
"Kau ... seketika aku mengeluarkan mode jutek. "Kenalin ini Handra," ucap Nurdin.
"Ya, aku sudah tahu, ini kan yang pacarnya anak jurusan sebelah dan lagian dia sudah tunangan juga," ucap Pram keceplosan.
"Ups ... maaf, salah ya? sembari aku membereskan alat tulis dan meraih tas.
Kemudian berdiri sembari mencari bangku yang kosong, sebelum aku berpindah tempat sempat aku melirik Nurdin dan Handra mereka saling bertatapan dengan bingung.
"Semprul kau, sudah membohongi aku," ucap Nurdin sambil memukul kepalanya Handra.
Kemudian Nurdin duduk di tempat di mana aku duduk tadi.
Sekilas aku menatap ke belakang, nampak Handra masih menatap ke arah ku dengan heran. Dua mata kuliah yang sempat tertunda lima belas menit akhirnya kelar juga.
Keluar kelas bebarengan dengan ponsel berdering dengan segera mengulir tanda hijau," Rian aku kangen, ucap Pram tiba-tiba tanpa salam dulu.
"Rian yang di ujung sana sudah tertawa tergelak itu yang ku dengar.
Belum juga berkata apa-apa ponsel Rian sudah terputus, ada rasa dongkol secara tiba tiba di hati, kembali memasukkan ponsel
berjalan menuju angkot yang sudah berbaris rapi menunggu penumpang.
Sinar matahari sudah hampir sembunyi di balik awan saat tiba di gang depan rumah.
Berjalan dengan perasaan dongkol saat terdengar suara ribut-ribut di rumah Mak Sara. "Ada apa? pikir Pram tapi tak berani mendekat hanya melihatnya dari jauh.
"Aduh maaf, maaf," ucap seseorang saat menabrakku dan langsung melihatku.
"Itu, Mak Sara sepertinya kesurupuan dan saya mau memanggil Bu Asih untuk minta tolong, biar di doain."
"Ya, silahkan Mas," ucap Pram sembari masih melihat dari jauh.
Tak berapa lama nampak ibunya Rian datang melihat aku berdiri di sekitar rumah Mak Sara , Ibunya Rian langsung menarik aku ke dalam rumah Mak Sara.
Aku hanya di minta ibunya Rian untuk duduk di sisinya dan memegang tangannya.
Sesaat kemudian ibunya Rian membisikkan sesuatu di telingaku, membacanya di dalam hati sembari terus memegang tangan Mak Sara sementara ibunya Rian membaca beberapa ayat ayat suci al quran.
"Sakit ... sakit, ucap Mak Sara dengan keras,"
orang-orang yang sibuk berkumpul kini sedikit mengurai kerumunan. "Hei koen hahahaha ...
dengan tawanya yang keras, kini jari mak Sara sudah menujuk wajahku. "Koen cah wadon yo koen."
( kamu anak perempuan , ya kamu )
"Kon wes ndelok ujudku, aku malah kok usir
__ADS_1
hahaha ....ojok salahno nek aku nyusup nang ragane wong iki kini matanya sambil melotot."
( Kamu sudah melihat wujudku , aku malah kok usir , jangan salahkan jika aku masuk dalam tubuh orang ini )
Mendengar hal seperti itu semua orang langsung menatapku heran.
"Lalu apa maumu," tanya ibunya Rian.
"Koen takok opo njaukku, balekno aku nang asalku, balekno kini sembari menyeringai."
( kamu bertanya apa permintaanku , kembalikan aku ke asalku , kembalikan )
Seketika semua orang saling menatap
aku hanya diam dan masih memegang tangan Mak Sara," tolong siapa yang sudah membawa sesuatu dari sawah atau ladang," ucap ibunya Rian tiba-tiba.
"Setan nggak sopan," ucap Pram sembari menambah kekuatanku," tolong ... tolong .... "
suara Mak Sara merintih sakit.
Kemudia hanya terdengar suara Mak sara berubah," balekno aku tolong ... tolong ... "
Seketika orang yang menabrakku tadi maju dan menyerahkan potongan kecil kepala patung yang terbuat dari beton.
"Ini, aku temukan saat mencangkul dan patah terkena cangkul," ucapnya pelan.
Sesaat Mak Sara tersenyum senang," hahaha iku ndasku ayo, ayo dang balekno, aku wes metu soko daerahku," seketika Mak Sara tertunduk. "Cepet, cepet, balekno dang ... "
Seketika para tetangga langsung berguncingdan menatap laki-laki ini.
Di rasa keadaan Mak Sara sudah aman ibunya Rian menarikku keluar dari rumah Mak Sara.
"Untung ada kamu, biasanya Ibu di dampingi Rian ,"ucap ibunya Rian sembari berjalan.
Mendengar nama Rian di sebut aku jadi ingat panggilan Rian yang tiba-tiba terputus.
"Rian sekarang sombong mentang-mentang kuliah di kota," omel Pram tak sengaja.
"Lah ... apa Rian telfon Pram? hiya Tante tapi langsung di matikan, padahal kan aku juga kangen pingin cerita," ucap Pram panjang lebar.
"Eh ... senangnya hati Tante ternyata ada yang rindu juga sama anak Tante itu," mendengar ucapan Ibunya Rian aku tesipu malu, kini aku melihat ibunya Rian sembari tersenyum.
"E ... anu ... m ... bukan begitu Tante," ucap Pram sembari menggaruk kepala karena sudah keceplosan.
Melihat tingkah aku yang bingung Tante malah mendekat dan membisikkan sesuatu.
"Sungguh Tante, yakin Rian nggak marah, nanti kesan nya malah Pram menganggu," ucap Pram pelan. "Enggak lah Pram," jawab Tante.
__ADS_1
"Hei ... kenapa juga kamu ngikut tante sampai ke rumah,"bucap ibunya Rian.
"Loh ... nggak terasa tante ke enakan ngobrol, ucap Pram sembari meraih tangan Ibunya Rian untuk salim.
"Ke enakan ngobrol atau seneng bahas Rian atau memang bener-bener kangen Pram."
Tak menjawab godaan ibunya Rian toh nyatanya wajah Pram, kini sudah bersemu merona dan terasa menghangat," pulang tante," ucap Pram sembari berlalu.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar dan menuju kamar mandi untuk membasuh wajah yang serasa terus menghangat.
Sembari menyeka wajah dengan handuk
"Tolol kenapa juga tadi keceplosan."
Mengingat ucapan ibunya Rian kini aku sudah senyum-senyum sendiri sembari mematut diriku di kaca dan kemudian aku langsung berhambur ke ranjang," bodoh-bodohnya aku," ucap Pram sembari menutup wajahnya dengan bantal.
Melepas bantal dari wajahnya kini Pram menatap langit-langit kamar," sembari tersenyum," aduh ... nanti kalau Rian telfon kan jadi malu, semoga ibunya nggak cerita," ucap batin Pram tetapi bibirnya masih terseyum .
Melirik jam di dinding, kata tante Rian pasti sudah di kontrakan segera ku raih ponsel
mencari nama Rian.
Hai Rian, ini aku Pram teman kamu, makin sibuk, jadi lupa telfon aku.
Aku kan pingin cerita, sepi di sini, tulisku di ponsel, aku jadi teringat sama kamu nggak ada yang ganggu aku lagi.
Rian tahu nggak, di kelas ku ada tuh temen cowok yang selalu membuntuti aku terus, aku nggak suka sama dia, lagian itu cowok hatinya nggak tulus.
Rian tahu nggak di kelasku juga ada cewek yang suka pake melati di kuncirnya jadi ingat Srikanti.
Hei ... Rian, aku nyari teman yang kayak kamu kok nggak ada, hei ... Rian aku merasa sendirian. Rian apa salah jika aku menjaga jarak dengan teman-temanku." Hey ... Rian sepertinya teman sekelas aku aneh-aneh.
"Hey ... Rian, Rian.
"Hey, Rian .... "
Entalah tiba-tiba saja mataku terpejam semua kata-kata yang aku tulis tergeletak begitu saja di ponsel aku.
Dan aku terbangun saat pagi hari ponselku sudah tersimpan rapi di meja belajar dan aku sudah memakai selimut.
Terkejut dengan keadaanku di pagi hari aku langsung teringat dengan ponselku.
Ada tulisan yang belum ku hapus, mengulir notif nya," ya ampun ... tulisan ku sudah terkirim dan terbaca, kembali ku ulir perlahan ku teliti tulisannya dan sangat terkejut ternyata di akhir kalimat ada ketikan kata AKU KANGEEEEN.
Panik, panik," waduh .... bisa tambah malu aku jika Rian cerita ke ibunya.
Masih duduk di atas ranjang dengan bingung lalu siapa yang membereskan ponselku.
__ADS_1
Segera mandi dan beberes karena hari ini ada satu mata kuliah dan penting.
Setelah berganti baju aku bergegas keluar kamar," Bu ... ibu."