One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 60. Lihatlah, Betapa Putus Asanya Aku.


__ADS_3

Faya menggeliat di atas tempat tidur. Saat menoleh ke samping, ia sudah tidak mendapati Soraya di sana. Selimut yang di pakai Soraya semalam juga sudah terlipat rapi di atas bantal.


Faya meraba-raba ponselnya di bawah bantal. Ia menyipit melihat jam yang masih menunjukkan pukul 5.30 pagi. Pantas saja jendelanya masih sedikit gelap. Tapi, kenapa Soraya sudah bangun?


Ia menekan nomor ponsel Soraya. Tersambung.


“Mbak dimana?”


“Oh, Fay. Kamu udah bangun? Maaf ya. Aku pulang duluan. Hari ini aku banyak kerjaan di kantor. Tadi aku mau pamit tapinya aku lihat kamu pules banget tidurnya. Jadi aku gak enak bangunin kamu.” Jelas Soraya panjang lebar.


“Ooh, gitu...” terdengar nada kekecewaan dari Faya. Ia masih butuh asupan kekuatan dari Soraya. Tapi wanita itu telah pulang lebih dulu.


“Ya udah, kamu istirahat aja sana. Biar cepet sembuh.”


Tut.


Faya memandangi layar ponsel yang sudah mati itu dengan perasaan yang entah. Ia bisa merasakan sebuah kecanggungan karna sesuatu. Tapi ia tidak tau apa itu.


Perlahan, Faya berjalan keluar kamar kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Setelah membasuh wajah, ia berniat untuk membuat sarapan untuk dirinya. Sampai suara pass pintunya kembali terdengar.


Faya melongokkan kepalanya menunggu siapa yang datang ke rumahnya sepagi ini tanpa pemberitahuan. Dan memang, satu-satunya orang yang tau nomor sandi rumahnya adalah Prima.


Benar saja, Prima muncul dengan membawa sebuah mangkuk di tangannya. Masuk begitu saja tanpa permisi dan tanpa merasa bersalah sama sekali.


“Oh, udah bangun? Pas banget. Ini, aku buatin bubur kayak kemarin.” Ujar Prima yang langsung meletakkan mangkuk bubur itu di meja makan dapur.


Saat ini, Faya merasa menyesal kenapa ia tidak mengganti pass kunci pintunya sejak dulu. Kalau ia tau bosnya akan menyelonong begitu saja masuk ke dalam rumahnya, ia pasti sudah menggantinya.


“Sora mana?” tanya Prima yang masih belum menyadari tatapan tajam dari Faya.


“Udah pulang, Pak. Baru aja.” Faya menjawab juga walaupun ia kesal.


Prima hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia melambaikan tangan kepada Faya. Meminta gadis itu untuk duduk di hadapannya.


“Sini, duduk. Sarapan dulu. Biar minum obat.”


Tanpa banyak protes, Faya menurut saja. Ia duduk di meja makan kecil itu. Tepat di depan Prima. di hadapannya, sudah tersaji semangkuk bubur dnegan tambahan beberapa iris daging dan bawang goreng di atasnya.

__ADS_1


Perlahan, Faya menyendokkan bubur itu ke mulutnya. Memang rasanya lumayan. Enak. Seperti kemarin. Sepertinya Prima memang pandai membuat bubur.


Faya menghabiskan makanannya dalam diam. Tidak sekalipun ia menatap kepada Prima yang terus menerus menatapnya. Seolah dia enggan mengalihkan pandangan dari gadis di hadapannya.


Fikiran Faya sedang berkecamuk. Ia sedang mengumpulkan keberanian untuk bertanya kepada Prima. benar kata Soraya, tidak baik memendam seperti ini. Itu hanya akan memusingkannya sendiri.


Dengan menghela nafas dalam, ia mengangkat wajahnya yang sedari tadi terus menunduk. Menatap kepada Prima yang sedang meneguk air putih di hadapannya.


“Pak, gimana kalau saya hamil anak Bapak?” kali ini, Faya berucap terus terang. Soraya telah memberinya kekuatan untuk memberanikan diri.


Pruuuuuhhh!!!


seketika air yang ada di mulut Prima muncrat berhamburan kemana-mana. Bahkan sampai mengenai wajah Faya sendiri.


Prima sedang mematung, sementara Faya mendengus kesal karna sekarang wajahnya basah oleh semburan Prima. dengan kesal, ia menarik tisu dan membersihkan wajahnya sendiri.


“Kamu tadi bilang apa?”


“Gimana kalau saya hamil anak Bapak?” Faya mengulangi ucapannya. Ia membanting tisu di tangannya ke atas meja dengan kesal. Sepertinya ia salah memilih waktu untuk bicara. Seharusnya ia menunggu sampai Prima selesai dengan minumnya tadi.


“Kenapa kamu bisa bilang gitu?”


Prima mengernyitkan keningnya. Menatap curiga kepada Faya. Bukan apa, ia ingin mendengar kalimat Faya sampai akhir. Bagaimana bisa gadis itu beranggapan kalau ia sedang hamil anaknya?


Sesungguhnya, Prima sedang menahan tawa saat ini. Tawanya hampir saja meledak karna ekspresi wajah Faya terlihat sangat serius sekali. Ingin ia membantah dan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Memang tulah yang ingin dia lakukan sejak kemarin. Tapi tunggu, sepertinya, mengerjai Faya akan sangat menyenangkan. Kali ini, level mengerjainya tidak tanggung-tanggung.


“Bapak denger saya gak, sih?” dengus Faya pada akhirnya karna prima hanya diam saja tanpa menanggapi.


“Jadi, kamu fikir, kita udah ngelakuin itu, malam itu?” Prima mulai angkat bicara.


Faya mengangguk.


“Dan kamu yakin kalau kamu hamil?”


Faya mengangguk lagi walaupun dengan ragu. Tapi kali ini anggukannya terlihat samar.


“Terus, kamu mau aku ngapain?” tanya Prima santai. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan menyilangkan tangannya di depan dada.

__ADS_1


“Bapak kok gitu? Bapak gak takut? Kalau sampai kabar ini nyebar, gimana?”


“Terus kamu mau aku gimana?” sungguh, saat ini Prima sedang ingin meledak dan tertawa terbahak-bahak. Lihatlah ekspresi wajah Faya itu. Lucu sekali.


“Ya gimana, saya juga gak tau, Pak.” Mata Faya mulai berair. “Bapak sih enak. Perutnya gak besar. Nah saya??” Faya sengaja menekankan kekecewaannya. Ia ingin Prima melihat betapa putus asanya dirinya karna masalah ini.


“Kamu maunya gimana?”


“Saya gak tau, Pak. Keluarga besar Bapak juga udah tau masalah ini. Saya yakin, mereka akan memutuskan masalah ini dengan bijak tanpa merugikan salah satunya.”


“Kenapa? Kamu gak suka hamil anak saya?”


“Bukan  gitu.”


“Jadi, kamu suka kalau kamu hamil anak saya?” keinginan Prima untuk mengerjai Faya semakin menjadi.


“Bukan itu juga?”


“Jadi apa?”


“Arh! Susah ngomong sama bapak.” Faya akhirnya mendengus kesal karna pembicaraan itu tak kunjung menemui titik terang. Ia tak mengira berbicara serius kepada Prima tentang masalah pribadi sungguh menguras emosinya. Sudahlah dia grogi bukan main, di tambah Prima sama sekali tidak mengerti maksud pembicaraannya. Bikin frustasi saja.


“Kok malah marah-marah? Ya kalau kamu yakin kamu hamil anakku, terus mau kamu apa?”


Entahlah, Faya juga tidak tau. Ia ingin Prima bertanggung jawab. Tapi juga tidak ingin Prima bertanggung jawab. Ia bahkan bingung dalam menentukan keputusannya sendiri.


“Kamu mau kita nikah?”


Pertanyaan itu membuat Faya mati kutu. Jantungnya semakin berdegup kencang tak terkendali. Ia ingin Prima bertanggung jawab padanya. Tapi juga tidak ingin Prima menikahinya. Apalagi diantara mereka tak ada rasa saling suka. Bagaimana mereka akan menikah? Hanya demi anak? Tidak, tidak. Faya tidak akan sanggup melaluinya.


Sementara Prima, merasa sedang berada di atas angin karna berhasil mengerjai gadis itu. Ia akan membiarkan saja Faya berfikir kalau dia tengah hamil. Prima rindu masa-masanya mengerjai Faya dulu. Ia bahkan lupa kalau bisa saja ia di banting untuk ke sekian kalinya oleh Faya karna mengerjainya tidak tanggung-tanggung. Tapi itu sepadan dengan kelucuan wajah Faya saat seperti sekarang ini.




ups!

__ADS_1


gak boleh misuh-misuh. ingettt, puasa. hahahahahahaha.


__ADS_2