One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 101. Bentangan Paling Indah.


__ADS_3

Perjalanan Jakarta-Bali yang memakan waktu penerbangan sekitar 2 jam itu terasa sangat nyaman. Tadi Faya sempat memesankan makan untuk mereka karna mereka tidak sempat makan malam. Ia memikirkan Prima. sejak siang tadi, pria itu menolak untuk makan. Saking tidak punya waktu istirahat bahkan untuk sekedar makan.


Tadi siang, Faya hanya membelikannya roti saja karna Prima benar-benar menolak untuk makan walaupun ia sudah memaksanya setengah mati.


“Makan dulu, Ma..., eh, Pak.” Ujar Faya hampir keceplosan. Padahal Pak Teguh dan tim ada di dekat mereka. Untung saja.


Nasi rawon yang terhidang sungguh menggugah selera Prima. sekarang baru ia bisa merasakan perutnya keroncongan. Sepertinya aroma rawon yang gurih itu mampu memancing cacing dalam perutnya untuk memberontak. Dengan lahap Prima dan Faya memakan makan malam mereka di pesawat.


Dua jam kemudian, pesawat sudah mendarat di bandara Ngurah Rai International Airport, Bali. Hari sudah gelap dan mereka langsung menuju ke Prianggoro Hotel. Jaringan hotel yang berada di bawah naungan FD Corp. Yang di kelola oleh salah satu sepupu Ren. Yakni saudara tiri dari Rai.


Faya memesan kamar biasa untuk ia, Pak Teguh dan dua asistennya. Sementara memesan kamar suite untuk Prima.


Saat ini, Faya sedang membereskan barang-barang Prima. ia menyiapkan beberapa keperluan untuk besok. Saat tiba-tiba Prima mengejutkannya dengan membopongnya tanpa aba-aba ala bridal style. Belum sempat Faya


memberontak, tubuhnya sudah sempurna berbaring di atas ranjang besar dan empuk itu. dengan separuh tubuh bagian atas Prima tepat berada di atasnya.


Prima menumpu tubuhnya dengan satu lengan. Sementara lengan lainnya begitu sibuk membelai pipi mulus kekasihnya.


Untuk beberapa waktu, keadaan menjadi sunyi. Hanya deru nafas yang terdengar memburu dari keduanya. Prima terus saja menatapi wajah Faya lekat-lekat. Netranya jelas memancarkan gairah akan sebuah hasrat tertahan yang siap tumpah. Tapi tidak, ia masih bisa menahannya. Terlebih setelah Faya menjauhkan kepalanya dengan telunjuk yang menempel di keningnya, hingga memaksa kepalanya menjauh.


“Awas khilaf.” Desis Faya sambil terkekeh setelah Prima menjauh darinya dan ia bangun duduk dengan sempurna.


“Ssssshhh. Inilah bahayanya pacaran sama sekretaris sendiri. godaannya kuat banget.”

__ADS_1


“Hahahahhaa. Tahan, tahan, ini ujian. Ini ujian.” Ujar Faya mengikuti salah satu suara meme yang sering di gunakan dalam apliaksi berbagi video.


“Rasanya mau tantrum, Fay. Serius.”


“Ya udah, tantrumlah. Nanti aku belikan mainan di bawah.” Ejek Faya masih sambil terkekeh.


“Hehe.” Prima kemudian merebahkan diri di pangkuan Faya. Menatap lurus ke atas dengan pemandangan yang paling ia sukai sejauh ini, yaitu wajah gadisnya. Wajah yang menurutnya jauh lebih indah dari sunris maupun sunset. Bahkan bentangan alam terindah yang pernah ia lihat sekalipun, masih kalah dengan wajah gadisnya ini. Tentu saja hal ini hanya berlaku untuk Prima yang sedang di mabuk cinta.


Di matanya, hal paling terindah di dunia hanya wajah Faya. Tidak ada yang lain. Berlebihan memang, tapi begitulah yang terjadi. Prima benar-benar sedang di mabuk asmara. Bukan hanya Prima, Faya pun demikian juga.


“Tidur di sini aja, ya?” rengek Prima seperti anak kecil.


“Gak boleh. Belum sah. Nanti kalau udah sah, mau di apain juga aku gak bakal nolak. Mau di ajak tidur bareng, mandi bareng, bahkan, ehmmm. Hehehhe. Pokoknya semua yang kamu mau aku gak bakalan nolak. Tapi kalau sekarang, jangan dulu. Gak inget terakhir kita tidur bareng, masalah besar datang bertubi-tubi.”


Kegiatan mesra itu terhenti tatkala pintu kamar Prima di ketuk. Itu adalah Pak Teguh dan tim yang memang tadi sudah di rencana untuk rapat sebentar mengenai langkah hukum untuk apa yang terjadi di pembangunan villa. Untuk berjaga-jaga saja. Karna menurut penuturan Pras, ada keluarga korban yang menuntut mereka.


Faya segera merapikan pakaiannya. Kemudian ia membuka pintu dan mempersilahkan Pak Teguh dan tim untuk masuk. Selebihnya, mereka membicarakan apa yang harus di lakukan besok. Tentang langkah-langkah untuk meminimalisir kerugian. Baik kerugian materil maupun inmateril. Yang terpenting adalah mengurusi para korban untuk mendapatkan perawatan yang terbaik.


Pukul setengah satu dinihari, rapat baru selesai dan mereka semua kembali ke kamar masing-masing. Begitu juga dengan Faya. Ia kembali ke kamarnya setelah sedikit drama keberatan dari Prima. ia melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dan langsung terlelap. Bangun-bangun sudah pagi ketika alarm di ponselnya berbunyi tepat pukul 6. Sepertinya ia nyenyak sekali semalam sampai tidak ada terbangun sedikitpun.


Selesai mandi dan bersiap-siap, ia segera pergi ke kamarnya Prima. ternyata pria itu juga sudah bangun dan baru selesai mandi. Sedang mengobrak abrik koper untuk mencari pakaiannya.


“Sini biar aku aja, Mas.” Faya mengambil alih pekerjaan Prima. ia memilihkan pakaian yang memang sesuai dengan selera Prima ketika kerja di lapangan. Kali ini Faya memilihkan kemeja hitam lengan panjang di padu dengan celana jeans berwarna biru gelap. Karna Prima harus menemui para korban jadi ia harus mengenakan pakaian yang sedikit formal.

__ADS_1


Sebelum pergi ke rumah sakit, Prima dan Faya lebih dulu sarapan di restoran hotel. Mereka masih bersama dengan Pak Teguh dan tim.


Saat sedang sarapan itu, Pras muncul dengan wajah pucat dan lelahnya. Prima segera meminta Pras untuk bergabung untuk sarapan bersama dengan mereka semua.


Sambil sarapan, Pras menceritakan detail kejadian dan beberapa hal yang belum sempat ia ceritakan kemarin kepada Prima. Ia juga menceritakan perihal dugaan penggelapan dana oleh sub kontraktor sehingga menyebabkan material yang di pakai berkurang kualitasnya. Pras hanya sebatas mengemukakan kecurigaan. Ia juga belum sempat menyelidiki perihal ini.


“Itu nanti biar saya dan tim yang urus. Kalau memang terbukti mereka melakukan kecurangan, kita akan langsung proses hukum.” Ujar Pak Teguh.


Prima dan yang lain setuju. “Soalnya perhitungan kita sudah matang. Jadi gak mungkin ada kesalahan apalagi sampai bangunan roboh. Kita sangat memperhitungkan kualitas bahan. Kita gak perhitungan dengan harga asalkan bahan-bahan yang di pakai berkualitas terbaik. Tapi kalau sampai ada masalah seperti ini, itu pasti ada yang salah. Tolong di selidiki Pak Teguh. Saya juga curiga ada sesuatunya.”


“Baik, Pak.”


“Gimana keadaan para korban, Pak Pras?”


“Alhamdulillah yang kritis tadi pagi udah sadar. Udah di pindah juga ke ruang perawatan biasa. Mereka bertiga ada di satu ruangan, Pak.”


“Tolong di perhatikan. Pastikan mereka mendapat perawatan terbaik.” Pesan Prima.


“Baik, Pak.”


Selesai makan, mereka semua bertolak ke rumah sakit tempat para pekerja di rawat. Faya dan Prima duduk di kursi belakang. Sementara pras mengemudikan mobilnya. Pak Teguh dan tim ada di mobil lain.


Diam-diam, Prima sempat-sempatnya mengambil kesempatan dengan menggenggam tangan Faya erat-erat. Walaupun Faya berusaha menarik tangannya, namun ia urung ketika melihat Prima melirik tajam padanya. Namun beberapa detik kemudian iapun tersenyum karna Faya tidak lagi menarik tangannya.

__ADS_1


__ADS_2