
Pagi ini setelah Rian berangkat, ibunya Rian pergi ke rumah Nur.
Melihat Prameswari termenung di teras ibunya Rian tersenyum, sudah dua kali mengucap salam namun tak kunjung di jawab, hingga Nur yang berada di dalam keluar sembari menjawab salam yang di dengar," aduh maaf Asih, ayo masuk," ucap Nur mempersilahkan.
"Pram, Prameswari ....panggil ibunya,
dengan terkejut Pram menjawab.
"E ... ya Bu, ada apa? jawab Prameswari lagi. Kau itu ada tamu, mengucap salam kok malah melamun, ayo salim, itu ada ibunya Rian.
"Loh ... tante dari tadi? sembari meraih tangan ibunya Rian.
"Ayo Pram ajak masuk ibunya Rian," ucap ibu sembari membuka pintu lebar-lebar.
"Asih, aku tinggal kebelakang ya!"
"M ... Bu, biar Pram saja, ibu yang duduk saja," ucap Pram kini sembari melangkah ke dapur.
Samar-samar terdengar suara ibu dan ibunya Rian tertawa, entah apa yang mereka bicarakan, tawanya terhenti saat aku masuk menaruh teh dan cemilan kemudian beringsut mundur untuk ke kamar.
Melihat aku seperti itu, ibunya Rian langsung menarik tanganku," eh ... lah tante itu kesini ada perlu dengamu Pram! Kok main slonong mau pergi saja."
Mendengar itu aku langsung duduk di sisi ibu. "Memang waktu Tante datang, Pram lagi ngelamun apa? sepertinya serius sekali tanya ibunya Rian.
"Eh .... itu, ini, m ... jawab Pram bingung, sesaat kemudian," bukan apa-apa Tante, jawabku asal.
"Sudah sini mendekat ke Tante, tapi sebelum Tante tanya apa sudah siap? sudah ridho menerima semuanya."
"Maksud tante? tanyaku heran.
"Nur ... anakmu iki, kok gak paham," ucap ibu Rian dengan sedikit tersenyum, mungkin saat ini yang datang saiton oon paling Asih," ucap ibu tanpa filter.
"Aduh ... Nur bicaramu kok ngawur, sudah Tante tanya sekali lagi, sudah siap kan?
"Karena ini permintaan Rian Pram, jadi Tante menyerahkan padamu dan memang sudah menjadi keharusan milikmu."
"Lihat Nur kenapa juga Pram senyum-senyum," Ibu kini melihat sembari tersenyum lebar.
"Sudah Tante, Pram sudah ingat maksud Tante."
__ADS_1
"Ayo duduk bersila di depan Tante. "Setelah aku duduk bersila mulut tante berkomat kamit sesaat kemudian memegang dahi Pram, panggil nama leluhurmu dalam hati tiga kali Pram."
Sesuai arahan dari ibunya Rian serasa ada cahaya yang melesat dalam tubuh, seketika hati Pram menghangat dan berangsur perlahan kembali ke suhu normal.
"Sudah Pram, ingat jangan sombong, ikhlas dan satu hal merendahlah, karena akan banyak yang mengincar ilmu mu ini, bersikaplah kau apa adanya jangan pernah menunjukkan kelebihannmu, terus jangan sering-sering keluar jalan-jalan tanpa arah, itu akan memancing rasa penasaran mereka dan beruntung selama ini tak ada yang mengikutimu."
"Hiya, Tante ucap Pram malu.
Sudah hampir siang saat tante mengakhiri semuanya," Asih, minum dulu tehmu dan ini cemilan kenapa juga jadi pajangan saja," ucap ibu sembari mendekatkan nampannya.
Setelah menyesap teh nya dan mengambil cemilan," Nur ... Pram, tugasku telah selesai satu amanat sudah aku jalankan tinggal menunggu amanat yang lainnya yang belum bisa terlaksana. Seketika ibu melotot ke arah ibunya Rian," awas jika kau sampai keceplosan," ucap ibu mengancam.
"Hahahah ... tawa ibunya Rian langsung terdengar hingga terbatuk," huk, huk, huk .... "
"Aduh ... setelah meminum tehnya , kemudian mengelus dadanya," pelan Asih," ucap ibu yang masih juga memukul-mukul pelan punggung ibunya Rian.
Hampir dhuhur saat ibunya Rian berpamitan pulang, kembali aku dan ibu mengantar ibunya Rian hingga teras," Hati-hati," ucap ibu sembari meraih tangan Pram.
" Ayo, dhuhuran dulu."
Tak butuh waktu lama untuk shalat dhuhur, kini aku sedang duduk, teringat akan pesan Rian seketika Pram mengulir ponselnya," benar sudah sepuluh notif panggilan dan lima notif wa," ucap Pram pelan.
Kini tangan Pram sudah membuka notif wa tapi hanya ada notif emot marah dengan wajah merah." maaf lagi ngobrol sama tante Asih jadi gak dengar," lalu aku kirim dan mematikan ponsel dengan tiba-tiba.
"Aman pikirku."
Hingga selepas isya Pram baru menyalakan kembali ponselnya, tak berapa lama terdengar kembali nada panggil dan langsung video call.
"Maaf ya? terus diam dan menatap wajah Pram dan untuk beberapa saat langsung mematikan panggilan. Masih dengan bingung "Lah maksudnya apa juga," omel Pram lagi.
Aku sudah melempar ponsel sembarangan, toh besok juga aku mulai masuk kuliah, memilih tidur lebih awal menarik selimut dan akhirnya aku benar-benar tertidur hingga pagi.
Masih pagi aku sudah ribut ini dan itu dan takut terlambat juga," Bu ... mana bawahan hitam Pram dan mana atasannya juga.
"Bu ... kini aku melangkah ke kamar Ibu, aku melihat ibu masih membereskan sesuatu.
Setelahnya mengeluarkan setelan hitam putih dari lemari. "Ini Pram ... kenapa juga mesti teriak," omel ibu dengan menahan amarahnya.
Setelah sarapan dan lain-lainnya aku segera bergegas berangkat, memang cukup jauh jarak Kampus dari rumah, tetapi harus gimana lagi.
__ADS_1
Berjalan sedikit ke depan gang, kemudian mencegat angkot,' ah, pasti akan begini setiap harinya,' omel ku dalam hati.
Cukup jauh juga pikir Pram, masih tersisa setengah jam lagi saat Pram tiba di kampus," Alhamdulilah tidak terlambat," ucap Pram lagi. Sesuai petunjuk Rian aku langsung menuju tempat yang Rian tunjukkan di sana sudah banyak yang datang dan berkumpul, memilih tempat yang teduh, entah dari sekian banyak anak tak ada satupun yang ingin aku ajak berkenalan hingga terdengar pengumuman untuk berkumpul sesuai jurusan masing masing .
Dengan sedikit berlari aku menemukan tempat dan memilih berbaris paling belakang.
"Hei kau yang di belakang, seketika semua yang di belakang langsung menoleh.
"Hei, kamu teriak laki-laki ini, mungkin kakak kelas atau yang lainnya pikir Pram.
"Hei, kamu ... ya, kamu yang rambut kuncir kuda." Sedikit bingung akhirnya Pram memberanikan diri menjawab.
"Saya, sembari aku mendongak, seketika aku terkejut. Menatapnya sejenak," Ya laki-laki ini ternyata memiliki pendamping."
Melangkah maju dengan sedikit menunduk dan berbaris di depan.
Hari pertama yang menyebalkan," huf ... " andaikan ada Rian," ucap Pram berandai-andai. "Mungkin Rian lebih repot mengingat tempat kuliahnya lebih bagus," ucapku dalam lamunan. Seketika aku terkejut saat ada sebuah kertas menimpuk kepala.
"Sudah dua kali melakukan kesalahan," ucap laki-laki ini lagi dengan suaranya yang tegas," maju perkenalkan namamu.
"Maaf ... perkenalkan nama saya Prameswari
ucap Pram dengan keras.
"Panggilan Pram," jawabnya lagi.
"Sudah kembali jika aku melihatmu melamun lagi akan ada hukuman yang lebih berat, rapikan barismu," ucap laki-laki ini.
Aku langsung menunduk saat pelindung laki laki ini memindai wajah ku mengingat pesan dari ibunya Rian.
Sudah hampir dhuhur saat ospek pertama di lakukan di perbolehkan pulang dan untuk esok baru akan di mulai ospek yang sebenarnya .
Setelah mencatat semua yang di butuhkan untuk esok aku bergegas merapikan semua alat tulis.
Di sudut ruangan aku melihat sosok wanita tapi aku berpura-pura untuk tidak melihat dengan terburu aku melangkah karena langit pun sudah mendung dan gelap, beruntung begitu hujan turun dengan derasnya aku sudah berada di angkot menuju ke rumah .
Masih hujan rintik saat aku turun dari angkot dan akhirnya berjalan sedikit menepi untuk menghindari hujan.
"Huf ... jadi ingat Rian," ucap Pram. Seketika orang di kanan kiri menoleh. Merasa di perhatikan semua orang kini aku berjalan sembari sedikit tersenyum dan tak menghiraukan tatapan aneh dari orang-orang," masa bodoh pikir Pram."
__ADS_1