One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 7. BerlombaTekad Kuat.


__ADS_3

Sementara di ruangannya, Prima bersorak gembira karna telah berhasil menyelesaikan game level sedangnya itu. Ia bahkan tidak sadar saat papanya sudah duduk manis di sofa ruangannya. Terus menatap Prima sambil geleng-geleng kepala.


“Kamu ini, apa gak punya kerjaan, Prim?” Suara bariton milik Ren mengejutkan Prima. Ia langsung melongok ke arah suara. Terkekeh kecil dan bangun serta menghampiri papanya. Ia duduk di hadapan Ren.


“Papa udah lama disini?”


“Ya ampun. Papa hampir jamuran duduk disini.”


“Hahahaha. Bukan jamuran. Tapi beruban. Itu rambut Papa udah beruban.” Goda Prima pada Ren.


“Uban Papa ini tumbuh gara-gara kamu. Tingkahmu itu, lho. Bikin Papa pusing. Rasanya Papa pengen ngawinin kamu sama gadis yang cerewet. Biar bisa ngomelin kamu.” Dengus Ren.


“Yaelah, Pa. Mana ada gadis yang tega ngomelin Prima. Cakep begini, di omelin.”


“Yang cakep cuma wajahmu. Tingkahmu itu gak cakep.”


“Papa mau apa kesini?” Potong Prima. Bosan mendengar ocehan papanya.


Oh, ya. Ren seketika teringat dengan tujuannya mendatangi putranya.


“Mana sekretaris barumu itu? Paman Ariga bilang dia sudah mendapatkan sekretaris baru buat kamu. Tapi kok Papa gak lihat dia?”


“Lagi keluar, Pa. Aku kasih tugas buat dia.”


“Kamu gak ngerjain anak orang lagi kan, Prim?”


“Enggak lah, Pa. Mana mungkin aku ngerjain dia.” Elak Prima.


Padahal, kepalanya sedang membayangkan apa yang tengah di dapatkan dari Aliva, kekasihnya. Karna Prima sangat tau watak Aliva jika sedang marah.


“Kali ini, papa minta bener-bener sama kamu, Prim. Tolong jangan buat anak orang menderita lagi. Kasihan. Kamu gak bisa terus-terusan begini. Mau sampai kapan? Punya sekretaris gak pernah lebih dari dua bulan. Dua bulanpun jarang. Tolong di jaga reputasimu. Kamu ini penerus perusahaan. Masak iya sikapmu begitu?” Ren merepet panjang lebar.


Rentetan kalimat dari papanya itu mampu membuat Prima menundukkan kepala. Bosan, ia bosan sekali mendengar kalimat wejangan yang sama ini hampir setiap hari. Tapi ya bagaimana? Itu merupakan salah satu hiburannya di tengah tumpukan pekerjaan yang tidak ada habisnya.


“Nanti malam pulang, kita makan malam di rumah.” Ujar Ren sambil berdiri dari duduknya.

__ADS_1


“Iya, Pa. Nanti Prima makan malam di rumah.” Janji Prima.


Sebelum Ren keluar pintu, ia berbalik dan mengacung-acungkan jari telunjuknya kepada Prima. Seolah sedang memberinya peringatan bahaya kalau ia sampai tidak pulang malam ini.


“Iya, iya, Pa. Prima pulang malam ini. Janji.” Prima meyakinkan papanya yang seperti tidak percaya padanya.


Memang, Ren tidak percaya pada putra bungsunya itu. Karna setiap kali ada acara makan malam keluarga, ia selalu saja mangkir dan jarang datang. Ada saja alasannya.


Sebenarnya, Prima malas berkumpul dengan keluarganya. Karna ya itu, yang di bahas adalah sifat konyolnya saja. Memangnya seorang direktur tidak boleh bersikap konyol untuk bersenang-senang? Siapa yang mengeluarkan larangan?


Di luar ruangan, Ren yang baru saja keluar dari ruangan Prima berpapasan dengan Faya. Gadis itu sudah mengganti atasannya dan menggangguk kepada Ren. Ia tau siapa Ren. Karna foto CEO itu terpampang sangat besar di lobi kantor.


“Pak, ini sekretaris baru yang saya ceritakan tadi.” Ariga memberitahu Ren.


Ren mengangguk sementara Faya tidak berani mengangkat wajahnya. Ia segan dengan aura wibawa yang memancar dari pria paruh baya itu.


“Siapa namamu?”  Tanya Ren.


“Fayandayu, Pak. Biasa di panggil Faya.”


Ya, Faya tau. Tidak bisa di tebak. Itulah kenapa ia mengganti pakaian hari ini. Hari dimana baru beberapa jam ia bekerja dengan Prima.


“Saya yakin sekretaris saya sudah memberitahu banyak hal sama kamu.”


“Iya, Pak.” Faya melirik berkas yang tadi diberikan oleh Ariga di atas meja kerjanya.”


“Saya mempercayakan anak saya sama kamu. Saya harap kamu betah bekerja dengannya.”


“Saya akan berusaha semampu saya, Pak.”


“Bagus.” Ren kembali melenggangkan kakinya menuju ke ruangannya. Meninggalkan Faya yang hatinya sedang kesal.


Bagaimana tidak, ia di kerjai habis-habisan oleh Prima. Di suruh menemui kekasihnya dan alhasil, ia mendapat guyuran jus di wajahnya.


“Kalau aja gajinya gak besar, aku gak sudi nerima pekerjaan ini.” Fikiran Faya menerawang tentang pundi-pundi rupiah yang bisa ia kumpulkan jika tetap bersabar.

__ADS_1


Baru sehari ia menjalani pekerjaan, tanduknya sudah keluar berkali-kali. Bagaimana jika satu minggu, satu bulan? Atau bahkan setahun?


Ucapan Soraya terngiang di kepalanya. Kalau menurut saran dari Soraya, ia harus bertahan sampai Prima bosan mengerjainya.


“Ya, aku akan membuktikan kalau aku gak mudah buat di kerjain kayak gini. Kita lihat, sampai kapan Pak Prima tahan terus ngerjain aku.”


Tekad Faya tiba-tiba membuncah. Ia harus bisa melebihi kekonyolan Prima. Dalam arti, ia harus bisa memprediksi kemungkinan aneh yang muncul saat Prima memberinya perintah. Ia tidak akan termakan untuk yang ke dua kalinya. Faya akan bertahan sampai Prima bosan dengan sendirinya.


Faya duduk di meja kerjanya. Menyalakan komputer dan mencari apa-apa yang biasa di lakukan seorang sekretaris. Karna memang jurusannya bukanlah sekretaris. Di samping hal-hal yang sudah di beritahu oleh Ariga, ia merasa perlu untuk mencari lebih lanjut lagi. Jadilah ia menjelajahi internet. Membaca berbagai artikel hingga ia mengerti tugas seorang sekretaris.


Dan tidak terasa, sudah pukul 6 sore. Bukankah ini waktunya ia harus pulang?  Ia melirik ke arah Prima yang nampak berkutat pada dokumen di mejanya. Nah, itu baru kerja. Bukan main game lagi.


Sudah jam pulang, tapi Prima nampak masih serius pada pekerjaannya. Dan Faya, tidak berani mengusiknya. Ditambah, ponsel gadis itu terus saja berdering tanpa henti. Itu adalah telfon dari Kirani.


Kakak iparnya itu terus menelfon dirinya. Pun berkali-kali mengiriminya pesan. Menanyakan kapan ia akan pulang. Kalau pulang di suruh membelikan nasi goreng.


Jeglek!


Pintu ruangan Prima terbuka. Pria itu muncul di sana. Menggantungkan kedua tangannya ke dalam saku celana pendeknya dan berjalan pergi begitu saja tanpa mempedulikan sekretarisnya yang sejak tadi menunggu waktu pulang.


Faya segera mematikan komputer dan menyambar tasnya. Kemudian ia berjalan di belakang Prima mengikuti pria itu.


“Katanya kamu gak bawa baju ganti.” Ucap Prima setelah memencet tombol lift dan menunggu pintu terbuka.


Faya terkesiap. Ternyata Prima memperhatikannya. Tapi kapan? Faya merasa kalau Prima bahkan tidak melihat ke arahnya. Bagaimana bosnya itu tau kalau ia sudah mengganti baju?


“Saya di pinjami baju sama Mbak Soraya, Pak. Soalnya tadi...”


“Tadi kenapa?” Prima yang tiba-tiba berbalik dengan wajah antusiasnya mengejutkan Faya. Hingga gadis itu kaget dan kalimatnya terputus.


Faya merasa mendapatkan celah untuk membalas perbuatan Prima. Ujung bibirnya tertariik sedikit.


“Enggak, Pak. Gak apa-apa. Soalnya tadi saya berkeringat banyak banget. Jadi baju saya bau.”


Prima mengernyit. Rasanya tidak mungkin. Ia membaca gelagat kebohongan dari Faya. Karna tidak mungkin gadis itu akan selamat dari amukan Aliva. Ia sangat tahu seperti apa sikap Aliva saat ia membatalkan janji bertemu seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2