
Sementara di dalam rumah, Faya dan Soraya sudah bersiap untuk tidur. Soraya tak merasa canggung karna ia sudah beberapa kali menginap di sana.
Soraya sedang duduk di depan meja rias sambil memasang masker wajah. Sesekali ia mengintip ke arah Faya yang sudah meringkuk di balik selimut di atas ranjang.
“Beneran udah enakan, Fay?” tanya Soraya.
“Udah, Mbak.”
“Kamu butuh sesuatu? Biar aku ambilkan.”
“Gak usah, Mbak. Mbak Sora juga kan pasti udah ngantuk. Kita tidur aja.”
Yang sebenarnya Faya rasakan adalah, ia sedang ragu. Hatinya memberitahu kalau ia harus memberitahu Soraya tentang kejadiannya dengan Prima malam itu. Siapa tau Soraya punya solusi yang tidak pernah terfikirkan olehnya. Tapi, fikirannya seolah menolak dengan berbagai macam pertimbangan yang muncul.
Ia takut, jika setelah ia bercerita, Soraya akan melihatnya secara berbeda. Ia tidak siap jika harus di jauhi oleh Soraya karna dikira sebagai perempuan mura han yang sudah menggoda bosnya sendiri. apa Soraya akan menghakiminya seperti itu? Seperti yang ia takutkan itu?
Ranjang di samping Faya bergerak. Soraya sudah berbaring di sampingnya dan bersiap membungkus diri dalam selimut. Dia belum niat untuk tidur. Hanya berbaring sambil menunggu maskernya kering dengan bermain ponselnya.
Hati Faya gelisah. Ia terus mendesak fikirannya untuk memberanikan diri bertukar fikiran dengan Soraya. Karna memang hanya Soraya lah yang dekat dengannya di kantor. Dan selama ini, Soraya sudah mampu bertindak sebagai seorang kakak bagi Faya.
Perlahan, Faya mengalihkan posisi tubuhnya menghadap kepada Soraya.
“Mbak,,,” lirih Faya.
“Hem? Kamu belum tidur? Aku fikir kamu udah tidur.”
Faya menggeleng pelan. Wajahnya jelas menunjukkan kalau dia sedang gelisah. Dan Soraya memperhatikan itu.
“Kamu kenapa? Mukanya gelisah gitu?”
Faya tidak menjawab. Justru terdengar helaan nafas berat dari gadis itu.
“Kamu ada masalah? Cerita aja, Fay. Mungkin aku bisa bantu. Kalaupun aku gak bisa bantu, setidaknya kamu udah lega karna bisa berbagi masalah sama aku.”
__ADS_1
“Mbak, aku.... tidur..... sama Pak Prima.” akhirnya kalimat itu lolos juga dari tenggorokan Faya. Setelah lolos, dadanya terasa sedikit lebih lega.
“Hah? Maksudnya?” ternyata Soraya tidak mengerti apa yang sedang di bicarakan oleh Faya.
“Kayaknya, aku udah ngelakuin itu sama Pak Prima.”
“Ngelakuin apa? Kalau ngomong yang jelas, Fay.”
“Kayaknya aku hamil anaknya Pak Prima.” Faya berkata begitu sambil memejamkan matanya erat-erat.
Untuk beberapa saat tidak terdengar suara. Bahkan Soraya hanya bisa mengedip-ngedipkan matanya saja. Mulutnya ternganga tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari Faya.
Hamil? Maksudnya?
“Jangan ngelantur, Fay.”
“Aku gak ngelantur, Mbak. malam itu, Pak Prima mabuk setelah pulang dari club. Abis bawa Pak Prima ke kamarnya, aku tiba-tiba gak sadar dan begitu aku bangun, aku tidur di sebelah Pak Prima. aku yakin banget kalau kami udah ngelakuin hal itu, Mbak. aku harus gimana? Aku takut.”
Soraya tidak berkata apa-apa. Ia hanya menarik Faya ke dalam pelukannya dan mengelusi punggung gadis itu. Gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
“Kamu yakin kalau kalian udah ngelakuin itu?” tanya Soraya lirih.
Faya mengangguk di dalam pelukan Soraya.
“Udah tes pack?”
Faya menggeleng. “Aku takut mau tes pack, mbak. aku takut kalau aku beneran hamil gimana?”
“Pak Prima gimana?”
“Dia bahkan lupa kejadian malam itu. Aku juga gak berani tanya langsung sama dia.”
“Fay, biar gimanapun, posisi kamu yang paling di rugikan di sini. Lebih baik kamu tanya langsung sama Pak Prima. cari jawaban sejelas-jelasnya dari dia. Apalagi kalau kamu memang hamil, dan Pak Prima ayah dari bayi itu, kamu wajib kasih tau dia.”
__ADS_1
Faya tidak tau, kalau dalam hati Soraya sedang terbakar hebat akibat pengakuan darinya. Tapi hebatnya Soraya, dia tetap bersikap bijak kepada Faya. Tidak langsung menghakiminya begitu saja. Ia tau, ini pasti juga tidak mudah untuk Faya menanggung semuanya sendirian.
“Kamu pasti kuat, Fay.” Desis Soraya menenangkan Faya. Ia mengelus punggung Faya dengan lembut.
Perlakuan Soraya itu membuat Faya merasa semakin sedih sekaligus lega di saat yang bersamaan. Ia merasa beruntung ada Soraya yang ada di sisinya. Tidak salah jika ia bercerita dengan Soraya.
Airmata Faya terus mengalir. Bahkan sampai Soraya melepaskan pelukannya, Faya masih terus menangis.
“Ini bukan salah kamu, Fay. Aku tau kalau kamu juga gak menginginkan hal ini terjadi. Pokoknya kamu harus ngomong sejelas-jelasnya sama Pak Prima. Ngerti?” tekan Soraya lagi.
Faya mengusap airmatanya. Kemudian ia mengangguk perlahan.
“Sekarang tidur. Kamu kan lagi sakit.”
Dan lagi, Faya mengangguk patuh kepada Soraya. Menengadahkan tubuhnya ke atas kemudian menatap langit-langit dengan mata sendu. Hatinya sudah setengah lega. Ia berterimakasih kepada Soraya. Ternyata apa yang ia
takutkan, kalau Soraya akan menghakiminya, itu tidaklah benar.
Perlahan, Faya berusaha utuk menutup matanya dan masuk ke alam mimpi.
Sementara Soraya bangun dan pergi ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, ia memegangi dadanya yang terasa sangat sesak sampai ia merasa sulit sekali untuk bernafas. Seolah ia sedang hancur akan angan-angan yang ia bangun sendiri.
Mengetahui kalau Faya sedang mengandung anak dari Prima, pria yang selama ini ia kagumi, membuat hati Soraya merasa sangat sakit sekali. Ia ingin menangis tapi ia berusaha untuk menahannya. Ia tidak ingin terlihat rapuh di depan Faya.
Masalah Faya jauh lebih sulit ketimbang dirinya. Sakit hatinya tidak sebanding dengan sakit yang sedang di alami oleh Faya.
Kalau di fikir-fikir, ia seperti bisa membaca gelagat aneh dari Prima. pria itu terlalu perhatian kepada Faya. Dan perhatian itu, sepertinya lebih dari sekedar atasan. Tatapan Prima juga, lain. Apalagi saat Faya di dekati oleh Harvey, Prima dengan terang-ternagan menunjukkan sikap tidak sukanya kepada Harvey.
Sebuah kesimpulan muncul di benak Soraya. Mungkin, Prima bukan tidak ingat tentang kejadian malam itu. Mungkin pria itu ingat dengan jelas dan hanya menunggu waktu saja untuk beraksi? Benarkah begitu?
Soraya larut dalam fikirannya sendiri. hingga tanpa terasa, airmatanya hampir saja tumpah. Ia buru-buru membasuh wajahnya dengan air. Terimakasih kepada masker wajah yang ia kenakan tadi sehingga Faya tidak membaca perubahan ekspresinya saat Faya bercerita. Padahal, rasanya sangat menyakitkan.
Setelah yakin kalau wajahnya tidak ada masalah, Faya kembali ke kamar dan menyusul Faya tidur. Kali ini, ia tidur dengan membelakangi Faya. Ia masih tidak sanggup kalau Faya akan memergoki wajahnya yang memerah. Ia berusaha memejamkan matanya untuk mengusir rasa sesak di dalam hatinya.
__ADS_1