One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 41. Rasa Rindu Dan Tidak Tega.


__ADS_3

“Ceritain. Kenapa kamu sampai ninggalin rumah? Ada masalah apa sebenernya?”


“Bukannya Mbak Kiran udah cerita sama Mas?”


“Iya. Tapi mas mau dengerin versi kamu.”


Faya terdiam. Menimbang apakah ia harus jujur atau bagaimana. Hanya karna nasi goreng yang lupa ia bawa pulang, membuat Kirani marah besar dan memakinya tak karuan sampai mengusirnya. Karna tak tahan, akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari rumah.


Sungguh, Faya merasa sudah tidak sanggup melihat kakaknya itu. Jadi, apa dia harus menambah beban fikiran lagi untuk Iwan?


“Masalahnya sepele, Mas. Tapi gak apa-apa, kok.”


Faya kembali diam. Ia menunggu reaksi Iwan. Berfikir apakah kakaknya itu tau tentang pertengkaran hebat antara dirinya dan Kirani waktu di toko roti waktu itu. Apakah Kirani mengadu pada kakaknya itu atau tidak.


“Memangnya Mbak Kiran ada cerita apa sama Mas?”


“Ya dia Cuma bilang kalau kamu tiba-tiba pergi dari rumah. Dia gak tau alasan kamu kenapa. Udah gitu aja.”


Terdengar hembusan nafas pelan dari Faya. Seperti biasa, kakak iparnya itu selalu bersikap seperti korban yang tidak tau apa-apa.


“Maaf udah buat Mas repot dan kefikiran.”


“Jujur, Mas capek banget, Dek. Mas bener-bener berharap kalau kalian gak ada masalah apapun yang serius. Tapi Mas yakin kamu bisa memikirkan posisi Mas, kan?”


Memang, Iwan bukan tidak tau kalau hubungan antara istri dan adiknya itu selalu tak akur. Iwan juga tau kalau istrinya selalu menekan Faya dan menyuruhnya ini, itu. Tapi, ia berfikir kalau itu adalah sesuatu yang wajar mengingat mereka masih menumpang di rumahnya Kirani.


Bukan jarang Faya dan Kirani bertengkar kecil karna masalah yang sebenarnya sepele. Dan ia yang harus menjadi penengah di antara mereka.


“Mas tau kamu berat tinggal sama Mbakmu. Tapi Mas mohon, tolong bersabarlah. Mas berharap kalian bisa baikan. Mas juga pengennya kamu pulang ke rumah. Kasihan Mbakmu di rumah sendirian gak ada temennya.” Terdengar nada suara Iwan berubah parau.


Ah, kalau sudah begini, bagaimana Faya mampu untuk menceritakan kejujurannya? Ia tidak tega kalau itu akan semakin menyakiti perasaan kakaknya itu.


Suasana hening untuk beberapa saat lamanya. Iwan menatap kakinya yang lusuh. Sementara Faya menatap di kejauhan sana. Entah apa yang di fikirkan mereka berdua.


“Kamu udah dapat kerjaan?”


“Iya.”


“Dimana?”

__ADS_1


“FD Corp. Jadi sekretarisnya Pak Prima. Direktur Eksekutif di sana. Gajiku lumayan, Mas. Jadi Mas gak perlu repot mikirin gimana aku. Aku juga di kasih fasilitas tempat tinggal. Jadi Mas gak usah khawatir.”


“Syukurlah, Dek. Mas berharap kamu betah kerja disana. Baik-baik sama bos kamu, ya. Denger namanya kayaknya dia baik.”


Baik apa? Dia gila, Mas. Pekik Faya dalam hati. Namun, bibirnya hanya tertawa saja.


“Minta alamat rumah kamu. Nanti kapan-kapan Mas mampir ke tempatmu. Kalau udah Mas lihat tempat tinggal kamu kan Mas jadi tenang dan gak khawatir lagi.”


Faya mengetikkan sesuatu di ponselnya kemudian mengirimkannya ke ponsel kakaknya.


“Itu, Mas. Tapi....” Faya ragu mengatakan kalimatnya yang selanjutnya.


“Kenapa?”


“Jangan ajak Mbak Kiran ya, Mas. Kalau mau mampir. Aku masih gak nyaman sama Mbak Kiran.” Tutur Faya menundukkan wajah. Takut kalau kakaknya itu akan memarahinya.


Terdengar Iwan menghela nafas berat. Tapi ia tetap menghargai permintaan adiknya itu. Ia tersenyum lalu mengangguk. Mengelus kepala adik tersayangnya itu dengan lembut.


“Mas, makan yuk, biar aku yang traktir. Aku udah gajian pertama kemarin. Kan Faya belum pernah traktir Mas makan enak.” Ujar Faya berbunga-bunga. Membanggakan hasil jerih payahnya mengurusi bos gila, Prima.


“Gak usah. Mas baru aja makan sama temen-temen. Masih kenyang. Lebih baik uangnya kamu tabung aja. Jangan boros.”


Faya nampak kecewa mendengar penolakan kakaknya. Ia merengut dan menunduk.


“Lain kali aja. Mas pasti mau kamu traktir.”


Faya sumringah. “Oke. Hehehehe.”


Mereka menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol tentang banyak hal. Sampai topik pembicaraan sampai kepada seorang Harvey yang merupakan tetangga mereka dulu.


“Mas ingat kan sama Harvey?”


“Ya inget dong. Temen kamu itu, kan? Dimana dia sekarang?”


“Iya. Dia sekarang udah jadi artis terkenal, Mas. Udah balik ke Indo juga. Belum lama aku ketemu sama dia. Tuh anak berubah drastis. Makin cakep gak ketulungan.”


“Kalau gak salah dulu kamu naksir kan sama dia?”


“Hehehehehe. Cuma naksir sebentar.” Faya jadi malu kalau mengingatnya dulu.

__ADS_1


Dulu Faya memang menaruh sedikit rasa suka pada Harvey. Selain tampan dan baik, pria itu juga dulu sangat perhatian kepada Faya. Membuat hubungan antara mereka berubah menjadi sebuah kenyamanan. Dan seperti itulah akhirnya Faya dan harvey bersahabat.


Ah, mengingat tentang Harvey, Faya teringat kalau ia masih punya hutang janji kepada pemuda itu. Nanti dia akan menghubunginya.


Mereka kembali mengenang dan bercerita masa-masa indah saat kedua orang tua mereka masih hidup dulu. Bercerita begitu, sebongkah kehangatan perlahan terpercik di hati kakak beradik itu. Bagaimana hidup mereka sangat makmur dulu ketika masih ada orang tua. Walaupun tidak kaya, tapi mereka hidupberkecukupan.


Tapi, semua berubah drastis setelah orang tua mereka meninggal.


Obrolan di antara kedua saudara itu sesekali di selingi oleh tawa. Sejenak melupakan kepenatan hidup dan permasalahan yang masih terlilit. Sampai suara deringan ponsel Faya menghentikan aktifitas mereka itu.


Faya merogoh ponselnya dari dalam tas. Melihat nama ‘Boss’ terpampang jelas dari layar ponselnya. Segera saja Faya mengangkatnya.


“Ya, Pak?”


“Kamu di mana, Fay? Kok gak ada di rumah?” selidik Prima tiba-tiba.


“Ehm, saya lagi keluar, Pak. Ada urusan sebentar.”


di rumah? Kok dia bisa tau aku gak ada di rumah? Fikir Faya.


Ia tidak tau, kalau beberapa saat yang lalu Prima memanggil-manggilnya dari luar namun tak mendapatkan respon.


“Kencan sama artis itu?” ketus Prima kembali.


“Bukan, Pak. Saya ketemu sama Kakak saya. Udah lama gak ketemu soalnya. Bapak butuh sesuatu?  Biar saya pulang sekarang.” Tawar Faya. Sungguh, dia tak mau mendapat omelan dan tatapan tajam dari bosnya itu.


“Gak usah. Lanjut aja. Aku bisa bawa mobil sendiri.” dan Prima langusng mematikan telfonnya secara sepihak.


Faya bisa mendengar dengusan kekesalan yang terdengar dari nada suara Prima. ia menatapi layar ponselnya yang sudah mati itu dengan kening yang berkerut.


“Bos kamu?” tanya Iwan yang sejak tadi memperhatikan adiknya bertelfon.


“Iya, Mas.”


“Ya udah. Kali aja ada hal penting. Sana pulang. Nanti kapan-kapan Mas mampir ke rumah kamu.”


Faya mengangguk. Teringat dengan dengusan kesal dari Prima tadi membuatnya takut.


“Ya udah, Mas. Aku pulang dulu.”

__ADS_1


Faya menyalami tangan kakaknya kemudian berlalu pergi dari sana.


Tidak sempat memesan ojek online, akhirnya Faya memilih naik taksi saja. Walaupun berat di ongkos tapi tidak apa-apa, sesekali juga dia butuh kenyamanan di perjalanan.


__ADS_2