
Keluar dari kamar Kinara bukan ketenangan hati yang ku dapat sesaat kepalaku berdenyut.
Masuk dalam kamarku sendiri nampak mas Rian sudah tertidur dengan perlahan aku naik ke ranjang agar tak menimbulkan suara.
Hingga beberapa saat mataku pun tak bisa terpejam, masih memikirkan tentang Kinara hingga tangan mas Rian merangkulku.
"Sudah lah Pram, ikhlaskan Kinara mendapatkan anugrah itu, aku tak ingin Kinara terbebani, kita arahkan saja, aku juga tak ingin Kinara seperti mu dulu, tidurlah kita hadapi bersama-sama, saat ini banyak orang yang mau membantu kita dan Kinara."
"Aku akan menjaganya seperti aku menjagamu dulu, tidurlah biarkan semua berjalan semestinya."
Mendengar ucapan mas Rian serasa aku mendapatkan sedikit ketenangan di hatiku
dengan perlahan akhirnya aku pun tertidur juga dalam pelukakan mas Rian.
Hingga suara adzan subuh aku terbangun melakukan kewajibanku, begitu juga dengan ketiga anakku kecuali sang bontot yang masih terlelap.
Hari ini hari senin kesibukan di awal pagi yang sangat ribet, mbak Yas dan mbak Ning sudah pada posisinya, begitu juga dengan ku menyiapkan bekal untuk keempat anak ku dan sarapan di meja.
Untuk twin K, mereka sudah mengerti tugasnya karena sudah kelas enam begitu juga Lintang yang kini sudah kelas dua SD, mas Rian pun sudah turun sejak tadi dan sudah rapi.
Hanya Arion saja yang belum bersiap apa lagi semalam rewel pasti pagi ini akan sulit di bangunkan.
Sudah pukul enam pagi saat aku ke kamar Arion, masih tidur dengan nyenyak.
"Arion bangun nak ayo sekolah" ucapku pelan sudah TK A loh sembari ku goyang tubuhnya namun tak bergeming sedikit pun.
Tirai jendela pun sudah aku buka, namun masih terlelap dengan nyaman nya.
"Arion .... panggilku, biar ibu ciummi pipi Arion jika masih belum mau bangun."
"Satu, dua, dan ..... hiya, hiya ibu, aku bangun aku gak mau pipiku sakit karena di cium ibu"
ucapnya sembari duduk.
" Ayo bangun semuanya sudah menunggu dan kasian kakak-kakaknya nanti terlambat, biar di tinggal bapak" ucapku sembari menggendong Arion ke kamar mandi.
Tak lama Arion sudah rapi dan terlihat mereka sudah duduk di meja makan.
Sembari menyuapi si kecil, kini mulutku tak henti mengingatkan agar tak lupa membawa bekalnya.
Setelah sarapan satu persatu mereka memasukkan bekal masing-masing, kini tinggal Arion yang masih aku suapi.
"Ayo nak, kunyah cepet sedikit"ucapku sembari menyiapkan bekalnya.
Benar tak berapa lama mas Rian sudah membunyikan klakson mobilnya tanda semua sudah bersiap.
Dengan bergegas aku menghantarkan si kecil ke depan dan membawanya masuk dalam mobil.
"Pak antar yang betul, tunggu sampai dia masuk ke kelas" ucapku mengingatkan.
Mas Rian hanya mengangguk tanda mengerti.
Begitu juga dengan ku pagi ini aku juga harus bertemu dengan pak Man untuk mengurus sesuatu "huuf .... ku hembuskan napasku saat semua kesibukan di pagi hari usai.
Selesai bersiap aku pun bergegas ke sawah menemui pak Man, hingga pukul sebelas saat aku harus menjemput Arion.
Benar, aku sudah terlambat lima menit dan Arion sudah berdiri di depan kelas saat aku datang menjemput.
Dengan sedikit cemberut Arion menyambutku
__ADS_1
"Maaf, ya sayang" ucapku sembari menggandeng tangannya.
Sudah pukul dua belas saat tiga kakaknya juga datang hampir bersamaan.
Nampak wajah lelah mereka, meskipun sekolahnya cukup dekat, tapi siang ini sangat terik.
Saat aku hampir menutup pintu, nampak oleh ku Kinara seakan sedang mendorong-dorong sesuatu, tapi begitu melihatku ke luar sosok itu telah menghilang.
Kinara dengan takutnya langsung menunduk sementara Kinanti langsung masuk begitu saja seketika menarik kembali tangan nya untuk keluar.
"Eh .... biasakan mengucap salam" ucapku lagi.
"Assalammualaikum Wr, wb" ucap mereka serentak, begitu juga dengan Lintang.
"Waalaikum salam, wr , wb" ucapku sembari menutup pintu.
Sesaat ku lihat nampak sekelebat sosok yang lari keluar halaman.
Kinara dengan tertunduk naik ke atas dan sepertinya menghindar dari tatapan ku.
"Buih .... aku berjalan sembari menghembuskan
napasku dan menuju ke mushola untuk shalat dhuhur yang tertunda.
Setelah shalat dhuhur, tak nampak Twin K, hanya ada Lintang dan Arion.
"Lintang di mana kakak kalian?"
Mendengar pertanyaanku Lintang hanya menunjuk kamar atas, tempat Twin K.
Dengan bergegas aku naik ke atas, saat ku lihat kamar Kinanti, Kinanti nampak tertidur.
Kini langkahku menuju kamar Kinara, pintunya sedikit terbuka dan ku lihat tengah sibuk di meja belajar.
Mengetauhi ketakutannya aku tersenyum
"E .... anak ibu, sudah sholat?" tanyaku pelan.
"Sudah bu" ucapnya sembari menunduk dan menyembunyikan kertas gambarnya di balik tubuhnya.
"Boleh, ibu duduk di sini" sembari melihat kamar Kinara.
"Boleh, tapi badannya gemetar."
"E .... kenapa sayang? kok gemetar" sembari aku datang mendekat dan merangkul tubuhnya.
Mendapat rangkulan dari ku seketika Kinara menjatuhkan kertas gambarnya dan merangkulku dengan erat.
"Bu ...." ucapnya sembari masih bergetar.
"Kenapa sayang? sembari ku ajak duduk di ranjang untuk menenangkan hatinya.
"Kinara takut bu, Kinara selalu takut" ucapnya bertubi.
"Takut apa? cerita saja" ucapku sembari sesekali ku kecup pucuk kepalanya.
Diam sesaat seakan mencari kebenaran dan kepercayaan dari ucapanku.
Masih menatapku lekat dan lama, Ibu akan percaya dengan yang Kinara ucapkan, ibu tak akan marah dan ibu ....."
__ADS_1
"Ceritalah sayang, ibu akan senang mendengar cerita Kinara, ibu tak akan marah."
Setelah mendengar ucapanku Kinara beringsut berdiri dan berjalan menuju meja belajarnya dan mengambil kertas gambarnya.
Beberapa saat kemudian kembali mendekat padaku, kembali menatapku.
"Cerita saja nak! ibu akan dengarkan."
"Maaf ...." itu yang pertama kali keluar dari mulut Kinara.
"Untuk? tanyaku pelan sembari meraih tubuhnya agar duduk di depanku.
"Ketidak jujuran Kinara selama ini dan Kinanti juga sudah sering mengingatkan Kinara" ucapnya pelan.
"Lalu ...." kini Kinara menyodorkan kertas gambarnya padaku.
"Tentang ini bu, maafkan Kinara."
Sesaat aku melihat kertas gambar Kinara yang kemari sudah aku lihat "hm .... kenapa gambarnya seperti ini semua nak?"
Kini Kinara makin menunduk takut, melihat itu akhirnya aku tersenyum "bagus, tapi ngomong ngomong ini idenya dari mana sayang? tanyaku sambil tersenyum.
Kini aku menatap wajah Kinara dengan cepat Kinara menghindari tatapanku.
"M .... dari yang Kinara lihat, untuk menghindari rasa takutku dan membuktikan pada Kinanti bahwa aku benar-benar melihat makhluk ini bu."
"M .... jadi hanya Kinanti saja yang boleh tahu, kembali aku melihat satu persatu gambar Kinara.
"Kinara ...." panggilku pelan, sejak kapan Kinara bisa melihat hal seperti ini? sembari ku tatap wajahya.
"Sejak naik kelas enam bu, sebelumnya Kinara hanya bisa mendengar suara suara yang aeh aneh bu, tapi sejak Kinara melihat seorang kakek-kakek bersorban dan itu pun sering Kinara lihat di belakang ibu" ucapnya lagi.
Saat ini mulutku serasa membisu seketika ku peluk erat tubuh mungil Kinara.
"Apa Kinara takut melihat semua ini? kenapa Kinara tak bicara ke ibu! kenapa Kinara diam saja? tanyaku sembari masih memeluknya.
Kini Kinara menangis dalam pelukanku, "Kinara takut bu, takut ibu tak percaya seperti teman Kinara dan Kinanti dan dengan menggambarnya Kinara bisa sedikit tenang, Kinara sangat takut bu, jika setiap saat harus mendengar dan melihat hal seperti itu" ucapnya sembari terisak.
"Maafkan ibu nak, maafkan ibu ya? karena ibu tak tanggap." kini semakin ku eratkan pelukanku.
"Mulai sekarang Kinara harus jujur, cerita pada ibu, bapak, ada nenek, Kinara tak sendiri nak ada kami" ucapku sembari menciumi wajahnya.
"Sekarang Kinara paham" ucapku lagi.
Kali ini aku mendapat anggukan dari Kinara
kemudian melepas pelukannya dan mengambil kertas gambarnya.
"Bu .... kenalkan ini, Zubaid teman ku hanya dia yang percaya padaku" sembari menunjukkan gambarnya padaku.
Aku tersenyum pada Kinara tapi hatiku seraya teriris mendengar ini.
"Kinara sayang, ibu tak melarang kamu berteman, tapi jangan terlalu percaya apa lagi berjanji padanya dan jangan sesekali membuat janji dengannya" ucapku pelan.
"Sekarang dan untuk ke depan nya Kinara harus jujur dan cerita semuanya hanya pada ibu, bapak dan nenek, ya, sayang?"
Ku pandang lekat Kinara, mungkin ini gambaran ku waktu dulu, kembali aku rengkuh tubuh mungil ini, kini mengajaknya untuk berbaring "cerita nak, pada ibu! jangan ada yang di sembunyikan lagi ya?!"
"Kinara harus rajin shalat dan mengaji, ucapku sembari mengecup keningnya.
__ADS_1
"Tidurlah, ibu akan melihat Arion dulu, ucapku sambil beranjak turun dari ranjang.
Dan kini kaki ku melangkah ke luar kamar sesaat aku berhenti karena kakiku serasa lemas setelah mendengar kejujuran Kinara dan ternyata aku baru sadar kenapa ibu dulu sangat marah dan khawatir padaku.