
“Kenapa? Kamu udah gak mau kerja sama aku lagi? Udah bosan kerja sama aku?”
“Eh, bukan gitu Pak. Bapak udah kerja seharian lho. Emangnya gak capek? Bapak kan juga harus istirahat.” Faya menyelipkan rayuannya. Bukan apa, ini sudah malam dan sebagian besar karyawan pasti sudah pulang.
Tapi dasar Prima sudah tau niat sebenarnya Faya yang akan bertemu dengan Harvey. Jadi ia membuat alasan tak jelas begitu.
Saat mereka sudah di dalam mobil, Faya tak lantas melajukan mobilnya. Ia sangat berharap Prima akan mengubah perintahnya. Tapi tidak. Prima tetap pada keputusannya.
“Jalan, Fay.” Perintah Prima dengan suara baritonnya.
“Iya, Pak.” Tak bisa berkutik, Faya akhirnya melajukan mobil kembali menuju ke kantor.
Benar saja. Gedung kantor sudah dalam keadaan sepi. Hanya ada beberapa karyawan yang masih tinggal karna pekerjaannya belum selesai.
Bahkan security sampai menatap terheran-heran kepada Prima yang melenggang santai masuk ke dalam kantor. Security itu menatap Faya dengan tatapan penuh tanya. Dan Faya, hanya bisa mengangkat bahunya sebagai jawaban.
Tentu saja mereka heran. Ini adalah kali pertamanya Prima lembur di kantor. Biasanya pria itu akan menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu dan pulang paling lambat pukul 7 malam. Tapi ini, sudah hampir jam sembilan malam dan Prima malah kembali ke kantor? Tentu saja mereka menggeleng heran.
Kalau Faya bukan heran. Ia lebih merasa kesal daripada heran. Padahal ia sudah berjanji kepada Harvey. Temannya itu pasti masih menunggu di rumahnya. Ada perasaan tak enak hati kepada Harvey. Baru semalam pria itu menyatakan perasaannya. Dan malam ini, Faya terkesan menghindar akibat rencana dadakan Prima yang tak terduga.
Sambil berjalan, Faya mengirimkan pesan singkat kepada Harvey.
‘Harv, maaf. Kayaknya aku gak bisa pulang cepat. Pak Prima masih banyak pekerjaan dan aku harus membantunya. Maaf Harv.’
Harvey yang membaca pesan itu hanya bisa tersenyum miris. Ia menduga Faya sedang menghindarinya. Dan itu, pasti karna ia menyatakan perasaannya kemarin.
‘Oke. Gak masalah.’ Balas Harvey.
Tapi benar, Prima benar-benar terlarut dalam pekerjaannya. Dan Faya membantunya. Mereka berdua duduk di sofa ruangan Prima dengan saling berhadapan. Sesekali Faya melirik bosnya yang sedang nampak fokus mengerjakan pekerjaannya.
Kertas berserakan di atas meja. Dan seiring berjalannya waktu, Faya jadi ikut membantu Prima. Ya walaupun ia kesal setengah mati.
“Pak, bapak udah siap belum punya anak?”
Bruuuhhh.
Seketika Prima menyemburkan air minum yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
__ADS_1
“Oooh. Ya ampun, Pak. Jadi basah semua.” Faya gelagapan membereskan berkas-berkas dari atas meja dan memindahkannya ke sampingnya. Ya walaupun itu percuma karna beberapa kertas sudah terlanjur basah terkena semprotan dari mulut Prima.
“Uhuk! Uhuk!” Prima tersedak ludahnya sendiri.
“Bapak gak apa-apa?” tanya Faya. Ia merangsek pindah ke samping Prima dan memukul-mukul pelan punggung Prima untuk membantunya melegakan tenggorokannya.
“Kamu tanya apa tadi” tanya Prima setelah tenggorokannya kembali membaik.
Mendapat pertanyaan itu membuat Faya merona malu. Ia menundukkan wajahnya dan kembali ke tempat duduknya semula
“Jangan di anggap serius, Pak. Saya Cuma asal tanya aja kok.”
“Memangnya kenapa dengan kesiapanku punya anak?”
“Cuma tanya aja kok, Pak. Tolong jangan di anggap serius.”
“Aneh.” Dengus Prima kembali. “Kemarikan itu.” Tunjuk Prima ke arah berkas di samping Faya. Dan, mereka kembali fokus mengerjakan pekerjaan.
Malam sudah semakin larut. Namun Prima masih tak mau mengakhiri ‘gila kerjanya’ malam ini. Tidak sebelum dia yakin kalau Harvey sudah pulang dan sudah tidak menunggu Faya lagi.
Gadis itu, bahkan sudah berkali-kali menguap saking mengantuknya. Ia melirik jam tangannya, sudah lewat pukul 11 malam. Seharusnya ia sudah terlelap dan bermimpi indah di rumah. Tapi apa ini? Ia terpaksa lembur.
Faya kembali ke ruangan Prima dengan membawa dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asapnya. Meletakkan masing-masing cangkir di meja kemudian kembali sibuk membantu Prima.
Namun, sepertinya kafein tidak bisa membantu Faya untuk membuka kelopak matanya lebih lama lagi. Kepalanya sudah berkali-kali terjatuh akibat tak kuasa menahan kantuk. Dan pada akhirnya, iapun terjatuh dengan bersandar di sandaran sofa. Terlelap seketika.
“Fay, coba ambil berkas yang tadi.” Ujar Prima tanpa melihat ke lawan bicaranya.
Setelah tak mendapat apa yang ia minta, barulah ia mengangkat wajah. Dan ia melihat kalau ternyata Faya sudah tertidur dengan bersandar di sofa.
Prima menutup berkasnya dan beralih kepada Faya. Ia ingin membenahi posisi Faya agar gadis itu nyaman. Namun yang terjadi, saat Prima hendak menjatuhkan tubuh Faya untuk berbaring, tubuh Faya lebih dulu condong dan hampir jatuh. Dengan seketika Prima menahan kepala Faya dengan tangannya. Jadilah kini tangan Prima menjadi bantal untuk Faya.
Bukannya kesal, Prima justru mengulas sebuah senyuman dibibirnya. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya kepada gadis itu dan memperhatikan setiap lekuk wajah Faya dengan sangat teliti.
“Kenapa kamu gak pernah ngelihat aku sebagai pria, Fay?” desisnya lirih. “Kenapa kamu gak pernah bisa melihat perasaanku?”
Prima membelai wajah Faya dengan tangannya yang lain. Ia mengusap-usapkan jempolnya di pipi gadis itu.
__ADS_1
Faya melenguh setelah mendapatkan gangguan itu. Ia bergerak dan merasakan ada sesuatu yang mengganjal di kepalanya. Jadi, Faya membuka matanya.
Tentu saja Prima terkejut karna Faya membuka matanya tiba-tiba. Dia langsung menarik tangannya dengan kuat sampai kepala Faya terbentur ujung map keras yang ada di ujung sofa.
“Aduh!” Faya mengaduh sambil memegangi kepalanya.
Belum selesai Faya meradakan kepalanya yangtiba-tiba berdenyut, ia sudah tersadar dengan posisi Prima yang begitu dekat dengan wajahnya.
“Bapak ngapain?” pertanyaan itu meluncur begitu saja. Memandang Prima dengan tatapan heran.
“Mau ambil ini.” Ujar Prima gelagapan. Ia langsung menarik map yang tadi terbentur kepala Faya.
Kantuk Faya seketika melayang entah kemana. Ia bangun dengan masih memegangi kepalanya. Seraya netranya mengikuti punggung Prima yang kembali duduk di hadapannya.
“Ayo pulang. Aku udah ngantuk.” Ujar Prima yang langsung berdiri begitu saja dan pergi dari ruangannya.
Faya yang kesadarannya baru saja kembali, jadi gelagapan mengikuti pria itu.
“Bawa sini kunci mobilnya.” Pinta Prima kepada Faya setelah mereka sampai di basement tempat parkir.
“Kenapa, Pak?”
“Udah, sini. Mana?”
Faya heran namuan tetap memberikan kunci mobil itu kepada bosnya.
Kali ini, Prima yang akan menyetir mobil. Ia tidak tega melihat Faya menyetir dalam keadaan mengantuk begitu. Hatinya tak membiarkan.
“Tunggu apa lagi, Fay? Cepetan masuk. Udah malam lho ini.”
Faya tergagap. Ia segera membuka pintu belakang dan hendak masuk.
“Fay, aku bukan supirmu. Duduk di depan.” Terdengar perintah Prima kembali. Dan barulah Faya pindah duduk di depan. Di samping Prima.
__ADS_1
semangat puasanya besti! udah di kasih 4 episode lho hari ini. jangan lupa jejaknya juga yaaa...~~~~