OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 86 . IDA JADI NGANTEN


__ADS_3

Setelah kejadian rumah Simbah yang ambruk kini aku kembali di sibukkan dengan urusan kuliah, mengejar skripsi berulang kali menemui dosen pembimbing hingga akhirnya semua terbayar lunas saat aku di nyatakan lulus sidang skripsi, kini tinggal revisi dan yang lainnya.


Begitu juga dengan Mas Rian dengan kesibukannya kami pun jarang bertemu sibuk dengan kegiatan kami masing-masing .


Masih siang saat ponsel Pram berdering mengulir tanda hijau.


"Hai kak, terdengar suara di seberang sana.


"Ya Ida," jawab Pram sembari membaca ulang tulisannya.


"Bulan depan datang ya?"


Aku sedikit terkejut. "Aduh maaf, aku sampai lupa."


"Hhhhh ... jangan khawatir Kak, ini sudah di undur dua bulan, kakak belum terlambat," ucap Ida di seberang.


"Ya, pastikan tanggalnya Da, pasti aku dan yang lainnya datang."


"Nanti Ida kirim ya Kak?"


Terdengar suara ponsel di matikan dan setelahnya hanya ada notif wa dari Ida, sedikit tersenyum membacanya.


'Satria ternyata lebih nekat dari Mas Rian' ucap batin Pram.


Kembali melanjutkan kegiatan Pram, hingga terdengar suara adzan magrib berkumandang seketika menghentikan kegiatannya.


Setelah shalat aku bergegas menuju teras, memandang bintang malam, semuanya serasa seperti mimpi setelah berbagai peristiwa terjadi. Angan Pram kini kembali tertuju pada rumah Simbah belum satu tahun tapi ada baiknya aku bicara dengan ibu.


Kembali masuk nampak ibu sedang duduk di ruang tengah.


"Nggak ngaji Bu?" tanya Pram saat melihat ibu duduk di ruang tengah, sembari menghampiri.


"Nggak Pram, badan ibu kok pegel semua ngaji di rumah saja," jawab ibu dengan suara lelahnya.


"Mau Pram pijit? Pram melihat ibu hanya menggeleng.


"Bu, bulan depan kita ke rumah Mbah Lasmi, ternyata pernikahan Ida di undur Bu."


"Ya, pasti kita kesana dengan yang lainnya Pram, Bu Asih juga," ucap ibu.


"Bu," panggil Pram sedikit ragu, merasa Pram memanggil ibu menoleh.


"Apa Pram?" Bagaimana kalau rumah Simbah kita buat mushola Bu, biar ada energi positif di sana," ucap Pram sembari menatap ibu.


Lama ibu diam menatap. "Kita jual rumah di kota untuk membangun mushola itu, bagaimana?"


Seketika ibu tersenyum. "Di bangun mushola?"nampak wajah merenung hingga tak berapa lama. "Ibu sangat setuju Pram," ucap ibu dengan wajah terlihat sangat antusias dan tersenyum.

__ADS_1


"Untuk dananya kita jual rumah di kota saja ya Bu?" tanya Pram lagi.


"Kau itu, untuk membangun mushola ibu punya dananya Pram, terlihat wajahnya kembali muram."


"Bu, Ibu jangan khawatir makamnya tidak usah kita pindah, kita tambah lahannya kita perbaharui dan kira beri batas, gimana?" ucap Pram berapi-api.


"Hem, ibu setuju saja, Pram."


"Kita bangun tahun depan saja Bu, setelah aku menyelesaikan kuliah dan yang lainnya."


Tiba-tiba ibu berdiri. "Ibu tidur dulu Pram, kok sudah ngantuk," ucap Ibu sembari melangkah ke dalam kamar.


Melihat ibu nampak jelas wajahnya sudah mulai menua mulai ada kerut-kerut di wajahnya. Aku pun kembali ke kamar tapi tak melanjutkan kegiatan ku. Memilih tidur mengistirahatkan tubuhku dan otakku.


Hari yang di tunggu akhirnya datang juga. Meninggalkan semua kegiatan dan bersiap ke rumah Mbah Lasmi, masih sore saat terdengar suara mobil berhenti di halaman aku dengan cepat keluar, melihat siapa yang datang. "Eh, Pak Paijo, begitu Pram melihat sosok yang ke luar dari mobil.


"Mari masuk Pak," ucap Pram dengan tersenyum pak Paijo masuk.


"Di suruh Mbah Lasmi menjemput Mbak," ucap Pak Paijo lagi.


"Sudah istirahat dulu Pak," ucap Pram lagi sembari aku masuk memanggil ibu di dapur dan membuatkan teh.


Waktu bergulir dengan cepat dari sore berpindah ke malam. Masih pagi kami sudah bersiap perjalanan yang cukup jauh membuat kami harus berangkat pagi begitu juga dengan Bu Asih dan Mas Rian juga sudah nampak datang, setelah aku salim kami pun bergegas masuk mobil.


Tak banyak percakapan sepanjang jalan kami sama-sama terdiam hingga tiba di tujuan.


Mas Rian tersenyum-senyum dari tadi itu terlihat jelas dari kaca spion karena Mas Rian duduk di depan. Bu Asih yang melihat tingkah anaknya akhirnya berbicara juga.


"Nggak usah senyum-senyum, nanti pingin."


Seloroh Bu Asih membuat Pak Paijo tersenyum, tak berapa lama kami pun tiba di rumah Mbah Lasmi nampak terop yang megah dengan dekorasi yang indah dan nampak berdiri Pak Martoyo serta seorang wanita cantik meski usianya tak muda di sampingnya begitu juga nampak Hanifa.


Melihat kedatangan kami Hanifa langsung berhambur menjemput merangkul Pram serta mencium dua tangan ibu.


Aku sedikit mendekat ke arah Mas Rian. Melihat itu Hanifa tersenyum penuh arti dan mendekat lalu berbisik. "Aku sudah nggak suka dengan Mas kamu. Aku sudah punya yang lebih ganteng dari Mas kamu," bisiknya sembari tersenyum.


"Kau pasti berbohong, goda Pram pada Hanifa."


"kau lihat laki-laki yang berdiri di samping Bapak aku? Itu orangnya."


Aku mengikuti telunjuk Hanifa dan melihat siapa yang di maksud seketika tawa Pram pecah dan menghentikan langkah.


"Tampan sih tampan Hanifa?" Tapi kenapa dia, kayak nggak ada cowok lain saja," ucap Pram pelan.


"Biar yang penting dia cinta sama aku dan baik," ucapnya sembari menarik tangan Pram.


Aku hanya tersenyum. "Kenapa mesti John, Hanifa?"

__ADS_1


Setelah mendekat nampak Ibu dan Bu Asih sudah membaur dengan Nbah Lasmi dan Pak Martoyo.


Setelah berbasa-basi dan salim, Hanifa mengajak Pram menemui Ida di kamar. Nampak Satria tengah berbincang dengan Mas Rian dan teman-teman yang lainnya.


"Kapan mereka datang?" tanya Pram pada Hanifa."


"Sudah dari kemarin mereka yang mengantar aku pulang, sudah ayo kita temui Ida."


Langkah Pram terhenti saat tiba di pintu kamar.


"Ida," mulutku langsung saja bersuara.


"Aku pangling Da!! kamu cantik sekali," ucap Pram dengan kagum karena saat ini Ida tengah di rias.


"Kapan kamu nyusul nikah?" tanya Hanifa


tiba-tiba.


"Ish ... masih lama, pingin nyelesain kuliah dulu," ucap Pram pelan.


Duduk bertiga di kamar Ida, membuat aku sedikit sadar akan seribet ini menikah dengan acara yang terlihat glamaur dan sekaligus terkesan mewah.


"Hai, melamun, tegur Hanifa dan Ida bersamaan."


"Ayo kedepan habis ini temu manten, kita tinggal Ida."


Nampak sang perias sudah bersiap-siap, melakukan ini dan itu. Di depan MC sudah memulai beberapa acara dan benar saja sudah nampak dua cowok memegang kembang mayang dan dua gadis juga membawa kembang mayang lagu kebo giro mengiringi langkah mereka dengan perlahan, acara temu manten di lakukan dengan hikmat dan terasa sakral.


Nampak keluarga Satria juga sudah datang dan berdiri di kuade, Mbah Lasmi juga nampak sudah duduk di kursi karena usianya.


Acara demi acara berjalan dengan lancar, nampak Mbah Lasmi sudah lelah namun ada yang beda dari raut wajahnya.


"Ah, jangan lagi" ucap Pram sedikit tersekat.


"Jangan sekarang Mbah kasihan Ida" ucap Pram pelan.


Dengan tersenyum Mbah Lasmi menatap pram, entah perasaan apa ini, hati Pram sedang tak baik-baik saja saat ini. Semua acara terlewati tanpa halangan tamu datang dan pergi hingga pukul sepuluh malam acara di akhiri, suara musik sudah di matikan aku melihat ibu dan yang lainnya sudah istirahat di rumah Pak Martoyo. Tinggal aku dan Mas Rian dan Hanifa serta beberapa teman.


Manten nya pun juga sudah menghilang sejak pukul sembilan tadi. Nampak Simbah berjalan ke luar dari kamarnya. Melihat Pram Simbah tersenyum, dengan membalas senyum Mbah Lasmi, aku dan Hanifa segera menghampiri. Nampak senyum di wajahnya. "Menginaplah dua hari lagi aku masih pingin berbincang denganmu," ucap Mbah Lasmi pelan.


"Aku usahakan Mbah, hanya itu yang terpikir saat ini."


"Sekarang Mbah istirahat, Pram antar ya?"


Hanya anggukan yang Pram terima. "Ayo! ucap Mbah Lasmi. Dengan segera aku mengantarnya hingga masuk kamar.


"Tidurlah disini saja Pram! pinta Mbah Lasmi. Melihat wajah Mbah Lasmi sesaat dan kemudian aku turuti saja keinginannnya tak ada percakapan toh saat ini aku juga benar-benar mengantuk dan ingin tidur.

__ADS_1


__ADS_2