One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 97. Tidak Baik Terburu-Buru.


__ADS_3

Sejak pagi buta, Faya sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Sebenarnya hatinya mengganjal. Membayangkan perlakuan seperti apa yang akan ia terima nanti saat di kantor. Atau tatapan menghakimi itu apa masih tertuju padanya. Memikirkan itu, membuat langkahnya menjadi maju mundur.


Pukul 06.30. masih terlalu pagi untuk pergi ke kantor. Ia memilih untuk bersiap-siap saja karna sejak terbangun


pukul 3 dini hari tadi ia tidak bisa tertidur lagi. Ia kefikiran tentang iwan yang sudah kembali bekerja kemarin. Masih belum yakin sepenuhnya kalau kakaknya itu baik-baik saja. Soalnya selama dua malam menginap di rumah Faya, iwan terlihat kesulitan untuk tidur.


Setelah merasa penampilannya tidak ada yang memalukan, ia menyambar tasnya kemudian keluar dari rumahnya. Ia menekan tombol pass di apartemen Prima dan langsung masuk begitu saja. Ia mengedarkan pandangannya namun keadaan apartemen itu masih sunyi. Sepertinya Prima masih di buai mimpi.


“Mas?!” panggil Faya. Tidak ada sahutan. Ia mencoba mengintip ke kamar. Prima tidak ada di tempat tidurnya. Namun terdengar suara air di kamar mandi. Ternyata Prima sedang mandi.


“Mas? Lagi mandi?” tanya Faya tepat di depan pintu kamar mandi Prima.


“Iya, sayang. Bentar ya.” Sahut Prima dari dalam.


Faya berjalan ke arah walk in closet untuk mencarikan pakaian untuk Prima. Ah, sudah lama sekali dia tidak masuk ke sini. Kembali melakukan aktifitas sebagai sekretaris Prima seperti ini, seperti membuatnya kembali ke masa-masa rumit dulu. Masa-masa dimana ia harus menebalkan hati menghadapi dan melayani Prima selaku bosnya.


Faya memilihkan kaus polo berwarna putih dan celana pendek berwarna krim. Ia juga menyiapkan set pakaian da lamnya sekaligus. Sudah biasa, jadi tidak canggung lagi.


Melakukan itu Faya jadi teringat saat dulu ia pertama kali menyiapkan perlengkapan Prima seperti itu. Ia menahan wajahnya yang memerah karna malu sendiri saat mengambil dalaman dari dalam laci. Geli, jijik, plus malu bercampur jadi satu. Tapi lama kelamaan dia bisa mengatasinya.


“Pakai kemeja aja, Fay.” Suara Prima itu mengejutkan Faya. Sontak saja ia menoleh ke belakang. Namun beberapa detik kemudian ia kembali membalikkan tubuhnya membelakangi Prima. Pria itu, hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Membuat dada bidangnya sempurna terekspos.


“Kenapa begitu? Kayak baru pertama ngelihat aja.” sindir Prima. memang benar. Faya bukan hanya sekali ini melihat dada Prima yang terekspos. Selama menjadi sekretarisnya, ia sudah sering melihat dada Prima. Tapi dulu rasanya biasa saja. Kok sekarang beda, ya?


“Tumben mau pakai kemeja?”


“Kan ada rapat sama bapak pejabat. Ya kali aku pakai kaus.”


“Oh iya, aku lupa.” Padahal, semalam Surya sudah mengirimkan jadwal Prima lewat e-mail padanya.


Faya mengembalikan kaus dan celana yang sudah ia ambil sebelumnya. Kemudian memilihkan kemeja untuk kekasihnya itu.

__ADS_1


Jantung Faya hampir saja lepas saat tiba-tiba dada polos Prima menempel di punggungnya. Ada sensasi semilir dingin yang berhembus di tengkuknya. Bulu kuduknya sudah berdiri sempurna.


“Bisa gak sih, kita langsung nikah aja pagi ini. Aku gak sanggup nahan lama-lama, Fay.” Rengek Prima dengan sudah melingkarkan lengannya di perut kekasihnya.


“Mas, lepasin, ih.” Faya berusaha melepaskan diri. Tapi yang ada Prima justru semakin erat memeluknya.


“Pak Prima, tolong jaga sikapnya ya. Saya lagi kerja lho ini. Nanti saya bilangin sama pacarnya baru tau.” Seloroh Faya.


“Hehehehehhee. Bilangin aja. Aku gak takut.” Jawab Prima santai. Namun ia segera melepaskan pelukannya.


Faya berbalik. Menatap netra kekasihnya itu dalam. “Sabar. Gak baik terburu-buru. Sekarang buruan pakai baju. Nanti aku yang hilaf. Hehehehhe.” Faya meletakkan kemeja dan celana ke atas sofa kemudian keluar dari dalam sana. Ia menunggu di ruang tamu sambil mempelajari ulang jadwal Prima hari ini.


Lima belas menit kemudian, Prima sudah siap dengan setelan formalnya. Ia berjalan dengan gagahnya keluar dari kamar dan menghampiri Faya.


“Udah, yuk.”


“Gak sarapan dulu?”


“Belum lapar. Nanti aja di kantor. Jam berapa rapatnya?”


“Kamu udah sarapan?”


Faya menggeleng. “Belum laper juga. Hehe.” Ia berdiri dan merapikan dasi Prima. sementara pria itu menatapnya lekat dari jarak beberapa centi meter.


Entahlah, fikiran Faya terlalu kalut sehingga mengubur rasa laparnya seketika. Dan hal itu jelas tergambar di wajahnya.


“Jangan khawatir, semua bakalan baik-baik aja.” Prima mencoba memberi semangat. Dan Faya hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Mencoba menekan rasa tidak nyaman yang teguh bersarang di hatinya.


Setelah memastikan semua aman, keduanya lantas turun menuju tempat parkir basement.


“Bapak mau ngapain?” tanya Faya begitu melihat Prima sudah duduk manis di balik kemudi.

__ADS_1


“Ya mau ke kantor. Kenapa kamu manggil ‘Pak’, Fay?


“Keluar.” Desak Faya menarik lengan Prima untuk keluar dari dalam mobil. “Ya kali Bapak mau nyupirin saya ke kantor? Kan Bapak bosnya? Sekarang, saya adalah sekretaris Bapak. Kalau di luar jam kantor, baru, saya adalah calon istrinya Mas Prima.”


“Oooh. Jadi peran ganda, gitu?”


“Hehehhehe.” Faya membukakan pintu belakang untuk Prima kemudian ia duduk manis di balik kemudi. Setelah itu ia mulai menjalankan mobil menuju ke kantor.


Lima belas menit pertama perjalanan, Prima sudah gasrak gusruk gelisah di belakang. Berkali-kali ia mendekatkan wajahnya kepada Faya yang sedang fokus mengemudi.


“Pak, tolong duduk manis aja di belakang. Bahaya.”


“Gak seru di belakang sendirian, Fay. Pengen duduk di depan deket kamu. Ya?” pinta Prima setengah merengek.


“Pak, inget, sekarang Bapak ini bos saya. Duduk aja yang manis di situ.”


“Ck.” Prima mendengsu dan merengut seperti anak kecil. Namun kemudian ia tersenyum penuh arti kepada ‘sekretaris’nya itu. walaupaun Faya tentu tidak melihatnya.


“Nanti di kantor pasti heboh.” Gumam Faya.


“Udah, gak usah di fikirin, ah. Fokus aja. Untuk sementara tutup rapat telinga. Gak usah denger apapun yang orang bilang sama kamu.” Ujar Prima sambil mengeluarkan ponsel dari dalam jasnya. Ia menghubungi seseorang.


“Gimana Sur?”


‘Udah beres Pak.’


“Oke. Bagus. Makasih, Sur.”


‘Sama-sama, Pak.’


Faya hanya melirik penasaran lewat kaca spion. Entah apa yang sedang di perintahkan Prima kepada Surya. Yang jelas, setelah mematikan ponsel Prima nampak tersenyum sumringah padanya lewat kaca spion. Tapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Kembali memfokuskan diri ke jalan raya.

__ADS_1


“Jangan khawatir. Gak akan terjadi apa-apa di kantor. Aku janji.” Bisik Prima tepat di telinga Faya.


Walaupun penasaran, namun Faya memilih untuk mempercayai Prima saja. Daripada jantungnya yang kalang kabut sendiri memikirkan kemungkinan­-kemungkinan yang bahkan belum terjadi. Mencoba fokus pada pekerjaan itu lebih baik daripada memikirkan tentang apa yang akan mereka bicarakan tentang dirinya. Hal yang pasti, kalau orang-orang di kantor pasti masih membicarakan dirinya. Apalagi setelah ia kembali bekerja lagi.


__ADS_2