
Siang ini, Prima sudah di perbolehkan untuk pulang. Karna memang kondisinya sudah membaik. Tidak ada cidera dan ia tidak menunjukkan tanda-tanda trauma. Bahkan keluarganya sampai heran. Bagaimana Prima bisa setenang itu padahal ia tercebur ke dalam kolam renang?
Kalau biasanya, Prima sudah pasti akan sakit sampai seminggu. Tak bisa bangun. Tapi kali ini, pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda traumanya. Tentu saja kelaurga senang akan hal itu.
Faya sedang sibuk membereskan barang-barnag Prima. sementara bosnya itu sibuk berbincang dengan kedua orangtuanya.
“Mama sama Papa balik ke Jakarta hari ini?”
“Iya. Abis antar kamu ke hotel langsung ke bandara.” Ren yang menjawab.
“Gak usah repot-repot, Pa. Prima bisa pulang ke hotel sendiri aja. kan ada Faya. Mama sama Papa langsung ke bandara aja. Nanti kecapean.” Prima memberi solusi.
Zinnia dan Ren saling bertukar pandang.
“Ya udah kalau gitu. Baik-baik kamu disini.” Pesan Zinnia.
“Iya. Mama gak usah khawatir. Soalnya Prima masih banyak kerjaan disini. Harus ninjau proyek dulu.”
Ren manggut-manggut mendengar rencana putranya.
“Maaf Prima gak bisa ngantre Mama sama Papa ke bandara.”
“Gak apa-apa. Cepet sembuh, ya. Faya, nitip Prima ya. Tolong jaga dia baik-baik.” Pesan Zinnia kembali kepada sekretaris putranya itu.
“Iya, Buk.”
“Ma, Prima bukan anak kecil yang harus terus di jagain.” Dengus Prima merasa malu.
“Heheheh. Buat mama Vita dan kamu itu tetep anak kecil. Ya udah. Kami berangkat dulu, ya.”
Prima menyalami kedua orangtuanya dengan lembut.
Faya mengantarkan kepergian bos besarnya itu sampai di luar ruangan. Setelah memastikan mereka pergi, ia baru kembali lagi ke dalam. Ia melihat Prima yang kesulitan memakai jaketnya lantas ia segera membantu. Ia tidak tau, kalau itu hanyalah akal-akalan Prima saja. Tidak ada satu bagianpun yang cidera di tubuh Prima. Jadi kenapa dia sulit memakai jaket?
“Bapak mau langsung pulang ke hotel?” tanya Faya saat mereka berjalan di koridor rumah sakit menuju tempat parkir.
“Enggak. Aku mau jalan-jalan dulu.”
“Lha? Bapak baru keluar dari rumah sakit, lho. Bapak beneran mau jalan-jalan?”
“Jangan ngatur-ngatur aku, Fay. Turutin aja perintahku. Ku potong gajimu, mau?” ancam Prima.
Bagi Faya yang ‘mata duitan’, tentu saja ancaman itu terdengar sangat mengerikan baginya.
“Jangan, Pak.” Mohonnya langsung.
“Makanya jangan banyak protes.”
Bukan apa, Faya tidak mau kena marah oleh Zinnia. Karna wanita itu sudah menitipkan untuk menjaga Prima baik-baik. Rasa-rasanya keterkejutannya bahkan belum menghilang akibat kejadian semalam. Jantungnya masih berdesir ngeri saat mengingat Prima yang tak sadarkan diri.
__ADS_1
Akhirnya Faya menuruti kemauan bosnya itu. Setelah menaruh tas di bagasi, ia kemudian duduk manis di balik kemudi. Sementara Prima sudah duduk di kursi belakang.
“Bapak mau kemana, Pak?”
“Pantai Parangtritis.”
“Pantai Parangtritis? Dimana itu, Pak?” Faya bersungguh-sungguh. Karna ia memang tidak tau seluk beluk kota Jogja.
“Cari di gugel, Fay.”
“Bapak serius mau ke pantai? Itu laut lho, Pak. Bapak gak takut?” Faya khawatir kejadian semalam terulang lagi. Hal yang paling menjadi prioritasnya saat ini adalah menjaga prima.
Prima hanya diam saja tanpa menanggapi. Pria itu malah pura-pura memejamkan matanya.
Faya merengut di balik kemudi. Sejenak ia menepikan mobil dan mencari di peta letak pantai parangtritis. Kemudian ia menggunakan pemandu di peta untuk sampai di sana.
Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit. Setelah sampai, Faya memarkirkan mobil.
“Udah sampai, Pak.” Faya memberitahu.
Prima segera keluar dari mobil kemudian menelfon seseorang.
“Aku udah sampai, nih. Kalian dimana?- ooh. Oke, oke.”
Prima mematikan sambungan telfon kemudian berjalan lebih dulu. Faya segera mengikuti bosnya itu di belakangnya.
“Prima, sini!” sebuah panggilan untuk Prima. di depan sana, nampak seorang pria tampan sedang melambai-lambaikan tangannya kepada Prima.
“Kalian udah lama?”
“Belum. Itu temen-temen yang lain juga udah pada datang.”
Ternyata, Prima janjian bertemu dengan temna-temannya yang ada di Jogja. Beberapa temannya memang sedang ada di kota gudeg itu dan mereka berencana untuk bertemu.
“Memangnya kamu udah sehat? Denger-denger masuk rumah sakit.”
“Udah. Aku udah gak apa-apa, kok. Ayo.”
Siang itu, sinar matahari sangat terik. Faya bisa merasakan sengatannya yang menembus kulit kepalanya. Apalagi lambungnya ikut meronta saat tercium aroma bakaran yang entah darimana datangnya. Sontak perutnyapun berteriak minta tolong.
Dan sialnya, teriakan perutnya itu terdengar oleh Prima. pria itu langsung berhenti dan menoleh kepada Faya. Menatap menyelidik.
Prima tidak berbicara apa-apa. Dia hanya menatapi Faya kemudian kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.
Sementara wajah Faya sempurna matang. Malu bukan main. Lambungnya tidak bisa di ajak kompromi. Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati.
“Oi, Prim!” seseorang kembali melambaikan tangan. Prima membalas.
“Sori, lama.”
__ADS_1
“Gak apa-apa. Gimana? Udah sehat? Katanya masuk rumah sakit?”
“Cepet banget deh kabarnya tersebar.” Seloroh Prima yang kemudian mengambil duduk di kursi plastik di depan sebuah warung.
“Siapa itu? Pacar kamu?”
Salah seorang teman Prima menunjuk ke arah Faya yang berdiri di belakang Prima dengan dagunya.
Prima menoleh. Menatap wajah Faya yang menunduk.
“Apa kelihatannya begitu? Hahahahahaha.”
Faya kaget sekali dengan jawaban Prima itu. Membuatnya tambah malu saja.
“Ya ampun, masak pacarnya di suruh berdiri aja, Prim. Suruh duduk dong. Sini, Mbak. duduk di sini.” Salah seorang teman Prima memebrikan kursi miliknya kepada Faya.
“Gak usah repot, Mas. Saya gak apa-apa.”
“dia sekretarisku.” Akhirnya Prima mengakui Faya juga.
“Oooh. Kirain beneran pacar.”
“Kenapa sih pada ngebet banget pengen aku punya pacar?”
“Jangan di ambil pusing, Prim. Kayaknya kamu belum move-on dari Aliva. Hahahahaha.”
“Enak aja. Gak ada move-oo. Orang gak ada move-in.” Seloroh Prima.
Bersama dengan teman-temannya membuat Prima menjadi pribadi yang berbeda. Faya bisa merasakan kehangatannya.
Berada di antara para pria itu membuat Faya sedikit canggung. Apalagi tak ada yang mengajaknya bicara. Seolah Faya tidak terlihat di mata mereka. Untungnya, Prima segera menyadari hal itu.
“Eh, bentar ya. Aku kesana dulu.” Pamit Prima yang seketika berdiri dan beranjak pergi.
“Ayo, ikut.” Perintahnya kembali kepada Faya.
Faya menurut saja. Ia berjalan di belakang bosnya itu.
Prima berhenti di dalam warung bakaran itu. Berbicara sebentar dengan pelayan di sana.
“Kamu duduk aja disini. Pesan apapun yang kamu mau.” Setelah berkata begitu, Prima kembali keluar dan kembali bergabung bersama dengan teman-temannya.
“Bapak Gak makan?”
“Nanti aja. Masih kenyang. Kamu duluan aja.”
Faya menurut. Pun karna perutnya sudah sangat lapar. Padahal baru jam 3 sore. Tapi wajar, karna memang dia belum makan siang.
Faya segera memesan satu buah ikan gurame bakar beserta cah kangkung dan nasi. Sebagai pendampingnya, ia memesan jamur tiram krispi dan segelas es teh manis.”
__ADS_1
Selanjutnya, ia menikmati makanan yang sudah terhidang di atas meja itu tanpa basa-basi lagi. Ia seperti orang kelaparan. Tidak peduli kalau beberapa kali Prima tersenyum samar melihat ke arahnya.