OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 140. LINTANG DAN ARION


__ADS_3

Hari berganti dengan cepat, tak terasa kini Kinara dan Kinanti sudah masuk SMA. Begitu juga dengan Lintang. Kini sudah masuk SMP dan sesuai dengan keinginannya Lintang akhirnya berangkat juga ke pondok.


Berat melepas wajah kecilnya untuk berpisah dengan kami. Namun, semua serasa dapat terkendali saat Ilham datang membantu dan menemani Lintang. Abah sangat senang dengan adanya Lintang di pondok dengan tersenyum dan berkali-kali mengusap kepala Lintang.


"Akhirnya ada yang akan meneruskan memimpin pondok ini, Abah hanya orang yang di percaya untuk mengurus pondok ini," ucap Abah sembari tersenyum.


"Jangan khawatirkan Lintang semua akan baik-baik saja dan kami akan menjaganya," kembali Abah berucap.


"Rian, ajak saja mereka untuk menetap di sini dan kau pun juga sudah pantas untuk memimpin pondok ini," sembari tersenyum Abah berbicara.


"Sudah Abah, semua sudah ada jalannya masing-masing, karena untuk yang paling cocok memimpin di sini adalah Abah," ujar Rian sembari tersenyum.


"Menginaplah untuk beberapa hari Rian? Agar Lintang terbiasa dulu," ucap Abah tiba-tiba. Rian dan Prameswari tersenyum menanggapi perkataan Abah.


"Abah, sudah menjadi keputusan kami dari awal meskipun Lintang cucu dari pendiri pondok ini, kami harap perlakukan hal yang sama untuk Lintang," ucap Rian dengan sedikit tersekat.


Senyum Abah seketika melebar, tak ada lagi yang terucap dari bibir Abah. "Ilham bantu Aden kecil ke ruangannya dan ingat jaga Aden kecil kita," ucap Abah dengan tenang.


Pram dan Mas Rian sedikit terkejut mendengar ucapan Abah.


"Wajahmu jangan seperti itu Rian, jika kau tak keberatan istirahatlah dan menginaplah."


Kini Abah sudah siap-siap melangkah pergi setelah mengatakan itu. Nampak raut kecewa terlihat jelas dari wajahnya.


"Abah, kami akan menginap selama dua hari," ucap Rian akhirnya.


Sambil melangkah pergi tersirat senyum di wajah Abah.


"Dua hari."


Hanya itu yang Rian dengar dan melanjutkan langkahnya toh, ini juga sudah mendekati ashar.


Tinggal selama dua hari di pondok hanya membuat kami serasa berat meninggalkan Lintang. Banyak pesan untuk Lintang sebelum kami benar-benar pamit pulang. Abah dan Ilham hanya tersenyum saja mendapati gelisah kami.


Masih pagi kami sudah bersiap untuk pulang, Arion yang menyadari kakaknya Lintang tak ikut pulang akhirnya cemberut dan ngambek. Sepanjang perjalanan pulang tak terdengar tawa dan suarannya, Arion memilih untuk tidur di pangkuan sang kakaknya.


Hingga sampai rumah kami masuk dengan diam kami, sibuk dengan pikiran dan perasaan kami sendiri-sendiri. Ini keadaan baru yang kami alami walaupun sebelumnya banyak kehilangan yang kami rasakan.

__ADS_1


Sudah seminggu ini Prameswari terlihat termenung dan makannya juga mulai tak teratur sesekali menatap nanar ke luar teras.


Kebiasaan lamanya kini kembali lagi. Menatap senja sore bersama Arion dan kadang menatap langit malam sendiri di teras.


Seperti malam ini, Rian melihat Prameswari duduk di teras menatap Langit sembari sesekali mengikis air matanya.


Cukup lama Rian memperhatikan dari ruang tamu dengan diam Rian mendekatinya merengkunya dalam pelukanku.


"Kenapa?" tanya Rian pelan.


Mendengar suaraku Prameswari langsung menunduk.


"Teringat Lintang dan Pram kangen Mas," ucap Prameswari tertahan.


"Sudah ... Lintangnya saja di sana senang, minggu kita lihat ke sana, kita bantu doa Pram? Supaya Lintang sehat, kuat dan kerasan," ucap Rian sembari memeluk semakin erat.


Kini yang terdengar hanya napas Prameswari yang berat.


"Aku tahu ini berat, tetapi nanti jika sudah berjalan berbulan-bulan semuanya akan terbiasa," ucap Rian lagi.


"Ternyata berat melepas anak menuntut ilmu jauh dari rumah, benar kata Mas Rian mungkin Pram belum terbiasa," jawab Prameswari sembari tersenyum.


Melangkah masuk kedalam, setelah mengunci pintu dan menutup tirainya Rian dan Prameswari memilih untuk istirahat, tak ada percakapan di antara kami hanya ingin berusaha memejamkan mata kami dengan cepat.


Seperti janji Rian pada Prameswari akhirnya di setiap sabtu kami datang ke pondok menginap semalam dan minggu sore kami baru pulang, semua perlahan mulai berubah kini Prameswari secara bertahap sudah mengurangi frekuensi kunjungannya, itupun karena atas permintaan Lintang sendiri.


Memilih waktu satu bulan sekali untuk kami berkunjung senyum Lintang selalu tersungging saat ibunya berkunjung dengan drama tangisnya.


"Ibu ... jangan begini Lintang kan malu!! Lagian di sini Lintang itu ada Kak Ilham," ucapnya sembari tersenyum.


Sesaat Prameswari tersenyum. "Sssst ... kau itu, ibu kan juga kangen!! Ucap Prameswari lagi. Lintang hanya mengaruk kepalannya dan kemudian duduk di antara kami.


Akhirnya Prameswari dapat tersenyum lega, melihat Lintang penuh semangat. Pulang berkunjung kali dengan senyum cerahnya.


Tak terasa waktu pun merambat berjalan dengan pasti, melihat anak-anak kami tumbuh dengan cepat.


Berbeda Lintang berbeda pula untuk Arion.

__ADS_1


Merasa tak memilik teman untuk bermain akhirnya Arion sering menghilang dari rumah dari kepanikan yang dibuat dan setelah mencarinya kesana kemari akhirnya Arion di antar pulang oleh Pak Man dan itu sering terjadi di hari minggu dengan diam-diam Arion menyelinap keluar rumah pergi ke sawah.


Rian hanya menggeleng mengetauhi hobi baru Arion, bukan turun ke sawah bermain lumpur atau yang lainnya tapi Arion memilih mengikuti Pak Man mengontrol para pekerja ikut berkeliling atau sekedar duduk di gubuk.


Senyum Arion selalu terlihat sumringah dan hari ini Rian melihatnya sendiri dari jarak yang cukup dekat hingga tanpa sepengetauhan Arion. Hingga akhirnya Rian memutuskan untuk duduk di dekatnya. "Bapak," ucapnya terkejut saat melihat Rian sudah duduk di dekatnya.


"Kenapa mainnya kemari Arion?" tanya Rian pelan sembari mengusap kepalannya.


"Di rumah sepi tak ada temannya, Ibu sibuk, Kak Kinara dan Kak Kinanti juga sibuk sekolah, Bapak, sembari melihat tak melanjutkan bicarannya terdiam sesaat."


"Arion suka di sini, besok kalau Arion sudah besar, Arion ingin seperti Pak Man mengawasi sawah dan kata-katanya terputus lagi."


"Dan apa?" tanya Rian penasaran.


"Semoga sawah kita tak kena gusur lagi supaya Arion bisa main ke sini terus Bapak," ucapnya sembari menunduk.


Rian dan Pak Man tersenyum mendengar ini. "Akhirnya," ucap Pak Man tiba-tiba dengan tersenyum.


"Aku senang akhirnya masih ada yang mau terjun ke sawah meskipun masih menjadi angan-angan."


Rian dan Pak Man akhirnya tersenyum bersama.


"Ternyata Arion sama seperti neneknya Nak Rian, dan dari gaya dan tingkahnya ternyata mirip sekali," ucap Pak Man sembari tersenyum.


"Ayo Arion kita pulang, kasihan Ibu dan Mbak mencari Arion," ucap Rian sembari melangkah.


"Pak Man terima kasih sudah menemani Arion," ucap Rian sembari menjabat tangannya.


"Sama-sama Nak. "Arion pamit sama Mbah Man dan bilang terima kasih," ucap Rian pelan.


Setelah pamitan pada Pak Man Arion langsung mengikuti langkahku. "Pak kita ke Masjid dulu," ucapnya lagi.


"Sudah hampir dhuhur Pak," kembali Arion berucap.


"Kita pulang Nak, baju kita juga kotor, ayo ... kurang beberapa langkah lagi, nanti kita sholat ashar di masjid," ucap Rian lagi.


Nampak wajah kecewa Arion tapi masih juga mengikuti langkah Rian pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2