OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 84 . MASIH MBAH LASMI


__ADS_3

"Huf ... ,langkah kami terhenti saat tiba di batu besar, mbah Lasmi langsung tersenyum lebar duduk bersila, aku langsung menunduk saat tahu mbah Winarsih muncul.


"Mbah Lasmi langsung ikut menunduk hormat, nampak terjadi percakapan di antara mereka, tugasku sudah selesai setelah sekian lama akhirnya," ucap mbah Lasmi terputus, nampak mbah winarsih menatapku penuh arti.


"Dalam seminggu ini aku akan sering mengujungimu dan mungkin ini juga untuk yang terakhir kali aku menemui mu dan mungkin aku juga akan sepertimu, tapi tempat ku sangat jauh."


"Terimakasih Lasmi, maaf aku telah menahan mu hingga di usiamu ini, aku bangga karena kau masih Lasmi yang dulu, apa itu cucumu?" ya, itu Ida cucuku, dia cantik seperti ibunya."


Ku lihat mbah Winarsih tersenyum," sudah waktunya Lasmi, aku akan menantikanmu dan aku tak akan menahanmu lagi setelah ini


kembalilah anak itu akan terus bertanya jika mendengarkan pembicaraan kita."


Ku lihat mbah winarsih sudah menghilang dan Ida sibuk bermain air dari sumber.


Setelah menyudahi semedinya mbah Lasmi menatapku dengan lekat," terimakasih Pram kau sudah membantuku," ucapnya pelan.


Kini simbah tengah sibuk membasuh wajahnya," airnya masih sama seperti dulu dingin dan segar."


"Da ... ," sini jangan di situ terus, ini tempat baru untukmu," ucap mbah Lasmi mengingatkan, segera Ida naik dan ikut duduk di batu, sangat indah kak dan di sini tenang," ucap Ida sembari tersenyum.


"Tapi kalau aku di sini lalu mbah?"anak bodoh pasti kau pun akan meninggalkan simbah, dua bulan lagi juga nikah."


"Sungguh .... !" tanyaku memastikan sembari ku tatap Ida," Hiya ..., mas Satria mau nya buru buru," ucapnya malu," selamat ya."


Percakapan kami terputus saat mbah mengajak kami meninggalkan tempat ini aku yang sedari tadi menatap mbah Lasmi menjadi sedikit heran," mbah ....." mbah kenal dengan simbah Winarsih?" tak menjawabku tapi hanya tersenyum dan terdiam.


"Gak usah tanya yang aneh aneh Pram ! lihat ibu mu sudah mencarimu," Benar kata mbah Lasmi nampak ibu tergopoh menghampiri kami.


"Mbah ... ,ayo makan siang dulu,vsama sama para pekerja," ucap ibu sembari berjalan berbalik.


Kini langkah mbah sudah tak secepat tadi, langkahnya sudah seperti biasa, melangkah dengan tenang.

__ADS_1


Nampak para pekerja sudah makan dan berkumpul," kenalkan ini mbah Lasmi teman ibu di dari desa xxx " seketika semuanya menunduk dan berjabat tangan.


Tatapan mbah Lasmi terhenti saat melihat pak Man," Man ....." panggil mbah Lasmi


Seketika pak Man menatap mbah Lasmi dan menaruh makannya dan menunduk hormat.


"Saiki wes ra usah ngunu ngunu," weh..... awakmu yo wes tuwo Man," sehat .....?"


Pak Man dengan segera berdiri dan mencium punggung tangan mbah Lasmi.


"Awakmu tak tinggal sek joko cilik, lihat sekarang, tangan simbah memukul mukul bahu pak Man," Aku titip Nur karo Pram, awasi lan jogoen," ucap mbah Lasmi sembari berbisik.


"Mbah .... kapan makannya kalau bicara terus," panggil Ida dengan mulut penuhnya.


Tak menjawab tapi pandangannya menatap luasnya hamparan sawah dan ladang yang menghijau, nampak ada raut bahagia di wajahnya.


Hari semakin siang," mbah pulang yuk," ajak Ida dengan meringis," kenapa ?" perutku sakit mbak, pulang yuk."


Mak Sunar dan ibu juga sudah bersiap begitu juga aku, selama perjalanan pulang mbah Lasmi tak banyak bicara dengan langkah tenang dan pelan seperti menikmati semua yang terhampar di sawah," sudah waktunya," hanya itu yang ku dengar.


Hingga di belokan mbah Lasmi menarikku dan mengajakku berjalan menuju rumah simbah, aku hanya mengikuti langkahnya saja," Hem ...." hanya itu yang ku dengar tanpa berkata apa apa lagi masuk ke halaman," akhirnya rumah ini kini tinggal sejarah, menuju tiga makam dan duduk bersimpuh memanjatkan doa dengan khusyuk," untuk lima hari kedepan aku akan mengunjungi mu Rum," memegang nisannya langsung berdiri dan melangkah ke luar halaman.


Ada rasa sedih di hatiku melihat ini," mbah," panggilku sembari melangkah di sisinya," jangan bertanya lagi, mbah hanya ingin mengenang semuanya yang di sini."


Sesuai dengan permintaan mbah aku berjalan diam di sisinya hingga tiba di rumah.


Suasana nampak rame karena Nurdin cs juga datang, mas Rian yang melihatku datang tersenyum dari jauh.


Bergegas mengajak simbah masuk, aku langsung menuju kamar mandi," benar benar gerah," tak butuh waktu lama untuk mandi dan beberes, tak berselang lama nampak Hanifa dan yang lainnya datang juga," semakin penuh dan ramai."


"Eh ... , tumben semuanya ngumpul," tanya ku heran, jangan bilang ngerjakan skripsi bareng bareng gak lucu," ucapku lagi sembari duduk di antara mereka.

__ADS_1


"Sini," kini mas Rian sudah menarikku untuk duduk di sisinya," kami masih nunggu persetujuan dosen Pram, kami masih melengkapi laporannya dan ini punya mu juga," sembari menyerahkan tumpukan laporan milikku.


Sibuk dengan laporan masing masing hingga sore menjelang, ku renggangkan tubuhku sejenak menatap satu persatu mereka, saat mataku tertuju pada dua sejoli," Satria, Ida,"ucapku sembari mendekat.


"He he he .... ," hanya tawa keduanya yang terdengar, seketika semua mendekat dan ikut nimbrung," Santi .... ,"panggil Nurdin genit, yang di panggil hanya tersenyum saja.


"Jangan mentang mentang dua bulan lagi sah," ucapku terlepas.


Satria langsung menggaruk kepalannya dan tersenyum," tuh kan bukan jadi rahasia lagi,"


ucapnya sembari mengajak Ida berdiri.


Seketika yang lainnya tersenyum," Pram ini ada cemilan mumpung masih hangat dan teh nya juga," ucap mak Sunar sembari menaruh di meja," wah ... , enak ini, weci, pisang dan tahu brontak," ucap Hardan sembari mengambil dan memakannya."


Hanifa yang sedari tadi sibuk pun dengan segera meninggalkan laporannya, langsung beringsut mendekat begitu juga dengan yang lainnya.


Suara canda mereka di sore hari membuat terasa ramai, Rian, bantu ibu dan kau juga Pram ."


Masuk sejenak ke dalam dan keluar lagi dengan berbagai jenis makanan," tumben bu bikin nasi kuning?" sesekali Pram," jawab ibu sembari menyerahkan piring dan sendok.


Kemudian mas Rian masuk lagi dan keluar membawa perkedel dengan sambal goreng ati dan kentang, mie dan telur serta ayam bumbu merah," eh ... , ini kering tempe dan mentimunya," ucap ibu.


Semua masih dalam keadaan hangat, tak lama terlihat pak Martoyo dan pak Paijo datang di susul bu Asih dan anak anak ngaji.


"Semakin rame," ucapku pelan.


Mencium punggung tangan bu Asih sebentar dan mempersilahkan untuk duduk dan bergabung.


Nampak mbah Lasmi tersenyum memandang kami semua, setelah membaca doa dengan khitmad ibu segera mempersilahkan untuk menikmati hidangan yang tersedia," dulukan anak anak ngaji Nur," ucap mbah Lasmi.


Saling membantu mengisi piring untuk anak anak kemudian yang di tuakan," mak Sunar," panggilku ke dalam," ayo makan sekalian,"

__ADS_1


sembari menariknya ke depan.


__ADS_2