One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 85. Menjelma Menjadi Sosok Yang Berbeda.


__ADS_3

Pukul 11 malam, Prima mengajak Faya untuk pulang ke apartemen. Padahal tadi Zinnia meminta Faya untuk menginap saja di rumah. Tapi Faya menolaknya. Ia masih belum sepenuhnya merasa nyaman dengan mereka. Daripada membuat kesalahan nantinya, mending pulang saja.


“Mau mampir beli sesuatu dulu?” pertanyaan Prima membuyarkan lamunan Faya. Gadis itu menoleh kepada kekasihnya.


“Enggak deh. Udah kenyang. Langsung pulang aja. Aku ngantuk.”


“Siap sayangku.” Prima terkekeh setelah mengucapkan itu. “Besok, aku boleh ikut kamu ketemu Harvey?”


“Hah? Ngapain?”


“Yaaa, mau ikut aja.”


“Gak usah aneh-aneh deh, Mas. Gak lucu kalau kamu juga ikut. Gak usah cemburu gitu. Aku Cuma mau kamu kasih aku waktu buat nyelesein masalahku sama Harvey.”


“Iya, aku tau kok. Aku percaya sama kamu.”


Faya mempersembahkan senyumannya yang manis kepada kekasihnya sebagai bentuk terimakasih karna Prima sudah percaya padanya.


“Ih! Senyummu. Jadi pengen makan kamu.” Seloroh Prima.


“Hahahahahahaha.”


Untuk sesaat, keduanya saling diam. Sibuk dengan fikiran masing-masing.


“Mas?”


“Hem?” Prima menoleh sekilas.


“Kok rasanya beda, ya?”


“Apanya?”


“Kalau dulu, aku biasa aja sama keluargamu. Segan selayaknya karyawan sama atasannya. Tapi sekarang, segannya bikin jantungan.”


“Masak sih? Kamu berfikirnya terlalu berlebihan. Takut hal yang belum tentu terjadi. Makanya, fikiran itu jangan macem-macem.”


“Hehehe. Iya juga, ya. Mungkin fikiranku aja yang berlebihan.”


**


**


Pagi ini, sungguh Faya di buat kesal oleh Prima. Pria itu terus saja memandanginya saat ia sedang memasak sarapan di dapur. Dia jadi merasa seperti sedang melakukan kesalahan besar saja. Sudah sejak matahari belum terbit tadi Prima meminta kekasihnya itu untuk datang ke apartemennya. Dia bilang dia kelaparan.


“Ngapain sih, ngelihatinnya gitu banget? Ada yang aneh ya sama aku?”


“Em.” Jawab Prima sambil mengangguk.

__ADS_1


Jawaban itu sontak saja membuat Faya melihati tubuhnya sendiri. Mencari hal aneh yang di maksud oleh Prima.


“Mana? Apa yang aneh?”


“Tuh.” Prima menunjuk ke arah wajah Faya. Seketika Faya menjadi menyentuh kedua pipinya.


“Mana?”


“Itu.” ekspresi Prima terlihat sangat meyakinkan sehingga Faya percaya dan terus mencari. “Itu lho, sayang. Sini, aku bantu.” Prima bangun dari duduknya dan mendekati kekasihnya. Membuat tubuh kekasihnya itu sempurna menghadapnya.


Cup.


Prima mencuri ciuman di pipi Faya sampai membuat gadis itu terkesiap terkejut.


“Heh!” pekik Faya kemudian.


“Hehehehehe. Udah aku ambil yang aneh di pipi kamu. Udah sana, terusin masaknya.” Perintah Prima tanpa merasa bersalah.


“Ish.” Kesal Faya namun tidak melakukan apa-apa karna dia juga senang mendapat ciuman itu.


Setelahnya, Faya kembali melanjutkan acara masak-masaknya hingga selesai. Setelah itu mereka sarapan bersama di meja makan.


“Hari ini mas ke kantor?” tanya Faya.


Prima mengangguk sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. “Udah berapa hari gak masuk. Pasti banyak kerjaan. Ada rapat juga sama direksi.”


“Kita berangkat bareng. Aku anterin kamu dulu ketemu sama Harvey, baru abis itu aku ke kantor.”


“Idih. Gak percayaan banget sama pacar. Aku bisa pergi sendiri, Mas. Nanti kamu malah telat sampe kantor.”


“Orang akunya yang mau, kok. Gak masalah juga telat. Kan aku yang punya kantor.”


“Pamerrrr.” Sindir Faya. Ia sudah selesai makan dan sedang membereskan piring kotor ke tempat cuci.


“Boleh dong sekali-kali pamer.” Prima berseloroh kemudian lenyap masuk ke dalam kamar.


Selesai mencuci piring, Faya juga kembali ke apartemennya untuk mandi dan bersiap-siap. Ia memang tidak berencana untuk mencegah Prima mengantarkannya.


Prima dan Faya berangkat bersama. Tadi, Faya sudah menelfon Harvey mengatakan ingin bertemu. Dan pria itu menyetujuinya.


Harvey sedang berada di studio pemotretan dan Prima mengantarkan Faya kesana.


Mobil Prima sudah sampai di tempat yang di beritahu oleh Harvey. Ia juga sudah memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Namun, keduanya tak lantas turun.


Sebenarnya Faya sudah akan turun sejak beberapa saat yang lalu. Namun Prima terus menggenggam tangannya dan tidak mau melepaskannya.


“Mas, udah dong. Harvey udah nungguin tuh.” Faya mencoba memberi pengertian kepada Prima.

__ADS_1


“Hehe. Ya udah. Sana turun.” Usir Prima kemudian. Sebelum melepaskan tangan Faya, ia terlebih dulu mencium punggung tangan gadis itu.


Desiran demi desiran terus saja menguasai hati Faya. Ya ampun, Prima benar-benar menjadi sosok yang berbeda sekali. Sosok baru yang hangat.


“Ya udah, aku ke sana dulu. Hati-hati di jalan.” Faya turun kemudian menutup pintu mobil kembali. Melihat mobil Prima menjauh sampai menghilang dari pandangannya.


Di atas sana, dari balik kaca, sepasang mata terus memperhatikan Faya dan mobil yang mengantarkannya. Melihat senyum yang terkembang di wajah gadis itu membuat si pemilik mata itu tau, kalau ia sudah tidak punya kesempatan lagi.


Faya menatapi gedung bertingkat 3 itu dengan perasaan yang tidak menentu. Hari ini, ia akan menyakiti perasaan Harvey yang sudah begitu baik padanya. Membayangkan wajah kecewa Harvey saja, sudah


membuat perasaan Faya menjadi pias. Dengan meyakinkan diri, Faya mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung.


“Hei, Fay!” seseorang datang menyambut begitu Faya masuk. Dia adalah Jefri, manajer Harvey.


“Kak Jef.”


“Ayo. Harvey ada di atas.” Ajak Jefri.


Faya mengikuti pria itu naik ke lantai dua. Disana, nampak ramai oleh staff yang sedang mengerjakan pemotretan. Ia bisa melihat kalau Harvey sedang menjadi objek foto di depan sana. Ia melemparkan senyuman saat mata Harvey melihat kepadanya. Dan pria itupun membalas senyum.


“Tunggu bentar, ya. Gak lama lagi dia selesai. Duduk aja disitu.” Jefri menunjuk sebuah sofa kecil dekat jendela.


“Iya, Kak. Makasih.” Kemudian Faya duduk di sana sambil menunggu.


15 menit kemudian, Harvey sudah selesai dengan pekerjaannya. Ia segera menghampiri Faya.


“Sorry. Nunggu lama ya?” tanya Harvey.


“Enggak, kok. Udah selesai?”


“Udah. Tunggu bentar lagi ya, aku ganti baju dulu.” Pamit Harvey yang kembali menghilang entah kemana.


Tidak lama kemudian, Harvey kembali dengan sudah mengenakan pakaian santainya. Ia kembali menghampiri Faya.


“Kita ngobrol di cafe bawah aja yuk.” Ajak Harvey kembali.


Lantas keduanya berjalan turun ke bawah. Ada sebuah cafe mini di gedung itu yang di khususkan untuk karyawan.


“Duduk.” pinta Harvey. Mereka duduk berhadapan.


Seorang pelayan menghampiri untuk menanyakan pesanan mereka. Setelah memesan, tidak lama kemudian pesanan mereka sudah terhidang di atas meja.


Selama jeda waktu itu, tidak ada yang membuka suara. Baik Harvey, maupun Faya.


Harvey sedang menunggu Faya untuk berbicara lebih dulu. Ya walaupun Harvey sudah bisa menebak apa yang akan Faya katakan padanya. Sementara Faya sedang bingung bagaimana dia harus memulai pembicaraan.


“Lha, kok malah diem-diem aja. Mau ngomong apa?” tanya Harvey pada akhirnya. Dia sedang membungkus hatinya dengan ketegaran agar luka itu tidak terlalu dalam menusuk ke dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2