
Selama dua bulan berusaha untuk tegar dan kuat, akhirnya Prameswari kembali goyah, saat terusik ingatannya pada ibu.
Kembali berusaha menenangkan hatinya, perlahan namun pasti akhirnya Pram sadar dengan mengikis air matanya dari isakan isakan kecil yang tersisa "mas....tolong jangan tinggalkan aku sendiri, sembari memelukku.
"Aku butuh mas Rian" kembali mulutnya berucap yang tidak tidak.
Bantu aku untuk keluar dari rasa penyesalan ini mas" ucapnya lagi dan pelan.
Masih dalam diamku mendengarkan semua keluhan Prameswari "Pram, istirahatlah esok ada yang harus kira selesaikan, kita jalankan amanat ibu dengan baik dan ingat apa yang pernah ibu dan kita bicarakan, setidaknya kita coba untuk melaksanakan amanatnya.
Mendengar ucapanku Prameswari menatapku dan mengangguk "baik mas, tapi aku perlu dukungan mas" ucapnya lagi.
Aku segera mengangguk untuk meyakinkan.
Tak lama Pram langsug berbaring di ranjang begitu juga dengan ku, tak lama ku lihat Pram sudah terlelap.
Masih dengan resah ku, mataku tak mampu terpejam, memandang lekat wajah isteriku yang beberapa bulan ini terakhir ini nampak sangat terluka.
Sudah pukul satu malam, aku juga belum bisa tidur, beringsut turun dari ranjang hingga di sisi ranjang, saat tangan Prameswari meraih tanganku.
"Jangan pergi mas, temani aku," ucapnya pelan.
Dengan terkejut aku kembali merebahkan diriku di ranjang "aku ingin mas memelukku hanya itu saja" kembali Pram berucap.
Akhirnya selama beberapa bulan ini, Pram kembali merindukan pelukanku.
Mungkin ini obat tidur yang ampuh untukku, belum sepuluh menit, aku memeluknya mataku pun akhirnya terpejam juga.
Semua seakan terbalas kan saat aku memeluk isteriku .
Subuh menjelang, ku rasakan ada gerakan pelan untuk memindah tanganku, ku liruk sesaat Pram, sudah terbangun dengan pelan dia turun dari ranjang seakan tak ingin menganggu tidurku.
Masih ku lihat semua gerakannya menuju ke kamar mandi dan tak lama kemudian melakukan shalat subuh.
Setelah salam Pram sempat melirikku kemudian tersenyum, ini pertama kali Pram tersenyum padaku setelah kepergian dua ibu.
Melipat mukena dan sajadahnya kemudian berjalan keluar kamar.
Seperti pagi biasanya, Pram mencoba untuk kembali seperti dulu, beberapa saat kembali lagi masuk dalam kamar "mas, bangun subuh han dulu!" sembari menggoyang-goyang tubuhku, hingga beberapa saat.
Dengan sedikit menggeliat aku terbangun," buruan mas, hampir habis waktunya" kembali Pram berucap.
Setelah melihatku terbangun Pram bergegas keluar lagi, hingga suara Pram kembali terdengar di ruang makan.
Kini Arion dan Lintang juga mulai berani untuk berbicara seperti dulu dengan celoteh mereka.
__ADS_1
Setelah shalat aku tersenyum, akhirnya rumah ini kembali ramai.
Keluar dari kamar menuju meja makan sudah nampak anak-anak duduk di tempatnya masing masing, nampak Pram berhenti sejenak saat melihat dua bangku kosong, memandangnya sejenak kemudian tersenyum.
"Mas, duduk di bangku ibu dan aku akan duduk di sebelahnya, sembari menyiapkan sarapan.
" Mbak Yas, mbak Ning, ayo sarapan sekalian, ucap Pram sembari duduk.
"Kinara, Kinanti pindah di bangku ibu dan bapak biar mbak Yas dan mbak Ning duduk di situ.
Mereka semua hanya saling menatap heran, "mbak Yas, mbak Ning cepat" ucap Pram lagi.
Melihat mereka berdua duduk Pram tersenyum, mulai sekarang, mbak Yas dan mbak Ning duduk di bangku itu kalau makan" kini kembali tersenyum "akhirnya semua lengkap" ucap Pram sembari mengambil nasi dan yang lainnya.
Makan dengan diam nampak mbak Yas dan mbak Ning canggung duduk dan makan bersama kami, hingga mereka menyelesaikan makan lebih dulu.
"Bu, jangan seperti itu kasihan mbak-mbaknya mereka tak nyaman jika ibu berbuat begitu, ikhlas bu, protes Kinara."
Sesaat Pram menatap Kinara, kemudian tersenyum. "Maaf, jika ibu keterlaluan."
"Bu...ingat nanti aku rapotan" celetuk Arion sembari tersenyum.
Seketika Pram menatap Arion, kemudian tersenyum "nanti ibu ambil rapot Arion, tak terasa sudah mau SD."
Sementara Lintang hanya diam dan beberapa saat kemudian "Ibu, ayah jika nanti Lintang lulus SD boleh Lintang ngelanjutkan ke pondok saja" ucapnya sembari tertunduk.
boleh asal Lintang sungguh-sungguh dan bertanggung jawab dengan keinginan Lintang.
Nanti bapak antar ke pondok kakek buyutmu, seketika wajah Lintang nampak bahagia "sungguh?! ternyata kakek buyut punya pondok, ini luar biasa" ucapnya berkali kali.
Kinara dan Kinanti tersenyum mendengar ucapan Lintang.
"Pak, pak kenapa bapak gak pernah cerita ?! wah, temam-teman ku pasti gak percaya jika aku cerita, kemudian bergegas mengambil tasnya, pak ayo kita ke sana boleh kan? aku lihat pondoknya?!!
"Boleh kan pak! kembali tanya Lintang bersemangat, "boleh, boleh" mendengar ucapan ku kini Lintang langsung berpamitan pada Ibunya "Lintang berangkat bu" sembari mencium punggung tangan Prameswari.
"Pak, boleh kan aku cerita ke teman-teman" ucapnya sembari mengekor di belakang bapaknya "boleh ... "kini jawab mas Rian samar ku dengar.
Ku lihat dari ruang tengah nampak ke empat anakku berangkat dengan tersenyum.
Aku juga mulai sibuk membenahi toko, semua bon dan nota kembali aku pilah, hingga pukul sebelas siang "bu, panggil mbak Yas, tidak lupa mengambil rapot Arion kan? suara mbak Yas mengingatkan aku.
Berjalan sedikit tergesa, hingga nampak Arion sudah menungguku, tapi wajahnya tetap tersenyum dengan sedikit berlari Arion menghampiriku, meraih tanganku dan mengajaknya masuk dalam kelas.
Nampaknya semua orang tua murid sudah datang dengan tersenyum aku melangkah masuk dan mengambil tempat duduk bersama Arion.
__ADS_1
Setelah beberapa saat akhirnya nama Arion di panggil juga kembali maju untuk menerima rapot dan pulang.
Sepanjang jalan Arion tak melepas tanganku sedikit pun, sembari terus bernyanyi.
"Tumben anak ibu riang sekali? tanyaku dan itu membuat langkah Arion terhenti.
"Senanglah lama.....sekali ibu tak menjemput Arion pulang sekolah" ucapnya sembari menunduk.
"Anak ibu, jadi Arion kangen di jemput ibu?" hiyalah....jawabnya spontan.
"Maafkan ibu ya, nak?! "ayo pulang, keburu panas Arion.
Tapi langkah Arion terhenti "bu kita mampir ke penjual makanan yuk, biasanya mbak Yas, sering ngajak aku warung itu! ucap Arion lagi.
Mengikuti kemana langkah Arion, aku sedikit terkejut melihat warung di pinggir kebun ini.
"Mbak Yas sering ke sini nak?! tanyaku pelan.
"Hem, hiya, kadang Arion yang minta di belikan, makanannya enak bu."
Arion seketika menyeretku masuk dalam warung itu, dari tempatku duduk nampak pemilik warung sedikit bingung saat ku tatap, seketika wajahnya memerah dan matanya menatap ke sana kemari bingung.
"Mak...aku seperti biasa ya? ucap Arion sembari duduk.
"E....aden kecil, sembari menyiapkan racikan makanannya, kini pandanganku tertuju pada ramenya warung ini, hingga pandanganku menatap Mak penjual makanan, seperti melakukan gerakan untuk mengusir sesuatu.
"Arion sudah berapa lama makan di sini, tanyaku lagi. "sejak ibu sakit" ucapnya menunduk.
Aku tak mengatakan keberatanku saat Arion memesan makanan ini, tapi kini aku sedikit membuka mata batin Arion dengan hanya mengusap keningnya.
"Anak ibu, coba lihat di belakang Mak penjual makanan ada apanya? tapi ingat Arion gak boleh berteriak" ucapku pelan.
"I, i, itu..." seketika aku menutup mulut Arion, "pulang bu, ayo....hiiiiii" hanya itu yang di ucapkan Arion.
"Sebentar nak, mak tolong makanannya di bungkus saja" ucapku pelan "bu .... ayo pulang, cepat bu...! ucap Arion sembari menarik tanganku.
Setelah menerima makanan yang ku pesan tadi, aku segera menyusul Arion "hm...siapa tadi bu, yang berdiri di belakang Mak penjual makanan, wajahnya jelek dan terus melambaikan tangannya dan yang satu lagi ..... kok duduk sambil ngiler ya, bu ?! tanya Arion.
Kini aku sudah kembali mengusap kening Arion
"Ini nak, makanan nya, sembari ku ulurkan padanya. "gak, bu! Arion sudah gak pingin kasih mbak Yas, saja kalau makan sampai nambah.
"Hussst, gak boleh gitu, yakin mau di kasih ke mbak Yas?! godaku.
"Hm, boleh bu, Arion kok tiba-tiba jijik, melihat yang tadi," kembali Arion berucap.
__ADS_1
Seketika aku tertawa mendengar ucapan Arion, "anak ibu sangat pandai" ucapku pelan.