
Masih dengan diamku, dari semalam belum tidur membuat kepalaku sedikit pusing.
"Mbak, tolong buatkan saya kopi, saya mau ke atas dulu melihat anak-anak. "Oh ya, kopinya biar di meja makan saja" ucapku sembari melangkah ke atas.
Melihat satu persatu, kamar anak-anak hingga di kamar Kinara, aku menghentikan langkahku sejenak, ku intip melalui pintu yang sedikit terbuka, nampak Kinara sibuk mencoret coret di kertas gambarnya.
"Assalammualaikum , wr , wb" sapaku sembari membuka pintu kamar Kinara sedikit lebar.
Sembari tersenyum Kinara menjawab salamku sembari masih sibuk menggambar.
Melihat aku mendekat Kinara tak berusaha menyembunyikan gambarnya lagi.
"Kok belum tidur Kinara, nanti mengaji ngantuk lho! biar nanti bacanya ngulang terus" ucapku sembari duduk di sisinya.
"Wih .... "cantiknya gambar siapa ini?"
"Ini Zubaid bu, cantik kan? zubaid mengijinkan aku untuk menggambarnya."
Sejenak ku tatap wajah serius Kinara, yang masih sibuk menyelesaikan gambarnya.
"Zubaid siapa nak? sepertinya teman mu tak ada yang bernama Zubaid."
Kinara langsung menghentikan menggambarnya kemudian melihatku "teman aku, yang biasa menemaniku di sekolah."
"Hm .... sejak kapan? Kinanti juga kena?"
"Kalau Kinanti, tahulah aku sering cerita tapi Kinanti gak mau, kalau aku melihatkan sosoknya dan Kinanti menolak" jawabnya sembari tersenyum.
"Sepertinya kapan-kapan ibu juga pingin kenal Zubaid" ucapku pelan.
"Zubaid tidak mau" ucap Kinara cepat.
"Memang kenapa? bolehkan ibu kenal juga?"
"Gimana ya? nanti aku tanya Zubaid waktu berangkat ngaji.
Kemudian ku lihat Kinara meletakkan pinsilnya menuju jendela dan membuka tirai nya, sejenak menatapku kemudian melangkah mendekat padaku dan mengajakku mendekat ke jendela.
"Ibu lihat gadis yang berdiri di halaman di bawah pohon Bugenfil, sembari tangan Kinara menunjuk memberitahu.
__ADS_1
"Hm .... itu yang namanya Zubaid!!"
"Hm, cantik kan?Zubaid takut sama ibu, katanya ibu seperti aku" ucapnya sembari menunduk.
"Boleh, ibu melihatnya dari sini? tanyaku memastikan.
"Jangan bu, Zubaid nanti akan pergi" ucapnya pelan dan takut.
"Hm ... gimana kalau Kinara yang cerita boleh kan? hanya gelengan kepala Kinara yang ku lihat dan semakin menunduk.
Lama tak menjawab ucapanku, tapi ku lihat mimiknya sedang berbicara.
Aku sadar dengan sikap Kinara kini dia tengah berkomunikasi dengan Zubaid.
Ternyata dari sosok pendiam Kinara, dia tipe anak yang cepat belajar dengan melihat, mendengar dan mengamati semua dengan diam-diam.
Kinara cepat belajar tanpa aku memberitahunya ini yang sangat aku takutkan dan mas Rian.
"Bu .... zubaid mau cerita tapi, tapi asal aku masih boleh berteman dengannya" ucapnya pelan.
"Kinara, jangan buat perjanjian dengan sesuatu yang tak nampak, Kinara masih ingatkan pesan ibu!"
Mendengar perkataan Kinara, lebih baik aku menunda keingintauhan ku tentang Zubaid, meski aku bisa mencari tahu sendiri, tapi aku berusaha mengajak Kinara untuk berkomunikasi.
"Ya sudah, jika Zubaid keberatan ibu tak akan memaksa, tapi tanganku kini memegang kertas gambar Kinara.
"Gadis yang cantik"ucapku sembari mengamati gambar itu.
Sesaat tatapanku menatap tajam pada gambar itu dan secara tiba-tiba juga kini aku seperti mendapat gambaran tentang Zubaid.
Aku seperti berjalan di tahun entah kapan itu tapi seperti jaman yang sangat lama, nampak oleh ku sebuah rumah sederhana di pinggir desa, di dalamnya nampak seorang gadis cantik dan seumuran dengan Kinara dan Kinanti duduk di ranjangnya.
Dengan sesekali mengikis air matanya, di ruang tengah nampak seorang laki laki dan perempuan tengah berdebat, entah apa yang mereka perdebatkan tapi selalu menyebut nama Zubaid berulang-ulang.
Hingga akhirnya sang ayah masuk ke kamar, menarik tangan Zubaid dengan paksa dan terus menyeretnya hingga masuk hutan dan menuju sebuah gubuk kecil.
Sesaat dadaku berdesir, masih dengan tangisnya Zubaid terus berusaha berontak dan meronta ingin melepaskan diri, hingga kesempatan itu datang, saat sang bapak dan seorang laki-laki pemilik gubuk sedang melakukan ritualnya.
Dengan cepat Zubaid berlari, menerobos masuk ke dalam hutan menyibak lebatnya daun, tak menoleh kearah manapun, yang ada di fikirannya saat ini hanya lari dan lari dan terus melihat kedepan, tangan dan kakinya mulai tergores duri dan semak-semak, terjatuh dan bangun kembali, wajahnya yang cantik pun mulai ikut tergores dengan apapun semak atau ranting dan pohon yang berduri, hingga dia berhenti, masih dengan napasnya yang memburu, kakinya berhenti saat di depannya ada sungai besar, ku lihat Zubaid berhenti sejenak dan selalu menoleh ke arah belakang dan dari wajahnya nampak jika Zubaid sangat ketakutan, entah apa yang membuatnya sangat ketakukan, hingga akhirnya Zubaid memilih terjun ke dalam sungai itu.
__ADS_1
Sesaat tubuhku serasa ikut masuk dan tenggelam ke dalam sungai dengan arusnya yang deras tubuh Zubaid tenggelam sesaat, kemudian tak lama muncul kepermukaan, tak lama tubuh Zubaid timbul dan tenggelam terbawa arus, namun tak ada usaha darinya untuk meraih sesuatu atau berteriak meminta tolong, ya, Zubaid telah pasrah dengan kematiannya dan akhirnya tubuh Zubaid benar benar tinggal jasad mengapung di pinggir sungai di antara semak-semak.
Dengan nafas tersengal aku kembali ke dunia asalku, menghirup udara di sekitarku dengan rakus dan banyak, perlahan aku mulai mengatur napasku.
"Bu, suara Kinara membuat aku tersadar dan segera meletakkan kertas gambarnya.
"Ibu baik-baik saja? tanya Kinara cemas.
"Ibu baik-baik saja nak!" lekas tidur mumpung masih ada waktu satu jam untuk istirahat, Kinara ingat , istirahat" ucapku sembari berdiri dan keluar dari kamar Kinara dan menutupnya kembali.
Sesaat aku berhenti di depan kamar Kinara menghela nafasku dalam dan kembali turun ke meja makan, melihat di atas meja makan kopiku masih utuh, melihat sekilas ke arah dapur sudah sepi, mungkin mbak Ning dan mbak Yas juga istirahat.
Setelah menghabiskan kopiku sekali teguk kaki ku kini menuju ruang tamu, sengaja berdiri di depan jendela yang berhadapan langsung ke arah halaman, menatap ke arah pohon Bugenfil warna putih dan merah.
Benar Zubaid dengan tenang duduk di dahan yang sedikit melandai dengan tenangnya.
Lantas siapa yang memberinya nama Zubaid nama aslinya atau Kinara yang memberinya nama, sesaat sukmaku kini sudah menghampiri sosok Zubaid ini, saat melihatku datang, ku lihat sosok ini bersiap-siap untuk pergi, namun dengan cepat aku mengikatnya dengan mantraku.
Sosok ini langsung menunduk, "aku hanya ingin berteman dengan Kinara, aku tak akan menyakitinya karena aku tahu siapa Kinara dan anda sesaat kemudian zubaid menunduk hormat padaku, aku akan terus menjagannya ucapnya lagi. Aku masih terdiam "Zubaid itu nama aslimu? ku lihat dia menggeleng "lantas siapa namamu? "Parmi " ucapnya pelan.
Kau nyaman dengan nama Zubaid? hanya anggukan kepala yang ku dapat.
"Apa kau ingin kembali dengan sempurna dan menyelesaikan urusanmu? kembali Zubaid menggeleng, aku hanya ingin di sini meskipun jika suatu saat urusanku di dunia ini sudah selesai aku masih ingin menemani Kinara aku akan menjaga Kinara."
Aku masih terdiam setelah mendengarkan semuanya dari Zubaid, karena aku tak ingin percaya sepenuhnya dengan sosok ini.
" Biarkan saya berada di pohon ini, karena di tempat ku yang lama aku merasa tak nyaman" ucapnya tiba-tiba sembari tangannya menunjuk jauh kedepan.
"Tempatku dulu, ada di pohon belakang sekolah" ucapnya lagi
"Hm, sesaat tubuhku bergetar dan sukmaku telah kembali ke ragaku saat Arion memelukku dari belakang
"Bu, bu" panggil Arion lagi.
"Sudah bangun nak? kenapa? sembari aku meraihnya dan menggendongnya.
Dengan tawanya Arion merasa kegirangan saat aku gendong "kopi bu" pintanya saat melewati meja makan "habis nak" ucapku sembari mendudukkan Arion di kursi, "dikit.....saja" pintanya lagi.
"Kemudian meraih gelas yang hampir kosong itu dan menyesapnya "hm.....enaaak !"
__ADS_1