
Sambil menahan bo kong yang sakit, Faya tetap pergi untuk melaksanakan perintah Prima. Walaupun dalam hati ia tidak henti-hentinya ngedumel. Marah. Kesal. Ia yakin Primalah yang mengerjainya dan merusak kursinya.
Hufhh. Sabar,, sabar.
Faya berjalan di trotoar, mencari toko roti yang di beritahu oleh Prima. Ia masuk ke dalamnya dan langsung menemui pegawai.
“Silahkan, Kak. Mau roti yang mana?”
“Ehm, saya mau beli roti yang biasa di makan sama Pak Prima.” Jelas Faya dengan tingkat percaya diri setinggi langit.
“Ya? Roti yang biasa di makan Pak Prima? Roti apa, Kak?” Tanya pelayan bingung.
“Roti yang biasa di beli Pak Prima.”
“Maksud Kakak Pak Prima yang kantor depan?” Tanya pegawai lebih heran.
“Iya.”
Pelayan semakin mengernyit. “Setau saya, Pak Prima gak pernah beli roti di sini, Kak.” Jawabnya dengan hati-hati.
Faya tidak percaya. Mana mungkin Prima tidak pernah membeli roti. Pria itu bilang pegawai disini pasti tau roti kesukaannya. Tapi sekarang mereka bilang tidak tau karna Prima tidak pernah membeli roti mereka.
“Tapi kata Pak Prima dia sering beli roti di sini, Kak.”
“Gak pernah, Kak. Sekalipun Pak Prima gak pernah beli roti di sini.”
“Sekretarisnya, mungkin.” Perasaan Faya semakin tidak enak. Ia merasa sudah di kerjai oleh pria itu. Ya ampun.
__ADS_1
“Maaf, Kak. Gak ada. Kami gak punya langganan dari kantor itu.”
Faya mengakhiri perdebatan tidak berguna itu. Jelas kalau ia sudah di kerjai oleh Prima. Lagi.
“Ya udah, Kak. Maaf.” Faya merasa tidak enak hati kemudian keluar dari toko. Berjalan kembali ke dalam kantor.
Faya kesal setengah mati. Bahkan sakit akibat jatuh dari kursi belum menghilang. Kini, Faya sudah di buat malu oleh pria itu. Ia menggeretakkan gigi-giginya untuk menahan kesal. Astaga, ia ingin mengundurkan diri saat ini juga.
Tapi, ia kembali teringat akan bayaran mahal yang akan dia terima. Itu akan sepadan dengan menipisnya rasa sabar akibat menghadapi seorang Prima. Lagipula, ia punya sedikit rasa bersalah tentang semalam.
Faya berdiri di depan pintu ruangan Prima. Hampir saja dia mendobrak masuk dan melampiaskan kekesalannya. Tapi untunglah kesabarannya tidak setipis tisu.
Kalau di fikir-fikir, ini sama sekali tidak sbanding dengan beberapa tahun kehidupannya bersama dengan Kirani. Sesulit apapun bekerja untuk Prima, ia tetap mendapat gaji yang setimpal dengan itu. Tapi saat dengan Kirani, ia sudah seperti pembantu tapi sama sekali tidak mendapat gaji yang layak. Yang ada justru dia malah ikut-ikut jadi tulang punggung untuk Kirani.
Tidak apa lah ia sudah berjanji pada Ariga untuk menahan diri. Menahan diri demi rupiah.
Untuk bertahan, ia membandingkan kehidupannya sebelum ini. Ia rasa, itu akan cukup untuk bertahan di samping Prima yang tingkahnya sama sekali tidak bisa ia prediksi.
Tok, tok, tok.
Faya mengetuk pintu sebelum masuk. Ia sudah berhasil menenggelamkan rasa kesalnya. Ia memegang cangkir berisi minuman yang di pesan oleh Prima tadi. Ia baru saja membuatnya. Tidak ada roti. Entah, apa Prima akan marah karna hal ini. Faya akan melihatnya.
“Ini kopinya, Pak.” Faya meletakkan cangkir kopi di meja.
Prima hanya diam saja. Ia bahkan tidak sekalipun melirik pada Prima. Merasa penasaran, tapi Faya menahan diri untuk tidak melongok ke arah komputer Prima. Ia yakin, bosnya itu sedang bermain game solitaire seperti kemarin.
Padahal, Prima sedang bekerja. Mengerjakan pekerjaan yang sesungguhnya. Saat berhadapan dengan pekerjaan seperti ini, Prima menjadi pribadi yang serius. Walaupun ia selalu mengenakan pakaian santai, tapi ia akan bekerja dengan baik. Ia bahkan sudah tidak mempedulikan perihal roti yang tidak tersaji di mejanya.
__ADS_1
Faya kembali ke pekerjaannya. Menyusun jadwal untuk Prima. Sesekali ia nampak meringis karna bo kongnya masih terasa sedikit sakit.
Pukul setengah satu, Faya kembali masuk. Prima masih dalam posisinya. Serius dengan komputer dan setumpuk dokumen di mejanya. Wajahnya benar-benar berbeda. Membuat aura di ruangan Prima berubah drastis. Tidak seperti kemarin.
“Pak, sudah saatnya makan siang.” Faya memberitahu. Ia sudah berdiri tepat di depan meja Prima.
Prima mendengar. Ia melihat jam tanganya kemudian mengalihkan tatapan kepada Faya. Tatapan serius khas seperti seorang direktur. Nah, ini baru. Tidak ada wajah iseng dari raut wajah Prima. Serius dan berwibawa.
“Oh. Sudah siang rupanya.”
Prima segera bangkit dari kursinya. Berkantung tangan dan berjalan mendahului Faya. Gadis itu hanya patuh mengikuti bosnya di belakang.
Mereka berdua pergi ke restoran cepat saji yang tak jauh dari kantor untuk makan siang. Sejak tadi, Faya terus memperhatikan langkah Prima yang seperti terseok. Ia yakin sekali, kalau itu adalah akibat ia banting semalam. Entah darimana datangnya, perasaan kasihan itu menelusup di dada Faya. Pasti rasanya sakit sekali semalam.
Kepala Faya sedang di penuhi oleh kejadian semalam. Kejadian yang berujung ia harus angkat kaki dari rumah kirani. Kejadian yang membuat pinggang Prima sakit karnanya. Semua ini gara-gara dua pria gatal yang mengganggunya di jalan.
Keduanya sedang mengantri di depan meja pemesanan. Faya berdiri di belakang Prima. Ia ingin memesankan makanan untuk bosnya itu tapi ia masih belum tau selera Prima seperti apa. Jadi, kali ini, ia mengamatinya saja.
Di depan Prima masih ada seorang pelanggan lagi yang sedang memesan. Sementara di belakang mereka, antrian mengular sampai ke dekat pintu masuk. Maklum, jam makan siang, jadi para pegawai dari kantor di sekitar sana makan siang disini.
Prima sedang asyik dengan rencana-rencana untuk mengerjai Faya. Ia memikirkan apa lagi yang bisa dia lakukan untuk gadis itu. Mengumpulkan seluruh fikiran licik untuk berdiskusi di ruang otaknya.
Faya memutar bola matanya saat merasakan ada sesuatu yang bergerak di area bawah pingganya. Ia tau apa itu. Seseorang sedang merabanya. Melecehkannya di tempat umum dan itu membuat Faya naik pitam. Ia segera meraih tangan itu tanpa melihat pemiliknya. Menggeser kakinya ke samping sambil mencondongkan tubuhnya. Dan seketika, seorang pria berambut belah tengah melayang di udara dan berakhir di lantai sambil mengaduh.
Hal itu sontak membuat semua mata terbelalak tidak percaya menatap kepada Faya. Begitu juga dengan Prima. Para kelicikan yang sedang berkumpul di otaknya menadak berhamburan menyelamatkan diri. Seolah menolak untuk memberikan ide karna tidak mau berakhir seperti pria itu.
Sepertinya, Faya hobi sekali membanting orang.
__ADS_1
Mulut Prima ternganga memandang ngeri kepada Faya, kemudian kepada pria yang sudah terkapar di lantai. Bahunya mengendik takut. Tiba-tiba ia teringat bagaimana ia di banting semalam. Saat mengingat perasaan melayang itu, masih menghantui fikirannya.