
“Kamu dari mana aja, sih? Jam segini kok baru pulang? Mana nasi goreng pesenanku?”
Cecar Kirani sesaat setelah Faya masuk ke dalam rumah.
Nasi goreng? Oh ya ampun. Faya lupa. Fikirannya sudah kepalang kesal dengan Prima. Membuat ia lupa kalau tadi kakak iparnya itu memesan nasi goreng padanya.
“Ya ampun. Fay lupa, Mbak. Bentar lagi ya, Mbak. Fay mandi dulu, abis itu Fay belikan di Mang Badri.”
Wajah Kirani yang hampir marah tidak jadi saat melihat wajah cemong Faya. Pun pakaiannya juga lusuh seperti baru mengobrak-abrik Bantar Gebang.
“Ya udah. Nanti aja belinya. Jam-jam sembilanan. Aku baru makan tadi.”
Faya mengangguk. Dalam hati ia merasa lega. Itu berarti ia masih punya waktu istirahat setelah mandi.
Faya langsung masuk ke dalam kamarnya untuk meletakkan tasnya. Kemudian ia keluar menuju ke kamar mandi. Menyambar handuk dari gantungan dan mulai menyalakan air.
Guyuran air dingin yang mengalir lewat shower membuat kepala Faya terasa sejuk. Kesejukan itu mampu menenggelamkan tanduk yang tadi sempat mencuat akibat ulah Prima. Ia menggosok wajahnya dengan seksama untuk mengilangkan cemong. Baru setelah di rasa cukup, ia menghentikan aktifitas mandinya. Ia keluar dan masuk ke dalam kamarnya.
Faya merebahkan diri di atas kasur dengan handuk yang masih membungkus rambutnya. Tangannya terlentang dan matanya terpejam.
Hhhhh. Ia tersenyum pada bayangan kedua orang tuanya. Kemudian, ia menepuki dadanya pelan. Untuk menghargai kerja kerasnya hari ini.
Faya menoleh ke arah meja. Dengan malas ia meraih map pemberian Ariga tadi siang. Pria itu bilang, informasi di dalamnya akan sangat membantu pekerjaannya.
Perlahan, Faya membuka map itu. Ia tertelungkup dengan menaruh guling di dadanya. Mengeluarkan isi map dan mulai membacanya dengan teliti.
“Ya ampun. Masak aku harus menghafal semua ini?” Desis Faya melihat informasi terkait keluarga besar Prima. Di tambah dengan informasi orang-orang yang menduduki jabatan penting di kantor. Tentu saja yang berkaitan dengan Prima. Selebihnya, ada informasi tentang klien dan pekerjaan yang sedang di lakukan oleh Prima. Setelah membaca semua informasi itu, kepala Faya yang tadinya segar, kembali berasap.
Dan Faya akhirnya tertidur sambil mendekapi lembara-lembaran itu di wajahnya. Ia terbangun saat Kirani menggedor-gedor pintu kamarnya meminta untuk di belikan nasi goreng.
“Buruan bangun, Fay! Mbak laper, ih.” Dengus Kirani di depan pintu yang masih tertutup.
Dada Faya masih berdegup kencang akibat terkejut. Dia sedang terlelap dan tiba-tiba Kirani berteriak-teriak memanggilnya. Seolah nyawanya di paksa untuk berkumpul dn itu membuat degupan nyeri di dadanya.
“Lama banget, sih.” Sentak Kirani saat Faya muncul dari dalam kamarnya. Wajahnya masam. Kesal karna Faya tidak kunjung bangun dan membuka pintu.
Padahal Faya sedang sangat lelah hari ini. Begitu banyak hal yang terjadi sampai menguras tenaganya. Pekerjaan impian dengan gaji yang besar, ternyata sepadan dengan bebannya. Ini masih hari pertama. Untuk besok dan selanjutnya, entahlah, Faya malas membayangkan keruwetannya.
Sebenarnya masalahnya hanya satu, yaitu Prima. Kalau saja bosnya itu tidak suka bersikap konyol, dia tidak akan selelah ini.
Faya keluar dan melewati Kirani begitu saja. Kakak iparnya itu bahkan tidak memberinya uang untuk nasi gorengnya. Dan Faya terpaksa harus merogoh koceknya sendiri demi menghindari peperangan. Ia malas berdebat dengan Kirani walaupun ia ingin sekali membantahnya.
Faya menyambar jaket dari sofa kemudian ngeloyor pergi begitu saja.
__ADS_1
“Yang pedes ya!” Teriak Kirani saat Faya hendak membuka pintu.
Faya diam. Ia hanya menutup pintu dan melangkah keluar.
Udara dingin menyesap sampai ke tulang-tulangnya. Padahal Faya sudah mengenakan jaket tapi ia masih bisa merasakan hawa dingin berhembus. Ia terus berjalan menuju ke warung nasi goreng langganannya.
**
**
Prima memarkirkan mobil di pekarangan rumah orang tuanya. Ia disambut hangat oleh Zinnia, mamanya.
“Mama apa kabar?” Sapa Prima sambil melayangkan cipika cipikinya kepada sang ibu.
Plak!
Prima justru mendapat pukulan di pundaknya setelah mereka melepas pelukan.
“Au.” Prima mengelus pundak yang di pukul oleh Zinnia.
“Dasar anak nakal. Bisa-bisanya pulang sebulan sekali. Padahal jaraknya dekat.” Dengus Zinnia.
Prima hanya terkekeh saja. Kemudian ia kembali memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu.
“Apa semua udah datang, Ma?”
“Udah. Nenek sama kakek udah nungguin kamu dari tadi. Om Ranu juga datang bareng sama tante Mia.”
“Oh ya?” Prima menjadi antusias. Jarang-jarang mereka berkumpul seperti ini. Ini pasti momen spesial bagi mereka.
Ren dan Zinnia sekarang memang tinggal bersama dengan Esta dan Rai. Pasangan yang kini sudah menjadi kakek dan nenek itu tidak mau kalau hanya tinggal sendiri di rumah besar mereka.
“Ayo, masuk.” Ajak Zinnia kemudian. Ia menggandeng lengan putranya itu masuk ke dalam rumah.
“Weiiissss! Anak ganteng udah datang!” Pekik Ranu yang sedang duduk di sofa bersama dengan Rai dan Ren.
Prima menghampiri para pria di keluarganya itu. Menyalami mereka satu persatu.
“Kamu ini. Kenapa jarang sekali pulang?” Keluh Rai dengan suara rentanya.
“Hehehehe. Maaf, Kek. Banyak pekerjaan.”
“Kerja game.” Timpal Ren.
__ADS_1
Prima tersudut. Ia menutupi kekesalannya dengan kekehan kecil.
“Wulan gak ikut, Om?” Prima menanyakan anak Ranu dan Mia.
“Gak. Dia sibuk ngurusin acara pernikahannya.”
“Ooh iya. Gak lama lagi, ya?”
“Bulan depan. Kamu harus datang ke Jogja. Awas kalau gak datang.” Ancam Ranu.
“Pasti, Om. Aku pasti datang, kok.”
“Ayo makan. Makanannya udah siap.” Mia muncul memberitahu.
Keluarga besar itu langsung menuju ke ruang makan dan berkumpul di sana.
Prima melihat Esta yang duduk di kursinya. Ia segera menghampiri wanita itu dan mencium tangannya.
Esta, wajahnya sudah penuh dengan keriput. Tapi itu tidak melunturkan kecantikannya. Senyuman tak pernah hilang dari bibirnya. Malam ini, terasa sangat istimewa karna anak dan cucunya berkumpul di sana. Ia bisa merasakan suasana hangat yang mengaliri setiap pembuluh darahnya.
Bagi orang tua, tidak ada hal yang lebih membahagiakan daripada melihat anak dan cucu berkumpul, bersenda gurau penuh kehangatan. Seperti yang ada di hadapannya saat ini.
“Vita kapan nih nyusul Wulan?” Selorohan itu terdengar dari wanita berhijab, Mia.
“Hehe. Jodohnya belum kelihatan hilalnya, Tan.”
“Ya ampun. Mana mungkin. Gadis secantik kamu, pasti banyak yang ngejar-ngejar.”
Perasaan Prima menjadi tidak enak saat mereka sudah membahas ke arah sana. Karna bisa dipastikan, ia yang selanjutnya akan menjadi target berikutnya. Maka dari itu, Prima memilih untuk diam saja. Berpura-pura fokus pada piring makanannya.
“Wulan aja udah mau nikah, kamu kapan, Prim?”
Nah, kan. Bener. Batin Prima.
Ia mengalihkan pandangan menatap mata renta yang baru saja menanyakan itu padanya. Esta tersenyum jahil pada cucunya itu.
hei, kalian. weekend lagiii.
udah berterimakasih sama diri sendiri belum hari ini? jangan lupa semangatin diri sendiri yang udah capek kerja yaaa. udah kerja dari senin sampai sabtu, ya kali gak di semangatin.
__ADS_1
selamat hari libur....