
Benar kata Ariga, baru saja Faya menempelkan bokongnya di kursi, terdengar salah satu telfon di mejanya berbunyi dengan sangat nyaring. Faya sampai terjingkat di buatnya.
Faya sangat asing dengan pekerjaan sekretaris. Untungnya Ariga sudah membeberkan apa-apa saja yang mesti dia lakukan. Itu sedikit membantunya. Salah satunya, ia harus segera mengangkat interkom saat benda itu berbunyi.
Teringat itu, Faya segera mengangkat telfon di hadapannya.
“ya, halo?”
“Ya halo?!!” Pekik suara pria di ujung telfon.
Terkejut, Faya menjauhkan gagang telfon dan memandanginya. Kini ia tau kenapa ada dua telfon disana. Ternyata yang berwarna merah, yang ia pegang itu adalah khusus panggilan dari Prima.
“Oh, maaf, Pak. Saya fikir siapa tadi.” Santai Faya menjawab.
Di dalam, Prima mendengus dengan pandangannya menusuk ke arah Faya lewat kaca transfaran di samping pintu. Sesaat kemudian, ia tersenyum penuh rencana. Biasa, rutinitas untuk meng’ospek’ sekretaris baru.
“Masuk sekarang.” Perintahnya kemudian langsung menutup telfon.
Di mejanya, Faya mendengus kesal.
“Huffffhhh. Sabar, Fay. Inget, duitnya lumayan.” Gumam Faya pada dirinya sendiri.
Faya merapikan pakaiannya kemudian berjalan masuk ke ruangan Prima. Sebelumnya ia mengetuk pintu itu terlebih dahulu.
“Bapak panggil saya?” Sapa Faya mendekat ke meja Prima.
Prima nampak fokus pada layar komputernya. Menggeser-geser mouse di tangan kanannya. Sebentar-sebentar keningnya berkerut. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat. Faya fikir, wajar jika raut wajah seorang direktur eksekutive seperti Prima sedang stres begitu. Pastilah pekerjaannya sangat-sangat berat.
“Hufh.” Tiba-tiba pria menghela nafas frustasi. Ia menyandarkan punggung di kursi kebesarannya.
“Pak?” Ujar Faya lagi. Karna sudah beberapa saat ia berdiri disana dan Prima tidak menganggap keberadaannya.
“Oh, kamu udah disini.” Prima hanya menoleh sebentar kepada Faya kemudian kembali fokus ke layar koputer. Keningnya ber kerut-kerut. Matanya jarang kedip. Kaki bersila di kursi dan tubuhnya condong ke arah komputer.
“Bapak butuh sesuatu yang harus saya kerjakan?” Tawar Faya.
“Ah, kebetulan kamu sedang disini. Aku sedang pusing. Tidak bisa menyelesaikan ini. Barangkali kamu bisa membantuku.” Prima menyuruh Faya untuk mendekat di kursinya demi bisa melihat ke komputer.
__ADS_1
Faya tercengang bukan main. Ternyata sejak tadi Prima nampak fokus di layar komputer itu, bukan membaca atau mengerjakan pekerjaannya. Tapi pria itu sedang bermain game kartu solitaire. Astaga. Faya sampai hampir menepuk jidatnya sendiri.
Sudah, Faya hampir saja menimpuk kepala Prima dengan papan nama yang ada di meja pria itu. Ataga. Baru beberapa jam bekerja sebagai sekretaris Prima, namun gadis itu sudah dibuat tak habis fikir dengan tingkahnya.
Faya jadi teringat dengan ucapan Ariga tadi, kalau pekerjaan ini bisa jadi pekerjaan tersulit bagi seorang sekretaris. Dan sepertinya, sekarang Faya sudah bisa membayangkannya. Akan sesulit apa pekerjaannya nantinya.
Perlahan, Faya menghela nafas kesal.
“Kenapa malah diam aja? Bantu aku. Aku gak bisa memindahkan queen. Aku udah salah langkah.”
Entahlah.
Faya menarik tubuhnya untuk berdiri tegak kembali. Sungguh, ia ingin melempar sesuatu kepada Prima.
“Maaf, Pak. Tapi saya gak ngerti permainan ini.” Jawab Faya dengan hati-hati.
Ah, Faya tetap tidak berani mengeluarkan kekesalannya karna bagaimanapun, Prima adalah bosnya.
“Yaaaahhh.” Prima mengeluh kepada Faya. Ia nampak kecewa karna ternyata Faya tidak bisa membantu kesulitan yang tengah ia hadapi.
“Bapak butuh sesuatu yang lain?”
“Bagaimana saya bisa tau yang mana namanya Aliva, Pak? Apa bapak ada fotonya?”
“Saat kamu masuk ke restoran, wanita paling cantik yang ada disana adalah Aliva.”
Petunjuk macam apa itu? Kecantikan adalah yang relatif bagi pandangan orang. Termasuk bagi Faya sendiri. Kalau menurut versinya, cantik menurutnya adalah, hitam manis. Entah menurut versi Prima. Secantik apa aliva?
“Cepat, dia gak punya banyak waktu.”
“Oh, baik, Pak.” Faya mengangguk permisi. Kemudian ia berbalik.
“Hei, Faya!” Panggilan Prima membuat Faya menghentikan langkahnya dan berbalik.
“Ya, Pak?”
“Apa kamu bawa pakaian ganti?”
__ADS_1
Faya mengerutkan keningnya. Kenapa Prima menanyakan itu padanya?”
“Tidak, Pak. Ada apa, Pak?”
“Gak apa-apa. Ya udah, pergi sana.” Prima berkata bahkan tanpa memalingkan wajahnya dari komputer. Dia masih bingung bagaimana caranya ia memindahkan kartu queen. Ia mengulang permainan sampai beberapa kali. Mencari, dimana letak kesalahan langkahnya tadi.
Faya kembali berbalik dan keluar dari ruangan. Ia berdiri beberapa detik di depan pintu sambil menarik nafas. Rasanya paru-parunya menjadi kering setelah berhadapan dengan Prima.
Faya melihati kertas yang ia pegang. Restorannya tidak jauh dari sini. Dan ia hanya perlu berjalan kaki saja untuk sampai disana. Ia kemudian meraih tasnya dari atas meja, dan mulai melenggang pergi.
Faya berhenti di depan lift sebentar untuk menunggu lift yang akan membawanya turun. Ia mengangguk ramah kepada beberapa karyawan yang juga ada disana. Mereka memperhatikan pakaian Faya dari atas hingga ke bawah. Pakaian biasa yang di pakai oleh pegawai baru.
“Apa kamu pegawai baru disini? Divisi mana?” Tanya salah satu pegawai ramping berkacamata.
“Oh, iya. Saya sekretaris barunya Pak Prima.” Jawab Faya. Ada rasa bangga yang mencuat dalam dirinya.
Seketika mereka semua ternganga tidak percaya. Karna yang mereka tahu, baru dua minggu yang lalu juga ada sekretaris baru untuk Prima. Dan sekarang sudah ada yang baru lagi.
“Baru bekerja hari ini?” Tanya seorang wanita berambut pendek, mengenakan atasan berwarna cream dan rok selutut berwarna hitam. Penampilannya elegan.
Faya bisa melihat beberapa pegawai nampak mengangguk hormat padanya. Sepertinya dia punya jabatan tinggi di kantor itu.
“Hai, perkenalkan. Namaku Soraya. Aku manajer tim HRD.” Ujar wanita cantik itu mengulurkan tangannya.
Faya segera menyambutnya. “Saya Yafandayu, Bu.”
“Waduh. Di panggil ibu lagi. Apa mukaku memang kelihatan setua itu? Padahal aku baru berumur 29 tahun, lho.” Soraya berkelakar.
Faya menjadi canggung. Ia memangnggil ‘Bu’, bukan karna melihat wajah Soraya. Tapi melihat kedudukan dan jabatan Soraya yang lebih tinggi darinya. Tapi sepertinya wanita itu tersinggung.
“Oh, maaf. Saya gak bermaksud membuat Ibu, eh, ehm.. Jadi saya harus memanggil apa?”
“Panggil Mbak Soraya saja. Kami biasa memnaggilnya begitu.” Celetuk salah satu pegawai yang ada di sana.
“Oh, oke. Mbak Soraya. Maaf kalau ucapan saya menyinggung Mbak.”
“Hehehehehe. Ya ampun. Kok jadi serius begini, sih. Aku cuma bercanda kok.” Ucapan Soraya yang berhasil melegakan hati Faya. Ia takut di anggap tidak sopan di hari pertamanya bekerja. Ia takut membuat masalah.
__ADS_1
Untunglah, Soraya merupakan wanita yang baik dan ramah. Semua orang di kantor ini tau itu.