One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 63. Penghakiman Itu, Tidak Akan Mudah Untuk di rubah.


__ADS_3

Rasa sakit akibat di hianati dan tak di pedulikan, membuat hati Faya seperti di tusuk-tusuk. Seolah tak ada tempatnya untuk berbagi rasa sakitnya itu.


Tidak mungkin ia mengadu kepada kakaknya sementara keadaan kakaknya seperti itu. Ia tidak ingin menambah bebannya.


Faya tak sadar, kalau ada sepasang kaki yang melangkah mendekatinya. Kaki itu berhenti tepat di depannya.


Merasa ada yang mengawasi, Faya mendongakkan kepalanya. Ia bisa melihat Prima yang sedang mengulurkan tangan padanya. Tatapan pria itu begitu teduh. Tapi tidak, Faya tak mau tertipu dengan muslihat Prima kembali.


“Ayo.” Suara Prima terdengar lirih.


Faya tak menggubris uluran tangan Prima. ia langsung berdiri dan menatap pria itu penuh kemarahan.


“Fay, aku...”


“Bapak jangan bicara apa-apa kalau gak mau saya banting.” Tegas Faya dan melangkah begitu saja meninggalkan Prima yang sempurna ternganga. Ia malu sendiri karna perhatiannya sama sekali tak di lihat oleh gadis itu.


“Fay! Tunggu!” Prima mencekal pergelangan tangan Faya tepat ketika gadis itu hendak membuka pintu. “Dengerin aku mau ngomong.”


Faya menatap jengah kepada Prima. kemudian ia menyentakkan tangannya hingga terlepas dari cekalan Prima. tidak peduli pada Prima, gadis itu berbalik dan hendak pergi kembali.


“Kamu gak hamil, Fay.”


Dan ucapan itu berhasil membuat langkah Faya terhenti. Ia mematung dengan tangan yang telah membuka pintu setengahnya.


“Kamu itu gak hamil. Malam itu, gak terjadi apa-apa sama kamu. Aku gak ngapa-ngapain kamu, Faya.”


Kalimat berikutnya, mampu membuat Faya menoleh kepada Prima. menatap pria itu penuh tanda tanya.

__ADS_1


“Apa maksud Bapak?”


“Malam itu kita gak ngapa-ngapain, Faya. Gak terjadi apa-apa sama kamu. Kamu gak hamil.”


Entahlah. Yang jelas ada kelegaan yang mengaliri hati Faya. Tapi rasa marahnya lebih besar dari rasa lega itu sendiri. emosinya tiba-tiba memuncak dan ia berusaha untuk tetap menahannya.


“Maafin aku. Seharusnya aku gak ngerjain kamu kayak gini.”


Kali ini, sikap Prima memang sudah keterlaluan terhadap Faya. Apa ia tidak tau betapa Faya sangat takut membayangkan kalau dia sampai benar-benar hamil akibat satu malam itu? Apa Prima tidak berfikir, kalau sikapnya itu sungguh sangat menyakiti Faya. Belum lagi penghakiman dari orang-orang yang sesuka hati menuduhnya tanpa ampun. Menyadari itu, Faya jadi sangat marah kepada Prima.


“Apa ini menyenangkan buat Bapak?” lirih Faya. Suaranya bergetar dengan wajah yang dingin tanpa ekspresi. Bukan karna ia hendak menangis lagi. Tapi karna kemarahanya kepada Prima telah sampai di puncaknya.


“Hah?”


“Ini pasti sangat menyenangkan buat Bapak. Ngelihat saya menderita begini, pasti Bapak puas setengah mati. Selamat, Pak. Bapak berhasil dengan rencana Bapak.”


“Fay, aku...”


“Bapak keterlaluan.” Mata Faya sontak saja berair.


Bagaimana ia tidak marah dan kecewa kepada Prima. pria itu tidak tau, betapa Faya harus menghabiskan setiap detiknya dengan perasaan takut yang luar biasa. Dan sekarang, dengan entengnya Prima bilang kalau malam itu tak terjadi apa-apa.


Kenapa setelah semua hal menyakitkan yang di alami Faya, Prima baru menjelaskannya padanya? Kemana saja Prima selama ini? Padahal dia punya  banyak sekali waktu untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Faya. Bukan menunggu keadaan bertambah semakin rumit begini.


Banyak sekali yang di lalui Faya selama beberapa hari terakhir ini. Di sidang oleh keluarga besar Prima, di gosipkan hamil di luar nikah, di hianati oleh orang yang ia percaya, dan sekarang, pengakuan tak berguna dari Prima yang sudah terlambat dan percuma. Walaupun, dalam hati ia tetap merasa lega karna ternyata mereka tidak melakukan hal terlarang malam itu.


Orang lain mungkin akan berkata, tinggal dijelaskan saja kan beres. Tapi tidak semudah itu. Penghakiman orang-orang tak mudah untuk di rubah. Mereka akan mencari pembenaran atas dirinya sendiri.

__ADS_1


Biarkan waktu yang membuktikan. Toh kalau tidak hamil tidak akan terbukti.


Tidak, tidak. Mereka akan kembali bersilat lidah. Mereka pasti akan bilang Faya telah menggugurkan kandungannya. Begitu dan sejenisnya. Penghakiman itu, tak akan pernah lepas dari Faya.


Tatapan mata kecewa Faya terus tertuju kepada Prima. ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Berbalik dan hendak pergi meninggalkan Prima. namun, Prima sudah lebih dulu memegang bahunya, mencegahnya pergi.


“Fay, maafin aku....”


Bruk!


Prima merasakan tubuhnya melayang beberapa detik sebelum akhirnya mendarat dengan sempurna di atas karpet lantai. Faya baru saja membanting bosnya itu. Menyalurkan emosinya yang sudah tak terbendung.


Prima mengaduh perlahan sambil memegangi pinggangnya yang terasa mau patah. Ia berusaha bangkit untuk mengejar Faya yang sudah keluar dari ruang rapat tersebut. Faya pergi dengan rasa marah yang menggunung.


“Fay! Tunggu!” Prima berusaha berteriak untuk mengejar Faya. Langkahnya tertatih namun ia tetap berusaha.


Sementara Faya, dirinya sudah termakan oleh amarah. Dari sekian rentetan masalah yang menimpanya, Primalah awal mula masalahnya. Pria itu yang telah menyulut api dengan tak mau berterus terang mengatakan yang sebenarnya sejak lama. Pria itu membiarkan kesalah fahaman itu terus berlanjut hingga masalahnya sampai sebesar ini.


Faya marah. Ia kesal setengah mati. Pun hatinya terasa sangat sakit. Ia merasa bodoh karna begitu mudahnya dipermainkan oleh Prima. ia bodoh karna sudah percaya sepenuhnya kepada Soraya. Dan ia bodoh sudah jatuh cinta pada Prima.


Ya, dalam diam, ia sudah jatuh cinta pada seorang Prima. bos somplak dengan sejuta sikap mengejutkannya itu perlahan telah mampu mengisi ruang hati.


Awalnya, Faya mencoba menampik debaran di hatinya. Perhatian-perhatian kecil dari Prima ketika pria itu sedang ‘waras’ telah mampu mengusik perasaanya. Sesalnya telah membiarkan saja rasa itu terus tumbuh dengan sendirinya. Padahal Faya tahu jelas, kalau ada batasan yang sangat jauh antara dirinya dan juga Prima.


Waktu itu ia berfikir, tak apa menyimpan semua perasaan ini sendirian. Prima tak perlu tau karna ia tak ingin di anggap tidak profesional dalam bekerja. Maka dari itu, ia hanya menyimpannya sendiri saja tanpa pernah sekalipun menunjukkannya.


Hal inilah yang membuat Faya merasa jauh lebih tersakiti. Setengah ia marah pada hatinya karna tetap bersikeras. Setengah ia marah kepada Prima juga. Entahlah. Kenapa ia tidak bisa memilah rasa marahnya tersebut.

__ADS_1


Sesampainya Faya di meja kerjanya. Ia segera merapikan barang-barangnya kemudian pergi begitu saja tanpa permisi. Ia memilih menaiki tangga agar tidak bertemu dengan Prima di jalan. Dan untungnya ia berhasil keluar dari kantor tanpa bertemu dengan Prima. walaupun beberapa orang memandangnya dengan tatapan aneh ketika ia melewati loby.


__ADS_2