
Rian tertawa puas, setelah berhasil menyuapkan satu kue perut ayam utuh ke mulut Pram. Dengan mulut penuh Pram mencoba untuk mengunyah nya pelan.
Setelah menelan kunyahan yang terakhir kali. "Kamu jahat Rian andaikan tangan aku sudah kuat, pasti aku pukul dan aku tendang kamu," ucap Pram sembari cemberut.
"Maaf, maafin ya? Tak menjawab permintaan maaf Rian, Pram hanya tersenyum.
"Mau lagi?" tanya Rian.
"Enggak," jawab Pram sedikit ngegas.
Melihat Pram marah dan cemberut, kini Rian yang bingung.
"Lha, kenapa aku yang salah tingkah," ucap Rian.
Kini Rian sudah beringsut duduk di sisinya "Sini," ucap Rian sembari membuka buku yang di bawa tadi.
"Baca ini, perintah Rian," sembari memajukan bukunya di pangkuan Pram. Pram melihat sejenak.
"Supaya nggak ketinggalan Pram? Dua bulan lagi ujian."
Tak lama terlihat Pram fokus membaca dan sesekali mencoba menghafal, berhenti sejenak dan nampak bingung.
"Rian ini maksudnya?" tanya Pram tentang sesuatu yang tak di pahami oleh Pram.
Sedikit mendekat.
"Kenapa? Dadaku tiba-tiba berdebar," ucap Rian pelan.
Namun, tak mengurungkan niat Rian untuk mendekat. Beberapa saat Rian terkejut saat Pram mencoba menggerakkan tangannya untuk menunjukkan apa yang di maksud.
Rian tak berusaha mencegahnya. Namun, Rian memperhatikan.
"Ini. ucap Pram sembari menjatuhkan tangannya dengan berat."
"Oh, ini?"
Dengan pelan Rian menjelaskan agar Pram paham, kemudian dengan reflek ia sudah menarik lagi tangannya.
"Temanku ini hebat," pujinya dengan tersenyum. setelah paham akan yang di maksud.
Mendengar pujian Pram Rian masih diam hanya batinnya saja yang berujar.
"Kok aku jadi tambah berdebar mendengar pujiannya."
Rian berusaha menjaga sikap senormal mungkin, karena Rian tak ingin Prameswari menjaga jarak darinya.
Panggilan Mbah Rum mengagetkan
"Rian ayo, pulang!! ucap Mbah Rum dari depan kamar.
"Sebentar Mbah," balas Rian.
Sebelum benar-benar beranjak dari sisi Pram.
"Ini di baca, nanti minta tolong ibu untuk membaliknya," ucap Rian sebelum benar-benar pergi.
"Semangat Pram ! Biar bisa naik kelas sama sama," ucap Rian, sesaat melihat Pram mengangguk dan tersenyum.
"Nur, ibu pulang dulu. Ibu sekalian juga mau cari rumah buat kalian," ucap Simbah sembari menatap Rian.
Sedikit tersenyum. "Mau bantu kan Le?" tanya Simbah pada Rian.
"Mau Mbah," ucap Rian sekilas sembari melirik cucunya.
Sudah menjelang ashar, saat Simbah pulang Pram berusaha menggeser duduknya agar nyaman.
"Eee, hati-hati, pelan-pelan," ucap ibu.
Sedikit demi sedikit Pram mencoba menggerakkan tangannya yang ternyata masih sedikit berat dan hingga pukul lima sore saat suster datang untuk memeriksa.
"Selamat sore cantik," sapa Suster sembari tersenyum.
__ADS_1
"Periksa dulu, ya?" ucap sang Suster yang sudah membereskan buku yang ada di sebelah Pram.
"Gimana ada yang di keluhkan?" tanya Suster pada Pram.
Sesaat melihat ibu berjalan mendekat.
"Ayo, sini adik cantik coba pelan-pelan tangannya di gerakkan," ucap Suster kembali memeriksa Pram.
"Sakit?" tanya Suster dan Pram hanya menggeleng.
Melihat Pram menggeleng kemudian Suster beralih ke kaki Pram dan tak luput juga di periksa Suster.
Setelah semuanya selesai kemudian Suter tersenyum melihat dan mencatat sesuatu.
"Semuanya bagus, besok sudah boleh pulang tapi tunggu Dokter datang ya?"
Setelah mencatat suster itu beranjak pergi
"Bu sudah boleh pulang!! ucap Pram sembari berusaha membentangkan tangannya ingin memeluk ibu.
"Ibu yang melihat langsung tersenyum dan langsung merengkuh Pram.
"Ibu siap-siap Pram ! ucap Ibu sembari melangkah ke lemari mengemasi baju dan beberapa barang.
"Bu, apa kita pulang ke kampung?" tanya Pram, seketika ibu menghentikan kegiatannya mendengar ucapan Pram.
"Apa Pram mau pulang ke kampung?" Mendengar pertanyaan Ibu seketika kepala Pram menggeleng .
Ibu menatap dalam. "Pram masih belum bisa Bu, apalagi kondisi Pram seperti ini dan Pram belum siap, jika kita pulang ke kampung," ucap Pram pelan.
Ibu mendekat dan tersenyum. "Simbah sudah mencarikan kita rumah di sini, itu pun di bantu Rian, tadi Simbah bilang ke ibu."
"Sungguh?" tanya Pram tak percaya dan beralih melihat Ibu yang mengangguk.
Sudah pukul delapan malam tapi mata Pram belum terpejam, melihat Pram belum juga terpejam ibu mendekat.
"Ibu balur biar anget," ucap ibu sembari mulai membalur kaki Pram.
"Jamu, dari Simbah ini ragi, kencur daun kemangi di campur jadi satu supaya kakinya kuat dan hangat, sini tangannya juga," ucap ibu.
"Baunya aneh ya Bu? Ibu hanya tersenyum dan meletakkan baluran itu."
Kemudian ibu sudah menyelimuti.
"Tidur sudah malam."
Tak lama Pram melihat ibu juga menuju tempat biasanya.
Memindai seluruh ruangan kamar, tumben sepi tak nampak kelebat makhluk astral satupun.
'Aneh, pikir Pram.'
Rasa hangat dari baluran ini membuat mataku tiba-tiba terlelap hingga pagi menjelang.
Pagi ini Pram terbangun dengan badan terasa ringan tanpa gangguan dari makhluk tak kasat mata, dengan tanpa sadar tangannya menyingkap selimut yang Pram gunakan.
Pram tersenyum bahagia mendapatinya bisa menggerakkan tangannya, Pram mengulang lagi perlahan dan memang tangannya kini sudah bisa sedikit di gerakkan.
Mengingat pesan Dokter untuk berhati-hati, Pram masih menjaga gerakkannya dengan penasaran kini Pram mencoba menggerakkan kakinya, perlahan hingga gerakannya terhenti saat ibu datang.
"Mau ke belakang Pram?" tanya Ibu.
Pram langsung mengangguk mungkin ini pertama kalinya Pram kebelakang setelah dua bulan ke belakang ini.
Secara perlahan ibu membantu Pram turun, satu persatu kakinya di turunkan kemudian mendekatkan kursi rodanya.
Dengan sedikit susah akhirnya Pram berhasil duduk, kini ibu sudah mendorong masuk ke kamar mandi membuka pintunya.
"Bu, tungguin Pram ya? Pram pingin mandi, tapi jangan jauh-jauh."
"ibu bantu lepas baju ya?" tawar Ibu.
__ADS_1
Pram langsung mengangguk.
"Pakai air hangat Pram?" ucap Ibu kini sudah mengatur shower ke air yang hangat.
"Boleh keramas kan?" tanya Pram pada Ibu. Ibu hanya mengangguk sembari menungguku di depan pintu.
"Jangan lama-lama Pram? Mau di bantu!!"
"Tolong dekatkan saja kursi rodanya dekat shower Bu," ucap Pram pelan.
Ibu mendorong kursi roda dan menguncinya kini ibu tak di depan pintu tapi berdiri di dekat Pram.
Selesai mandi ibu segera memberikan handuk dan membantu memakai baju .
"Segar Bu rasanya, badan Pram ringan sekarang."
"Ayo," ucap Ibu.
Kini sudah mendorong kursi roda kembali ke kamar.
"Bu Pram pingin duduk di kursi," ucap Pram sembari mencoba berdiri dengan bantuan ibunya.
"Huf ... ucap Pram, setelah Pram bisa menjangkau dan duduk di kursi.
"Jangan di paksa Pram, kan harus terapi dulu, ingat pesan Dokter," ucap Ibu setelah membantu.
"Pram ... duduk di sini dulu, ibu tinggal ke bagian administrasi bisa kan? Ibu harus membayar tagihannya," ucap ibu sembari mengambil dompetnya.
Melihat ada dua tas besar dan satu tas kecil
rupanya ibu sudah membereskan semuanya
dan sekarang tinggal menyelesaikan pembayarannya.
Tak berapa lama Pram melihat Simbah datang tapi hanya sendiri. Sembari mencari sosok yang beberapa hari ini selalu mengikuti Simbah. 'Tumben Rian tidak ikut pikir Pram.'
Melihat Pram duduk di kursi Simbah langsung tersenyum.
"M ... putune Simbah," ucap Simbah kini duduk di dekat Pram. Melihat dua tas ada di sisi ranjang.
"Kok sudah di bereskan Pram?" tanya Simbah lagi.
"Sudah boleh pulang Mbah, nanti tinggal terapinya Mbah."
"M ... ya sudah," ucap simbah.
Tak berapa lama ibu juga datang dengan beberapa lembar kertas di tangannya.
"Gimana Nur, masih kurang?" tanya Simbah.
"Nggak Bu cukup," jawab ibu pelan.
"Rian juga sudah Ibu suruh mengisi rekeningmu Nur, Pram nggak usah pulang ke kampung dulu, Simbah sudah carikan rumah meski kecil tapi dekat dengan rumah sakit ini," ucap simbah sembari berdiri.
"Itu kan mahal Bu?" tanya Ibu tiba-tiba.
"Ibu lebih sayang Pram, Nur, toh di kampung keadaannya juga belum membaik, biar Pram menyelesaikan sekolahnya di sini sekalian.
"Bu, Nur nggak tega ninggalin ibu di kampung sendirian," ucap ibu sembari menunduk."
"Ish ... kau Nur, jika Ibu di sini mau jadi apa rumah kita Nur," ucap Simbah sembari pandangan Simbah sudah menerawang jauh.
"Ibu sudah tua Nur. Berbeda dengan Pram masih ada yang harus di kejarnya."
"Mbah ... apa perjanjian itu masih berlaku?" tanya Pram tiba-tiba, Simbah hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Pram.
"Nggak usah di pikir Pram! masih ada simbahmu ini."
"Ayo," ucap simbah sembari mengangkat satu tas dan ibu masih membantu Pram duduk di kursi roda.
"Sreeeeeeet ... tiba tiba terdengar suara di seret.
__ADS_1