One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 52. Semakin Membuat Posisinya Sulit.


__ADS_3

“Kalian ini ngapain sih?!” bentak Prima dengan suara keras. Semua orang bahkan sampai terkejut mendengarnya.


Terlebih Faya. Ia terkejut dan jantungnya hampir saja melorot dan menggelinding ke bawah meja.


“Prima?” cicit Zinnia. Tak ada yang menyangka kalau Prima akan datang.


Tatapan Prima tajam dan nyalang. Menatap marah kepada seluruh anggota keluarganya. Keningnya bahkan berkerut menandakan kalau dia benar-benar marah. Membawa Faya ke rumah tanpa merundingkan dengannya terlebih dahulu. Tentu saja dia marah.


Prima merangsek mendekati Faya dan langsung menarik lengan gadis itu.


“Ayo keluar.” Tegasnya. Ia langsung menyeret Faya begitu saja. Bahkan gadis itu tak di beri kesempatan untuk membela diri.


Sambil tanganya di seret keluar oleh Prima, Faya sempat menoleh kepada keluarga Prima dengan rasa tak enak hati. Sikap Prima ini justru menempatkan dirinya dalam posisi sulit.


“Pak, tolong lepasin. Sakit, Pak.” Mohon Faya saat mereka melewati ruang tamu. Tapi Prima tak menggubris. Ia terus menyeret tangan Faya dengan kasar dan kuat.


“Kamu ini. Udah ku bilang jangan masuk. Kenapa malah masuk?”


“Ya kan saya Cuma......”


“Masuk!” bentaknya kepada Faya menyuruh gadis itu untuk masuk ke dalam mobil. Dia menghentakkan tangan Faya begitu saja. Gadis itu bahkan tak di beri kesempatan untuk melanjutkan kalimatnya.


Tubuh Faya merinding melihat tatapan nyalang dari Prima. entah kenapa Prima semarah itu padanya. Memangnya dia sudah melakukan apa?


“Bapak kenapa?” tanya Faya yang masih berusaha bertanya dengan lembut.


“Gak usah banyak tanya. Buruan masuk!” hentak Prima kembali. Ia memegangi pintu mobil yang terbuka dan memaksa Faya masuk ke dalam mobilnya.


“Prim!” panggil Zinnia mengejar putranya itu. Bukan hanya Prima. namun semua naggota keluarganya juga kini sudah ada di dekat mereka. Menatap Prima dengan tatapan aneh.


“Mama kenapa gak bilang sama Prima dulu kalau mau nyuruh Faya ke sini?”


“Masuk dulu. Kita bicara di dalam. Gak enak di dengar tetangga.” Ren buka suara.

__ADS_1


“Gak ada yang perlu di bicarain, Pa. Aku pulang dulu.” Jawab Prima dengan dingin. Ia langsung menutup pintu mobil dengan kasar dan memutar kemudian masuk dan duduk di balik kemudi.


“Prima!” panggil Ren. Tapi teriakannya itu bahkan tak di gubris oleh putranya sendiri.


“Dasar pembangkang. Kenapa dia jadi berubah kayak gitu? Gak mau dengar orang tua bicara.”


“Sabar, Ren. Mama yakin Prima pasti punya alasan kenapa sampai dia semarah itu. Kita tunggu saja. Kalau ngelihat sifat Prima, nanti dia bakalan jelasin sendiri. kita tunggu aja.” Esta menengahi.


Sementara di mobil, Prima terus memacu mobilnya dengan kecepatan super. Faya bahkan jadi ngeri sendiri di buatnya. Menyalip-nyalip setiap kendaraan yang ada di depan mereka. Sumpah, Faya takut jika Prima akan menabrak mereka semua.


Faya memegangi sabuk pengamannya dengan sangat erat. Fikirannya sedang buruk dan melalang buana tentang kecelakan. Walaupun ia berkali-kali menepisnya, tapi tidak bisa. Bagaimana ia bisa menghilangkan fikiran buruk itu sementara cara Prima mengemudikan mobil membuatnya jantungan. Kalau bukan bosnya, mungkin Faya sudah menendang Prima dari samping sampai mencelat keluar.


Sesampainya di basement apartemen, barulah Faya bisa bernafas lega. Ia memaksa kakinya yang gemetar untuk turun dari mobil. Menyusul Prima yang sudah lebih dulu turun dan sedang berjalan menuju lift.


“Pak!” panggil Faya. Tapi Prima tak menggubris.


Untung saja Faya berhasil menyusul Prima saat pintu lift hampir tertutup.


“Bapak tiba-tiba narik saya begitu, saya yang jadi gak enak sama Bapak sama Ibuk.” Dengung Faya memberanikan diri. Jujur dia merasa heran dengan sikap Prima yang baru kali ini ia lihat.


Dan Prima masih tak menjawab kalimat Faya. Dia bahkan tak menoleh kepada gadis yang berdiri di sampingnya itu.


“Batalkan semua jadwalku hari ini. Aku udah males kerja. Mau tidur.” Ujar Prima sambil berjalan ke unit apartemen mereka.


“Lha? Hari ini ada 3 rapat penting, Pak.”


“Batalin.”


Dan Faya hanya bisa mendengus pelan sambil menghela nafas kesal perlahan. Sungguh, ia ingin mencabut dua helai saja rambut bosnya itu.


“Iya...” akhirnya Faya mengalah. Dan kesibukannya dimulai.


“Kamu di tempatku aja. Jangan kemana-mana. Atau aku pecat kamu.” Perintah Prima. dan lagi, Faya tak bisa membantah satu katapun.

__ADS_1


Prima itu, selalu mengancam akan memecat Faya. Namun ia tak pernah melakukannya. Faya berfikir, mungkin sesekali membantah dan tak ambil pusing. Tapi kembali lagi. Bagaimana jika Prima serius dengan ucapannya dan ia benar-benar di pecat? Sudahlah ia susah payah bertahan selama ini masak iya harus di pecat karna tidak menuruti perintah absurdnya itu?


Prima menjatuhkan diri di atas sofa. Menghidupkan TV dan fokus menonton TV. Sementara Faya hanya bisa berdiri di samping sofa sambil memperhatikan gelagat Prima. namun setelah itu ia memutuskan untuk pergi ke dapur dan duduk di sana. Menelfon kesana sini perihal batalnya jadwal rapat mereka. Benar-benar merepotkan.


Faya mencibirkan bibirnya saat sesekali melihat Prima mentertawakan tontonannya. Kesal sekali dia. Padahal, pembicaraannya dengan keluarga Prima belum selesai.


Memang sepertinya masalahnya dan Prima, harus mengikuti saran para orang tua. Jujur, Faya sendiri juga merasa sedikit takut. Takut hamil saat belum waktunya. Dan di waktu yang tidak tepat begini. Apalagi dengan Prima pula. Apa kata dunia?


Tapi menunggu bicara dengan Prima juga sepertinya mustahil karna bosnya itu tak mengingat kejadian itu. Ia tak ingin menduga dan salah faham sendiri sehingga kembali disudutkan oleh Prima. kan malu jadinya. Seolah ia ingin mencari perhatian Prima saja.


“Pak, saya mau pulang.”


“Gak boleh.”


“Tapi ini udah sore, Pak. Saya harus mandi dan ganti baju. Badan saya udah lengket.”


“5 menit.” Jawab Prima setelah diam beberapa saat.


“Mana cukup lima menit buat mandi, Pak.”


“Lima menit!” Prima meninggikan suaranya beberapa oktav.


“Ya, baik.” Faya mengalah. Dia sudah lelah berdebat. Fikirannya masih tersita kepada Zinnia dan keluarga Prima yang sudah mengetahui tentang kejadian malam itu.


Sebenarnya dalam hati Faya merasa sangat bingung. Dia tidak tau harus menceritakan masalah ini dengan siapa. Dia butuh seseorang yang bisa menutup mulut untuk mendengarkan ceritanya. Tapi, hanya Soraya lah yang muncul di kepalanya. Benarkah Soraya dapat di percaya untuk masalah se gila ini?


Tidak ingin Prima marah, akhirnya Faya memilih mandi dengan kilat. Dia sudah lelah mendengar omelan Prima yang sepertinya masih marah dengannya walaupun ia tidak tau apa sebabnya.


Masak gara-gara ia pergi ke rumah keluarganya, Prima sampai semarah itu? Padahal selama ini hubungan Prima dan keluarganya sangat baik dan tak pernah ada masalah. Tapi kenapa tadi Prima sepertinya marah besar hanya karna dia tidak mendengar perintahnya untuk tak masuk ke dalam rumah?


Kenapa dengan bosnya itu?


__ADS_1



para warga kebun labu, udah pada kumpul semua belom? biar kita mulai sidang dan acara timpukanya. timpuk pake komen dan jempol yooo.


__ADS_2