
Prima menatapi wajah Faya sampai kepalanya miring-miring. Tentu saja hal itu menimbulkan perhatian bagi beberapa pegawai yang ada di sekitar mereka. Prima bahkan tidak peduli saat pintu lift terbuka.
“Pak, pintunya udah buka.” Faya memberitahu.
Namun, Prima tidak peduli. Ia tetap menatapi wajah Faya. Matanya menyipit seolah mencari kebohongan dari netra gadis itu. Wajahnya semakin dekat, dan dekat. Tubuh Faya sampai condong ke belakang demi menghindari wajah Prima.
“Pak? Bapak ngapain?”
“Kamu bohong, kan? Gak mungkin Aliva gak ngelakuin sesuatu sama kamu.”
Faya tersenyum samar. Kena kamu!
Kalimat Prima menandakan kalau ia memenangkan permainan kali ini. Ia akan membuat Prima berfikir kalau Aliva memang tidak melakukan apapun padanya. Ia ingin Prima beranggapan kalau rencana untuk mengerjainya itu telah gagal total.
“Saya gak bohong, Pak. Memangnya, apa yang seharusnya terjadi sama saya?”
Mendapat pertanyaan itu sontak membuat Prima gelagapan. Ia menarik tubuhnya dan tegak berdiri seperti semula. Menggeser ke samping dan menghadap pintu lift yang sudah tertutup sejak tadi. Ia bersikap santai seolah tidak sedang merencanakan sesuatu.
Dan Faya semakin merasa di atas angin. Ia merasa memenangkan ronde kali ini. Enak saja terus mengerjainya. Faya tidak sepolos itu. Dia tidak akan kalah dengan bos sinting macam Prima.
Pintu lift terbuka untuk ke dua kalinya. Kali ini, Prima masuk tanpa sepatah katapun. Faya segera mengikuti pria itu dan berdiri di belakangnya.
“Kamu bisa nyetir mobil, kan?”
“Gak bisa, Pak.”
Terdengar helaan nafas dari Prima.
“Ya ampun, kenapa Paman Ariga mencari sekretaris yang bahkan gak bisa nyetir mobil.” Gerutu Prima. Dan Faya mendengarnya dengan sangat jelas.
Saat pintu lift terbuka, mereka keluar dan berjalan di lobi. Beberapa pegawai yang berpapasan dengan mereka menganggukkan kepala tanda hormat. Prima menanggapi dengan mengangguk pula. Tak jarang ia malah melemparkan senyuman kepada mereka.
Melihat sikap Prima yang seperti ini, rasanya tidak mungkin kalau pria itu punya sisi somplak yang tidak ketulungan.
“Kamu udah tau kan kalau kamu di kasih apartemen di dekatku?”
“Sudah, Pak.”
“Baguslah.”
__ADS_1
Kini, mereka sudah sampai di tempat parkir. Prima sedang berdiri di dekat mobilnya. Merasa Faya masih mengikutinya, iapun berbalik. Berekspresi seperti hendak mengatakan sesuatu.
“Selamat malam, Pak.” Ucap Faya sebagai perpisahan hari itu.
Prima masuk dan duduk di balik kemudi. Ia mencoba menyalakan mobil namun ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Suara mesinnya terdengar kasar dan aneh. Iapun menurunkan kaca mobil di sebelahnya dan melihat kepada Faya yang memang masih berdiri disana.
Faya langsung sigap menerima perintah. “Kenapa, Pak?”
“Fay, kayaknya ada sesuatu di belakang mobilku. Tolong kamu cek, Fay.” Perintah Prima dengan raut wajah serius.
Dan tanpa mencurigai apapun, Faya langsung mengangguk dan berlari ke arah belakang mobil sport itu. Ia mencari-cari mana kira-kira bagian yang di maksud oleh Prima.
Brup!
Faya gelagapan saat tiba-tiba gumpalan asap gelap menyembur ke arahnya. Ia sampai tidak bisa melihat apa-apa. Ia hanya mendengar suara mobil Prima yang perlahan menghilang di kejauhan.
Faya berlari menjauhi asap sambil terbatuk-batuk. Ia mengibas-ngibaskan tangan di depan muka untuk mengusir sisa asap yang mengikutinya. Aromanya sengak sekali. Rasanya tenggorokannya menjadi gatal setelah terkena asap itu.
Faya melihat sekeliling, dan benar saja, mobil Prima tidak lagi ada disana. Seketika dia tersadar kalau sudah jatuh kedalam jebakan Prima lagi untuk ke sekian kalinya hari ini.
“Primaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!”
Astaga, kenapa ada orang seperti Prima? Ia ingin membalas tapi sadar kalau pria itu adalah bosnya. Bagaimana caranya ia memberi perhitungan pada Prima?
Faya terus mendengus kasar mengutarakan kekesalannya. Sehari ini, ia sudah di kerjai berkali-kali.
Di tempeli permen karet, mungkin dia masih bisa mentolerirnya. Yan gmembuatnya kesal setengah mati adalah, di siram jus oleh Aliva. Dan sekarang, wajahnya jadi cemong kena debu asap knalpot. Padahal mobil mewah. Rasanya tidak mungkin knalpotnya berasap. Faya tidak tau saja, Prima memang sengaja menyiapkan kejutan itu untuk menyambut sekretaris barunya itu.
“Ya ampun, baju mbak Soraya jadi kotor begini. Ini mana bisa hilang.” Panik Faya. Ia merasa tidak enak hati melihat bagian dada bajunya juga terkena imbasnya. Padahal, itu baju Soraya yang di pinjamkan padanya. Seketika Faya menjadi tidak enak hati sendiri.
“Fay!!” Panggilan itu membuat Faya langsung menoleh. Dan jantung Faya menjadi tak karuan saat melihat di ujung saja, Soraya sedang melambaikan tangan padanya.
“Mbak.”
Soraya kaget melihat penampakan Faya yang acakadul. Wajahnya menghitam penuh noda. Pun pakaiannya begitu.
“Kamu kenapa? Kayak abis kecebur got, deh.”
“Hhhh. Andai Mbak Sora tau apa yang baru aja terjadi.” Keluh Faya.
__ADS_1
“Memangnya kenapa? Pak Prima ngapain kamu lagi? kok penampakan kamu bisa sampai begini?”
“Aku dikerjain lagi, Mbak.” Adu Faya dengan raut wajah kesal.
“Ya ampun. Pak Prima bener-bener deh. Parah banget.”
“Masalahnya ini kan bajunya Mbak Soraya. Mana jadi kotor begini lagi. Ini kalau jadi rusak gimana?” Panik Faya.
“Udah, gak apa-apa. Gak usah di fikirin. Kalau udah rusak ya, tinggal di buang aja. Ngapain repot.” Santai sekali jawaban dari mulut Soraya. Seolah membuang satu baju yang masih layak pakai bukan masalah besar baginya.
Berbeda dengan Faya. Kaus yang ketiaknya sudah sobek saja masih di jahit, di jahit, dan di jahit lagi. Sebelum kainnya kumal dan memang terlihat tak layak pakai, barulah di buang.
“Maaf banget ya, Mbak.” Sesal Faya.
“Iya, gak apa-apa. Kan bukan salahmu juga. Kamu mau pulang? Sekalian sama aku, yuk.” Tawar Soraya.
“Maaf ngerepotin, Mbak.”
Faya tentu tidak ingin pulang naik bis umum dalam keadaan wajah coreng moreng begitu. Untung saja Soraya menawarkan bantuan, jadi ya, di terima saja.
Sepanjang perjalanan pulang, Soraya bercerita banyak hal tentang deretan mantan sekretaris Prima.
“Yang paling lama itu, namanya Dini. Itu sampe dua bulan dia bertahan. Tapi ya gitu. Rupanya dia juga nyerah pada akhirnya.”
“Terus, selama gak ada sekretaris, yang ngurusin pak Prima siapa, Mbak?”
“Pak Ariga. Sekretarisnya Pak Ren. Pokoknya, di kantor ini, sekretaris yang bisa menghadapi Pak Prima itu cuma Pak Ariga. Pak Prima itu segan kalau sama Pak Ariga.”
“Oooo.”
Memang, wibawa Ariga dan Ren beda tipis. Faya juga bisa merasakannya.
Mobil berhenti di depan rumah milik iwan. Sebelum turun, Faya tak lupa mengucapkan terimakasih kepada Soraya karna sudah bersedia mengantarkannya. Ia juga berdiri di depan rumahnya, menatapi mobil Soraya sampai menghilang dari pandangannya.
komen, like, hadiah, votenya, jangan lupaa yaaa.. rate bintang limanya juga.
__ADS_1
buat kalian warga baru, sambil nunggu up, yuk k epoin karyaku yang lainnya. klik aja profilku yaa, jangan lupa tinggalin jejak juga di sana.