One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 17. Yang Terlihat Di Mata Bukanlah Segalanya.


__ADS_3

Satu minggu berikutnya benar-benar waktu yang membuat Faya pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, saat Faya fikir kalau Prima telah menyerah untuk mengerjainya, tapi ternyata pria itu justru semakin parah mengerjainya. Untung saja dia punya motifasi yang paling kuat di muka bumi ini. Uang.


Ya, uang adalah motifasi Faya agar bisa bertahan di tengah gempuran tingkah konyol bosnya yang tidak bisa di prediksi. Walaupun sejak kejadian di restoran waktu itu, Prima tidak lagi terang-terangan mengerjainya, tapi pria itu tetap punya banyak cara jitu untuk Faya. Prima masih dendam karna di banting.


Sebenarnya, jauh di dalam hatinya, Prima sangat takut kepada Faya. Tapi, ia masih belum bisa mengalahkan kekesalannya kepada gadis itu. Jadi otaknya masih otomatis memutar mencari cara untuk mengerjai Faya.


Faya menarik nafas dalam ketika berdiri di depan pintu ruangan Prima. Kemudian ia mengetuk pintunya dan masuk ke dalam.


“Pak, Bapak ada rapat dengan Tim Promosi.”


Prima yang nampak serius dengan layar komputernya hanya melirik Faya sekilas.


“Sekarang, Pak.” Tegas Faya.


Ternyata, rasa kesal bercampur lelah mampu membuat seorang Faya berani bersikap tegas kepada bosnya itu.


Melihat tatapan tajam dari Faya, membuat Prima menghela nafas kemudian menurunkan kaki dari kursi dan bangun berdiri kemudian berjalan keluar ruangan. Di ikuti oleh Faya di belakangnya.


Rapat itu berlangsung hanya sekitar setengah jam saja. Nampaknya kali ini Prima sedang tidak ingin berlama-lama mendengarkan ocehan dan ide-ide dari anak buahnya.


Selesai rapat, Prima memilih untuk kembali berkutat dengan pekerjaannya di dalam ruangannya. sementara Faya juga berkutat dengan tugasnya.


Waktu seminggu sudah membuat Faya mengerti akan tugas seorang sekretaris. Dan ia juga sudah mengerti kalau jadwal pekerjaan Prima ternyata sangatlah padat. Dan yang membuat dia heran adalah, di sela kesibukan Prima, pria itu lebih banyak menghabiskan waktu bermain game solitaire daripada bekerja. Itu yang terlihat di mata Faya.


Prima sedang terpaku menatapi layar ponselnya saat seseorang mengiriminya sebuah video. Tidak ada ekspresi apapun yang tersirat dari wajahnya. Ia hanya lantas menyambar kunci mobil dan ponselnya kemudian berjalan keluar dari ruangan.


Jeglek!


Suara pintu terbuka langsung membuat Faya berdiri dari duduknya. Melihat kepada Prima yang juga menatapnya dingin.


“Bapak perlu sesuatu?” tawar Faya.


“Ikut aku.” Tegas Prima. Pria itu langsung ngeloyor pergi begitu saja. Membuat Faya kalang kabut menyambar tasnya kemudian berlari menyusulnya.


“Kita mau kemana, Pak?”

__ADS_1


“Udah, diam aja.”


Hardikan itu membuat Faya tak berani berkutik lagi. Jantungnya terasa hampir melorot saat Prima memacu mobilnya dengan sangat cepat. Pria itu seperti sedang marah karna sesuatu. Tapi tidak. Entahlah, ekspresi Prima sulit di baca.


Kalau melihat cara mengemudinya, Prima seperti sedang marah besar. Namun ekspresinya terlalu tenang untuk ukuran kemarahannya. Faya jadi bingung sendiri.


Mobil sport milik Prima terus melaju kencang di jalanan menuju kota Tangerang. Mobil itu menuju ke pusat kota dimana terdapat sebuah taman disana. Ia menghentikan mobil di area parkir kemudian mengeluarkan ponselnya.


“Kamu tunggu disini. Jangan kemana-mana.” Tegas Prima sebelum ia keluar dari dalam mobil.


Prima mengarahkan ponsel ke depan wajahnya dan menghubungi seseorang dengan panggilan video. Menyandarkan tubuhnya di body mobil sambil berkantung tangan.


“Halo sayang?” sapa suara Aliva dari seberang sesaat setelah sambungan video tersambung. Wajahnya nampak memenuhi layar ponsel.


“Oh, hai. Lagi dimana?” tanya Prima.


“Aku? Lagi di taman belakang rumah. Kenapa sayang?”


“Sama siapa?”


Prima terlihat tersenyum smirk kemudian mengubah kamera menjadi kamera belakang. Dan terpampanglah pemandangan Aliva yang sedang bergelayut manja di lengan seorang pria yang sangat tidak asing bagi Prima. Rudi, sahabatnya sejak SMP itu nampak sedang bermesraan dengan kekasihnya di sana.


Melihat tampilan layar yang memperlihatkan dirinya, sontak Aliva langsung menoleh dan mencari keberadaan Prima. Ia melepaskan lengan Rudi seketika dan berlari menghampiri Prima.


“Sayang? Kok kamu bisa ada disini?” tanya Aliva gelagapan.


“Untungnya aku kesini, jadi aku punya alasan buat mutusin kamu.”


Aliva tercengang mendengar punuturan kekasihnya itu. Ia langsung menggelengkan kepalanya menyiapkan pembelaan diri.


“Enggak. Enggak. Kamu salah faham, sayang. Yang kamu lihat itu gak bener. Aku Cuma main aja sama Rudi. Gak lebih.” Bela Aliva.


“Kamu fikir aku peduli? Mau kalian main, kek. Mau kalian tidur bareng, kek. Aku gak peduli. Kenapa? Karna memang aku udah lama gak ada respeck sama kamu.” Jujur Prima.


Pertengkaran itu di perhatikan Faya dari dalam mobil. Kaca mobil yang memang terbuka setengah membuat Faya bisa mendengar semuanya dari dalam.

__ADS_1


Sementara Aliva, nampak syok dengan kejujuran Prima.


“Oke. Jadi mulai sekarang, kita udah resmi putus. Jadi kedepannya jangan ganggu aku lagi ya.” Ucap Prima dingin.


Kalimat Prima itu langsung membuat Aliva meraung tidak terima. Gadis itu bahkan memegangi lengan Prima kuat-kuat. Tidak rela di tinggalkan Prima saat pria itu membuka pintu mobil dam hendak masuk ke dalamnya.


“Enggak. Sayang. Aku gak mau putus dari kamu.” Raung Aliva. Dan kelakuannya itu membuat beberapa orang


memperhatikannya. Bahkan Rudi sampai mendekati mereka walaupun dengan wajah yang merah padam akibat malu dengan Prima.


“Prim, aku bisa jelasin. Ini gak kayak yang kamu fikir.” Ujar Rudi ikut membela Aliva.


“Memangnya apa yang aku fikir?”


“Prim?”


“Kamu gak usah ikut campur, Rud. Aku gak ada urusan sama orang brengsek kayak kamu.” Hardik Prima. Ia menepiskan tangan Aliva sampai terlepas dari lengannya.


“Primaaaa... huhuhuhu. Jangan begini... hiks.” Rengek Aliva ia sudah tidak lagi mempedulikan rasa malunya akibat menjadi tontonan banyak orang.


“Hei! Jangan kasar dong sama cewek!” teriak Rudi yang merasa tidak terima Prima menepiskan tangan Aliva.


“Bacot.” Jawab Prima.


Dan beberapa detik kemudian, keadaan semakin menegang antara Rudi dan Prima. Rudi marah karna Prima memperlakukan Aliva dengan kasar. Sementara Prima marah karna Rudi ikut campur yang bukan urusannya.


Merasakan persitegangan itu, Faya merasa tidak bisa tinggal diam. Ia lantas keluar dari mobil dan melihat Prima dan Rudi sudah saling menarik kerah. Dan belum sempat Faya mendekat untuk melerai, ia sudah melihat Prima tersungkur akibat Rudi menunju wajahnya.


“Pak!” pekik Faya sambil mendekati Prima. Ia membantu Prima berdiri. Pria itu menggerak-gerakkan mulutnya untuk mengusir rasa sakit di pipinya.


“An jing!” maki Prima kemudian. Ia menatap tajam kepada Rudi. Ingin membalas perbuatan Rudi padanya.


Namun, belum sempat ia maju, Faya sudah merangsek maju, meraih tangan Rudi dan langsung membanting tubuh pria itu ke atas tanah begitu saja. Semua orang terkejut bukan main. Untuk beberapa saat keadaan menjadi hening. Heran. Terkejut.


Sama halnya dengan Prima. Dia sampai tidak bisa berkata-kata lagi melihat wajah puas Faya setelah melihat Rudi terkapar di atas tanah.

__ADS_1


Entah angin apa yang membuat mata Prima berbinar menatap Faya. Sekretarisnya itu terlihat mempesona selama beberapa detik.


__ADS_2