
Selesai menonton film, Prima tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari Faya. Seolah ia merasa belum puas untuk menunjukkan kepada dunia, kalau gadis itu adalah miliknya. Dan hanya miliknya seorang.
“Mas, kamu mau ikut masuk ke kamar mandi apa gimana?” protes Faya ketika Prima tak kunjung melepaskan genggaman tangannya bahkan ketika ia sudah berada di depan pintu kamar mandi.
“Boleh ikut gak sih?”
“Boleh, kalau kamu mau di cap sebagai cowok cabul, ayo. Masuk.” Tanting Faya setengah kesal.
Bukan dia tidak senang mendapat kemesraan itu dari Prima. tapi ya lihat tempat dan kondisi juga dong. Hajatnya sudah memaksa untuk di tuntaskan tapi Prima malah drama seperti itu.
“Hehehehe. Ya udah. Jangan lama-lama ya. Aku tunggu disini.” Akhirnya Prima melepaskan genganggamannya walaupun dengan terpaksa.
Faya segera berlari masuk ke dalam kamar mandi. Setelah menyelesaikan urusannya, ia segera keluar dan merapikan rambutnya di depan washtafel. Ia baru menyadari kalau ternyata Afta juga ada disana. Sama-sama sedang mencuci tangan seperti dirinya.
“Udah lama kenal sama Prima?” sebuah pertanyaan tanpa pembuka di tujukan Afta kepada Faya.
“Setahunan lah.”
“Beruntung banget ya kamu. Bisa dapetin cowok se-effort Prima.”
Se-effort Prima? apa Prima begitu dengan Afta dulu? Batin Faya.
“Dia itu emang orangnya baik banget. Dulu waktu kami masih pacaran, dia sama sekali gak pernah biarin aku sendirian. Selalu ada buat aku. Selalu bantu pas aku kesusahan. Dia itu...”
“Maaf, Mbak. Kayaknya aku gak ada kepentingan buat dengerin cerita masalalu dari calon suami aku. Aku juga udah cukup mengenal Mas Prima dengan baik. (bahkan borok-boroknyapun aku udah tau). Mas Prima pernah bilang, kalau masa lalu sama sekali gak penting buat dia. Dan aku juga setuju. Sebaik apapun hubungan kalian, itu cuma bagian dari masa lalunya. Kayaknya kok gak etis ya kalau Mbak Afta cerita begitu sama aku. Permisi.” Faya mengakhiri kalimat sindirannya dengan tegas kemudian keluar dari kamar mandi.
Entah apa maksud Afta bercerita begitu kepada Faya. Padahal dia hanya bagian dari masalalu Prima saja, tidak lebih.
Sebenarnya Afta tidak ada maksud apa-apa. dia hanya merasakan sebuah dorongan untuk memamerkan hubungan mereka dulu. Bukan juga bermaksud untuk membuat Faya cemburu atau bagaimana. Dia hanya tidak bisa menahan diri untuk tidak bercerita.
Prima mengernyit melihat ekspresi kesal dari wajah kekasihnya. Ia segera menghampiri gadis itu dan bertanya. “Kenapa mukanya di tekuk gitu? Gak bisa BAB?” tebak Prima.
“Ketemu mantanmu tadi di dalam, Mas. Masak dia cerita hal yang gak penting banget.”
“Cerita apa emangnya?”
“Ya cerita kalau kamu dulu perhatian banget sama dia. Selalu ada buat dia.”
Haduh, Prima merasakan sinyal bahaya lagi ini. Kali ini bagaimana caranya untuk menyelamatkan diri? Prima memutar otaknya. Berfikir keras mencari cara untuk selamat.
“Itu cuman perasaan dia aja kali sayang. Padahal akunya mah biasa aja sama dia. Namanya juga masih remaja.”
“Iya, aku tau. Tapinya kesel. Harus banget apa dia cerita-cerita begitu?”
__ADS_1
“Udah, jangan kesel-kesel. Mending kita makan malam aja yuk. Kamu pengen makan apa?”
“Hotpot super pedes. Biar keselku hilang.”
“Siap cinta. Ayo.”
Genting sekali nasip Prima sore ini. Dua kali dia berada di situasi membahayakan. Dan untungnya dia pandai menyelamatkan diri. Kalau tidak, alamat perang dunia pertama untuk dia dan Faya.
Prima kembali melajukan mobilnya menuju ke sebuah restoran. Setelah masuk, dia segera memesan ruangan private untuk mereka berdua. Prima ingin menghabiskan waktu berdua bersama kekasihnya. Soalnya tadi di boskop dia habiskan dengan senam jantung dan sibuk mencari cara untuk menyelamatkan diri. Jadi tidak sempat bermesraan.
“Kenapa gak di luar aja sih, Mas?”
“Aku pengen berduaan sama kamu.”
“Modus.”
“Biarin. Hehehehe.”
Tidak lama kemudian makanan yang mereka pesan datang. Melihat air mendidih di pot yang penuh akan bumbu merah, membuat air liur Faya tidak bisa di kondisikan. Ia segera memasukkan daging, ikan dan sayur-mayur ke dalam kuah mendidih itu. mengaduknya sebentar kemudian siap menyantapnya.
“Lusa jadi masuk kantor kan?” tanya Prima di sela makannya.
Faya mengangguk. “Jujur aku masih takut di gosipin, Mas.”
“Iya, diam. Di depan kita. Di belakang makin jadi ngomonginnya.”
“Hehe. Ya udah. Terserah kamu aja gimana baiknya. Aku ngikut.”
Baru saja Faya hendak menjawab, terdengar ponselnya berdering. Itu adalah telfon dari Iwan.
“Iya, Mas? Kenapa?”
‘Aku di rumah ini, Fay. Password rumahmu berapa?’
“959595.”
‘Oh ya udah. Kalian lagi di luar ya?’
“Iya, Mas. Lagi makan. Mas mau pesen apa biar aku bawain?”
‘Gak usah. Ya udah. Aku mau masuk.’
“Iya, Mas.” Faya mengakhiri menelfon dan menaruh ponselnya ke dalam tasnya seperti semula.
__ADS_1
“Kenapa Mas Iwan?”
“Nanya passsword.”
“Kita bawain makanan nanti buat Mas Iwan. Dia pasti belum makan. Biasanya cowok kalau banyak fikiran itu sampe lupa makan.”
“Kok tau? Emangnya kamu juga gitu, Mas?”
“Ya iya. Aku kan juga cowok. Kamu gak tau aja, nafsu makanku langsung hilang pas kamu ngilang kemarin.”
“Yang bener?”
“Tanya sama Mama kalau kamu gak percaya.”
“Masak sih? Soalnya aku kalau lagi banyak masalah, malah demen makan. Kudunya ngemilll terus.”
“Berarti kalau mau bikin kamu gendut, aku harus sering-sering bikin kamu sedih ya?”
“Oh, gitu. Jadi udah niat nih bikin aku sedih. Ya udah. Gak jadi aja nikahnya.” Ancam Faya. Ia tau kalau sebenarnya Prima juga sednag bercanda padanya.
“Eh, eh, eh. Gak bisa dong. Enak aja. aku yang kurus nanti.”
Keduanya saling tatap dengan intens sebelum keduanya kemudian sama-sama tergelak tertawa.
“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Faya tertawa sampai tersedak. Seketika rasa panas menyerang tenggorokan dan hidungnya sampai ia mengeluarkan airmata.
“Pelan-pelan dong sayang.” Prima segera membantu Faya untuk minum. “Masih pedes?”
Faya menggeleng. “Udah enggak.”
Prima mengelus-elus punggung Faya dengan lembut. Namun, lama kelamaan, tangannya merangkak ke area pipi. Ia membelai pipi Faya dengan jempol tangannya dengan sangat lembut. Begitu juga dengan tatapannya. Lembut sekali.
“Sampai kapanpun, aku gak akan pernah buat kamu sedih lagi. Aku janji bakalan buat kamu ngerasa bahagia tiap detiknya. Kamu bisa ngerasain kan ketulusan aku, Fay?” lirih Prima.
Nafas Faya tersengal. Kehangatan itu mengaliri setiap pembuluh darahnya. Kelembutan yang di pancarkan oleh netra Prima benar-benar telah menyihirnya. Ia perlahan menganggukkan kepalanya dengan seutas senyuman yang muncul di kedua sudut bibirnya.
Prima mendekatkan wajahnya kepada Faya dan mengecup kening Faya lembut. Mengalirkan seluruh perasaannya kepada gadis itu. ia begitu mencintai Faya dengan segenap jiwa dan raganya.
meleleh gak tuh si faya.hadduh prim, udah gak bisadi selamatin lagi kayaknya dia. virus bucin udah menyebar.
__ADS_1