One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 95. Sudah Menjadi Candu.


__ADS_3

Seperti biasa yang sudah di lakukan selama beberapa hari ini, ketika sampai di apartemen, maka Prima akan masuk lebih dulu ke apartemen Faya. Apalagi sekarang ada Iwan yang sedang butuh penghiburan dan teman bercerita.


“Mas?!” panggil Faya ketika mereka sudah masuk ke dalam rumah. Ia meletakkan makanan yang ia bawa dari restoran ke atas meja makan.


“Lagi mandi kayaknya.” Ujar Prima. Ia memang mendengar suara air di kamar mandi.


Benar saja, tidak lama kemudian Iwan nampak keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. “Kalian udah pulang?”


“Mas belum makan, kan? Aku belikan makanan dari luar. Mas makan dulu ya.” Ujar Faya yang kemudian meracik makanan.


Tidak banyak bicara, Iwan langsung duduk di meja makan. “Ayo makan, Prim.” Ajaknya.


“Lanjut aja, Mas. Kami udah makan tadi di luar.”


“Oh, gitu.”


Faya menemai kakaknya itu duduk di meja makan. Dengan saling berhadapan, Faya terus saja menatap kepada Iwan dengan tatapan yang entah. Yang jelas, ia ikut bersedih atas apa yang menimpa kakaknya itu.


“Daripada ngelihatin aku begitu, sana temenin pacar kamu.” Seloroh Iwan.


“Hehehe. Aku kan kangen sama Mas.”


“Kasihan tuh di cuekin. Sana.”


Faya memanyunkan bibirnya sesaat kemudian tetap mengikuti permintaan Iwan. Ia bangun dan berpindah duduk bersama dengan Prima.


Prima sedang duduk di sofa sambil mengupasi kuaci. Sementara Faya, duduk di tempat kesukaannya, yaitu lesehan di dekat meja. Entah kenapa ia lebih suka duduk lesehan begitu sambil selonjoran daripada duduk di sofa yang empuk.


“Aa.” Perintah rima. Ia menyodorkan kuaci yang sudah ia kupas kepada kekasihnya. Dan dengan patuh, Fayapun membuka mulutnya.


Selesai makan, Iwanpun turut bergabung bersama mereka di ruang tamu. Ia duduk di sebelah Prima.


“Cepet banget makannya, Mas?”

__ADS_1


“Udah kenyang. Kebiasaan kalau di jalan makan cepat-cepat. Jadi kebawa.”


“Mas, kalau Mas capek kerja supir, aku bisa kok carikan kerjaan Mas di kantor. “ ujar Prima langsung. Ia memang tidak pintar berbasa basi.


“Gak perlu, Prim. Aku udah nyaman kok sama kerjaanku yang sekarang. Jadi supir itu enak lho, bisa kemana-mana. Mampir di tiap kota. Setiap perjalanan, pasti ada aja kejadian yang baru dan lucu.” Iwan menolak tawaran Prima secara halus.


“Terima aja, Mas. Sekarang Mas kan udah pisah sama Mbak Kiran. Cari kerjaan di sini aja. kerjaan yang nyaman jadi gak perlu jauh-jauh dari aku lagi. Biar aku bisa ngurusin Mas di sini. Kalau jauh kan susah.” Rengek Faya.


“Makasih udah khawatirin Mas. Tapi Mas beneran gak apa-apa. Mas bisa ngurus diri Mas sendiri. kamu fokus aja sama rencana pernikahan kalian. Jangan lama-lama. Nanti banyak godaannya.” Iwan mengerling menggoda sang adik.


“Mas, ih. Aku serius.”


“Kamu tenang aja. Sekarang Mas udah gak ada yang harus di nafkahin. Cuma kamu yang masih jadi kewajibannya Mas. Mas yang harus ngurus kamu. Bukan sebaliknya. Kecuali nanti kalau kalian udah nikah, mau gak mau, Mas terpaksa menyerahkan kamu sama suamimu. Saat itu tiba, baru Mas udah lepas tanggung jawab dari kamu.”


Suasana pembicaraan itu semakin dalam dan serius. Padahal sudah di rayu-rayu, namun Iwan tetap tidak mau menerima tawaran dari Prima.


“Prim, sekali lagi aku mau tanya, apa kamu udah bener-bener sanggup nerima Faya buat jadi istrimu? Soalnya Faya itu hidupnya gak pernah senang. Dari remaja dia udah berjuang sendiri. bahkan aku aja sebagai kakaknya, gagal buat dia bahagia. Kalau kamu memang udah mantap sama Faya, aku bakalan restuin kalian. Dengan satu syarat, tolong jaga Faya. Buat dia bahagia. Jangan buat dia nangis. Karna mungkin airmatanya udah abis itu.”


“Mas, jangan ngomong gitu. Aku udah bersyukur masih ada Mas di sini buat aku. Aku janji aku bakalan bahagia setelah ini.” Lirih Faya. Matanya sudah berkaca-kaca.


“Aku juga janji, Mas. Bakalan buat Faya bahagia. Aku gak akan biarin dia sedih atau nangis. Mas bisa pegang janji aku.”


Iwan mengangguk. “Ya, aku percaya sama kamu. Awas aja kalau sampai kamu buat adekku nangis. Soalnya dia kalau nangis diem-diem. Jadi kamu mungkin gak bakalan tau. Perhatiin baik-baik nanti.”


“Iya, Mas.” Prima tersenyum lebar. Setelah mendapatkan lampu hijau dari Iwan, perasaan Prima kini sudah plong. Lega sekali. Tidak ada lagi beban yang harus di fikirkan.


“Aku cuman bisa berdoa buat kalian. Semoga kalian gak sampai ngalamin kayak pernikahanku.”


“Mas.....” dan kesedihan itu kembali bergelayut di sana.


“Udah lah. Yang udah gak perlu lagi di sesali. Maaf ya dek, harusnya dari dulu Mas dengerin saran kamu buat pisah dari dia.”


“Gak usah di fikirin lagi, Mas. Dia udah dapet ganjaran yang setimpal sekarang. Jadi, Mas harus mikirin masa depan Mas sendiri. Fokus bahagiain diri sendiri. Gak usah mikirin aku. Aku udah ada yang ngebahagiain.” Ujar Faya sambil melemparkan pandangan kepada Prima. kemudian ia dan Prima saling melempar senyum.

__ADS_1


“Iya, iya. Yang lagi kasmaran. Malam ini Mas tidur di sini ya. Rencana besok pagi Mas pulang buat ambil baju-baju.”


Faya mengangguk dengan senang hati.


“Jadi Mas bener-bener gak mau nerima tawaranku, nih?”


“Makasih atas tawarannya, Prim. Tapi aku udah terlanjur nyaman sama kerjaanku. Gak apa-apa. gak usah ngerasa gak enak hati.”


“Kalau Mas gak mau, ya mau gimana.” Ujar Prima. Ia melihat jam tangannya sebentar. “Udah malem, kayaknya aku harus pulang dulu, Mas. Besok harus ke kantor pagi-pagi soalnya banyak banget kerjaan.”


“Ya udah.”


Prima pamit dengan diantarkan oleh Faya sampai depan pintu.


“Jangan tidur malem-malem ya sayang. Jangan lupa juga mimpiin aku. Awas kalau enggak.”


“Idih, kok ngancem?”


“Hehehehe. Sini.” Prima langsung menarik pinggang Faya untuk menempel padanya. Untung Faya segera membatasi dengan menyilangkan tangan di depan dadanya.


Cup.


Prima mengecup bibir Faya sekilas. Kemudian tersenyum lebar.


“Mesum.” Desis Faya.


“Biarin. Soalnya udah gak sabar. Udah, sana. masuk.” Prima melepaskan diri dan berbalik kendak masuk ke dalam rumahnya.


“Mas?” panggilan Faya membuat Prima menoleh.


Faya mendekat dan mengecup pipi Prima sekilas kemudian berbalik dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan Prima dengan wajah yang merona dan tersipu malu. Setelah itu barulah dia kembali masuk ke dalam rumahnya. Membwa sejuta kebahagiaan dan rasa tidak sabar untuk segera mempersunting Faya. Rasa-rasanya ia sudah sulit untuk menahan diri. Ingin segera menikah saja.


Faya merupakan sebuah candu baginya. Hatinya telah penuh. Tidak ada lagi celah untuk menyimpan nama lain di hatinya. Setiap ruangnya sudah terisi dengan nama Faya. Nama yang akan dia jaga di hatinya selama hidupnya nanti.

__ADS_1


__ADS_2