
Setelah sang MUA menyelesaikan semua tugasnya, aku masih berada di kamar terlihat para sinoman sudah mulai memasang pacang tarub (atap sementara ) dan tuwuhan ( tuwuhan ini biasanya berisi pisang raja, tumbuh tumbuhan, kelapa muda, batang padi dan janur ) yang di pasang dikanan dan kiri pintu masuk.
Kang dekor kuade pun juga sudah datang hingga sore menjelang mereka masih sibuk menata ini dan itu.
Tak lama berselang mereka juga sudah membuat kembang mayang menghias gedebog pisang dengan aneka rangkaian janur dan beberapa kembang puring.
Semakin malam suasana makin rame, suara musik mengalun sedikit pelan hingga di pertengahan malam saat sinoman memasang bambu dengan hiasan janur di ujung gang.
Seketika suasana sedikit hening, hanya suara para biodo di halaman belakang yang masih nampak sibuk.
Hingga pagi menjelang kembali terdengar suara ramai di halaman belakang, setelah shalat subuh sang MUA juga sudah datang untuk merias aku dan ibu, ya, pagi ini acara akad nikah, seketika tubuhku sedikit tegang.
Masih pagi semuanya sudah sibuk menyiapkan ini dan itu, setelah sang MUA menyelesaikan riasan nya nampak ibu terlihat cemas dan mondar mandir di ruang tengah, sesaat kemudian terdengar bisik bisik bahwa Mudin nya akan datang sedikit terlambat.
Ibu belum mengijinkan aku untuk keluar dari kamar, senyumku sedikit merekah saat Hanifa dan Ida datang "selamat ya" ucapnya sembari merangkulku secara bergantian.
Tak lama nampak suara ramai di depan dengan penasaran Hanifa ku suruh untuk mengintip siapa yang datang.
Dengan senyum sedikit menggoda Hanifa menoel pipiku "ih .... yang sudah kangen dengan kang mas nya, tuh sudah datang dengan rombongan yang banyak" kemudian membisikkan sesuatu padaku dengan tersenyum malu aku menanggapinya.
"Cie, cie yang malu-malu goda Hanifa dan Ida secara bersamaan."
Hingga pukul sepuluh pagi, saat mak Sunar ke kamar "Nduk, bakal bojomu wes teko, Mudin ne yo wes teko pisan" setelah itu mak Sunar kembali menutup pintunya.
Tak terdengar apa apa hingga pak Mudin menanyakan kesiapan mas Rian dan menanyakan siapa yang akan menjadi saksi seketika dada ku berdesir, tubuhku sedikit gemetar dan keringat ku mulai keluar.
Hanifa dan Ida masih setia menemaniku di kamar saat melihatku mereka tersenyum "duh .... yang nervous, sini sini" kini mereka bergantian memelukku untuk memberi semangat.
Tak lama kemudian mbak MUA membuka pintu "ayo mbak, sudah di tunggu di depan."
Dengan membaca doa dalam hati dan berusaha untuk tidak gugup , Hanifa dan Ida menuntunku, berjalan perlahan menuju tempat ijab qobul.
Langkahku sedikit terhenti saat mas Rian menatapku dengan lekat dan senyumnya "buih .... " kembali dadaku berdebar dan itu membuat aku sedikit gugup.
Laki laki yang seminggu tak bertemu kini sudah duduk di hadapan ku dengan memakai jas lengkap, nampak terlihat tampan.
"Eh, kok berhenti suara Hanifa dan Ida mengejutkan aku.
Duduk berdampingan dengan mas Rian dan masih saling menatap, serasa ada rasa rindu seminggu tak bertemu membuat pipiku sedikit panas.
"Sudah bisa di mulai" suara pak Mudin membuyarkan lamunanku dan mengejutkan kami berdua.
__ADS_1
Kembali memeriksa sebentar berkas berkas yang ada di meja dan kini menatap kami berdua.
"Mari segera saya halalkan, supaya calon mempelainya sah dan halal untuk saling menatap" sembari tangan pak mudin memegang tangan mas Rian.
"Loh, tangan mempelai priannya dingin, jangan tegang nak, santai ambil nafas" gurau pak Mudin yang kemudian di sambut tawa dengan para saksi.
Seketika suasana yang tadi sedikit tegang kembali mencair "sudah siap" kembali pak Mudin bertanya.
"Ya, saya sudah siap pak" jawab mas Rian.
Dengan menghentak tangan mas Rian pak Mudin mengucapkan ijab qobul.
"Ananda Rian Mahardika bin Muhammad Khodir, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Prameswari binti Sipun dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan emas seberat lima gram serta uang tunai sebesar tiga puluh juta tiga ratus ribu dua puluh dua rupiah di bayar tunai."
Dengan segera mas Rian menjawab
"Saya terima nikah dan kawinnya Prameswari binti Sipun dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
"Sah, sah, sah" ucap para saksi setelah mas Rian mengucapkan ijab qobul .
"Alhamdulillah" suara dua ibu hampir bersamaan. Kemudian dengan khidmad pak Mudin membaca doa, setelah di tutup dengan kata amin terdengar suara para tamu.
Setelah mencium punggung tangan mas Rian kini mas Rian berganti mencium kening ku "cantik" ucapnya seraya berbisik.
"Ehem, ehem" kembali suara pak Mudin terdengar. "Tanda tangani dulu berkas berkasnya, sudah halal, selamat dan semoga bisa membina keluarga yang samawa dan cepat dapat momongan" goda pak Mudin lagi.
Setelah semua berkas di tandatangani berikut buku nikahnya, pak Mudin kemudian menutupnya lagi dengan doa.
Acara di lanjutkan dengan ramah tamah dan benar-benar berakhir saat adzan dhuhur.
Senyum ku terus terkembang saat mas Rian menuntunku menuju kamar, masih nampak pakaian untuk nanti sore dan alat rias mbak MUA nya.
Begitu pintu tertutup mas Rian langsung merangkulku dengan erat "kangen Pram" sembari mencium keningku dan kini menangkup wajahku dan memandang ku lekat.
"Jangan aneh-aneh mas" ucapku sembari menunduk.
"Halal Pram, bolehkan mencium sedikit....saja!!"
"M .... ganti baju dulu shalat dhuhur, ayo imamku" ucapku sembari tersenyum.
Mendengar ucapan ku mas Rian langsung menggaruk kepalanya dan menyusul langkahku.
__ADS_1
"Sedikit saja" aku hanya menggeleng.
"Mas ganti di kamar mandi gih, waktunya tinggal sedikit mbaknya sebentar lagi datang untuk merias lagi" ucapku mengalihkan pembicaraan mas Rian toh kini kakiku sudah merasa lemas.
Masih menatapku dengan tatapan menuntut " Pram ..." saat aku berbalik "cup"dan langsung menarik tubuhku, kembali mengecup lembut bibirku.
Rasa panas dingin langsung menyergap tubuhku, seketika tubuhku menjadi hangat.
Sebelum kembali mas Rian melakukan hal yang lebih tiba tiba terdengar pintu di ketuk.
Dengan terkejut aku sedikit mendorong tubuh mas Rian sedikit menjauh, namun mas Rian kembali merengkuhku dengan suara serak dan memburu sebentar Pram, cup, cup dan sedikit memberi ******* pelan di bibirku.
"Ih ... ada yang mengetuk pintu mas"masih belum melepas baju yang ku pakai, aku berjalan untuk membuka pintu.
"Pram, dengan sedikit mendahuluiku, ganti baju dulu biar mas yang buka" ucapnya sembari menatapku kemudian mendekat lagi.
"Lipstikmu berantakan" sembari mengecup bibirku sekali lagi.
"Cepat-cepat ke kamar mandi dulu" ucap mas Rian sembari melangkah menuju pintu.
Begitu pintu terbuka, ternyata mak Sunar yang sedari tadi mengetuk.
"Mas, ada tamu dari jauh nyari mas dan saat ini sedang sama ibu Nur dan ibu Asih."
"Iya mak, saya akan ke luar sebentar lagi" tapi mata mak Sunar melihat fokus pada wajahku kemudian tersenyum sembari menunduk malu dan kemudian hanya menggeleng sembari berlalu pergi.
"Pram, jangan ganti baju dulu ada tamu" ucap mas Rian sembari menutup pintu.
"Kenapa? sembari ku bereskan lipstik ku dan setelahnya aku menatapnya "mas, tadi bicara dengan siapa? tanyaku pelan.
"Mak Sunar!!"
"Aduh, bisa malu aku mas lihat" sembari menarik tubuhku ke cermin.
Seketika mas Rian menggaruk kepala nya dan tersenyum "Biar ...sudah halal juga" kemudian kembali merangkul ku.
"E....bersihin mas dan ayo cepat temui tamunya kasian" ucapku lagi.
"Aku masih mau Pram, lagi ya, sekali lagi ya?"
"Mas, ucapku sembari ku buka pintu lebar lebar untuk menghentikan aksinya.
__ADS_1