokus.


Tentang tumbal itu hanya Simbah mu saja yang bisa menyelesaikan Prameswari."


"Kau yang nanti bisa membantunya sebelum korban bertambah Pram," terang Leluhur.


"Tapi, kenapa Simbah selalu melarang aku untuk datang?" tanya Pram lagi.


"Itu rasa khawatir Simbahmu Pram."


"Beri aku petunjuk bagaimana aku membantu Simbah Rum."


"Benahi apa yang perlu di benahi Pram sempurnakan pagar pembatas itu Pram."


Dan untuk makhluk itu hanya bisa pergi dengan keyakinanmu," ingat itu.

__ADS_1


"Simbah pergi, lakukan hal seperti ini jika kau memerlukan nasehatku."


"Simbah tuntun aku, ajari cara menyempurnakannya !! tanya Pram lagi.


"Lengkapi mantranya Pram, jangan lupa itu."


"Bawa temanmu untuk membantunya."


"Rian?" tanya Pram heran.


"Hanya dia yang bisa menolongmu dan ibunya jangan ragukan dia, nanti kau akan mengerti Pram, Simbah leluhur akan menuntunmu."


Dalam sekejap mata, Simbah sudah pergi


tak berapa lama terdengar ayam berkokok.


'Sebentar lagi subuh,' pikir Pram.


Pram menyudahinya saat adzan subuh berkumandang, mengambil air wudhu dan selanjutnya shalat subuh. setelah selesai Pram langsung berdzikir, tiba-tiba Pramb teringat dengan ucapan leluhur.


"Keyakinan. Berarti. Akhirnya Pram tersenyum. Aku paham saat ini."


Tapi untuk saat ini Pram belum bisa, karena sebentar lagi ujian mungkin selepas ujian sebelum Pram kembali ke kota pikir Pram.


Waktu berlalu begitu cepat berbagai penampakan muncul. Tetapi Pram telah berjanji untuk tak menghiraukan karena hanya ingin fokus ujian dan naik kelas.


Simbah Rum pun juga terlihat sudah sangat tua, rambutnya kini sudah memutih, wajahnya terkadang terlihat pucat dan mungkin hanya seminggu sekali mengunjungi.


Masih tetap dengan aturannya dan tak mengijinkan Pram untuk datang mengunjunginya dan hanya Ibulah yang di ijinkan.


Seperti saat ini, ini hari terakhir Pram ujian. Berarti sembari menunggu rapotan akan ada banyak waktu untuk Pram.


berganti pakaian dan shalat dhuhur dulu


setelah semuanya selesai. Pram pun memulai duduk bersemedi mengatur napas pelan dan teratur, suasana seketika hening dan sepi.


"Ada apa Pram?" tanya Simbah leluhur.


"Apa beberapa hari kedepan Pram bisa memperbaiki pagarnya?" tanya Pram.


"Lakukan Pram tapi puasalah dulu tiga hari, apa kau sanggup."


Pram mengangguk. "Setelah di puasa terakhir Simbah leluhur sendiri yang akan menjaga sukmamu dan aku akan menuntunmu Pram."


"Mbah jika setelah itu aku tinggalkan kampung ini dan kembali ke kota."


"Lakukan Pram kejar tujuanmu itu."


Setelahnya, leluhur pun menghilang, ada perasaan sedikit lega saat ini.


Tak terasa sudah tiga hari Pram melakukan puasa, Ibu tak menaruh curiga sedikit pun pada Pram karena kesibukannya.


Masih pukul lima sore saat Rian tiba-tiba sudah di depan rumah.


"Pram, ada Rian di depan," ucap ibu memanggil.


Mendengar Rian ada di depan Pram langsung keluar. "Ayo ajak Rian."


"Ikutlah Pram Rian dalam kendaliku bisik suara itu."

__ADS_1


Entah, mengapa perjalanan Pram dengan Rian terasa cepat seperti hanya berpindah tempat.


Pram tak mengerti ada di mana tetapi kemudian Pram di tuntun untuk membaca sesuatu mantra. Sebelumnya Rian sudah menggalinya menaruh sesuatu di dalamnya dan menutupnya dengan mantra.


Setelah selesai kini Pram sudah pergi ke sisi lain dan melakukan hal yang sama begitu pula untuk dua sudut yang lainnya, tak lama kini Pram sudah di depan rumah lagi dengan Rian.


"Pram aku pulang," ucap Rian dan kini sudah berlari hingga hilang di balik pagar.


"Terimakasih kau sudah melakukan demi kampung ini," ucap suara itu.


Pram hanya mengangguk. Semoga ini benar benar sudah sempurna sama seperti dulu," ucap Pram.


Begitu adzan magrib berkumandang Pram langsung masuk dan membatalkan puasa.


Satu tugas Pram sudah selesai kini tinggal menunggu membantu Simbah Rum pikir Pram.


Setelah shalat magrib Pram langsung menuju meja makan tak perlu waktu lama untuk menyelesaikan makan.


Melihat ibu sudah rapi.


"Mau kemana Bu?" tanya Pram.


"Ibu mau pergi sebentar Pram mungkin nanti selepas isya, ibu baru kembali."


Melihat ibu memasang hijabnya dan berjalan keluar.


"Bu ... panggil Pram mau kemana?" tanya Pram lagi.


"Pengajian Pram!"


Hanya itu dan setelahnya ibu melanjutkan langkahnya.


"Kenapa dalam hal baik begini ibu tak mengajak," guman Pram sendiri.


Hingga hampir pukul sembilan malam ibu baru datang. "Belum tidur Pram?" tanya Ibu Saat ibu melihat aku duduk di ruang tamu sembari memegang ponsel.


"Nunggu ibu, kok sampek malam!" tanya Pram lagi.


"Oh ... itu kan biasanya selepas asar Pram, karena hari ini ibunya Rian ada Kerepotan akhirnya di undur selepas magrib."


"M ... hanya ini yang ke luar dari mulut Pram."


"Sudah tidur Pram!" seru ibu pada Pram.


"Ibu, apa boleh Pram ikut ibu?" tanya Pram. Ibu tak menjawab tetapi langsung duduk di sebelah ku.


"Kalau untuk anak-anak muda seperti mu jam nya lebih awal Pram, jika kau mau ibu akan mengantarmu."


"Apa Rian tak pernah cerita ,aku hanya menggeleng saja."


"Sudah ke kamar saja, besok ibu pagi-pagi harus ke rumah Simbah, bersih-bersih Pram!"


"Boleh Pram ikut?" tanya Pram.


"Simbahmu tak mengijinkan Pram."


"Bu sebenarnya banyak yang Pram ingin tanyakan ke Simbah."


"Apa simbah sehat Bu?" tanyabPram. Ibu hanya diam menandakan Simbah memang sedang tak baik-baik saja. Pram merasa sedikit khawatir akan ini.

__ADS_1


__ADS_2