One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 96. Silahkan Bahagia.


__ADS_3

Faya masuk ke dalam rumah dengan wajah yang merona dan dengan senyuman mencurigakan. Hal itu di lihat oleh Iwan yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja melihat kekonyolan adiknya itu.


“Mas, aku mau mandi dulu ya. Dari tadi belum mandi.” Pamit Faya yang kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil handuk dan pakaian ganti.


Selesai mandi, ia kembali bergabung bersama Iwan di ruang tamu. Kakaknya itu nampak sednag sibuk dengan ponselnya. Menghapus semua kenangannya bersama Kirani yang tersimpan di memory ponselnya. Sesekali terdengar helaan nafas berat dari pria itu.


“Mas?” lirih Faya.


“Hem?”


“Mas beneran gak apa-apa, kan?”


“Ya kalau gak dipaksain buat baik-baik aja, terus Mas harus gimana, Fay? Nyesel, kecewa, udah pasti. Tapi kalau di fikirin lagi, gak ada gunanya Mas nangisin masalah ini.”


“Mas pasti marah banget sama Mbak Kiran.”


“Rasa marah di dada Mas ini udah membumbung, Fay. Rasanya sesek banget di sini.” Iwan menunjuk dadanya sendiri. Melihat itu, membuat hati Faya ikut merasakan sakitnya.


“Mulai sekarang, aku mohon sama Mas. Silahkan bahagia, Mas. Kalau perlu cari pengganti yang jauh lebih baik dari Mbak Kiran. Aku yakin, Mas pasti ketemu sama perempuan baik-baik nanti. Sumpah, aku pengen lihat Mas bahagia.” Faya jadi tidak bisa menahan airmatanya.


“Iya, Mas janji bakalan bahagia setelah ini.” Iwan mengelus kepala adiknya dengan penuh cinta.


“Awas kalau ingkar.” Ancam Faya kemudian.


“Kapan kamu mulai kerja?”


“Lusa kalau gak ada halangan.”


“Jadi besok kosong, kan?”


Faya mengangguk. “Kenapa? Mau jalan-jalan sama aku?”


“Besok, kita ke makam yuk. Udah lama mas gak jenguk Ayah sama Ibuk.”


Faya kembali mengangguk. Ia juga sudah lama tidak mengunjungi makam kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Besok biar aku pinjam mobil Mas Prima aja.”


“Gak usah. Nanti malah ngerepotin. Kan dia mau ke kantor juga katanya.”


“Gak ngerepotin kok Mas. Mobil dia ada banyak. Di pinjam 1 gak masalah juga kali. Lagian kalau Mas Prima tau, dia juga bakalan sukarela minjemin mobilnya.”


“Oh iya. Mas lupa kalau dia pewaris perusahaan. Wajar aja kalau mobilnya ada banyak.”


“Jangankan mobil, Mas. Komplek apartemen ini aja punya perusahaannya.”


“Hehehe. Kamu termasuk beruntung, Fay. Mas tau, jadi istrinya seorang Prima, gak semudah yang orang lihat. Kamu juga pasti tau ini, kan?”


“Iya, aku tau, Mas.”


“Apa keluarganya baik sama kamu? Mereka nerima kamu, kan?” Iwan nampak khawatir. Karna kehidupan mereka jauh berbeda, ia takut adiknya itu kesulitan di terima di keluarga Prima.


“Mas gak usah khawatir. Keluarga Mas Prima itu semuanya baik-baik. Mereka bahkan udah nganggap aku kayak anak sendiri. Dari sejak aku jadi sekretarisnya mas Prima, sampai sekarang, mereka tetap baik sama aku.”


“Syukurlah kalau begitu. Kamu juga harus baik sama mereka, ya. Anggap aja mereka sebagai gantinya Ayah dan Ibuk.”


**


**


Pagi ini, seperti yang telah di rencanakan oleh Faya dan Iwan semalam, mereka akan mengunjungi makam kedua orang tua mereka. Sebelum itu, Faya harus mengantarkan Iwan untuk mengambil pakaiannya di rumah Kirani.


Dan mereka, meminjam salah satu mobil milik Prima. awalnya Prima bersikeras ingin mengantarkan mereka. Tapi Faya menolaknya. Ia tidak enak kalau Prima terus menerus menghabiskan waktu dengannya dan mengabaikan pekerjaan kantornya. Dan pada akhirnya, Prima menyerah.


“Mas udah nemuin keluarganya Mbak Kiran?” tanya Faya memecah keheningan.


“Udah, kemarin. Dari kantor polisi kemarin, Mas langsung ke rumah mereka. Mas udah balikin Kirani sama mereka baik-baik. Sebagaimana dulu Mas minta Kirani baik-baik.”


“Mereka pasti syok banget.” Tanya Faya kembali. Ia tetap fokus mengemudikan mobil.


“Ya yang pasti, gak ada yang nyangka kalau Kirani jadi kayak gitu. Pakde sama Budenya juga kaget bukan main.” Jawab Iwan.

__ADS_1


“Jadi, sekarang Mas bener-bener udah gak ada hubungan sama mereka lagi.”


Iwan jadi terdiam. Ia melemparkan pandangannya ke luar jendela.


Mereka tidak lama mampir ke rumah Kirani, hanya sekedar mengambil pakaian dan barang-barang pribadi milik Iwan saja. Tidak banyak. Karna memang dia jarang ada di rumah. Setelah itu, mereka pergi ke taman pemakaman umum.


“Ayah sama Ibuk pasti kangen sama kita? Maaf kita baru bisa mampir sekarang.” Lirih Iwan sambil mengusap-usap nisan milik kedua orangtuanya.


“Yah, Buk. Faya kangen banget sama kalian. Sekali-kali, boleh dong jengukin Faya lewat mimpi. Biar kangen Faya sedikit terobati.”


“Yah, Buk, Faya udah mau nikah lho. Dia udah dapat cowok yang sayang banget sama dia. Orangnya baik. Tinggi, putih. Pokoknya ganteng. Namanya Prima. dia juga punya perusahaan. Orang kaya.” Iwan seolah sedang mengadu kepada manusia yang masih hidup.


“Nanti Faya ajak Mas Prima kesini buat kenalan sama Ayah sama Ibuk juga.”


Mereka berdua tau, kalau tidak mungkin apa yang mereka ucapkan itu akan di dengar oleh Ayah dan Ibu mereka. Mereka melakukan itu hanya untuk menghibur diri. Agar beban dihati mereka bisa sedikit terangkat. Setidaknya dengan bercerita begitu, kerinduan yang sudah tidak bisa di obati itu akan sedikit mereda untuk sejenak.


Rindu yang di rasakan oleh Iwan dan Faya untuk kedua orang tua mereka, sudah tidak ada obatnya. Sekalipun mereka sudah ikhlas dengan kepergian keduanya. Ikhlas itu hanya sebagai bentuk pelarian agar mereka bisa melanjutkan hidup kembali. Sungguh, mereka sedang dipaksa untuk menahan rindu.


Mereka ikhlas, tapi mereka rindu.


Setelah membacakan serentetan doa untuk kedua orangtuanya, Iwan mengajak Faya untuk kembali. Karna hari sudah lumayan siang. Dan Faya harus mempersiapkan untuk bekerja besok.


“Dek, yuk pulang. Udah mendung. Nanti hujan, macet.”


Faya mengangguk. Ia kembali mengelusi nisan kedua orangtuanya sebelum beranjak dari sana. Ia mengusap wajahnya kemudian pamit untuk pulang.


Dan sepanjang perjalanan pulang, tidak ada yang bicara. Kakak beradik itu sedang menyelami kerinduan masing-masing kepada kedua orangtua mereka. Mengenang setiap hal yang masih tersimpan rapi di ingatan. Berharap itu mampu mengurangi rindu walau sedikit saja.


“Kalau Ayah sama Ibuk masih hidup, hidup kita mungkin gak kayak gini ya, Mas.” Entah, kenapa Faya seolah tidak rela dengan kehilangan itu.


“Stttt.  Jangan begitu. Kita udah berhasil sampai seperti sekarang ini. Jadi jangan membenci takdir, Fay. Ayah sama Ibuk juga pasti bangga sama kita. Sama kamu. Kamu udah berhasil bertahan sampai sekarang.”


“Aku kangen sama mereka, Mas.” Air mata Faya kembali tumpah. Berderai membasahi pipi mulusnya.


Iwan hanya mengelus-elus punggung adiknya untuk menenangkannya. Dia juga rindu. Tapi bukan berarti dia harus menyalahkan takdir. Seperti biasa, yang bisa dia lakukan hanya memaksa hatinya untuk ikhlas.

__ADS_1


__ADS_2