
Matahari sudah terbit sejak tadi. Bahkan di luar, hari sudah terang benderang. Menyambut penduduk bumi dengan semangat.
Namun, semangat itu tidak di rasakan oleh Faya dan Prima. Semalaman keduanya tidak bisa memejamkan mata barang sedetikpun. Hati mereka terlalu gembira untuk di ajak beristirahat. Jadilah mereka tidak tidur semalaman suntuk.
Tok, tok, tok.
“Fay?!” panggil Prima dengan suaranya yang lemah.
Faya menyeret kakinya untuk membuka pintu. Wajah Prima nampak sangat lelah. Kelopak mata yang sayu dan nampak lusuh.
“Bapak kenapa? Kok mukanya begitu?” tanya Faya. Tidak sadar kalau wajahnya sendiripun seperti itu.
“Kamu juga, kenapa mukamu begitu?”
“Gak bisa tidur.” Jujur Faya.
“Sama.”
Prima terkekeh kecil kemudian langsung masuk ke dalam kamar. Ia duduk di sofa dan menepuk sofa itu meminta Faya duduk di sampingnya
Faya menurut. Ia duduk di sebelah Prima.
Hal yang tidak Faya duga, Prima menarik kepalanya hingga sempurna menyender di dada bidang pria itu. Aroma maskulin langsung menyeruak memenuhi rongga hidung Faya.
“Barang-barangmu udah di rapiin?” tanya Prima.
Faya mengangguk. Entah kenapa dada dan aroma Prima seolah memanggil rasa kantuknya untuk datang. Dan tidak butuh waktu lama, Faya sudah terlelap di dada Prima. Sungguh di luar dugaan.
“Fay, sarapan yuk. Bentar lagi jemputan datang.” Bahkan ajakan Prima itu sudah tidak di respon oleh Faya. Gadis itu benar-benar terlelap.
Tidak mendapat respon dari Faya, Prima melihat kepada gadis itu. ia tersenyum ketika mengetahui kalau ternyata Faya sudah tidur. Ia kemudian menyandarkan pipinya di puncak kepala Faya dan mulai terlelap juga.
Prima tersentak saat mendengar ponselnya berbunyi. Ia segera mengangkatnya dengan suara bisik-bisik. Takut membangunkan Faya.
__ADS_1
“Tunggu sejam lagi. Aku masih ngantuk.” Ujarnya kepada si penelfon. Setelah itu ia langsung menutup sambungan telfon itu begitu saja.
Faya menggeliat. Ia merasa terganggu oleh suara Prima meskipun sudah bisik-bisik. Di tambah posisi tidurnya itu sangat tidak nyaman hingga membuat punggungnya pegal.
“Siapa, Pak?” lirih Faya sambil menarik diri dari dada Prima.
“Surya. Kamu kebangun gara-gara aku, ya?”
Faya menggeleng. “Pinggangku sakit. Kenapa Pak Surya nelfon?”
“Dia udah datang buat jemput kita.”
“Ya udah, aku mandi dulu. Bapak juga, mandi sana.” Usir Faya terangan-terangan. Ia berdiri dan hendak pergi ke kamar mandi. Namun, Prima menarik pergelangan tangannya hingga tubuh Faya kembali terhuyung dan justru mendarat di pangkuan Prima.
“Gak mau, panggilannya di rubah dulu. Jangan Bapak, Bapak. Aku kan pacar kamu, bukan Bapak kamu. Paman Ariga noh, baru panggil Bapak.”
“Pacar?” lirih Faya. Mendengar kata itu membuat tubuhnya merinding disko.
“Kan dari semalem kita udah jadian. Kamu ikut aku pulang, berarti kita resmi jadian. Hehehehe.” Prima membelai wajah Faya lembut. Ada hasrat yang muncul bersamaan dengan sentuhannya itu.
“Mas buruan mandi! Atau aku gak jadi ikut pulang!” ancam Faya dari dalam kamar mandi.
Prima terkekeh senang. Mendengar panggilannya berubah menjadi ‘Mas’, membuat hati Prima di penuhi oleh padang bunga warna warni.
“Oke, sayang!” balas Prima. Kemudian dia keluar dari kamar Faya dengan senyuman yang super lebar.
Sudah, Faya meleyot di kamar mandi. Tidak menyangka kalau akhirnya ia kalah juga. Tidak menyangka kalau ia memanggil Prima dengan sebutan ‘Mas’. Ya ampun. Menggelikan sekali.
Tapi, di samping menggelikan, juga ada debaran yang terus saja berkembang.
Mereka ini. Benar-benar seperti anak remaja yang baru merasakan jatuh cinta saja. Padahal ini bukan yang pertama kali untuk keduanya.
Faya baru saja selesai mengikat rambutnya setelah selesai mandi dan berpakaian. Ia langsung menoleh saat tiba-tiba pintu kamarnya di buka begitu saja tanpa di ketuk lebih dulu. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Prima. mentang-mentang sudah pacaran, main selonong seenaknya saja.
__ADS_1
“Ih, gak pakai ketuk dulu. Kaget tau.” Dengus Faya.
Cara Faya berucap, menandakan kalau jarak antara mereka sudah terkikis. Tidak ada lagi kecanggungan yang terasa di sekitar mereka.
“Hehehe. Duh, cantiknya pacar aku.” Puji Prima. Dia tidak sedang berbohong atau menggombal. Di matanya, kali ini memang Faya terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Padahal, Faya hanya berdandan seperti biasa saja.
Ya, namanya juga mata jatiuh cinta. Mungkin kalau wajah Faya mengsol juga tetep kelihatan cantik bagi Prima.
“Ini barangmu?” tanya Prima menunjuk koper di samping pintu. Faya mengangguk menyahuti.
Prima menarik koper itu dan membawanya keluar kamar. Ia memberikannya kepada seseorang.
“Tolong bawakan ini sekalian ya, Sur.” Pinta Prima kepada Surya yang dengan kesabaran ekstra harus menunggui duo sejoli yang sedang kasmaran itu. Surya adalah asisten kepercayaan Ariga. Dia juga yang mengurusi kedatangan Prima di sini kemarin.
“Baik, Pak.”
Setelah yakin kalau penampilannya tidak ada yang salah, Faya keluar dengan menenteng tas kecilnya. Sementara Prima menyambutnya dengan uluran tangan. Faya mengerti maksudnya dan segera menyambut. Jadilah mereka berjalan dengan saling menggenggam tangan satu sama lain.
Sesampainya di landasan helikopter, Prima dan Faya segera naik dan helikopterpun segera lepas landas.
Faya tidak heran ataupun bertanya-tanya. Karna ia sudah bisa menduganya. Satu-satunya cara mereka keluar dari kapal ini adalah dengan menggunakan helikopter. Karna posisi kapal masih di tengah laut, bukan sedang sandar di pelabuhan. Lagipula, Faya juga sudah beberapa kali naik helikopter milik FD Corp itu. kalau dulu untuk urusan pekerjaan, kali ini untuk urusan pribadi.
Bahkan sepanjang penerbangan, Prima tak mau melepaskan genggaman tangannya dari Faya. Seolah ia takut kalau gadis itu akan pergi lagi dari sisinya. Padahal, Faya sudah mengkonfirmasi perasaannya lewat ciumannya semalam. Apalagi yang di ragukan oleh Prima?
Benar kata orang. Kehilangan adalah cara paling ampuh untuk menyadarkan orang. Dan Prima sudah mengalami kehilangan yang begitu sakit. Sakit karna kehilangan itu di akibatkan oleh dirinya sendiri. jadi wajar, jika perasaan takut di tinggal kembali selalu menggelayut di hatinya. Ia benar-benar sudah belajar dari sakit dan penyesalannya.
Kalau Prima asyik dengan ketakutannya, Faya berbeda. Ia asyik dalam kekalutannya. Kembalinya ia pasti akan menimbulkan berbagai perspektif lagi di lingkungan kerja mereka. Entah bagaimana nanti ia menghadapi mereka yang sudah mencemoohnya kemarin. Walaupun Prima berkata akan membantunya, tapi tetap, rasa cemas itu masih ada di dalam hatinya.
Seringkali, apa yang telah di di rencanakan tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Dan lagi, mereka sudah terlanjur berfikiran buruk mengenai Faya. Dan keburukan itu, akan terus melekat padanya. Terlepas dia bersalah atau tidak. Begitulah cara sosial bekerja. Entah siapa yang harus di salahkan dari fenomena ini.
__ADS_1
sorry warga updatenya malam. antisipasi aja, barang kali ada yang geter-geter di dua episode ini. ahahhahahahaha. biar gak batal puasanya.