One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 40. Perubahan Ke Arah Yang Lebih Buruk.


__ADS_3

“Bapak mau ke kantor?” tanya Faya hati-hati mengingat bosnya itu sedang sensitif hari ini


“Gak. Aku capek mau tidur.” Jelas Prima ketus. Ia berbaring terlentang di sofa dan menutup wajahnya dengan lengannya.


Faya berjalan ke sofa lain dan mengambil selimut tipis yang selalu tersampir di sana. Kemudian menyelimuti tubuh Prima dan ia pamit untuk pulang ke rumahnya.


Prima diam saja. Ia hanya memandangi punggung Faya yang kemudian menghilang di balik pintu.


“Hhhhhhh.” Prima menghela nafas berat.


Entah kenapa perasaanya begitu kesal saat mengingat perihal si Fajri itu. Walaupun ia sudah puas membalaskan sakit hati Faya kepada mantan kekasihnya itu, tapi seperti masih ada yang mengganjal di dadanya. Entahlah. Yang jelas ia kesal setengah mati setelah Faya mengabaikannya saat makan malam kemarin demi bertemu dengan Fajri.


Faya pulang ke rumahnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa. Melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 2 siang. Hari masih sesiang ini dan ia sudah merasa bosan. Tidak ada yang bisa di kerjakannya lagi karna Prima memutuskan untuk beristirahat saja.


Ah, Faya baru teringat tentang masnya, Iwan. Kemarin ia berjanji akan mengabari masnya itu kalau ia sudah kembali dari luar kota. Memang, permasalahan antara dirinya dan Kirani harus segera di selesaikan.


Sejujurnya Faya merasa kalau ia sedang melarikan diri dari situasi dan Kirani. Memang ia sudah lelah hidup di perbudak oleh kakak iparnya itu. Sangat lelah. Nyatanya, ia masih belum tenang juga karna belum ada kejelasan antara mereka.


Faya bangun dan duduk bersandar. Meraih tasnya dari atas meja kemudian mengambil ponselnya. Ia menghubungi Iwan.


“Halo, Fay?” sapa Iwan.


“Mas dimana?”


“Mas lagi di P.O. Kenapa?”


“Gak apa-apa. Tunggu aku di sana ya, Mas. Jangan kemana-mana.”


“Lho, kamu udah pulang dari luar kota?”


“Iya, udah. Baru aja. Mas pokoknya jangan kemana-mana.” Tanting Faya kemudian menutup sambungan telfon.


Faya tidak mandi. Pun tidak mengganti pakaiannya. Ia sudah sangat merindukan masnya itu karna sudah berbulan-bulan tak bertemu. Ia kembali memasukkan ponsel ke dalam tasnya kemudian keluar kembali.

__ADS_1


Setelah menutup pintu, Faya menatapi pintu Prima yang tertutup. Ragu apakah dia harus berpamitan kepada bosnya itu atau bagaimana. Tapi kalau ia memaksa masuk, takut mengganggu Prima yang sedang beristirahat. Karna memang sepertinya Prima sangat lelah dan butuh istirahat.


Akhirnya, Faya memutuskan untuk langsung pergi tanpa memberitahu bosnya itu. Berjalan melenggang turun sambil memesan jasa ojek online. Dia menunggu lima maneit sebelum ojeknya datang.


20 menit perjalanan, akhirnya Faya sudah sampai di sebuah perusahaan bus tempat masnya bekerja. Ia mengedarkan pandanganya mencari sosok Iwan yang sangat di rindukannya itu.


Pandangannya terhenti pada segerombolan pria yang sedang berkumpul dan menyeruput kopi di sebuah kedai kecil di samping P.O. ia memicingkan netranya untuk melihat lebih jelas lagi.


Hatinya berdenyut nyeri saat melihat sosok Iwan yang jauh lebih kurus di banding saat mereka terakhir bertemu. Rambutnya sedikit gondrong dan kulitnya semakin hitam mengkilat karna keringat. Pria itu hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek. Menonjolkan tulang kerangkanya yang hampir menyembul.


Faya trenyuh. Semakin hari, perubahan Iwan semakin menjadi. Bukan ke arah yang lebih baik, tapi lebih buruk.


Entah kenapa tiba-tiba Faya merasa dadanya seperti terbakar. Bukan karna sengatan matahari siang ini yang memang sangat terik. Tapi karna sengatan rasa iba yang bercokol dalam dadanya. Sungguh ia tidak tega melihat masnya menjadi lusuh dan kurus seperti itu. Ia bahkan hampir tidak mengenalinya.


Faya berjalan dengan nafas memburu menahan amarah. Mendekat kepada Iwan yang langsung tersenyum lebar melihat kedatangannya.


Jarak Faya hanya tinggal beberapa meter lagi dari Iwan. Tapi, air matanya sudah mengalir tanpa permisi.


“Fay....”


“Kenapa kamu nangis, Dek?”


Faya tak menjawab. Ia hanya menatap marah kepada kakaknya itu. Butuh satu menit untuk Faya menenangkan diri. Ia menarik nafas dalam kemudian berusaha menetralkan perasaannya.


“Fay, kamu kenapa?” selidik Iwan yang menjadi khawatir melihat adiknya yang berwajah lesu itu. “Ayo kita duduk di sana dulu.”


Faya mengikuti Iwan duduk di sebuah tumpukan batako di bawah pohon akasia.


“Kamu gak apa-apa kan, Dek?”


“Mas, aku kangen.” Faya menghambur memeluk tubuh lengket kakaknya. Iwan membalas dengan mengelus-elus punggung adik kesayangannya itu.


“Kamu kenapa kok nangis? Apa terjadi sesuatu?”

__ADS_1


Faya melepaskan diri. Mengusap airmatanya yang kembali mengalir.


“Bukan aku yang harus mas khawatirkan. Lihat mas sendiri. kenapa jadi kurus begini? Ya ampun, Mas. Udahlah, Mas. Gak usah nyupir lagi. Cari kerja di sini aja. Atau Mas gak kerja juga gak apa-apa. Biar aku yang kerja. Sekarang aku udah dapat kerjaan tetap yang gajinya lumayan.”


Iwan tersenyum mendengarnya. Ia mengelus kepala adiknya itu dengan lembut.


“Gak bisa gitu, Dek. Mas bukan tanggung jawabmu. Tapi kamu dan mbakmu yang tanggung jawabnya Mas.”


“Tapi aku gak tega lihat badan Mas semakin kurus begini. Emangnya Mas gak makan apa? Lihat temen-temen mas itu, supir juga tapi gemuk. Perutnya juga buncit-buncit.” Faya menunjuk sekumpulan pria tadi dengan dagunya.


“Hehehehe. Ya gimana. Padahal Mas makan, lho. Cuma lebih sedikit karna Mas harus menghemat supaya bisa kirim uang lebih buat kalian.”


Mendengar kata ‘kalian’ membuat Faya semakin merasakan kemarahan kepada Kirani. Kakaknya itu bekerja keras membanting tulang sampai mengurangi jatah makannya hanya demi bisa mengirimkan uang untuk kebutuhan mereka. Yang sebenarnya uang itu habis untuk belanja kebutuhan pribadi Kirani saja.


Ingin rasanya Faya mengadu tentang hal yang sebenarnya terjadi. Bahwa selama ini ia bahkan tidak pernah merasakan hasil jerih payah dari keringat kakaknya itu. Semua uang yang di kirimkan oleh Iwan habis untuk Kirani sendiri. bahkan untuk memenuhi kebutuhan dapur, tidak jarang itu menggunakan uang Faya pribadi. Kirani tidak mau tau kebutuhan dapur.


Tapi, rasanya Faya tidak tega untuk menguak aib kakak iparnya itu. Walaupun ia ingin Iwan berpisah dengan Kirani, namun ia tetap tidak tega untuk mengadukannya. Biarlah kakaknya itu tau dengan sendirinya.


“Mas, gak bisa apa Mas pisah aja sama Mbak Kiran.” Entah bagaimana kalimat itu meluncur begitu saja. Padahal ia sudah mengerem sebisa mungkin.


“Kok kamu ngomongnya begitu sih, Dek. Memangnya kenapa sama Mbakmu?”


“Lihat ini, Mas jadi kurus begini gara-gara Mbak Kiran.” Akhirnya Faya menyalahkan Kirani juga.


“Ya gak bisa gitu juga, Dek. Mas Cuma menjalankan tanggung jawab Mas sama istri Mas. Bukan salah dia.”


Dan lagi, Iwan memang selalu membela istrinya itu apapun yang terjadi.




ipar,, oh, ipar.... hehehehhe.

__ADS_1


jejaknya ya warga.


btw aku kok kepengen tau ya kalian dari kota mana aja nih?


__ADS_2