One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 118. Lelah Dan Semangat.


__ADS_3

Faya mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya yang terasa berat. Rasanya matanya enggan sekali untuk di buka. Seperti ada yang menggandul di sana. Tubuhnya terasa berat seperti ada yang menindihnya.


Dia merasa seperti mengalami dejavu. Ia seperti sudah pernah mengalami hal ini. Suasana dan rasanya persis seperti waktu itu.


Tubuhnya terasa berat. Dan,,,,,


Ada sesuatu yang menempel di sebelah buah da danya. Seperti kulit.


Ya, ada kulit yang sedang menempel di tubuhnya.


Seketika mata Faya terbuka lebar demi menyadari apa yang sudah terjadi. Ingatan semalam dengan jelas kembali berputar di kepalanya. Ingatan tentang bagaimana Prima menghabisinya sampai beberapa ronde hingga sangat menguras tenaganya. Untungnya ia segera teringat kalau ia dan Prima sudah menikah. Jadi, rasa panik yang sempat datang tadi dengan segera kembali pergi.


“Sayang kamu udah bangun?” suara Prima terdengar berat. Ia mengangkat tangannya dari buah Faya yang sejak semalam tersimpan dalam genggamannya. Kemudian ia melirik jam di dinding. “Masih jam 6, sayang. Nanti aja bangunnya.” Rengek Prima lagi. Ia kembali menarik tubuh polos Faya ke dalam dekapannya.


“Aduh.” Pekik Faya tertahan ketika merasakan perih di daerah bawahnya.


“Kenapa?” Prima panik seketika. Ia langsung duduk dan menatap khawatir kepada istrinya.


“Sakit banget.” Adu Faya. memang rasanya sangatlah sakit.


Prima tersenyum dengan kening yang berkerut. Ia membelai mwajah istrinya. Merasa bersalah dengan perbuatanya tadi malam.


“Maaf sayang. Hhehehhe.”


Faya berusaha untuk bangun. Ia ingin ke kamar mandi. Walaupun dengan bagian bawahnya yang terasa seperti di sayat-sayat.


“Kamu mau kemana?”


“Ke kamar mandi.”


Tanpa aba-aba Prima turun dari ranjang dan langsung membopong tubuh istrinya ke kamar mandi. Ia mendudukkan Faya di toliet dan menungguinya.


“Mas keluar dulu. Aku mau BAB.”


“Gak apa-apa. Aku tungguin kamu disini.”


“Ih, gak mau. Sana keluar.” Usir Faya.


Setelah berdebat beberapa saat, akhirnya Prima keluar juga. Ia menyambar kausnya yang teronggok di lantai kemudian mengenakannya. Begitu juga dengan celana pendeknya. Setelah itu, ia siap di depan kamar mandi.


Berjaga jika Faya membutuhkan bantuannya.


“Mas?!” panggil Faya.


“Apa, sayang?” ia langsung membuka pintu kamar mandi begitu saja dan langsung masuk. Membuat Faya terkejut dan hampir saja menyiramnya. Untung suami.

__ADS_1


“Minta tolong ambilin handuk.”


“Oke. Tunggu sebentar.” Prima keluar dan kembali tak lama kemudian dengan sudah membawa bathrobe di tangannya. Ia segera membantu Faya mengenakannya. Setelah itu, ia kembali membopong istrinya itu dan membaringkannya di ranjang.


Mereka masih ada di kamar Presidential Suite Room. Kamar termewah yang di lengkapi oleh pemandangan menakjubkan karna terletak dari lantai paling atas di Hotel Prianggoro.


“Aku pesenin sarapan ya?” tanya Prima. dania segera memesan sarapan setelah mendapat anggukan kepala dari Faya.


Sambil menunggu sarapan mereka datang, Prima menyempatkan diri untuk mandi dan berganti pakaian. Tidak lama setelah ia selesai, sarapan mereka tiba dengan diantarkan oleh pegawai hotel.


Prima sama sekali tidak memperbolehkan Faya untuk bergerak apalagi turun dari ranjang. Pokoknya ia ingin menebus kelakuannya semalam yang sampai membuat Faya kesakitan seperti ini. Jadi ia melayani istrinya itu.


Ia bahkan menyuapi Faya makan. Padahal tangan Faya baik-baik saja. Bukan tangannya yang sakit, tapi area bawahnya. Tapi Prima tetap bersikeras untuk menyuapi istrinya itu.


“Mas, aku bisa makan sendiri.” rengek Faya yang entah sudah ke berapa kalinya.


“Ssst. Udah, diem aja. aku mau nyuapin kamu.”


“Tapi tangan aku gak apa-apa, Mas. Yang sakit bukan tanganku.” Faya masih berusaha membujuk. Rasanya aneh di suapi begini. Padahal dia merasa baik-baik saja.


“Sayang, udah deh. Aku suapi aja. Aaaaa.” Prima tetap bersikeras dengan keinginannya.


Dan pada akhirnya Faya mengalah. Tenaganya belum cukup pulih untuk berdebat dengan suaminya itu. lain halnya dengan Faya, semangat Prima sepertinya sedang full. Pria itu bahkan selalu tersenyum. Wajahnya juga jadi lebih cerah. Auranya berbeda. Lebih segar dan menyenangkan.


“Udah, ah. Jangan di ingetin aja. Aku malu.”


“Ngapain malu? Ke depannya juga kita bakalan sering ngelakuinnya. Tiap jam kalau perlu.”


“Wadduh. Lumpuh aku, Mas.”


Melihat wajah ketakutan Faya membuat Prima tertawa terpingka-pingkal. Ia juga jadi ikut membayangkan.


“Ya udah, sehari tiga kali aja.”


“Kayak minum obat. Minum obat aja kadang cuma sekali sehari, pas malem.”


“Ini kan dosisnya masih ringan, sayang. Jadi tiga kali sehari bisa lah.”


Entahlah. Sebenarnya apa yang sedang mereka bahas itu? (gak tau apa yang baca banyak yang jomblo?).


“Nanti siang kalau udah enakan, kita pulang ke rumah Mama ya?”


Faya hanya mengangguk mengiyakan. Mereka akan menginap disana selama beberapa hari sebelum memulai ‘bulan madu’ ala Faya.


“Campervan-nya?” tiba-tiba Faya menjadi sangat penasaran tentang campervan yang mereka pesan tempo hari.

__ADS_1


“Lusa baru datang. Aku udah nyuruh Surya buat ngurusnya. Tenang aja. kita tinggal siap pakai.”


“Gak sabar aku Mas. Touring naik campervan keliling Pulau Jawa.”


“Aku juga.”


“Tapi, aku juga kasihan sama Mbak Vita. Karna kamu libur kerja, kerjaan dia pasti jadi dua kali lebih banyak.”


“Gak apa-apa. Itung-itung buat menghibur hati jomblowatinya. Biar gak sumpek mikirin di duluin nikah. Hahahahhaa.”


Faya ikut terkekeh juga. Ia memukul pelan lengan suaminya sebagai bentuk pelampiasan. Difikir-fikir, kuarang ajar juga si Prima ini.


“Mas lagi yang makan. Aku udah kenyang.”


“Masak udah kenyang? Baru abis sepiring.”


“Emangnya harus abis berapa piring biar aku kenyang?”


“Bukannya biasanya tiga piring, ya?” seloroh Prima menggoda.


“Enak aja. Aku gak pernah ya makan sampai tiga piring.” Faya menolak menerima fitnah dari suaminya itu.


“Biar gemuk, sayang. Biar makin empuk pas di peluk.”


“Mas, udah deh. Sana. Aku mau lanjut tidur lagi.” Faya malu sekaligus kesal. Jadi dia melarikan diri dengan berkata ingin tidur kembali. Padahal rasa kantuknya sudah menghilang karna dia sudah mandi tadi.


Prima hanya terkekeh saja karna berhasil menggoda istrinya. Tapi kemudian ia berjalan ke sofa dan memakan makanannya.


Pagi ini, tenaga dan semangatnya benar-benar tumpah ruah. Sampai mluber kemana-mana. Seolah dia tidak lelah bahkan setelah ‘perang’ mereka semalam. Padahal tenaga Faya saja belum pulih sampai sekarang.


Selesai makan, Prima kembali bergabung bersama istrinya. Ia kembali memeluk Faya dari belakang dan tangannya mulai berkelana lagi.


“Mas, aku masih capek. Tenagaku aja belum pulih ini.”


“Iya sayang. Cuma pegang aja kok. Gak lebih.”


Dengan sedikit ancaman, Prima menepati janjinya. Hanya pegang-pegang saja. Tidak lebih. Sampai mereka kembali terlelap untuk menebus waktu istirahat semalam yang sudah di hancurkan oleh Prima.




prima keliahatn puas ya ges ya. senyum teroooosssssss.....


kiakakakakakakakkakaak.

__ADS_1


__ADS_2