
Ada sebuah perasaan lega yang mengalir di dada Prima. walaupun ia sedikit gemetar karna pengakuannya tadi, namun ia berusaha untuk menutupinya sebisa mungkin. Ia ingin, Faya bisa melihat ketulusan perasaan yang sedang ia rasakan saat ini.
“Fay? Kamu denger aku kan?” tanya Prima karna lama Faya tidak merespon. Gadis itu hanya diam saja menatap Prima.
“Ehm, Pak. Kayaknya Bapak udah bisa pergi deh. Saya capek, mau istirahat.” usir Faya.
Di luar dugaan, reaksi Faya sama sekali tidak Prima harapkan. Memangnya apa yang dia harapkan setelah mengungkapkan isi hatinya begitu? Apa dia harap Faya akan menerimanya? Atau justru menghambur ke pelukannya? Yang benar saja.
“Kok malah di usir?” terang saja pria tidak terima. Susah payah ia menciptakan suasana serius nan romantis, namun gadis itu justru malah mengusirnya.
“Buruan, Pak.” Faya menarik paksa tangan Prima dan menyuruhnya keluar dari kamarnya.
“Yah, kok di usir, Fay? Kita kan belum selesai ngomong. Fay!” panggil Prima ketika pintu kamar Faya sudah tertutup sempurna. Ia memandangi daun pintu itu dengan perasaan kecewa. Jujur, dia sangat mengharapkan balasan dari Faya.
Sementara di dalam kamar, Faya menyandarkan punggungnya di pintu setelah mengusir Prima. dadanya naik turun seirama dengan degupan jantungnya yang tidak karuan. Desiran-desiran itu terus saja membuat hatinya seperti sedang di kerumuni kupu-kupu.
“Ya ampun...” lirih Faya sambil meemgangi dadanya. Ia berusaha menetralkan detak jantungnya dengan mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan. Tapi ternyata itu sama sekali tidak berguna.
Karna jantung Faya semakin menjadi. Semakin gila. Sepertinya sel-sel jantung Faya sedang berdisko ria di dalam sana.
Faya menyeret kakinya untuk duduk di ranjangnya. Bahkan untuk mengangkat kaki itu ke atas kasur, ia tidak bertenaga, entah kemana semua tenaganya pergi. Ia lemas. Menjatuhkan tubuhnya ke belakang dengan kaki yang masih menjuntai ke bawah.
“Dia kesurupan apa?” gumam Faya kembali pada langit-langit kamarnya.
Dan sepanjang malam itu, Faya sama sekali tidak berhasil memejamkan matanya. Karna ucapan Prima terus saja terngiang di kepalanya. Bahkan saat ia berusaha memejamkan mata, hanya wajah tulus Prima yang berkelabatan tak mau berhenti.
Sial! Makinya dalam hati.
Bagaimana tidak, Faya melihat lingkaran hitam sempurna di kedua kelopak matanya saat bercermin.
“Ya ampun. Aku jadi kayak panda gini. Dasar.” Umpat Faya. Entah umpatan itu tertuju untuk siapa. Yang jelas, ada rasa malu yang ia rasakan ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau wajahnya tengah merona saat ini. Akibat teringat kalimat Prima semalam.
Selanjutnya, yang membuat fikiran Faya rancu adalah, bagaimana jika mereka bertemu setelah ini? Apa yang harus dia lakukan? Sungguh, Faya masih syok dengan pengakuan Prima. walaupun ada rasa bahagia yang sempat terselip di hatinya karna ternyata Prima mempunyai perasaan yang sama padanya. Ternyata rasa itu bersambut.
Tapi entahlah, kok seperti ada yang mengganjal di hati Faya. Seketika banyak sekali pertanyaan dan pertimbangan yang muncul di benaknya.
__ADS_1
Dia masih marah? Tidak. Kan Faya sudah memaafkan Prima semalam. Tapi, kenapa masih ada sebuah ragu yang ia rasakan di hatinya?
Sudah lebih dari 10 menit Faya berdiri di depan pintu kamarnya. Ragu untuk keluar. Entah kenapa hatinya berharap kalau saat dia membuka pintu nanti, ada Prima yang berdiri di depannya. Hallah. Mulai halu.
Faya merasa malu sendiri dengan fikirannya sendiri. Ya ampun.
Hufh. Faya membuang rasa gugupnya. Tangannya menarik handle pintu dan bersiap untuk keluar.
Mata Faya membulat melihat seorang pria yang sudah berdiri di depan kamarnya. Prima. pria itu benar-benar ada di depan kamarnya. Ya ampun.
Hati Faya berdesir tidak karuan. Wajahnya memanas. Mungkin saat ini ia sudah seperti Hellboy. Hanya saja tidak bertanduk. Tak berani mengangkat wajahnya.
Prima tersenyum sumringah. Ia terkikik melihat wajah Faya yang merona.
“Ayo, sarapan.” Ajak Prima yang kemudian berjalan mendahului Faya.
Faya mengaitkan jari jemarinya di depan. Seperti anak kecil di ajak beli mainan, ia mengikuti Prima di belakang pria itu.
Di restoranpun, mereka duduk di satu meja. Tidak ada lagi penolakan dari Faya. Gadis itu diam saja walaupun pria yang duduk di hadapannya itu terus saja memperhatikannya. Kalau begini, bagaimana wajahnya bisa kembali normal?
“Kenapa gak makan?”
Faya diam saja. Sekilas ia melihat kepada Prima yang ternyata sedang sibuk dengan sarapannya.
“Hari ini kita pulang ya, Fay. Mau?” kalimat Prima itu menghentikan sendok makanan Faya yang hampir sampai di mulutnya. Walaupun mulutnya terus ternganga, tapi sendok itu tak kunjung masuk-masuk juga.
Sampai pada kahirnya, Prima membantu Faya. Ia merebut sendok dari tangan Faya dan menyuapi gadis itu. baru setelah makanan masuk ke mulutnya, kesadaran Faya kembali seketika.
“Pulang?”
“Iya, pulang. Ngapain lama-lama disini? Bosan. Kita jalan-jalan di daratan aja.”
“Kalau Bapak mau pulang, pulang duluan aja. saya masih mau di sini.”
“Ya kalau kamu masih mau di sini, ngapain juga aku pulang. Tujuan aku ke sini kan buat jemput kamu.”
__ADS_1
Dan lagi, Faya tidak berhasil mengendalikan jantungnya. Dengan kurang ajarnya berdegup semakin kencang.
Faya tidak lagi melanjutkan pembicaraan. Ia tidak menemukan kalimat yang pas untuk sekedar menyela ucapan Prima.
“Memangnya kamu gak bosen gitu? Disini gak ngapa-ngapain. Cuma bisa lihat laut. Dimana-mana laut.”
“Kenapa? Bapak masih takut sama air? Apa terapinya gak berjalan lancar?”
Entahlah, kenapa Faya harus bertanya begitu. Kan Prima jadi menangkap kalau gadis itu memang masih peduli padanya.
“Kalau sama kamu kayaknya semakin lancar deh, Fay.” Seloroh Prima.
Faya mengu lum senyuman samar. Ia berusaha menikmati sarapannya dengan tenang namun jantungnya sedang berdisko ria di dalam sana.
“Tapi saya masih mau di sini, Pak.” Elak Faya. Rasanya sayang sekali kalau harus menyia-nyiakan kesempatan gratis ini.
“Nanti kita jalan-jalan di darat aja.” jawab Prima santai.
“Tapi, kok Bapak bisa tau sih saya ada disini? Siapa yang kasih tau?”
“Siapa lagi? Harvey, lah. Demi kamu, Fay, aku rela buang harga diri aku buat nemuin cecunguk itu.”
“Kok cecunguk sih, Pak. Harvey itu baik tau.”
“Puji aja terus.” Dengus Prima tidak terima. Bisa-bisanya Faya memuji pria lain di hadapannya.
“Malah sewot.” Dengung Faya sambil terkekeh kecil.
“Jadi gimana? Mau pulang sama aku gak?”
Faya diam. Tidak mau menjawab.
“Gini aja. kamu boleh fikir-fikir dulu. Nanti malam, kasih tau aku ya. Kalau kamu mau ikut aku pulang, berarti kita jadian. Kalau enggak, berarti kamu nolak aku.”
Faya sempurna ternganga mendengarnya. Bisa-bisanya Prima berinisiatif begitu.
__ADS_1