OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 108 . EMAK


__ADS_3

"E ...Arion, itu kan , tinggal letheknya kok di minum? sembari tanganku meraih tisu basah, karena mulut Arion penuh dengan ampas kopi.


"Enak bu" mendengar ucapannya aku tersenyum "ayo mandi, itu mas Lintang yang ganteng sudah bersiap."


Dari ujung tangga nampak Kinara dan Kinanti juga sudah bersiap


"Tunggu adiknya sebentar ya? mereka bertiga segera mengangguk dan duduk dengan sabarnya menunggu si bontot Arion bersiap.


Tak lama, Arion sudah turun lagi denganku


"Biar mereka berangkat dengan kami Pram" suara tiga nenek yang hampir bersamaan.


Setelah mereka berpamitan kini aku menuju kamar ku "mbak Yas, saya mau istirahat dulu di kamar."


"Ya bu" jawab mbak Yas menyahuti sembari mengerjakan ini dan itu.


Sembari naik ku lirik jam dinding "masih ada waktu satu jam, sebelum mas Rian datang" ucapku pelan dan kini kantukku benar-benar tak dapat di tahan lagi.


Entah berapa lama aku tertidur dan terbangun saat malam menjelang, mas Rian hanya tersenyum saja melihatku terbangun.


"Kok sudah bangun?tanyanya sembari mendekat.


"Nguantuk berat mas, maaf aku ketiduran" ucapku sembari berdiri menuju kamar mandi dan tak berapa lama ke luar lagi.


"Mas, jadi menjemput anak anak?tanyaku sembari mengeringkan rambutku.


"Jadi Pram, aku sudah berjanji dengan mereka" jawab Rian sembari menatapku.


"Hm ....gimana reaksi Kinara mas?"


"Tenang, biasa saja, toh memang makhluknya juga sudah kau buang."


"Mas, panggilku pelan, kemudian duduk di sampingnya, "saat ini Kinara di ikuti terus dengan sosok gadis seusianya dan bernama Zubaid, aku sudah bertemu dan mengetauhi siapa Zubaid, kasian dia mas" ucapku lagi.


"Dia sekarang sedang di pohon depan rumah, pohon Bugenfil" ucapku memastikan.


"Biarkan Pram, asal tak mengganggu anak-anak kita, tapi tetap jangan ijinkan Kinara untuk membawanya masuk."


"Mas, Zubaid sudah aku tawari untuk menyelesaikan semua urusannya dengan sempurna, tapi dia menolak, meskipun urusannya di sini selesai, Zubaid masih ingin tetap di sini menjaga Kinara" ucapku sembari berdiri meletakkan handuk yang sedari tadi aku pegang.


"Hm ... "ya sudah nanti kita bicara dengan ibu Pram, tapi saat ini ada hal yang lebih penting yang harus kita kerjakan, kita luangkan waktu berdua sejenak ya? pintanya sembari tersenyum nakal.


Seketika aku tersenyum mendapat isyarat dan kode-kode dari mas Rian.


Malam ini aku dan mas Rian benar-benar hanyut dalam pusaran asmara, bergelut dengan keringat dan berpacu dengan napas menderu, hingga malam ini benar-benar menjadi hangat.


Terbangun saat suara adzan menggema, bergegas terbangun dan melaksanakan shalat subuh dan kemudian melakukan aktifitas seperti biasa.


Namun tidak untuk mas Rian, lebih memilih untuk tidur kembali.


Pagi ini ada yang berbeda satu persatu kursi telah terisi, begitu juga dengan Lintang, mana dua kakak kalian Lintang? tanyaku sembari memberikan bekal dan nasi goreng untuk sarapan.


Hingga sarapan hampir selesai baru nampak kinanti dan Kinara turun dengan menunduk, kenapa? tanyaku, mereka berdua hanya menggeleng kemudian duduk dengan tenang.

__ADS_1


Aku dan mas Rian saling menatap heran, tapi Kinara masih menunduk dalam.


"Ya sudah, sarapan dulu!" ceritanya nanti saja, ucapku sembari memberikan nasi gorengnya.


Tak perlu waktu lama mereka untuk sarapan dan kemudian beranjak pergi menyusul yang lainnya.


Sesaat ibu dan mak Sunar saling menatap


begitu juga denganku, tapi aku sangat terkejut saat melihat mak Sunar, wajahnya sedikit pucat, tak seperti biasanya.


Aku kemudian berdiri untuk menyentuh kening mak Sunar, "mak sakit?"


"Kamu ini Pram, jangan aneh-aneh!" aku sehat nduk? panggil mak Sunar lagi.


Aku sedikit terkejut saat mak Sunar memanggilku dengan panggilan masa kecil ku dulu.


"Mak ... kalau kurang enak badan istirahat saja gak usah ikut bantu-bantu, terus ... jangan gendong Arion terus mak, Arion sudah gede dan berat."


"Hus .... jarne wong putu-putu ku dewe, koyo kamu nduk, sudah mak anggap anak ku dewe."


" Untung anak-anak itu, gak menuruni sifat bandelmu nduk" ucap mak Sunar sembari melangkah pergi.


Ibu dan ibu mertuaku akhirnya tersenyum juga mendengar omelan mak Sunar.


Kemudian mereka juga sudah bersiap untuk pergi "mau kemana bu? kok sudah rapi?"


"Hm, sampai lupa Pram ada undangan pengajian di rumak mak Romli, mak sunar gak ikut katanya ada yang harus di selesaikan katanya waktunya tinggal besok saja."


"Mbak Yas, memang mak Sunar mau kemana? tanyaku dengan penasaran.


"Gak tau bu, mak Sunar sepertinya sedang sibuk, beberapa hari ini jarang keluar dari kamarnya" jawab mbak Yas lagi.


Seketika aku teringat akan janji mak Sunar dengan Arion "apa, gak mungkin ini kan masih hari rabu" jawabku sendiri.


Tapi melihat dari wajah mak Sunar terlihat sedikit aneh, tiba-tiba hatiku berdesir tak enak.


'sudah Pram, jangan berprasangka buruk dosa' batinku berbicara.


Hingga anak-anak pulang mengaji aku pun masih sibuk mengerjakan pembukuan yang sudah tertunda beberapa hari ini, nampak wajah Kinanti dan Kinara masih nampak lesu, Lintang langsung duduk di sebelahku.


"Bu ...." panggilnya pelan.


"Ya, sayang ....bsejenak aku menghentikan kegiatanku dan menatap jagoanku sembari ku usap-usap pipinya.


"Semalam, Lintang mimpi" kini dia menengok ke arah kamar mak Sunar, "Lintang mimpi mak Sunar jalan di atas awan" ucapnya kini sembari memainkan pinsil.


"Terus, ku lihat Lintang menggeleng "hanya itu saja? tanyaku lagi.


"Iya hanya begitu saja, tapi mak Sunar gak senyum sama sekali" kembali Lintang bercerita.


"Kita doakan bersama-sama supaya Emak Sunar sehat ya? "ayo bantu ibu beres-beres" ajakku pada Lintang.


Dengan cekatan Lintang menumpuk nota-nota yang ku periksa tadi dan menyatukan dengan nota yang lainnya.

__ADS_1


Sejenak aku menatap ke arah ruang tengah "kakak dan adikmu mana Lintang? sembari tanganku meraih sesuatu di ujung meja.


Sayup-sayup terdengar suara Arion tertawa kencang di susul suara Kinanti dan Kinara


tanpa menunggu aba-aba Lintang langsung berlari menuju suara yang di dengarnya tadi.


Ternyata mereka ada di kamar mak Sunar, beberapa menit kemudian Lintang juga ikut tertawa.


Aku sedikit penasaran apa yang membuat mereka tertawa tergelak, sedikit melangkah mendekat ku intip dari pintu, nampak mak Sunar berjoget- joget dengan anak-anak dengan sedikit tersenyum aku kembali ke meja makan untuk menyiapkan makan malam.


Seperti malam ini anak-anak tak kunjung keluar dari kamar mak Sunar hingga aku memanngil mereka untuk makan malam.


Anak-anak keluar dari kamar mak Sunar dengan wajah riangnya Mak Sunar kok gak ikut keluar? emak sedang beberes bu" ucap kinanti lagi."


Tak lama mas Rian pun sudah ikut duduk di meja makan.


Makan malam di lakukan dengan cepat, setelah makan malam anak segera pergi ke kamar mereka.


"Mak, sudah di tinggal saja, ada mbak Ning dan mbak Yas mak istirahat saja" ucapku


sembari menatap wajah mak Sunar.


"Sudah nduk, kapan lagi aku bisa bantu-bantu lagi" sembari tangan mak Sunar mengelap meja makan.


Aku masih menatap mak Sunar, masih juga membantu mbak Ning dan mbak Yas beres beres.


Setelah semuanya selesai, melihatku dan tersenyum kemudian datang menghampiriku


dan mas Rian.


"Le, nduk " panggil mak Sunar pelan.


Aku dan mas Rian langsung menatap heran tapi tersenyum, "E...mak, kok belum istirahat sudah malam mak, buruan istirahat" ucapku lagi.


"Nduk, terima kasih " ucap mak Sunar tiba-tiba.


Matur suwun, sudah mau menerima dan merawat emak di hari tua emak, maaf....ya kalau emak terlalu banyak salah dan jangan lupa, jaga anak-anakmu dengan baik" ucap mak Sunar sembari berdiri.


"Nduk, Le, terima kasih" ucap mak Sunar lagi.


"Mak, kok ngomongnya aneh-aneh, emak itu sudah saya anggap seperti ibunya Pram, sudah mak, kami ikhlas" kini aku sudah merangkul tubuh renta mak Sunar, memeluknya dengan erat.


Aku sedikit terkejut saat memegang tubuh mak Sunar "aku juga minta maaf mak, mewakili anak anakku juga, maafkan mereka ya mak, jika mereka selalu merepotkan emak, terurama si kecil Arion" ucapku sembari melepas pelukanku.


"Aku sudah memaafkan mereka Pram, aku senang dengan anak-anakmu."


Mas Rian yang sedari tadi melihat pun kini sudah berdiri dan langsung merangkul mak Sunar dengan erat "Terima kasih ya mak!" saya sangat beruntung mak berada di sini, saya juga minta maaf" ucap mas Rian.


"Sudah emak istirahat, lagian emak ini ngomong nya aneh-aneh, yang jelas kami senang emak tinggal di sini."


"Ya, mumpung emak masih bisa meminta maaf dan bilang terima kasih" ucap mak Sunar sembari menatapku dan mas Rian bergantian kemudian tersenyum, sebelum benar-benar melangkah masuk ke kamarnya.


Melihat mak Sunar sudah masuk kamar, kini aku dan mas Rian beranjak menuju kamar kami.

__ADS_1


__ADS_2