OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 85 . TENTANG MBAH LASMI


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat tak terasa sudah satu minggu Mbah Lasmi dan Ida menginap.


Hari ini hari kepulangan Mbah Lasmi masih bersiap-siap di kamar saat Mbah Lasmi masuk. "Pram sini," menarik Pram untuk duduk dan sesaat kemudian. "Sesuai yang Mbah katakan terima ini, Mbah Lasmi membuka tangannya nampak sinar putih berkilau."


"Mbah, sebaiknya untuk Ida saja," ucap Pram menolak. Tanpa banyak bicara Mbah Lasmi langsung menarik tangan Pram dan menaruh benda itu di tangannya.


Begitu sinar itu ada di telapak tangan Pram, sinar putih berkilau kini sudah lenyap. "Terima kasih Pram, semuanya akan baik-baik saja dan aku sudah pulang dengan tenang, ini amanat terakhir yang di titipkan pada Mbah, lalu memeluk Pram dengan erat.


"Mbah tunggu di pestanya Ida, kamu harus datang," ucap Mbah lagi.


Aku hanya terdiam saja dan pandangan Pram kini tertuju pada sosok Mbah Lasmi yang ke luar dari kamarku.


"Mbah ... panggil Pram sesaat. Kemudian aku kembali menuntunya masuk kamar, ada satu hal yang masih mengganjal di hati Pram, siapa sebenarnya Mbah Lasmi?"


Menatapku sejenak. 'Benar yang di katakan Winarsih anak ini pasti bertanya yang macam macam batin mbah Lasmi.'


Mbah Lasmi langsung duduk di sisi Pram.


"Ceritanya panjang pram, tapi Mbah akan menceritakan yang intinya saja, berhenti sejenak kemudian tersenyum seperti mengingat sesuatu. "Aku, Winarsih dan Rum adalah teman masa kecil, Winarsih umurnya lima tahun lebih tua dari ku, sedangkan aku dan Rum umurnya selisih dua tahun, aku anak paling kecil di antara mereka."


"Kami sama-sama di besarkan oleh guru Wigati pasti kau tahu siapa Guru wigati kan?" Simbah menatap Pram sejenak.


"Besar bersama-sama hingga mereka menikah dan aku memilih untuk ikut pergi mengikuti kerabat Hanifa. Hm ... hanya ini yang terdengar kemudian kembali tersenyum. Mbah hanya mencoba jadi penengah di antara mereka."


Kini hanya hembusan napasnya yang terdengar berat, seperti mengingat semua kejadian masa dulu yang berat.


"Mungkin sampai sini saja Mbah cerita, biarkan semuanya jadi cerita lama yang harus di kenang dan kamu dengan apa yang kamu miliki saat ini jangan coba-coba untuk mencari jawabnya dengan ilmu mu, karena tidak semua hal harus di ketauhi dan di cari jawabannya Pram, ke depannya ingat jaga baik-baik dan harus tetap di jaga karena akhirnya aku bisa menyatukan kalian lagi."


"Pram, tolong jaga Ida juga untukku, hanya ini pesan Mbah untukmu."


"Sudah. Mbah akan pulang, hati - hati dengan apa yang kamu miliki, gunakan untuk hal-hal yang baik Pram."


Kini aku benar-benar membiarkan Mbah Lasmi keluar dari kamar.


'Semoga aku bisa menjaga amanat ini, dan tak menjadi sombong' batin Pram berucap.


"Pram ... panggilan ini mengejutkan aku."


"Hiya," dengan bergegas aku keluar kamar.

__ADS_1


Melihat Mbah dan Ida sudah bersiap, begitu juga dengan Pak Martoyo dan Pak Paijo .


"Nur, titip Hanifa tolong di lihat-lihat," ucap Pak Martoyo sebelum masuk dalam mobil.


Nampak Mbah Lasmi berdiri menatap Pram cukup lama kemudian tersenyum. "Mbah ... panggil Ida sesaat kemudian. "Ayo, kini mengajak Simbah memasuki mobil."


Setelah kepergian Mbah Lasmi aku masih terdiam menatap hingga mobil itu benar benar menghilang. Dengan semua yang terjadi hanya berharap yang terbaik apapun itu nanti.


"Masih mau berdiri di sana atau masuk," ucap ibu mengejutkan aku.


Begitu memasuki rumah, ada sesuatu yang terasa menghilang suasana rumah yang beberapa hari ini rame, kini sepi hanya tinggal aku dan ibu, berjalan menuju kamar langkah Pram terhenti saat terdengar suara motor berhenti.


Mengurungkan langkah Pram masuk ke kamar, memilih kembali ke ruang tengah mengintip sesaat siapa yang datang, betul dugaan Pram ternyata Mas Rian.


Dengan senyum terkembang aku menghampiri menuju teras, nampak wajahnya bingung seperti mencari sesuatu.


"Mencari apa?" tanya Pram mengejutkan Mas Rian. "Sudah pulang Pram, Mbah Lasmi?" tanya Mas Rian. "Barusan Mas, lagian Mas kemana?"


Hanya tersenyum saja dan tak menjawab, aku merasa sedikit curiga, awas kalau aneh-aneh," ucap Pram sembari duduk.


"Nggak ada yang aneh Pram, kemudian diam dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya, apa ini mas?" tanya Pram heran. "Baca saja Pram."


Dengan sedikit ragu aku membuka amplop itu, sesaat Pram menatap Mas Rian tak percaya. "Ini?" tanya Pram ragu. "Ya, kata ibu Nur itu untukmu."


"Lantas untuk siapa Pram !"


Sedikit lama Pram membaca dan memahaminya, tiba-tiba Mas Rian kembali berucap. "Sebenarnya masih ada tiga lagi Pram, tapi belum jadi."


Setelah membacanya aku kembalikan dalam amplop dan menaruhnya di atas meja. "Mas, gimana sudah di setujui belum pengajuan skripsinya? Sepertinya kita akan sama-sama sibuk beberapa bulan terakhir," ucap Pram lagi.


"Di jalani saja Pram yang penting semuanya


segera kelar dan beres."


Lalu berdiri. "Mas pulang dulu ya? Kasihan ibu beberapa hari ini sendirian, mau ikut nggak?" tanya Mas Rian. Aku hanya menggeleng tanda tak mau.


"Ya sudah, selesaikan laporan mu Pram dan jangan lupa di teliti lagi! ucap Mas Rian.


"Siap bos," jawab Pram singkat.

__ADS_1


Melangkah menuju teras menghantar kepulangan Mas Rian. Kini kembali masuk dan menuju kamar tak lupa membawa juga amplop dari Rian memasuki kamar dan menyimpannya.


Bukan mengerjakan laporan kini Pram malah tidur rebahan di kasur kamar yang biasanya terisi tiga orang kini hanya tinggal sendiri


bibir Pram sedikit tersenyum.


"Akhirnya," ucap Pram dengan menggulingkan badannya ke kanan dan ke kiri. "Aku bebas bergerak," ucap Pram pelan.


Masih dengan lamunan Pram lambat laun akhirnya Pram mengantuk juga dan tertidur dengan lelapnya hingga suara panggilan ibu membangunkan.


"Pram, Pram bangun cepetan dengan mata yang masih mengantuk aku berdiri dan berjalan keluar. "Aduh, seketika mata Pram terbuka lebar saat kakiku terantuk kaki meja."


"Ya, Bu," jawab Pram dengan kaki kesemutan.


"Ayo cepat Pram, kita ke rumah Simbah kata tetangga yang di dekat rumah Simbah, ada suara benda jatuh."


Tanpa bertanya lebih detail lagi, aku dan ibu segera berjalan menuju rumah Simbah tanpa berfikir lagi seperti apa wajah Pram saat bangun tidur.


Tak berapa lama, kaki kami berhenti di depan halaman rumah Simbah, sedikit terkejut dengan apa yang Pram lihat, melihat ini Ibu langsung memegang tangan Pram dengan erat.


"Akhirnya Pram," ucap Ibu dengan pelan. Ada raut sedih di wajah ibu.


kini rumah Simbah telah ambruk, atapnya runtuh dan tembok penyangganya pun juga roboh, masih nampak debu yang berterbangan yang tersisa.


Beberapa warga juga sudah nampak berdiri untuk melihat apa yang terjadi.


"Sejak kapan robohnya Mbok Nem?" tanya Pram. "Barusan Mbak lihat saja debunya masih tebal begini, saya kira suara apa, saya tadi juga takut Mbak wong suaranya seperti gunung meletus," ucap Mbok Nem membesar besarkan.


Aku kembali menatapnya dan kini menoleh pada ibu. 'Tak ada yang aneh, ini benar-benar murni rumah roboh karena usianya yang sangat tua' ucap batin Pram.


Ibu dan aku lama menatap, masih ada beberapa bongkahan yang jatuh, aku langsung mendekap ibu. "Sudah waktunya Bu, karena usia rumah ini."


"Ibu ikhlas Pram, mungkin ini juga waktunya


rumah ini hancur, hanya itu yang ibu ucapkan."


"Biarkan begini dulu Bu, hingga satu tahun biar enargi negatifnya keluar dan pergi," ucap Pram sembari meraih tangan ibu.


"Kita pulang Bu, sudah hampir magrib,

__ADS_1


sepanjang jalan ibu nampak terlihat sedih dan diam, itu pun masih terus berlanjut hingga tiba di rumah."


Begitu memasuki kamar aku teringat dengan percakapan Pram dengan Simbah leluhur dan mungkin ini yang akan jadi awalnya untuk melaksanakan niat Pram.


__ADS_2