
Simbah masih tersenyum mendengar ucapan Pram yang kadang ngomel ini dan itu di tengah sawah maupun tegal. Ya. Hari ini Pram merasa sedikit dekat dengan Simbah, satu hal yang Pram lihat ternyata Simbah sangat di segani para pekerjanya dengan gayanya mungkin terlihat sedikit arogan dan keras.
"Pram ... "panggil Simbah tiba-tiba saat berdiri di tengah sawah dan dengan para pekerjanya.
"Yo, bar madang bali ae, sesuk balik mane," ucap simbah lagi.
( ya , habis makan pulang saja , besok kembali lagi )
"Iki kenalno putu ku, sok seng bakal ngurus kabeh iki, seng iki wes ngerti toh, anakku Nur", ucap simbah lagi.
( ini kenalkan cucuku nanti yang bakal mengurus semua ini , yang ini sudah tau toh anakku Nur )
Pram, melihat mereka saling memandang kemudian tersenyum.
"Nggih Mbah," jawab mereka serentak.
"Ayo, pulang!" ajak Simbah.
"Pram jangan lupa semua ini nanti kamu yang mengurus dan kamu harus kuliah!!" ucap Simbah Sembari menatap Pram.
Mendengar ucapan Simbah ada rasa tak percaya.
"Bener Bu! Aku bisa kuliah?" tanya Pram ragu.
"Ya. bisa Pram," jawab ibu lagi.
Berjalan ber iringan menuju rumah, Pram selalu tersenyum melihat Simbah sudah sehat dan sudah ke sawah dan tegal.
Sampai di rumah Simbah sudah hampir dhuhur. "Pram, pulang dulu Bu, bersih-bersih rumah nanti sore balik," ucap Pram.
"Pram ! Jangan lupa di bersihkan semuanya," ucap ibu lagi.
Berjalan dengan sedikit tergesa, udara yang panas dan tubuh Pram yang gatal semua bergesek dengan daun padi dan rumput tinggi-tinggi di tegal, begitu memasuki rumah tujuan Pram satu-satunya mandi dulu, lalu shalat kemudian bersih-bersih, itu rencana Pram serta menyiapkan buku pelajaran toh masih satu hari lagi.
Setelah semua selesai seperti biasa, merebahkan diri di ranjang, toh semalam Pram juga tidak tidur dengan nyenyak.
Hp Pram berdering berkali-kali dengan sedikit mengantuk Pram meraih dan mengulir tanda hijau.
"Ya," jawab Pram sembari menguap.
"Pram cepat ke rumah Simbah. Simbah kembali sakit," ucap ibu.
"Waduh ... kenapa bisa sakit lagi," ucap Pram sembari keluar dan mengunci pintu depan dan menaruhnya di tempat biasa.
Langkah Pram kini bukan langkah lebar lagi, tapi sedikit berlari dengan napas ngos ngosan Pram masuk ruang tamu. "Bu ... panggil Pram.
"Sini Pram," ucap ibu .
__ADS_1
Begitu Pram mendekat, Pram sedikit terkejut
"Kenapa simbah Bu? Mbahmu Pram, pulang dari sawah tadi langsung jatuh dan kepalanya membentur ujung ranjang."
"Pram panggil Dokter Bu," ucap Pram.
Pram kini sudah berlari, menuju rumah Dokter Edi. Setelah tiba di depan rumah Dokter Edi, Pram langsung menekan bel berulang kali, hingga tak lama muncul laki-laki paruh baya. senyum Pram sedikit lega.
"Beruntung kali ini Dokter Edi ada," guman Pram sendiri.
"Sore Dokter, tolong datang ke rumah Simbah, Simbah Pram kepalanya luka terantuk ujung ranjang," ucap Pram tanpa jeda .
"Sabar. Nduk," ucap Dokter Edi menenangkan Pram.
"Saya ambil alat dulu," ucap Dikter sembari melangkah masuk.
Melihat Dokter Edi masuk Pram kemudian mengatur napas sejenak.Tak lama terlihat Dokter Edi keluar membawa tas nya.
Kini Pram tak berjalan tapi di bonceng sepeda.
"Siapa nama Simbahmu Nduk?" tanya Dokter Edi.
"Mbah Rum, Dokter," mendengar jawaban Pram, Dokter Edi nampak tersenyum.
"Oh ... Mbah Rum juragan tanah itu," jawab Dokter Edi lagi.
Pembicaraan kami terhenti karena sudah tiba di rumah, setelah memarkir sepedannya Dokter Edi langsung masuk. Menaruh tasnya, kemudian bertanya ini itu sambil mengeluarkan alat-alat nya.
"Jangan khawatir Simbahmu baik-baik saja," ucap Dokter Edi.
"Tetapi, kenapa tadi sampai terjatuh?" tanya Ibu tak sabar.
"Sabar Bu ... tidak ada yang perlu di khawatirkan Simbah ini kelelahan, hanya itu saja dan untuk lukanya juga tidak perlu melakukan tindakan jahitan."
"Ibu, mulai sekarang harus lebih sabar lagi dan banyak-banyak di ajak berdoa. Dan kamu gadis cantik, bantu ibu!" ucap Dokter Edi lagi.
Sesaat kemudian melihat ruang tamu seketika Dokter Edi memegang tengkuknya.
"Apa perlu di bawah kerumah sakit Dok?"
tanya Pram mengejutkan, Dokter Edi yang terkejut melihat Pram sesaat sembari mengelus dadanya.
"Nggak perlu Nduk," ucap Dokter Edi sembari memasukkan alat-alatnya ke dalam tas. Kemudian langsung berpamitan untuk pulang.
Selepas Dokter Edi pergi. "Bu Pram tidur di sini, ya? Besok juga sekolah, Pram ambil tas dan sepatu dulu," ucap Pram, tak berapa lama Pram melihat ibu mengangguk tanda setuju.
"Jangan lama-lama Pram," ucap ibu lagi.
__ADS_1
Pram bergegas untuk pulang mengambil barang yang di perlukan, benar kata Rian dalam keadaan seperti ini, Pram tak mungkin egois, meninggalkan ibu dan merawat Simbah sendiraian.
Tak perlu lama, karena semua sudah Pram siap kan dari tadi. Sehari ini kaki Pram terasa pegal sekali, berjalan bolak balik hingga hampir malam ini. Pram menghentikan langkahnya saat terdengar suara ibu-ibu mengaji, terdengar samar-samar, dengan penasaran Pram melangkahkan kakinya sedikit mendekat, sembari mencari asal sumber suara, langkahnya terhenti sesaat.
"Ternyata di rumah Rian," guman Pram lirih.
Pram kembali melanjutkan langkahnya, hingga sampai di halaman rumah Simbah, berhenti sejenak menatap ke rumah Simbah.
"Perasaan rumah Simbah dari hari ke hari semakin gelap," kembali Pram berguman lirih.
"Ish, kenapa tadi juga tak beli bolam lampu dan kabel," ucap Pram kini menggerutu.
Begitu Pram membuka pintu, terlihat Ibu sudah tertidur mungkin lelah karena seharian sibuk kasihan lelah pikirku.
Melihat ke ranjang, melihat Simbah tidur dengan gelisah, kini posisi tidurnya sudah tak beraturan kadang miring, berkali-kali Pram benahi selimutnya tapi tetap tak bertahan lama, selimut itu sudah di lempar. "Panas," itu yang Pram dengar hingga berkali-kali Pram melakukannya membenahi selimut Simbah, entah bagaimana Pram pun juga langsung tertidur.
Pram terkejut saat terdengar bunyi suara "Gedubrak!! Pram dan ibu langsung terbangun
melihat ke ranjang. Simbah masih tidur lalu siapa? tak lama kembali terdengar suara itu.
"kreaaak ... gedubrak , gedubrak."
"Siapa Pram?"tanya Ibu. "Sudah ibu tidur lagi, bukan siapa-siapa."
Setelah Pram mengintip dari jendela tak berapa lama tak terdengar suara lagi.
"Sudah ibu tidur lagi masih jam dua malam ," ucap Pram lagi.
Pram masih belum bisa memejamkan mata berkali-kali hingga berkali-kali menguap tapi mataku tak mau ku ajak tidur.
Sudah pukul tiga pagi, saat terdengar suara burung gagak. "Krak , krak , krak ... "sepertinya mengitari atap rumah, Pram melihat kini Simbah menggeliat dengan posisi tidurnya sudah berputar tidak di posisi awalnya.
Kembali menguap sudah pukul tiga seperempat saat terdengar suara.
"Gedubrak gedubrak," seperti meletakkan barang dengan kasar, kini Pram tak mengintip tetapi langsung Pram lihat melalui jendela ruang tamu.
Seketika Pram terkejut ada empat orang sedang menaruh dan mengangkat keranda dengan kasar, dengan postur tubuh sedikit pendek dengan kepala gundulnya dan sekali lagi terdengar suara burung gagak mengitari atap rumah.
"Krak.....krak....krak. Lalu melesat pergi bersama hilangnya pengusung keranda.
Seketika tubuh Pram lemas. "Astafirrullahal adzim," ucap Pram pelan, agar ibu tak terbangun.
Masih posisi duduk saat Pram melihat Simbah sudah mulai bergerak dengan aneh dan sesekali meracau tak karuan.
Pram sedikit mendekat membacakan ayat suci al quran, berhenti sejenak dan mulai berulah dengan hal yang sama lagi.
Saat terdengar adzan subuh Simbah mulai tenang gerakan-gerakannya mulai berhenti.
__ADS_1
Ya, akhirnya Pram tak bisa tidur lagi dan harus berangkat sekolah, Pram memilih ke kamar mandi mengguyur tubuhnya dengan air dingin berharap tak mengantuk dan badannya segar kembali, sementara ibu sudah hampir menyelesaikan memasak.
Sudah pukul enam pagi. "Bu ... Pram berangkat dulu," Ucap Pram. Pram berhenti sejenak saat melihat Ibu sedang menyibin Simbah, terasa aroma sabun seketika menusuk hidung. Melangkah keluar dan menutup pintu kembali.