
Di kediaman keluarganya, Prima baru saja memarkirkan mobilnya di carport rumah besar itu. Ia langsung masuk begitu saja setelah mengucapkan salam. Disana, hanya ada ibunya dan juga neneknya.
Zinnia sedang mengobrol ringan bersama dengan Esta di kursi samping rumah. Kedua wanita itu terkejut melihat kedatangan Prima yang tiba-tiba.
“Lho, Nak? Kamu pulang? Udah makan?” sambut Zinnia setelah Prima menyalaminya dan juga Esta.
“Prima udah makan, Ma. Kok sepi, pada kemana?”
“Papa nganterin Kakek ke rumah sakit. Katanya kepalanya pusing.” Jelas Zinnia.
“Kakek sakit?”
“Cuma pusing sedikit katanya. Udah dari tadi perginya. Palingan bentar lagi udah pulang.”
“Kamu darimana, Prim?” tanya Esta.
“Dari rumah, Nek.” Prima mengambil duduk di sebelah neneknya. Dengan tangan keriputnya, Esta mengusap-usap punggung Prima lembut.
“Makan dulu sana. Mama buat lotek itu.” Iming-iming Zinnia.
“Bentar lagi aja, Ma. Prima gak lama kok.”
“Ada masalah apa?” selidik Zinnia yang menangkap gelagat mencurigakan dari putranya.
“Tadinya mau ngomong sama Papa juga. Tapi sama Mama aja deh.”
“Ada apa sih?” Zinnia jadi tidak sabar mendengar.
“Ma, Prima mau mina tolong sama Mama. Tolong jangan gangguin Faya lagi. Kasihan dia, Ma. Kefikiran sampai sakit.....”
“Faya sakit? Sakit apa?” desak Zinnia. Bahkan Prima tak jadi melanjutkan kalimatnya.
“Udah di bawa ke rumah sakit? Apa dia hamil?” Zinnia tak menutupi kecurigaannya lagi.
“Mama!” Prima berteriak. “Jangan fikir yang macem-macem kenapa, sih.” Dengus Prima kesal. ibunya itu, selalu sibuk dengan praduganya sendiri tanpa menunggu penjelasannya terlebih dahulu.
“Ya gimana Mama gak curiga. Udah, Prim. Langsung nikahin aja itu si Faya. Nanti keburu perutnya besar. Malu sama orang.”
Hhhhhhhhhhh.
__ADS_1
Prima menghela naas pelan.
“Ma, Prima sama Faya itu gak ngapa-ngapain, Ma. Jadi gak mungkin kalau Faya sampai hamil. Mama ini ngaco aja fikirannya.” Kahirnya Prima mencoba untuk menjelaskan.
Selama ini, ia sengaja membuat keluarganya kalang kabut dengan kesalah pahaman yang ia buat sendiri. itu untuk mengerjai mereka tentu saja. Namanya juga Prima. terlebih dia paling malas untuk menjelaskan hal yang tidak jelas begitu.
Ia kira, masalahnya tidak akan jadi selebar ini. Tapi ternyata Faya bahkan sampai sakit memikirkannya. Kasihan gadis itu.
“Tapi malam itu kalian tidur bareng. Mana mungkin gak terjadi apa-apa.”
“Ma, percaya sama anak Mama ini. Malam itu aku gak ngapa-ngapain Faya. Kami gak ngelakuin apa yang selama ini kalian kira.”
Plak!
“Au!” pekik Prima setelah mendapat pukulan di punggungnya dari Zinnia.
“Makanya, kalau apa-apa itu jangan dieeeem aja. jelasin gitu biar orang gak salah faham. Faya juga salah faham sama kamu. Dia fikir kamu udah ngapa-ngapain dia. Kamu ini, Prim. Kebiasaan diemnya itu di rubah. Kasihan anak orang sampe sakit gara-gara kamu. Kamu udah jelasin ke Faya?”
Prima menggeleng. “Mama tenang aja. nanti Prima bakalan jelasin sendiri sama dia.”
“Ya ampun... syukurlah....” desis Zinnia dan Esta berbarengan. Ternyata apa yang selama ini mereka kira itu salah.
Salah Prima sih. Dia yang tidak mau menjelaskan kepada keluarganya. Bahkan kepada Faya. Dia terus mengulur waktu. Dia senang melihat keluarganya kalang kabut di buatnya.
Malam itu...
Prima begitu terkejut saat tiba-tiba Faya mencium bibirnya. Dia memang mabuk. Tapi dia masih sadar betul akan apa yang terjadi. Untuk sesaat, dia bahkan terhanyut oleh lembutnya bibir Faya yang menempel di bibirnya. Dan Prima, bahkan hampir saja tak bisa menahan diri.
Beberapa saat mereka berciuman dan posisi Faya telah berubah di bawah kungkungan Prima. wajah manis Faya di pandangnya lekat-lekat. Prima menyisihkan rambut Faya ke belakang telinganya kemudian kembali memagut bibir ranum itu.
Namun, kemudian Prima tersadar akan kesalahannya. Ia menarik diri dan duduk di samping Faya yang sudah terpejam.
Malam itu, bisa saja Prima lepas kendali dan melakukan hal itu kepada Faya. Tapi untungnya, ia mempunyai benteng yang kuat. Terlebih ia tidak ingin menyakiti Faya. Ia bisa membayangkan betapa hancurnya Faya nanti jika dia benar-benar melakukannya.
Sekuat tenaga Prima menahan gejolak dalam dirinya. Ia berlari ke dalam kamar mandi dan membasuh wajahnya. Setelah merasa segar, ia kembali dan melihat Faya sudah mendengkur pelan. Ia mendekat ke ranjang dan menyelimuti gadis itu.
Masalah pakaian Faya yang berserakan, tengah malam Faya merasa panas hingga tanpa sadar membuka bajunya sendiri. Prima bahkan tak mengetahui akan hal itu.
“Maafin Mama ya, Nak. Seharusnya Mama tunggu penjelasan kamu dulu.” Lirih Zinnia merasa menyesal karna sudah salah menuduh putranya sendiri.
__ADS_1
“Sekarang masalahnya udah jelas kan, Ma. Jadi, tolong kasih tau Papa sama Kakek juga.”
Sementara Esta terkikik geli sendiri. cucunya yang satu ini memang ajaib sekali kelakuannya. Tidak bisa di tebak. Persis seperti ibunya dulu.
Dulu, kelakuan Zinnia juga sama absurdnya dengan Prima.
“Bik! Tolong ambilin loteknya buat Prima.” teriak Zinnia kepada asisten rumah tangga mereka.
Tak lama kemudian, sepiring lotek sudah tersaji di meja di dekat Prima. lengkap dengan setoples emping dan segelas teh hangat.
“Jadi gimana keadaan Faya, Prim?” Zinnia kembali membuka suara.
“Tadi pagi Prima udah panggil Romi buat datang. Tadi udah mendingan sih, Ma.”
“Kamu, suka kan sama Faya? Iya kan?” selidik Zinnia kembali.
Prima hanya senyum-senyum tanpa menjawab pertanyaan ibunya. Terus menyuapkan lotek ke dalam mulutnya.
“Kalau Mama sih, gak keberatan kamu mau sama siapa juga. Kan kamu yang paling ngerti soal hati kamu. Dan Mama juga gak keberatan kalau seandainya Faya jadi menantu Mama.”
Dan lagi-lagi, Prima hanya tersenyum-senyum simpul menanggapi.
Zinnia tau kalau Prima adalah tipe pria yang sangat gengsi mengakui perasaannya. Bahkan kepada Aliva saja, Prima tak pernah mengatakan ‘aku menyukaimu, aku menyayangimu,’ dan sebagainya. Ia tau karna Aliva sering sekali mengadu kepadanya.
“Prima pamit dulu ya Ma, Nek. Prima masih ada kerjaan.” Ujar Prima setelah menghabiskan makanannya. Ia bangun dan menyalami ibu dan neneknya.
Sebenarnya bukan pekerjaan. Prima lebih mengkhawatirkan kondisi Faya. Setelah tadi pagi ia sengaja bersikap manis kepada gadis itu. Ia ingin tau reaksi Faya selanjutnya bagaimana.
Bahkan senyumnya terus mengembang saat ia fokus mengemudi. Sesampainya di apartemen, ia ingin menjelaskan semuanya kepada Faya. Kalau malam itu, tidak terjadi apa-apa kepada mereka. Kalau malam itu, mereka tidak melakukan apapun selain tidur di satu ranjang. Itu saja, tidak lebih.
Jadi, Prima ingin mengatakan kalau Faya tak perlu ambil pusing lagi apalagi sampai terus memikirkannya. Kalau di fikir-fikir, Prima tidak tega juga setelah melihat kondisi Faya yang jadi drop begitu.
Prima terus melajukan mobilnya kembali ke apartemen. Dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya. Membayangkan wajah Faya yang tersipu saat bertemu dengannya.
ya ampun prima! ampun deh. semua kondisi di buat bercanda buat ngerjain keluarganya. bener-bener nih anak. kelakuannya persis judulnya, BOSS GILA.
__ADS_1
jangan lupa jejaknya warga, nanti di kerjain sama prima juga kalau gak mau ninggalin jejak. haha.