
Mobil yang di kemudikan oleh Faya sudah berhenti di sebuah warung soto sederhana di pinggir jalan. Warung kecil itu nampak si jejali oleh pengunjung. Aroma khas soto Betawi yang menggugah selera memenuhi rongga hidung bahkan dari jarak beberapa meter.
Faya melepas sabuk pengamannya dan bersiap untuk turun.
“Mas mau ikut turun?” tanya Faya begitu melihat Prima juga melepas sabuk pengamannya dan sudah membuka pintu.
“Kayaknya masih ada. Ayuk.” Ajak Prima kemudian.
Lantas keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam warung.
“Mbak, masih ada?” tanya Faya menghampiri gerobak yang berada di bagian depan warung.
“Oh, masih, masih. Berapa Neng?”
“Dua, Mbak.”
“Minumnya?”
“Es jeruk, dua.”
“Oke. Duduk dulu. Sebentar saya antarkan.”
Faya mengedarkan pandangannya untuk mencari bangku kosong. Sulit sekali menemukannya. Sampai ia melihat seseorang melambaikan tangan padanya. Itu adalah Prima. Entah kapan pria itu mendapatkan tempat duduk. Sudah duduk manis saja di pojokan warung.
“Aku cariin kirain mas kemana tadi. Taunya udah duduk aja.”
“Mumpung ada yang udah selesai, langsung aku serobot biar gak keduluan sama yang lain.” Jawab Prima. Ia bergeser sedikit untuk memberikan ruang untuk Faya.
Lama juga mereka menunggu pesanan datang. Hampir 10 menitan. Maklum, kondisi warung yang sangat ramai membuat si pemilik kewalahan. Apalagi Mbak Narsih hanya di bantu oleh seorang pria remaja yang bertugas untuk membuatkan minuman.
Aroma soto yang masih mengepul menggugah selera itu segera di santap oleh Prima dan Faya. Dasarnya mereka tidak sarapan tadi pagi. Jadi makan seperti orang kelaparan.
“Kamu kok gak jaim, sih? Biasanya cewek kalau makan sama cowoknya itu jaim. Sedikit-sedikit. Pelan-pelan.” Ujar Prima memecah keheningan di antara mereka.
“Jaim gak bikin kenyang, Mas.”
Prima terkekeh kecil. “Memang, dari pertama kita makan bareng dulu juga kamu gak ada jaim-jaimnya sama sekali. Padahal kan biasanya gimana gitu kalau makan berdua sama bos.”
__ADS_1
“Aku ini tipe orang yang gak modelan begitu, Mas. Makan ya makan aja. Urusan perut itu gak bisa di ganggu gugat. Apalagi sama yang namanya jaim. Gak ada di kamusku. Hehehe.”
“Baguslah. Aku jadi seneng jajanin kamu kalau begini.”
“Jangan lama-lama makannya, Mas. Kerjaan undah numpuk nunggu di selesaiin.” Faya mengingatkan.
“Iya, cintaku. Fokus makan dulu. Biar fokus ngerjain kerjaan.”
“Ngomong-ngomong, Mas yang bikin peraturan di papan pengumuman? Soal gak boleh bicarain masalah pribadi di kantor.”
Prima hanya mengangguk. Menyuapkan suapan terakhir ke dalam mulutnya. Kemudian menyesap minumannya sampai tandas.
“Kalau gak gitu, mereka bakalan gunjingin kamu terus-terusan.”
“Mereka juga masih gunjingin aku, Mas.”
“Gak apa-apa. pelan-pelan. Mengubah perspektif orang yang udah terlanjur buruk sama kita itu, memang gak mudah. Harus perlahan. Nanti lama-lama mereka juga bakalan ngerti kok. Biarin mengalir aja kayak air pipa ruc**a.”
“Hehehehhe. Ada-ada aja perumpamaannya.”
“Maunya. Tapi orangnya lagi tugas ke luar kota. Katanya lusa baru pulang. Aku tadi sempet tanya sama temen HRD.”
“Ooh. Ya udah. Mau gimana lag.”
Obrolan ringan itu terjeda ketika suara ponsel Prima berbunyi. Ia segera merogohnya dari dalam saku kemudian mengangkatnya. Faya membiarkan saja Prima mengobrol di telfon. Ketika Prima sudah selesai menelfon, ia baru bertanya. Dia penasaran soalnya telfon itu dari Mama Zinnia.
“Kenapa Ibuk telfon, Mas?”
“Mama tanya, kapan ada waktu mau ketemu sama Mas Iwan. Pengen ketemu katanya.”
“Oh, gak tau. Kan Mas Iwan baru balik kerja. Biasanya sampai dua mingguan baru pulang. Nanti aku tanya lagi sama Mas Iwan.”
“Biasanya memang selama itu ya pulangnya?”
Faya mengangguk. “Kira-kira Ibuk mau bahas apa ya Mas?”
“Apa lagi kalau bukan kita.”
__ADS_1
Jawaban itu sontak membuat Faya menoleh. “Kita?”
“Ya iya, kita. Kan gak lama lagi kita nikah. Mungkin Mama sama Papa mau ngobrol-ngobrol cantik sama Mas Iwan.”
Mendengar gaya bicara Prima yang manja, membuat Faya terkekeh lucu.
Menikah. Itukah yang menjadi prioritas Prima sekarang? Pria itu nampak sudah sangat siap untuk menikah. Berbeda dengan Faya yang masih harus membunuh sisa ragu dan sedikit masalahnya. Ia bahkan belum siap jika ada orang kantor yang mengetahui hubungan mereka. Menikah? Apa tidak terlalu cepat?
Bisa di bilang Prima dan Faya resmi berhubungan baru beberapa hari. Bisa saja ia tidak mempermasalahkan hubungannya dengan Prima. kembali lagi, ia dan Prima, ibarat dua pulau yang di pisahkan oleh air laut. Ia berenang menyebrangi lautan itu, namun ia tidak punya cukup tenaga karna jarak yang terlampau jauh.
Sosok Prima, bukanlah sosok pria biasa yang dengan mudah mengumumkan hubungan mereka. Posisi mereka sebagai atasan dan bawahan membuat semuanya semakin rumit. Mungkin Prima memang tidak keberatan kalau di gunjingkan jika menjalin hubungan dengan sekretarisnya sendiri. toh mereka sama-sama single.
Tapi percayalah, tidak akan ada yang menggunjingkan seorang Prima. Yang ada justru Faya yang akan menjadi bahan gunjingan karna berhasil menggoda bosnya sendiri. Status Prima yang jauh lebih tinggi dari Faya, tidak akan ada yang melihat celahnya. Mereka hanya akan melihat celah Faya seorang. Hanya dia saja yang akan di pandang buruk nantinya. Bagaimanapun, begitulah cara sekitar kita bekerja.
Dia hanya tidak ingin semuanya menjadi tambah rumit saat di waktu yang kurang tepat. Ia paling benci masalah. Itu sangat menguras emosi dan tenaganya.
“Malah ngelamun, ayo.” Ini sudah ajakan Prima yang ke tiga kalinya. Pria itu bahkan sudah berdiri demi menunggu kekasihnya bangun juga.
“Oh. Iya.” Faya terbata. Ia segera ikut bangun dan berjalan mengikuti Prima.
Setelah membayar makanan mereka, mereka kembali menuju ke kantor.
Hari ini benar-benar di lalui Faya dengan adaptasi yang lumayan sulit. Bahkan lebih sulit dari ketika ia pertama bekerja disini.
Kalau dulu, semua orang ramah padanya. Membantunya ketika ia bertanya sesuatu. Tapi kalau sekarang, mereka semua buru-buru menyingkir ketika melihat kedatangannya di pantry. Bahkan ketika berpapasan, mereka seolah enggan untuk menatap kepada Faya. Kalaupun ada yang menatapnya, itu adalah tatapan jijik seolah ia telah melakukan kesalahan fatal yang tidak termaafkan.
Inilah kenapa sering di sebut kalau fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Akibat kesalah fahaman yang sebenarnya sepele, semua orang kini memusuhinya. Melihatnya seperti rongsokan sampah menjijikkan yang membuat mual jika di lihat.
Kenapa begitu sulut merubah persepsi orang lain? Apa karna ia yang tidak pernah menjelaskan secara gamblang duduk permasalahannya, atau bagaimana? Mungkin saja seperti itu. keadaan ini terus berlanjut karna Faya masih belum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Karna itu, kabar itu semakin buruk dari hari ke hari.
Penjelasan itu perlu untuk memutus mata rantai kesalah fahaman yang terjadi. Dan itu jelas sudah masuk dalam rencana Faya. Ia akan menjelaskan, kalau perlu pada setiap orang tentang duduk perkaranya.
warga, maaf sebelumnya ya. untuk hari ini up 1 episode dulu. ada musibah tetangga sebelah meninggal. jadi untuk beberapa hari ke depan kemungkinan aku cuma bisa up satu ep per hari. lagian kan mau lebaran juga kan. maaf banget ya warga. kali ini aku minta ijin buat ngurusin dunia nyata dulu. hehehehe.
__ADS_1