
Suasana ruangan naratama di sebuah restoran nampak meriah. Semua keluarga Prima berkumpul di ruangan itu.
Malam ini adalah jadwal pertemuan antara dua keluarga. Keluarga Prima, dan keluarga Faya yang tentu saja hanya di wakili oleh Iwan seorang. Karna Iwan adalah satu-satunya keluarga yang Faya punya.
Keluarga Prima sudah hampir setengah jam ada di sana menunggu kedatangan Faya yang masih entah dimana. Gadis itu sedang dalam perjalanan untuk menjemput Iwan di apartemen.
Ponsel Faya terus saja berdering tanpa henti ketika ia fokus mengemudi. Sementara Iwan yang duduk di sampingnya juga nampak gelisah. Berkali-kali merapikan kemeja batik yang ia kenakan. Juga ia sering melirik jam digital yang tetera di dashboar.
“Kita terlambat, Fay,” ujar Iwan.
Faya melirik jam juga. Masih setengah delapan. Jadwal pertemuan itu adalah jam delapan. Tapi keluarga Prima sudah ada di sana lebih dulu.
“Kita gak terlambat, Mas. Mereka aja yang datangnya kecepetan. Kan janjinya jam 8.”
“Iya, tapi tetep aja gak enak.”
Faya merasa risih karna Prima terus saja menelfonnya tanpa henti. Pada akhirnya, ia terpaksa mengangkatnya.
“Iya, Mas? Ini lagi di jalan. Bentar lagi nyampe.”
“Santai aja. aku nelfon cuma mau bilang, pelan-pelan aja bawa mobilnya. Gak usah buru-buru. Yang penting kalian selamat di jalan.”
Faya sempurna ternganga tidak percaya. Ia fikir Prima terus menelfonnya karna menyuruhnya untuk segera tiba. Ternyata bukan. Ia kemudian tertawa setelah mematikan sambungan telfon.
Prima masih setia menunggu kedatangan Faya di depan restoran. Membiarkan keluarganya menunggu dan bercengkerama ringan di dalam. Dalam hati ia sedikit menyesal dan khawatir. Aturan tadi dia ikut menjemput Iwan ke apartemen. Masalahnya, tadi Faya bersikeras ingin pergi sendiri. jadi dia mengalah. Dan sekarang ia cemas bukan main.
Senyumnya timbul ketika ia melihat mobil yang di bawa Faya tiba di tempat parkir. Ia segera berlari untuk menjemput mereka. Namun, sesuatu menghentikannya. Ia terpana dengan penampilan Faya yang lain dari biasanya.
Faya memang mengenakan riasan tipis. Tadi ia menyempatkan diri ke salon terlebih dahulu. Karna itu ia melarang Prima untuk ikut. Ia ingin mengesankan keluarga calon suaminya. Setidaknya, ia ingin terlihat lebih cantik dari hari biasa. Ya walaupun setiap hari ia sudah berias, tapi ia ingin terlihat lebih dari hari biasa.
Sebenarnya riasan Faya tipis. Tidak berbeda jauh dari hari biasa ketika ia pergi ke kantor. Hanya saja, model rambutnya yang membuatnya nampak berbeda. Rambut lurus Faya di buat sedikit kerli di bagian ujungnya. Membuat penampilannya menjadi lebih segar dari sebelumnya.
__ADS_1
“Lap liurmu, Prim.” Seloroh Iwan yang melihat betapa terpesonanya Prima terhadap adiknya.
Prima hanya terkekeh kemudian mengajak Iwan masuk ke dalam restoran.
“Bahaya banget adik Mas itu.” bisik Prima tiba-tiba kepada Iwan.
“Kenapa?”
“Cantiknya bikin ngences. Heheheheheh.” Dan keduanya kompak tertawa renyah. Membuat Faya yang berjalan di belakang mereka mengernyit penasaran. Merasa sepertinya dirinyalah yang menjadi topik pembicaraan.
Sebelum masuk, Faya berulang kali menarik dan membuang nafas untuk menyingkirkan kegugupannya. Namun sepertinya itu masih belum manjur. Jantungnya tetap berdegup luar biasa.
“Tenang aja. Ada aku.” Bisik Prima. Ia menggenggam tangan Faya untuk menenangkan kekasihnya itu.
Dan berhasil. Walau tidak sepenuhnya rasa gugup Faya menghilang, namun ia sudah bisa lebih santai sekarang. Sementara Iwan yang ada bersama mereka terus memperhatikan sambil geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan duo sejoli itu.
“Udah siap?” tanya Prima sebelum ia mengetuk dan membuka pintu.
“Oh, kalian udah datang?” Ren bertanya kepada Prima dan Faya.
“iya, Pa. kenalin, ini mas Iwan. Kakaknya Faya.” Prima memperkenalkan Iwan kepada anggota keluarganya.
Iwan mengangguk sambil tersenyum. Begitu pula dengan Ren dan Rai. Ren bahkan langsung mengulurkan tangan untuk menyalami Iwan.
“Silahkan duduk,” Ren mempersilahkan dengan sopan dan ramah. Ia ingin memberikan kesan terbaik untuk Iwan selaku calon besannya.
Tidak hanya Ren, namun Zinnia dan semua anggota keluarga yang hadirpun memberikan respon yang sama. Iwan bisa melihat keluarga yang di penuhi oleh kehangatan itu sedang tersenyum ramah menyambutnya.
“Terimakasih.” Sambut Iwan. Ia menyambut uluran tangan Ren dan Rai yang duduk bersebelahan. Kemudian ia mengambil duduk di sebelah Ren. Di susul Faya yang duduk di sebelah Zinnia. Sementara Prima mengambil duduk di antara kakek dan neneknya.
“Saya Ren, papanya Prima. Dan ini kakeknya Prima. Itu neneknya, Itu mamanya, dan itu kakaknya.” Ren memperkenalkan satu-persatu kepada Iwan. Iwan memperhatikan sambil mengangguk-angguk.
__ADS_1
“Dibawa nyaman aja, Masnya. Lagian kita semua bakalan jadi keluarga. Jadi tolong jangan canggung.” Imbuh Zinnia yang merasakan kecanggungan dari calon besannya itu.
“Terimakasih. Keluarga Prima masih lengkap. Saya ikut seneng lihatnya.” Ujar Iwan. Ada kesenduan dari nada bicaranya. “Seperti yang kalian tau, keluarga Faya cuma tinggal saya saja.”
“Gak apa-apa, Mas. Kami semua akan jadi keluarga buat Faya nantinya.” Rai ikut nimbrung.
“Jadi, mungkin sebenernya Mas Iwan ini udah tau niat kami ngajak berkumpul disini, bukan lain untuk membicarakan kelanjutan hubungan antara anak kami dengan Faya. Kita semua tau, kalau mereka ini udah siap mau melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Jadi disini, kita akan membahas tentang itu.” Ren mulai membicarakan hal serius.
“Iya, saya sudah tau. Sebelumnya terimakasih sudah bersedia menerima adik saya dengan segala kekurangannya. Seperti yang kalian semua tau, Faya ini, banyak sekali kekurangannya. Selain dia gak punya keluarga lengkap, sifat dia mungkin masih kayak anak-anak. Soal gimana nanti, saya sepenuhnya ikut gimana kata Prima dan Faya. saya rasa mereka udah sepakat mengenai ini.” Ujar Iwan.
“Kami sama sekali gak masalah dengan itu, Mas. Kami menerima Faya dengan tangan terbuka dan dengan seluruh hati hati kami. Di mata kami, Faya udah lebih dari sempurna untuk jadi menantu kami.” Kata Zinnia.
“Jadi gimana, Prim? Faya? kalian mau tunangan dulu, apa gimana?” kini Esta yang ikut bersuara.
Jantung Faya rasanya sudah hampir copot saja. Bagaimana tidak, kini ia menjadi pusat perhatian. Semua orang kini melihat kepadanya meminta jawaban.
“Faya, ngikut aja, Nek. Gimana baiknya.” Jawab Faya gugup. Bahkan suaranya terdengar sedikit gemetar.
“Prim?” Ren bertanya kepada putranya itu. “Apa kamu mau tunangan dulu?”
“Enggak usah, Pa. Langsung nikah aja. Gak usah pake tunangan-tunangan. Kelamaan.” Jawab Prima spontan. Membuat semua orang ternganga dengan jawabannya.
“Hahahahahahha. Kamu ini.” Zinnia melotot kepada putranya. Kesal karna Prima sama sekali tidak ada jaim-jaimnya di depan keluarga Faya.
“Kamu gak apa-apa kan, Fay kalau kita langsung nikah? Apa kamu mau tunangan dulu?” akhirnya Prima bertanya langsung kepada Faya.
ngebet banget nih prima. udah gak sabar dia.
__ADS_1