
Prima benar-benar sedang butuh asupan semangat dari Faya. walaupun ia nampak biasa saja, tapi dalam hati khawatir luar biasa. Sepanjang perjalanan ia tidak mau melepaskan tangannya dari Faya. baru setelah mobil berhenti ia melepaskan tangannya. Itu juga karna terpaksa mungkin.
Pukul 10 rombongan Prima sudah sampai di rumah sakit. Pras langsung menuntun mereka ke ruangan para korban di rawat. Di sana, ia menyampaikan penyesalan atas tragedi yang terjadi. Ia juga menyampaikan kalau semua biaya pengobatan akan di tanggung oleh perusahaan.
Lama Prima menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan korban dan keluarganya. Sampai jam makan siang. Faya dan yang lainnya setia menemani. Prima menyerahkan sisa urusannya kepada Pras. Sementara ia dan tim Pak Teguh harus pergi ke lokasi meninjau tempat kejadian.
Sebelum melanjutkan meninjau villa, mereka menyempatkan diri mampir di sebuah restoran untuk makan siang. Setelah itu baru kembali melanjutkan perjalanan.
Kedaan villa benar-benar berantakan. Bangunan itu kini rata dengan tanah. Di lihat secara kasat mata saja kerugian yang di timbulkan pastilah sangat besar. Tapi itu tidak seberapa. Prima tetap merasa lega karna tidak ada korban jiwa.
“Ini di luar normal, Pak. Kami akan menyelidiki lebih lanjut lagi.” Janji Pak Teguh.
“Fay, hubungi kontraktor. Aku mau ketemu mereka sekarang.”
“Baik, Pak.”
Faya mengurus jadwal pertemuan Prima dengan kontraktor. Tidak butuh waktu lama, karna para penanggung jawab proyek itu segera datang tidak sampai satu jam kemudian.
Disana, Prima benar-benar meluapkan kemarahannya. Dia bahkan mengancam akan memutus hubungan kerjasama mereka. Dari percakapan yang berlangsung alot itu, Prima bisa menebak kalau mereka memang sedang menyembunyikan sesuatu. Mereka tidak mau transparan kepada Prima.
Urusan itu selebihnya ia serahkan kepada Pak Teguh dan tim. Kalau nanti di temukan kecurangan dalam prosesnya, mereka akan menuntut ganti rugi kepada pihak kontraktor itu. Ancaman Prima itu membuat mereka ketar-ketir. Sepertinya memang benar ada yang di sembunyikan.
Pukul 6 waktu setempat, Prima dan Faya baru kembali ke hotel setelah seharian berkeliling mengurusi masalah villa. Wajah Prima benar-benar terlihat sangat lelah sekali. Faya sampai tidak tega melihatnya.
Dan hal ini berlangsung selama 4 hari berturut-turut. Prima benar-benar ikut andil dalam setiap prosesnya. Ia tidak ingin terlihat sebagai atasan yang lalai membiarkan anak buahnya mengurusi sendiri musibah ini. Yang paling menjadi perhatiannya adalah kesembuhan para korban.
Selama 4 hari Prima pasti akan menjenguk mereka. Membawakan makanan dan buah-buahan untuk korban dan keluarganya. Tak lupa juga dia mewanti-wanti tim dokter agar memberikan perawatan terbaik kepada mereka. Ia tidak peduli berapa biaya yang akan di gelontorkan untuk ini. Dia hanya ingin mereka sembuh seperti sedia kala. Dia hanya ingin tidak ada yang merasa di rugikan atas kejadian ini. Biarlah kerugian akan di tanggung oleh perusahannya.
__ADS_1
Sore ini, Prima langsung melemparkan tubuhnya ke atas ranjang begitu saja setelah pulang bekerja. Ia memejamkan mata sebentar untuk mengusir rasa lelahnya.
Cup.
Faya menghadiahi sebuah kecupan di pipi kekasihnya itu.
“Kamu udah bekerja keras, Mas. Kamu hebat.” Ujar Faya lagi.
Dan karna ulahnya itu, Prima jadi terpancing. Ia menarik lengan Faya sampai gadis itu terjatuh di atas tubuhnya. Tentu saja Faya terkejut. Tapi ia tidak memberontak untuk melepaskan diri.
Prima mengalihkan tubuhnya menjadi menyamping. Kini tubuh Faya sempurna tenggelam di dalam dekapannya. Wajahnya tepat di bawah dagu Prima hingga gadis itu puas memandangi jakun Prima yang naik turun.
“Mas, kalau capek istirahat aja. yang bener tidurnya.” Ujar Faya kembali. Ia bahkan tidak berani berkutik karna Prima nampak tenang memeluknya.
“Bentar lagi. Aku masih mau nambah energi dulu.” Gumam Prima.
Lama-kelamaan, nafas Prima terdengar teratur. Sementara tubuh Faya sudah terasa pegal dan kesemutan. Karna sudah beberapa waktu mereka berada di posisi itu.
Siapa bilang tidur sambil berpelukan itu romantis? Sama sekali tidak. Romantis hanya berlaku di menit pertama saja. Setelahnya, romantis berganti dengan rasa pegal dan kesemutan di sekujur tubuh. Ini sangatlah tidak nyaman.
Perlahan Faya melepaskan diri dari pelukan Prima. Ia merubah posisi Prima agar pria itu nyaman dalam tidurnya. Ia juga melepaskan sepatu Prima dengan hati-hati. Kemudian ia menyelimuti tubuh kekasihnya itu sampai batas dada.
Setelah itu Faya membereskan berkas-berkas yang masih berserak di atas meja. Entah kenapa ia seperti ikut merasakan kesusahan yang sedang di rasakan oleh Prima. Sepanjang dia bekerja untuk Prima, baru kali ini ia melihat Prima seperti ini. Nampak sangat menguras tenaga dan fikirannya.
Setelah memastikan pekerjaannya selesai, ia keluar dari kamar Prima untuk kembali ke kamarnya. Mandi dan beristirahat sebentar. Ia baru terbangun pukul 9 malam ketika ponselnya berbunyi. Dengan sura parau ia mengangkat telfon itu.
“Sayang? Kamu dimana?” terdengar suara Prima dari seberang.
__ADS_1
“Di kamarku. Kenapa, Mas?”
“Aduh, ini gimana, ini. Cepetan kesini sekarang. Penting!” pekik Prima terdengar panik. Membuat Faya juga ikut panik. Seketika kesadarannya di paksa kembali. Apalagi ketika ia menghubungi ponsel Prima kembali, ponsel pria itu tidak aktif. Membuat jantung Faya menjadi was-was.
Faya segera bangun dan langsung berlari tergopoh-gopoh. Ia bahkan tidak sabar untuk menunggu pintu lift terbuka. Jadilah dia langsung menaiki tangga darurat demi bisa cepat sampai di kamar Prima.
“Mas?!” pekik Faya begitu ia berhasil masuk ke dalam kamar Prima. Sunyi.
Namun yang membuat Faya merasa heran adalah, kamar itu sudah berubah. Ia sempat berfikir kalau ia sudah salah kamar. Tapi tidak, ia yakin sudah masuk ke dalam kamar yang benar.
Taburan kelopak bunga mawar terbentang membentuk jalan dari pintu masuk menuju ke arah dalam. Di sisi kiri dan kanan juga terdapat lilin-lilin kecil yang di atur sedemikian rupa.
Melihat pemandangan aneh itu, tanpa sadar langkah kaki Faya berjalan menyusuri bunga itu hingga ke dalam. Sesampainya di dalam, ia bisa melihat sosok Prima yang berdiri di ujung untaian bunga yang berbentuk hati. Pria itu mengenakan setelah jas lengkap seperti akan pergi meeting penting. Tangan kiri Prima memegang dua balon berbentuk hati berwarna peach dan merah. Dan di belakang pria itu, nampak sebuah rangkaian huruf juga dengan menggunakan bunga mawar yang indah.
Selamat Ulang Tahun Calon Istri.
Faya sontak menutup mulutnya dengan tangan. Di balik tangan, mulutnya sempurna ternganga akibat apa yang terjadi di hadapannya ini.
Ya, hari ini adalah hari ulang tahun Faya. Ia bahkan lupa dengan hari ulang tahunnya sendiri. karna memang sejak lama ia sudah tidak pernah merayakan ulang tahunnya lagi. Sampai lupa.
selamat hari raya idul fitri ya warga. otor minta maaf jikalau ada salah kata yang menyinggung kalian dalam berinteraksi yaaa... selamat liburan...
eits. jejaknya jangan lupa.
__ADS_1