One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 57. Judulnya Hari Ini Adalah, Pengganggu.


__ADS_3

Obrolan antara Faya, Soraya, dan juga Harvey terhenti saat mendengar bunyi password di pintu rumah Faya. Ketiganya kompak melihat ke arah pintu. Penasaran siapa yang datang.


Prima semangat sekali masuk ke dalam rumah Faya. Berhubung  password rumah mereka sama, jadi ia langsung saja menekannya. Terkesan tidak sopan sih, tapi ia khawatir dengan keadaan Faya. Rasanya tidak tega untuk membuat Faya membukakan pintu untuknya. Pun ia sudah tidak sabar ingin menjelaskan semuanya kepada Faya.


Namun, wajah sumringah Prima berubah masam saat melihat seorang pria yang duduk di sebelah Faya. Siapa lagi kalau bukan Harvey.


“Pak Prima?” Soraya menatap bosnya itu sumringah. Wanita itu mengembangkan senyuman ramah yang ia tujukan kepada bosnya itu.


“Kalian di sini?” tanya Prima. seketika suasana hatinya berubah kesal.


“Bapak kok udah pulang?” tanya Faya.


“Kenapa? Takut aku ganggu kalian?” ketus Prima. ia berjalan ke arah sofa kemudian memaksa Faya untuk menggeser dan ia duduk di pinggir di sebelah Faya.


“Bukan gitu, Pak.”


“Pak Prima dari mana?” tanya Soraya mengalihkan pembicaraan.


“Dari luar. Kamu udah lama?”


“Lumayan, Pak.”


Prima melirik ke arah Harvey yang bersikap seperti biasa.


Selanjutnya, mereka mengobrol ringan perihal apa saja yang  bisa di obrolkan. Jauh dari pembahasan seputar pekerjaan.


Sebenarnya, yang lebih banyak mengobrol itu Harvey, Faya, dan Soraya. Sedangkan Prima, merasa asing karna tidak mengerti apa yang sedang mereka bertiga bicarakan. Jadi dia lebih banyak diam dan memperhatikan saja.


Tapi dalam diamnya itu, Prima tak pernah lepas dari memperhatikan Faya. Mulutnya akan berkomat-kamit memperagakan ucapan Harvey yang berhasil membuat lelucon hingga Faya dan Soraya tertawa. Sungguh, dia sebal sekali dengan pria itu.


Entah sadar atau tidak, Prima terus mengganggu saat Harvey terlihat begitu dekat dan akrab dengan Faya. Entah itu dia tiba-tiba menelusup duduk di antara keduanya. Atau menghalangi Harvey yang ingin memberi perhatian kepada Faya. Pokoknya judul Prima hari ini adalah, pengganggu.


Dan, tingkahnya itu juga tak lepas dari perhatian Soraya. Ia merasa sikap Prima terhadap Faya sangat berbeda dalam pandangannya.


Saat sore tiba, Dokter Romi kembali datang untuk memeriksa kondisi Faya. Ia yakin keadaan Faya sudah jauh lebih baik, jadi ia melepaskan infusnya dan mengingatkan Faya untuk banyak istirahat selama tiga hari ke depan.

__ADS_1


“Kalau gitu, aku pamit dulu.” Ujar Dokter Romi kepada Prima.


“Makasih, Romi.”


Dokter Romi hanya mengangguk saja sebagai jawabannya.


Setelah Dokter Romi pulang, Prima memesan banyak makanan malam untuk mereka. Ada ayam goreng, dan beberapa menu berkuah. Meja makan Faya sampai penuh di buatnya.


Bukan hanya Prima. Harvey juga memesan makanan untuk mereka. Tak kalah banyak dan enak.


Faya duduk di sebelah Soraya. Sementara Prima duduk bersebelahan dengan Harvey. Mereka mengepung meja ruang tamu yang di sulap menjadi meja makan sementara.


“Waaah. Untung ada Pak Prima. jadi malam ini kita bisa makan enak.” Celetuk Soraya merasa tidak sabar untuk mencicipi. Ia bahkan menggesek-gesekkan kedua tangannya antusias.


Makan malam itu berlangsung dengan beberapa keributan kecil. Terlebih kedua pria itu terus saja berebutan untuk mengambilkan Faya Makanan. Seolah sedang brelomba untuk menarik perhatian Faya. Mereka tidak tau, kalau sikap mereka itu membuat Faya merasa risih dan tidak enak hati, juga canggung kepada Soraya.


“Ini, makan ini. Biar tenagamu cepet pulih.” Paksa Prima dengan menyendokkan tumis bayam saus tiram dan meletakkan ke piring Faya.


“Ini juga. Ini baik buat kesehatan kamu.” Tak mau kalah, Harvey menyendokkan beberapa iris rendang hati sapi.


“Ini, kerang. Juga baik buat mulihin tenagamu.” Prima menyendokkan kerang balado ke piring Faya.


“Ini juga.” Dan sesendok sup buntut mendarat di piring Faya dari Harvey.


Sementara Faya, hanya ternganga saja melihat piringnya yang sudah penuh dengan lauk. Tingkah dua pria itu yang menurutnya sangat berlebihan.


Tak hanya Faya, Soraya juga tak kalah melongonya melihat dua pria itu berebut perhatian kepada Faya.


“Makanan sebanyak ini siapa yang mau ngabisin? Kenapa pesen makanan banyak banget. Sementara kita Cuma berempat.” Protes Faya.


“Gak apa-apa, Fay. Kapan lagi kita bisa makan enak begini. Pokoknya malam ini, kita puas-puasin makan sampai kenyang.” Seloroh Soraya.


“Sampai kenyang juga ini makanan masih sisa banyak, Mbak.”


“Ya kalau sisa, kita tinggal suruh mereka yang habisin. Kan mereka  yang udah pesen.” Jawab Soraya gampang.

__ADS_1


“Awas aja kalau sampai ini makanan gak di habisin. Pokoknya, Pak Prima dan Harvey, harus habisin makanan ini.” Ujar Faya dengan memancarkan aura mengancam.


“Tenang aja. ini Cuma sedikit. Gampang kalau ngabisin makanan begini, mah.” Harvey santai sekali menjawab.


“Udah. Kamu buruan makan. Biar cepet sembuh. Cepet kerja lagi.”


Hah. Prima. selalu menyelipkan perhatiannya di sela-sela istilah pekerjaan. Ia terlalu gengsi untuk menunjukkan kalau ia memang begitu perhatian kepada Faya. Gengsinya terlalu tinggi.


Faya memaksa diri untuk mengunyah makanan. Sementara nafsu makannya belum kembali sepenuhnya. Ia ingin cepat sembuh. Tidak enak rasanya sakit begini.


Dan dua pria itu, tengah berusah payah untuk menghabiskan makanan. Sesuai dengan ancaman Faya. Walaupun masih ada beberapa makanan kering yang ternyata tak sanggup mereka habiskan. Sementara Faya dan Soraya sudah selesai makan sejak tadi.


“Hah. gak sanggup aku. Di simpan aja di kulkas, Fay. Buat cemilan kalian nanti  malam.” Ujar Prima tanpa merasa bersalah dengan tatapan tajam dari Faya. Ia menjauhkan kotak ayam goreng dari hadapannya.


Faya kesal. Bukan dia tidak berterimakasih sudah di perhatikan sedemikian rupa. Tapi kan, sayang kalau makanan itu tersisa banyak seperti itu. Mubazir.


“Gak apa-ap, Fay. Nanti aku makan buat camilan.” Ujar Soraya. Ia mengerti kekhawatiran Faya. Karna ia sudah mengenal gadis itu dan sudah faham sifatnya.


Kehidupan Faya yang serba pas-pasan. Bahkan bisa di bilang kurang. Membuat Faya sangat berhati-hati dalam perihal makanan. Gadis itu, tak mau menyia-nyiakan makanan yang ada atau bahkan sampai terbuang. Faya pernah bilang, kalau hatinya sakit melihat makanan yang terbuang tanpa di habiskan.


Prima dan Harvey kompak l perut mereka yang terasa begah karna memaksa diri menelan makanan. Badan mereka condong ke belakang dengan satu tangan bertumpu ke belakang untuk menahan.


Sedangkan Faya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja sambil mulai membereskan meja.


“Biar aku aja, Fay. Kamu duduk aja.” tawar Soraya mengambil alih pekerjaan.


Tidak ada yang menyadari, kalau hari ini, wajah Soraya selalu bersemu merah. Gadis itu selalu mencuri pandang kepada Prima. dan ia akan tersenyum samar saat tak sengaja Prima juga menatapnya.


Ya, Sora memang sudah lama menaruh hati kepada bosnya itu. Dia tipe gadis pemalu saat berhadapan dengan pria yang dia suka. Jadi dia hanya bisa mengagumi Prima diam-diam tanpa ada seorangpun yang tau.




yaaah, prima keburu kesel, sampai lupa mau jelasin niat awal. hehehe.

__ADS_1


__ADS_2