One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 12. Pergi. Untuk Berhenti Melukai Hati.


__ADS_3

“Halo?”


“Oh, ehm. Maaf Pak Ariga, ini saya, Fayandayu.”


“Oh, ada apa Faya?”


“Maaf sebelumnya, Pak. Saya terpaksa menelfon malam-malam begini.”


“Iya, gak apa-apa. Apa ada masalah sama Pak Prima?”


“Bukan, bukan, Pak. Ini, saya, apa boleh saya pindah ke apartemen sekarang?” Tanya Faya tidak enak.


“Sekarang?”


“Iya, Pak.”


Beberapa saat hening. Tidak ada tanggapan dari Ariga. Membuat Faya cemas setengah mati.


“Oh, ya. Silahkan. Aku kirim alamatnya ya. Kode pintunya, 959595.” Ujar Ariga.


“Baik, Pak. Terimakasih banyak, Pak. Terimakasih.”


“Iya, sama-sama.”


Dan sambungan telfon terputus. Membuat Faya menghela nafas lega. Ia jadi kembali bersemangat memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


Faya menjinjing tasnya keluar kamar. Dan ternyata Kirani masih duduk di ruang tamu. Wanita itu mengernyit marah melihat Faya menenteng tas keluar dari kamar.


“Mau kemana kamu?” Tanyanya sinis.


“Kata Mbak Kiran aku mengganggu disini. Ya udah. Mulai sekarang, aku akan keluar dari rumah ini.” Kata Faya sambil terus melangkah menuju pintu.


“Halah, gayamu, Fay. Memangnya kamu punya uang untuk mencari tempat tinggal? Kamu mau tinggal di kolong jembatan?”


“Itu lebih baik daripada aku tinggal disini.” Dengus Faya tidak peduli.


“Kamu mau membuat aku buruk di mata Mas Iwan, iya?!”


Faya diam saja. Ia mentulikan telinganya. Malas melanjutkan perdebatan itu lagi.


“Faya!!” Teriak Kirani saat Faya menghilang di balik pintu.


Kirani geram bukan main. Ia menatap tidak percaya kalau Faya benar-benar akan pergi dari rumah itu. Bagaimana ia akan menjelaskannya kepada suaminya nanti kalau suaminya itu pulang? Iwan pasti akan sangat marah padanya. Tapi tenang saja, ia punya banyak jurus untuk menaklukan suaminya itu.

__ADS_1


Faya berdiri di ujung gang. Menatap tersenyum kepada ponselnya. Ia sedang melihat alamat apartemen yang baru saja di kirimkan oleh Ariga. Kemudian ia melongok isi dompetnya. Lembaran 100 ribu mengisi dompetnya tanpa teman. Ia menghela nafas. Memikirkan cara bagaimana ia pergi ke apartemen.


Sudah malam, jam operasional bis umum sudah berakhir sejak tadi. Dan kalau naik taksi, tentu ongkosnya akan sangat mahal. Tapi, ia tidak punya pilihan lain. Terpaksa ia berkorban mengeluarkan lebih banyak uang malam ini. Tidak apa. Bulan depan dia akan sudah punya gaji. Itupun kalau besok dia tidak di pecat.


Faya memesan taksi online dengan posnelnya. 1 menit kemudian, taksi datang menjemput. Faya segera masuk dan memberitahu alamat apartemen kepada supir.


“Tinggal disana, Mbak?” Tanya sopir paruh baya itu untuk mengusir kesunyian.


“Ehm, i-iya Pak.”


“Wahh, Mbaknya pasti orang kaya bisa tinggal di apartemen mahal itu.” Ucap si bapak supir.


Faya hanya diam saja. Ia mengangguk saat supir melihatnya sekilas dari kaca spion.


“Pasti nyaman banget ya Mbak tinggal di sana. Soalnya kan itu terkenal apartemen paling mahal di sini.”


Oo ya? Batin Faya. Entahlah. Dia bahkan belum tau seperti apa tempat yang akan dia datangi itu.


Setengah jam melaju, taksi mulai memasuki area apartemen yang brejajar dan menjulang tinggi. Gedung pencakar langit itu bahkan di pasangi lampu warna warni. Menambah kesan keindahan di sana.


“Kita udah sampai nih, Mbak. Mbaknya mau ke blok berapa?”


“Ehm, sebentar, Pak.” Faya mengeluarkan ponsel dan membaca ulang alamat yang di kirimkan Ariga.


“Ooh, oke.” Supir taksi kembali melajukan mobilnya. Ia berhenti di pos pemeriksaan yang di jaga oleh security. Meminta ijin untuk mengantarkan penumpangnya. Setelah mendapat ijin, taksi kembali melaju menuju gedung blok A.


Faya segera membayar ongkosnya kemudian turun dengan menjinjing tasnya.


“Terimakasih banyak, Pak.”


“Sama-sama, Mbak.”


Faya melihati gedung tinggi di hadapannya. Entah ada berapa lantai, ia tidak bisa menghitungnya. Ia masuk ke dalam lobi. Kebingungan, Faya memilih bertanya kepada salah seorang penghuni yang ia temui.


“Maaf, Bu. Saya mau ke unit ini. Lewat mana ya, Bu?” tanya Faya sambil menunjukkan alamat di ponselnya kepada ibu-ibu paruh baya.


“Oh, lewat lift aja. Itu liftnya. Ayo bareng sama saya aja.” Tunjuk si ibu.


“Terimakasih, buk.” Ia mengangguk sopan kemudian berjalan menuju ke lift mengikuti ibu gendut itu.


Keduanya masuk ke dalam lift.


“Unit berapa?” Tanya si ibu.

__ADS_1


“Unit 9 B, buk.” Faya melihat ibu memencet tombol angka 9 pada dinding lift.


Namun saat pintu lift hendak tertutup, tiba-tiba pintu kembali terbuka. Dan betapa terkejutnya Faya saat melihat Prima bergandengan tangan bersama dengan gadis yang menyiramnya tadi siang itu masuk ke dalam lift juga.


Faya menggeser tubuhnya hingga ia bersembunyi di balik ibu gendut. Seketika ia teringat dengan kejadian beberapa jam yang lalu, saat ia membanting tubuh kekar Prima hingga tulangnya terdengar gemeletukan.


Tiba-tiba lutut Faya melemas. Jantungnya berdegup ketakutan. Seketika ia teringat dan merasa was-was. Bagaimana kalau ternyata besok dia di pecat? Padahal ia sudah sangat berharap bisa mendapat tempat tinggal gratis.


Ah, bagaimana ini? Lirih Faya dalam hati.


Sesekali Faya melirik Prima dari balik punggung si ibu. Kemudian ia buru-buru bersembunyi saat Prima dan Aliva seperti hendak menoleh ke arah belakang. Takut ketahuan.


Lift terbuka di lantai 9. Dan Prima keluar lebih dulu dengan Aliva. Gadis itu terus bergelayut manja di lengan Prima. Bahkan si ibu sampai bergidik dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua anak muda itu.


“Ini udah di lantai 9. Nanti kamu lurus aja, terus belok kanan. Di setiap lantai cuma ada dua unit apartemen saja. Di lantai ini juga begitu. Nanti kamu tinggal cari nomor unit kamu.” Terang si ibu.


“Baik, buk. Terimakasih banyak buk. Kalau boleh tau, ibu tinggal di unit berapa?”


“Saya kerja di lantai atas, lantai 10.”


“Terimakasih banyak ya, buk.” Ucap Faya sekali lagi sebelum pintu lift tertutup.


Setelah itu Faya berbalik, menjinjing tasnya menuju ke arah yang diberitahu oleh si ibu. Lurus, kemudian belok kanan.


Sampai di belokan, Faya tidak jadi melanjutkan langkahnya. Ia kembali mundur dan bersembunyi dibalik dinding. Karna di depan sana, Prima sedang dalam posisi in tim dengan Aliva. Prima menyandarkan tangan kanannya ke dinding. Sementara Aliva nampak terdesak di tembok. Wajah mereka seperti akan menyatu. Faya ingin mengalihkan pandangannya, tidak ingin melihat mereka berciuman. Tapi, rasa penasarannya membuncah. Jadilah ia tetap mengintip dari tempatnya.


“Prima, jadi kapan kamu bolehin aku masuk ke rumahmu? Aku penasaran. Pengen lihat rumahmu kayak apa. Masak kita udah  pacaran hampir satu tahun tapi kamu gak pernah sekalipun bawa aku masuk ke dalam rumahmu.” Terdengar Aliva merengek seperti anak kecil.


“Jangan buru-buru. Kamu jadi kelihatan kayak gadis murahan. Wanita yang bisa masuk ke dalam rumahku itu, cuma ada 3. Mama dan keluargaku, sekretarisku, dan istriku.”


Faya hampir tidak percaya kalau kalimat itu keluar dari mulut seorang Prima. Terdengar dingin dan tegas. Sangat berbeda dengan kepribadian Prima yang Faya tau. Dalam kepala Faya, ia mencocokkan kalimat itu dengan sosok Prima. Sama sekali tidak pas dengan pria sinting itu.




yo warga!


selamat hari senin. cepet banget yaaa. perasaan kemarin baru aja hari minggu. eeeh, kok sekarang udah senin lagi? hehehehehehe.


waktu terasa cepat berlalu.


jangan lupa jejaknya. berhubung ini hari pembagian jatah vote, boleh dong di hadiahkan sama babang prima dan faya. yaaa, siapa tau nanti naik rangking dan bisa ngadain GA lagi. okeee.

__ADS_1


__ADS_2